Rabu, 25 Januari 2012

Kejutan Istimewa di 7 Juni

Aroma obat masih menyengat ketika saya mendorong kereta dorong pasien di rumah sakit Sardjito, lorong-lorong rumah sakit seakan menjadi tempat tinggal sementara bagi saya dan ratusan bahkan ribuan pasien korban gempa 2006. Bersama seorang kawan saya habiskan sebulan menjadi volunteer di rumah sakit ini setelah gempa bumi Jogja 2006. Hari itu tepat tanggal 7 Juni 2006, hari yang sangat special bagi saya, karena saat itu pertama kalinya saya mendapat sebuah kue tart ijo dengan ucapan ulang tahun dan hadiah mungil berupa sandal kecil bertuliskan 2 nama sahabat saya.

Rumah kontrakan berwarna biru muda itu sebenarnya sudah tidak layak untuk saya dan 3 orang teman saya untuk ditempati. Atap sebagian sudah bolong, bagian tengahnya saat itu sudah benar-benar beratapkan langit karena genteng-gentengnya memilih jatuh saat gempa.

Setelah gempa saya sempat bingung, orang tua menyuruh pulang, sementara saya tidak bisa tinggal diam melihat Jogja yang membuat saya jatuh hati sedang beduka. Melihat warga-warganya yang selalu ramah memberikan senyuman sebelum berangkat kuliah, bahkan menawari sarapan. Terlebih lagi tetangga kontrakan yang rumahnya juga rusak memberikan saya makanan selama beberapa hari. Mendengar berita diradio bahwa rumah sakit Sardjito membutuhkan volunteer, maka saya langsung menghubungi koordinator volunteer apakah masih banyak dibutuhkan volunteer.

Hari-hari berikutnya saya selalu berada disana. Bersama orang-orang hebat yang merelakan tenaganya menjadi volunteer. Ada mas Totok yang ternyata seorang seniman lukis hebat atau temen-temen mahasiswa yang sama memilih tidak pulang ke rumah setelah gempa. Padahal orang tua kami sama-sama khawatir jika mendengar berita gempa susulan.

Motor pitung kecil 73 menjadi kendaraan saya menuju rumah sakit, dari kendaraan yang tidak bisa melaju cepat itu, saya menyaksikan puing-puing sisa gempa saat itu. Motor itu satu-satunya hiburan setelah gempa, meski sering menyusahkan.

7, Juni 2006. Waktu itu saya pulang cukup larut, jam malam sudah diberlakukan di beberapa tempat. apalagi tempat saya tinggal termasuk kode merah kalo kata warga, karena daerah ini rawan penjarahan. Ada saja orang yang memanfaatkan kesedihan orang untuk mencari keuntungan. Saat itu motor tidak bisa masuk gang, beberapa orang mendekat, beberapa dari mereka membawa senjata tajam, benar-benar terlihat jelas sebuah pedang. Mereka menanyakan siapa, mau apa. Saya menunjukan identitas kartu mahasiswa, bahkan kartu volunteer sardjito. Untung saja ada salah satu warga yang mengenali hingga akhirnya diijinkan masuk. Lega juga karena ada yang mengenali motor pitung saya.

Sampai rumah yang lain sudah pada istirahat di kamar brekele, karena kamar brekele yang masih utuh dan beres. Di kamar sebuah kotak ukuran besar berada ditengah. Brekele dengan senyum kurang ajarnya sempet mengejek. Itu kue ulang tahunmu. Dari siang mereka nungguin mau ngucapin selamat ulang tahun.

Saya membuka duluan amplop putih yang berisi ucapan selamat dan pesan agar memakai minyak wangi biar wangi kata mereka. Kemudian kue yang berwarna ijo itu bulet melingkar berlapis warna putih dan coklat. Ditambah semut yang sudah mencuri start duluan mencuri kue ulang tahun itu.

Saya saat itu merasa bersalah, bersalah entah karena apa. Apa maksudnya ini? Kue ijo ulang tahun penuh semut, amplop yang berisi ucapan ulang tahun. Yang pasti, saya seperti menjadi penipu. Saya bahagia campur sedih karena telah membuat 2 sahabat saya kecewa. Saya memberi pesan via hape, "terima kasih kue dan ucapannya, tapi ulang tahun saya sudah lewat, bukan hari ini, bukan 7 juni."

Sampai sekarang moment itu menjadi ejekan dan kenangan paling gokil ternyata bagi mereka. Menyiapkan sesuatu yang ternyata salah hari. Memang ini gara-gara saya juga yang entah kenapa mencintai angka 7 sedangkan nama saya Gugun Junaedi, kesimpulan unik dari tanggal 7 Juni. Junaedi memberik kesan saya lahir bulan Juni mungkin menurut mereka, ah sudahlah yang jelas saya sangat bahagia waktu itu, kenangan manis setelah menghabiskan waktu di rumah sakit kemudian pulang mendapat kejutan istimewa.

Kadang teman itu mengetahui lebih tentang diri kita sendiri. Dia bisa membuat, menciptakan, menyimpulkan untuk kenangan yang tak bisa dilupakan. Sahabat meski itu hal yang baik maupun buruk itu tetap menjadi cerita istimewa. Seperti kue ijo ulang taun penuh semut, itu akan menjadi kenangan selamanya bagi saya. Terima kasih buat Rofi dan Vita, seperti syair lagu untuk guru 'namamu akan selalu hidup dalam sanubariku' juga buat temen kontrakan Luqman, ari brekele, roni dan itok Estu, ekonomi sulit kita tetap usaha.

Ini memang bukan ekspresi ulang tahun, sekedar berbagi pengalaman bahwa memiliki teman itu menyenangkan. Hari apapun itu ulang tahun, tahun baru atau hari kelulusan. Tidak lengkap rasanya kalau tanpa teman yang menemani, nikmati harimu. Brand new day, karena kebersamaan yang membuat kita selalu tersenyum. Setiap hari.
kue ijo berlapis semut

 itok dan brekele siap melahat kue


Rofi & Tetik
Vita & Tetik

"Selamat Ulang Tahun"


Jumat, 13 Januari 2012

Happiness to me is Canting

Saya akan selalu mengingat satu dari sekian banyak cerita yang Canting bersama saya lewati. Sesaat setelah mereka pergi dari rumah di Pugeran. Sambil menahan keseimbangan tubuh yang masih belum sepenuhnya bisa berdiri tegak. Saya merasa mendapat obat yang melebihi suntikan dokter yang memeriksa penyakit saya. Ya, merekalah obat yang sangat manjur, temen-temen dari Canting yang saat itu datang ke rumah.

Saya mencoba nahan emosi seneng campur sedih kalau mengingat kejadian itu. Setelah mereka pergi dari rumah, sepatah kalimat dari orang yang sakit "thanks God telah mempertemukan saya dengan mereka."

kesederhanaan dalam jalinan pertemanan. Mereka datang membawa semangat, selain itu membawa amplop putih yang benar2 sangat membantu. Maklum, seorang freelance kalau sakit tidak akan bisa kerja, bahkan periksa ke dokterpun saya minjem uang mas Riski. Saat ini saya kembali meminta doa kepada yang diAtas agar jangan pernah menghilangkan ingatanku bersama mereka, yang baik bahkan absurd, jangan pernah menghilangkan itu semua" amin 7X. tapi bukan amplop putih itu, apa yang sudah saya dapatkan tidak bisa hargai dengan apapun. kedatangan mereka melebihi resep dokter apapun.

Saya mendapat sms dari Mesha yang mengabari bahwa Ika baru saja mengalami musibah kecelakaan yang harus dirawat di rumah sakit Panti Rapih Jogja. Jika saja saya berada di Jogja saya pasti akan langsung menemuinya. Menanyakan kabarnya.

Sesaat hape ika tidak bisa dihubungi. Setelah posting di grup, dan kemudian saya sadar bahwa ini dunia yang sedang saya nikmati adalah dunia ala canting, tidak perlu bertanya lebih. Ternyata teman-teman canting sudah ada menemani Ika di Panti Rapih. Ini Canting, saya langsung ingat kejadian ketika saya pernah dikondisi seperti ika, sakit kemudian seorang teman menemani. Sedih campur seneng kalau melihat apa yang terjadi dengan mereka. Canting, kembali saya meminta doa kepada Tuhan agar selalu memberiikan yang terbaik buat mereka, buat canting buat jalinan pertemanan inin buat impian yang telah mempertemukan kami.

What is happiness to you? Kembali pertanyaan ini menjadi jawaban untuk saya, entah sudah berapa banyak jika saya menghitungnya. Bahwa happiness (tanpa berpikir lama), to me, is canting. ya, canting sekali lagi.

Saya pernah menuliskan beberapa hal yang pernah terjadi di tahun 2011 mengenai happiness, dan semua yang terjadi itu sangat berhubungan dengan canting. Saya jadi bingung, canting telah banyak merubah semuanya. List itu berisi tentang kebahagiaanku untuk diriku dari canting.

It could come from anything, anywhere, anytime. It come from Canting. Happines to me is canting.

Foto ini memerikan kembali jawaban kenapa saya mencintai canting. Semuanya, dimanapun, kapanpun mereka tetap 'begitu' I love it.

Untuk Ika semoga lekas beraktifitas seperti biasa ya.



Selasa, 10 Januari 2012

episode: Bukan Bantal Biasa!

Saya percaya bahwa kasih sayang itu merupakan anugerah yang sangat besar, bagi saya beruntunglah orang yang menerima kasih sayang apalagi untuk orang yang memberikan kasih sayangnya kepada orang lain. Dan, saya sangat beruntung bisa merasakan itu,kasih sayang dari seorang ibu yang sangat luar biasa. Ini kasih sayang dari sebuah bantal. Dari bantal itu, bantal yang selalu mengingatkanku akan bentuk kasih sayangnya.

Bingung juga kenapa saya menulis tentang bantal, kenapa ingatan saya begitu mudah mengingat suatu kejadian melalui sebuah benda. Mungkin karena benda ini telah memberi kenangan tersendiri untuk saya.

jadi ceritanya kenapa bantal menjadi sangat istimewa adalah? Saat itu hari dimana saya pertama kali akan kuliah di Jogja. Terminal wangon yang cukup luas tapi sangat sedikit sekali bus antar kota yang sejanak mampir ke terminalkota kecil itu. Saya menggendong satu backpack dan satu tas jinjing coklat yang cukup besar, dalam tas jinjing coklat itu penuh dengan pakaian dan beberapa buku perlengkapan kuliah. sedangkan backpack itu isinya hanya satu buah bantal, bantal yang katanya ibuku takut kalau disana tidak mendapatkan bantal untuk tidur. Bentuk kekhawatiran seorang ibu untuk anaknya yang dikira sangat polos, saat itu saya hanya mengiyakan dan sampai saat inipun jika bepergian saya tidak bisa menolak apa yang harus dibawa meski itu sebuah bantal yang memenuhi satu buah backpack.

Bantal itu menjadi teman selama bertahun-tahun selama saya yang katanya menempuh pendidikan di Jogja, dan memang benar, saya selalu mengingat keluarga dirumah ketika menjelang tidur. Ini bantal yang saya bawa dari rumah, jauh-jauh memenuhi tas hanya untuk memberikan kenyamanan untuk tidur. Tapi saya pikir lebih dari itu bantal bukan hanya menjadi teman tidur, dia memberikan spirit tersendiri.

Saya sendiri sudah lupa dimana bantal itu sekarang, yang saya tahu bantal itu terakhir menemani ketika pindah kontrakan kedua di jalan Tohpati Taman Siswa sebelum gempa 2006. Karena setelah itu saya hampir tidak membawa perlengkapan untuk tidur lagi selepas pindah. Rumah kontrakan saya dan teman-teman ikut menjadi korban gempa saat itu.

Setelah itu saya lupa bantal itu ada dimana. selang setelah lulus kuliah, saya tidak memiliki tempat tinggal tetap. menjadi gelandangan dari kost ke kost kawan. Sejak saat itu saya pikir saya jarang sekali tidur mengenakan bantal, Pernah ketika tinggal serumah sama Ronny (saat ini ia akan menjadi bapak) saya punya bantal itupun bawaan dari rumah yang kami tempati. Selepas itu saya kembali menjadi gelandangan, tidak punya tempat tinggal tetap. tidur seringnya tanpa bantal karena memang tidak memiliki bantal.

Semua saya nikmati, meski akhirnya saya memiliki tempat tinggal sementara anehnya saya memilih tidak memakai bantal untuk alas kepala ketika tidur. Di rumah mas Kusen bantal berserakan banyak sekali apalagi ketika kedatangan wargabaru dari Jakarta ketika menjadi volunteer merapi, bantal semakin banyak. Tetep saja saya tidak memakai bantal. Saya sendiri bingung?

Saya kangen merasakan rasa bau biologis keintiman saya dengan bantal saya, keapekan itu bagi saya memberikan kenikmatan tersendiri. Tidak peduli yang lain bilang apa pada bantal saya, tapi saya merasa dekat dengan bantal saya yang cukup apek, bahkan mungkin jika ditutup mata saya kemudian mencium bantal mana yang menjadi punya saya, saya akan hapal yang mana bantal itu.

Bahkan sebuah bantal bisa juga membuat leher pegel-pegel tidak bisa nengok kanan kiri. sial sekali bagi orang yang pernah merasakan pegal karena bantal. termasuk saya yang pernah merasakannya juga :D

Jakarta, 5 Januari 2012

Saya pernah diam-diam berbisik, saya mungkin akan memiliki bantal jika tembok besar yang menjadi cita-citaku itu telah runtuh. Selepas menemui seorang teman di Palmerah, saya sengaja jalan-jalan ke Kalibata Plasa. Melewati deretan stand elektronik yang sangat menggoda mata, saya tidak tertarik hanya melirik melihat angka nol yang berderet. Saya langsung menuju tempat furniture perlengkapan kamar tidur. Saya mencari bantal!

Ternyata banyak sekali bentuk bantal, dari gambar promonya saja sudah bisa bikin ketawa. Iklan bantal pake mengenakan model cantik yang tiduran diatas kasur.

Saya melihat bantal kecil yang didisplay ditengah furniture itu, say ambil, pencet-pencet sebentar. Tanpa pikir panjang langsung saja saya ambil tuh bantal orange yang kata temenku cukup ciamik.

Akhirnya setelah bertahun-tahun tidak pernah punya bantal, hari itu saya kembali memiliki bantal. bukan hanya bantal tapi diam-diam dalam hati kecil saya berucap, saya berani memegang apa yang selama ini saya pegang, setelah bertahun-tahun saat yang dinanti akhirnya tiba juga, prinsip kecil untuk menikmati hidup dalam keaadan apapun. Saat ini mungkin saja lebih baik dari yang kemarin. Saya hanya ikut memainkan apa yang telah dan akan dimainkan oleh Yang Kuasa.

Tulisan kecil untuk mengisi celah sambil merampungkan tulisan episode Kesenangan Sejati, Mandalawangi.

Google+ Badge