Minggu, 20 Oktober 2013

Kontemplasi di Toko Buku

Pernah ga menemukan sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketenangan atau mungkin kita bisa merasakan keajaiban? Bahkan di kota yang panas ini, ternyata ada tempat seperti itu. Jakarta, beberapa orang membencinya seperti saya yang juga kadang membencinya. Tapi percayalah semakin benci kita terdorong semakin dekat dengan kenyataan bahwa apa yang kita benci itu kenapa selalu dekat dengan kita. Dan ini adalah cerita tentang ketenangan kecil di sudut Jakarta.

Jakarta Sabtu sore 19 Oktober, niat awal hari ini berada di Bandung bertemu dengan teh Butet Manurung dan sorenya mau mengagetkan kawan lama di acara yang ia bikin, gagal! Memang benar istilah 'kita merencanakan, Tuhan yang menentukan' rencana saya ke Bandung gagal. Jadi, hari itu setelah sebelumnya suting sampai larut, saya habiskan hari sabtu santai dengan tidur spesial kemudian terbangun dan ngobrol dengan mas Agung tentang impian saya selama ini, membuat sebuah film tentang gunung. kemudian yang dilakukan adalah nonton film, kemudian, doing nothing.

Saya merenung. Melihat tembok kamar kos, kadang berdialog dengannya. Ngliat buku di rak. Tasssss. Kemudian ada momen ketika melihat buku-buku itu, tiba-tiba merasa seneng. Sudah pasti saya senyum-senyum sendiri. Kemudian ada salah satu buku seperti berbisik "bro, gak beli buku lagi! Masih ada tempat kosong di sisiku nih."

Nah kan, kegilaan mulai muncul. Padahal malam tadi ga minum-minum juga. Kenapa merasa sinting sendiri. Hmmm... Buku yang satu lagi mau bicara sepertinya. Saya siap ndengerin "bos, katanya mau beli kakak saya lagi."

Oh iya, saya lupa mau beli majalah berlogo kuning itu. "Terima kasih ya sudah ngingetin" lho kok, gw ikutan ngomong juga ke mereka. Sialan, ini efek sendirian di kamar dengan suhu ac 16 derajat. Matiin ac, biar panas maksudnya kemudian mandi biar terlihat segar.

Bagi saya berada di toko buku merupakan momen tersendiri dimana saya dan buku-buku yang ada di rak seperti memiliki ikatan. Saya tahu mereka, begitupun buku tersebut. Dia juga mungkin selalu tahu siapa pemiliknya. Buku tersebut tidak bersuara, tapi saya bisa mendengarkan apa isi hatinya :). Ini mungkin yang sering orang sebut sebagai kontemplasi. Saya dapatkan ketenangan saat ada di toko buku. Saya sadari ini ternyata sudah dialamin dari dulu.

Di Jakarta yang panas ini ternyata ada tempat bagi saya bisa berkontemplasi. Ga perlu pergi ke gunung atau pantai sepertinya :).

Seperti biasa ga ada rencana mau beli apa. Nyusurin rak demi rak merupakan pengalaman spiritual sepertinya, uh yang ini terlalu lebay. Dari rak buku anak-anak sampai dewasa. Dari rak buku akutansi sampai politik. Meski ga mungkin beli buku politik :). Makanya tadi saya bilang, buku akan tau siapa pemiliknya.

Saya nyusurin rak di buku rekomendasi, sudah sering berada di bagian rak ini. Tiba-tiba ada buku bersampul orange seperti memanggil. Bergambar sampul seorang indian memegang tombak naik kuda. Ada satu nama yang tak asing. Winnetou, beberapa bulan terakhir saya seering mendengar nama ini. Saya baru sadar bahwa nama ini merupakan tokoh yang diceritakan oleh pak Herman Lantang dan pak Heru Soeprapto mereka ini tokoh petualang Indonesia. Mereka pernah menceritakan kenapa mereka mendaki juga karena membaca Winnetou. Buku ini dibuat oleh Karl May, langsung saja saya ambil buku ini. Mungkin si buku tersenyum, karena dia bertemu dengan pemiliknya.

Kalau buku kedua saya tertarik karena judulnya. "Mahameru. Bersamamu." Buku ini tentang catatan perjalanan yang ditulis oleh Ken Ariestyani. dan, saya memang belum mengenalnya. Saya pikir yang menulis ini orang yang berada di rotasi kegiatan outdoor Indonesia. Ga tau juga, namanya belum saya kenal. Tapi saya selalu suka dengan catatan perjalanan. Apalagi itu tentang gunung, saya langsung membelinya. Padahal tiga tahun belakangan ini saya malas lewat rak buku travel. Ga tau malas aja, ngeliat catatan perjalanan yang isinya how to atau where to aja... Maafin saya. Kalau di rak travel, mungkin ga ketemu dengan buku ini. Untung saja buku ini ada bersama novel, jadi kebeli. Mungkin yang sortir ga ngerti. Tapi karena itu jadi berjodoh buku ini. dan lagi, buku ini tau siapa pemiliknya.

Rak demi rak saya susuri lagi, membaca sinopsis peradaban dunia. atau bertemu tokoh dunia yang wajahnya memberikan senyum di sampul bukunya. Saya pegang buku biografi pak Sjahrir, salam hormat saya untuk anda pak. Terima kasih memperjuangkan bangsa ini. Saya kembali letakan buku itu.

Ada satu buku yang belum bisa kebeli sampai saat ini, ekspedisi dari Wanadri tentang pulau terdepan Indonesia. Saya hanya bisa melihat, memegang dan berharap suatu saat bisa mengambilnya.

Buku ketiga yang dibeli adalah buku Ring of Fire. Ketertarikan saya tentang dunia petualangan memang diharuskan untuk membaca buku-buku seperti ini. Apalagi buku ini diciptakan oleh seorang produser acara tv dan film. Lowrence Blair dan Lorne Blair. Senang bisa berjuma dengan anda-anda pak, buku anda sudah ada ditangan saya. Ini buku berisi catatan ekspedisi 10 tahun persinggahan mereka di Indonesia, di tengah hutan hujan, gunung. Wah baca halaman belakang saya bener merinding. Dengan berucap Bismillah saya mengambil buku tersebut. Semoga bermanfaat untuk saya. Buku ini telah memilih pemiliknya :).

Buku keempat tentang tumbuhan yang dilindungi di Taman Nasional Gede Pangrango. Gunung favorit saya. 100 Tumbuhan Dilindungi di Gede Pangrango. Buku ini dibuat oleh Edith Sabara & Sopian, semoga bermanfaat buku ini. Menambah literatur untuk film saya nanti, amin.
Sudah cukup, sekarang tinggal dompet yang berbisik lirih :). Tapi majalah edisi spesial belum kebeli, jangan sampai lupa lagi. Saya langsung ambil Natgeo edisi Oktober yg telat saya beli. Kemudian ke rak komik untuk ambil seri ke-4 dan 5 cerita chef Mitsuboshi yang konyol, ini komik seru lho.
 Dan, gerimis mengiringi saya pulang di dalam angkot. Kontemplasi saya berakhir hari ini. Tinggal jangan hanya jadi pajangan di rak nanti itu buku.

Dari dalam tas terdengar suara buku-buku itu meributkan sesuatu, sepertinya mereka saling bertaruh siapa yang akan baca duluan. Tenang saja kalian, kalian bertemu pemilik yang tepat kok. Buku, mereka tau siapa pemiliknya.

Jakarta 19 Oktober 2013
"personal journey"

Jumat, 23 Agustus 2013

Belum Ada Judul

Di suatu malam, kita pernah berbincang bersama. Satu cerita tentang mimpimu yang membuat ingatan malam itu kembali terbang malam ini. Malam itu kita bercerita bahwa dunia akan tahu mimpi-mimpi kita. Mimpimu agar orang yang ada disampingmu merasa bangga. Percaya anak ingusan ini bisa memberi perubahan.

Tapi kemudian, saya lupa tentang mimpi-mimpi kita itu. -terdengar lirih lagu Iwan Fals, Belum Ada Judul.

Senin, 12 Agustus 2013

Lama Berucap


Suatu hari, sentilan kecil saat membaca tulisan di bak truk. Tulisan tersebut cukup sederhana, bak truk berwarna kuning itu bertuliskan "jangan tunggu masa tuamu" tercetak tebal berwarna biru.

Hingga sebuah pesan masuk ke inbox social media "kapan mau nulis lagi?" Menulis blog menjadi salah satu kegiatan yang dulu janjinya konsisten. Saat ini, sudah jarang menulis. Bagi seorang bloger mendapat pertanyaan seperti itu adalah bagian dari kesenangan ngeblog. Ternyata saya masih punya pembaca :).

Konsistensi ngeblog perlahan hilang. Ga apa, sementara pikirku waktu itu. Tapi ini sudah keterlaluan, bahkan blog di kompasiana menulis hanya setahun sekali. Dulu saya punya pembaca setia, jumlahnya ga sampai jumlah jari di tangan kananmu. Tapi dari dia, saya punya motivasi besar untuk selalu menulis, bahkan sampai saat ini belum pernah bertemu dengannya.

Mungkin sekaran harus berubah program agar bisa konsisten lagi menulis.

Tulisan baru ini, saya hanya ingin mengucapkan "Mohon maaf lahir batin, buat temen-temen yang merayakan lebaran. Maafkan jika ada salah.

 

Rabu, 05 Juni 2013

Meet Le' Paimo


2012. Suara kereta masih menemai sepanjang perjalanan Jakarta-Jogja. Saat itu masih banyak pedagang lalu-lalang menawarkan aneka jajanan, sekarang sudah tidak lagi. lembaran majalah kuning itu masih berada di pangkuan, dalam artikel ada tulisan dari seorang yang belum saya kenal. Saya lupa waktu itu ia menjelajah bersama Tantyo bangun di Perancis kalo tidak salah. hanya foto punggungnya yang terlihat, wajahnya ga nampak. Dia adalah Bambang Hertadi, pesepeda asal Indonesia.

Tujuan pulang ke Jogja kali ini adalah mengikuti pelatihan caving yang sudah saya rencanakan jauh hari. 2 Minggu meninggalkan pekerjaan di Jakarta memang tidak mudah, tapi keinginan untuk melengkapi pengetahuan alam liar sebagai pondasi nanti menjadi lebih penting menurutku saat itu. Caving, salah satu kegiatan alam liar yang memang harus saya pelajari lebih lanjut. kesempatan kali ini tidak saya sia-siakan, saya tinggalkan keramaian jakarta saat itu.

Pelatihan 2012 saya bertemu dengan banyak temen-temen Mapala dari seluruh Indonesia. kegiatan dimulai, dari awal technical meeting diberitahu program yang harus diikuti selama pelatihan. Dan, inilah yang mau saya ceritakan terkait seorang pesepeda yang hanya terlihat punggungnya di artikel national geographic traveler itu. salah satu pelatih fisik saat itu adalah lek paimo, saya belum tau banyak tentang dia. Jam setengah lima kami sudah dibangunkan untuk latihan fisik, mata masih berat. enggan memang, kami berkumpul pukul 5.30, menghitung denyut nadi. setelah pemanasan kami disuruh berlari. Yang memimpin kami adalah seorang dengan kain penutup kepala, tubuhnya kecil, namun tatapan matanya tajam. Dia ga mengenalkan siapa dia seperti instruktur caving disini. 

Kami berlari beberapa kilo, kemudian masih ngos-ngosan kami melakukan olahraga pagi dipimpin olehnya. push up dan yang lainya berpuluh-puluh push up, sampai ratusan sepertinya dilakukan selama kegiatan. Pikir saya udah tua kuat juga ini orang, masa saya kalah lari. masih muda nafaas udah ga jelas. Nah, tiba saatnya ketika malam akhirnya saya tahu siapa dia sebenarnya. setiap malam kami diberi materi tentang caving dan kegiatan penjelajahan. Saat itu, orang yang saya kenal nama aslinya Bambang Hertadi itu memberikan materi manajemen perjalanan. 

Dia ceritakan pengalaman-pengalamannya. kemudian tiba di satu cerita, saya seperti pernah mendengar cerita itu. ternyata dia orang yang ada di Majalah. oh ternyata. yang paling saya ingat adalah ketika lek paimo bercerita tentang bagaimana ia bisa membaca tanda-tanda alam, seperti diberitahu oleh alam bahwa sesuatu akan terjadi padanya. hmmmm mungkin tak semua orang bisa seperti itu.

Jum'at 31 Mei 2013. di Bentara Budaya Jakarta ada sebuah acara diskusi tentang penjelajahan sepeda dari national geographic traveler. Pembicaranya adalah lek paimo. saya mengetahui acara ini malam sebelumnya bahwa baru tahu ada event tersebut. Langsung saja atur jadual agar bisa mengikuti diskusi itu.

Di acara tersebut benar-benar tidak mengenal satupun yang datang. Saya memang sempat berpapasan dengan mbak Aristi didepan tapi mau menyapa ga enak, mungkin dia lupa :). Mbak aristi juga salah satu pembicara saat itu. karena tak ada yang kenal kemudian nyari tempat sepi untuk merokok sebentar. kemudian masuk toilet, di toilet sempit saya berpapasan dengan orang yang memang ingin saya temui. seorang pesepeda dan pendaki yang menjadi instruktur fisik caving. orang yang tak bisa lepas dari radio kecil yang pernah saya tanya sebagai teman perjalanan. Lek Paimo, ketemu lagi di sebuah toilet sempit di sudut Bentara.

Acara share cerita berlangsung cukup cepat, dialog yang tercipta memberikan pengetahuan bagi saya yang awalnya hanya menggunakan sepeda sebagai alat transportasi kalau sedang males. Dari diskusi saya mengetahui bahwa lek paimo akan menjelajah gunung di Iran. Mumpung ada orangnya saya minta tanda-tangan darinya dihalaman 7 buku membelah pegunungan andes yang ditulis olehnya. satu buah kaos ijo toska yang sebenarnya kekecilan juga saya ambil sebagaikenang-kenangan, kaos yang sering dipake juga oleh lek paimo.
 
Bertemu dengan orang yang pernah memberi inspirasi memang selalu seperti itu, ketika mau bertanya malah bingung. hanya bisa terpesona mendengar apa yang ia ceritakan. tapi bisa mendengarkan cerita-cerita yang penuh resiko itu selalu menyenangkan kawan. sayangnya dia cerita sedikit, memang terkesan kaku karena diatas panggung kali.