Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Januari 2011

Dalam Kegelisahan Seni Tradisi: Mengenang Mimi Rasinah

Saya berusaha membayangkan bagaimana perempuan ini ketika muda. Gemulai tiap gerakan tari yang ia tunjukan memberikan cipta artistik yang menawan kepada setiap orang yang mengapresiasinya. Mimi Rasinah, beliau sudah wafat. Telat bagi saya mengenalnya setelah maestro tari topeng ini wafat, membaca setiap tulisan yang menorehkan namanya seperti perlahan mendekatinya. memahami setiap kata yang memberikan nilai cipta karya eksotisme sebuah tarian dari seorang Mimi Rasinah.

Dibalik itu semua, saya sangat beruntung meski telat bisa mengetahui sang maestro ini. Dibalik cerita-cerita yang saya dapat tentang dirinya. Konyol memang orang seperti saya bisa tertarik dengan bentuk seni tradisi seperti tari topeng yang digunakan Mimi Rasinah dalam menyuarakan nilai kebudayaan.Beruntung saya bisa mengetahui salah satu orang hebat yang pernah ada di dunia seni tradisi.

Awal yang aneh untuk mengetahui sosok satu ini, berawal dari sebuah job seorang teman untuk membantu media publikasi acara peluncuran buku tentang seni tradisi saya bisa mengetahui sosok seperti Mimi Rasinah. Karena event yang dikerjakan berhubungan dengan seni tradisi, sayapun mencoba mencari informasi dari web tentang sejarah, keberadaan, saat ini tentang kondisi seni tradisi sekarang ini. Hingga akhirnya menemukan sosok yang ternyata menjadi Maestro dalam kesenian tari topeng.

Raut wajahnya menunjukan kerja kerasnya ketika muda, pandangannya meski tidak setajam masa mudanya saya merasakan sesuatu yang membuat saya merasa malu sebagai anak muda yang sama sekali tidak mengetahui tentang seni tradisi. dari foto-foto bahan desain saya melihat betapa ia sangat memberikan motivasi yang kuat kepada penerusnya.

Berbeda sekali dengan raut mukanya setelah menghembuskan nafas terakhirnya. Seperti orang-orang yang berada disana saat itu, 7 Agustus 2006 suasanaya akan begitu hening. Sang Maestro telah pergi, setiap orang tertunduk lesu diam, melihat orang yang sangat berjasa dalam kesenian tari topeng itu akhirnya telah tiada di usianya yang ke 80. Meninggalkan kenangan, ilmu yang telah ia baktikan kepada setiap orang tentang tari topeng dan kegelisahanya.Tubuh itu telah terbaring, tidak akan lagi terlihat gerak keindahan dari tubuhnya.Saya sendiri hanya diam menggerakan mouse pad membaca setiap kata yang menggambarkan karya artistik dari seorang Mimi Rasinah. Saat ini dia telah tiada, namun saya percaya semangatnya akan ada diantara generasi muda yang hampir terlupa dengan seni tradisinya sendiri.

Ini hanya ungkapan yang lahir dari rasa yang hampir kehilangan makna dari seni tradisi, meski saya tidak menjadi bagian dari seni tradisi yang selalu berakhir dengan diskusi-diskusi tiada akhir. Jika saya terus diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya-karya artistik seni tradisi biarakan itu tetap ada, saya angkat penuh bangga bisa mengenal orang-orang seperti itu. Dalam kegelisahan kita harus terus menyuarakan seni tradisi.





Ngaturaken terimakasih untuk yang punya dokumentasi Mimi Rasinah yang saya pakai.

Rabu, 05 Januari 2011

Nyalakan (seni) Tradisimu!

Tahun 2008, muncul sebuah laporan setebal 600 hal., “Masa Depan Hari Ini”, mengungkap secara detail perjalanan dan lika-liku program revitalisi seni tradisi dan pertunjukan lokal di Indonesia. Beberapa temuan penting dari laporan

tersebut adalah betapa sulitnya melakukan revitalisasi seni tradisi dan pertunjukan lokal tanpa memperhatikan, menyertakan, atau bahkan menyiapkan konteks atau lingkungan pendukungnya, dan menjadikan anak muda sebagai ‘subjek’ dari pada sekedar ‘objek’ revitalisasi. Dengan kata lain, anak muda bukan hanya sebagai target untuk ‘diwarisi’ seni tradisi, tetapi sebagai subjek-pelaku yang punya keinginan, harapan, kreativitas, dan sikap terhadap seni tradisi dan lokal yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Pada tahun yang sama, Kampung Halaman, yang didukung oleh Ford Foundation, merespon catatan penting dari laporan tersebut dengan membuat program “Anak Muda dan Seni Tradisi”. Kampung Halaman bersama remaja di Dusun Tembi (Bantul, Yogyakarta), Desa Singgahan (Pulung, Ponorogo), Denpasar (Bali), Jatibarang (Indramayu) memproduksi sebuah video komunitas yang mengungkap kondisi kesenian tradisional dan lokal (termasuk adat) yang hidup di sekitar mereka, bagaimana pengalaman, suara, dan sikap mereka terhadap kesenian tradisional.


Satu tahun kemudian, 2009, munculah ide untuk mengintegrasikan hasil ‘Penelitian Revitalisi Seni Tradisi dan Pertunjukan Lokal di Indonesia’ dengan program ‘Anak Muda dan Seni Tradisi’ melalui satu program sosialisasi dan publikasi laporan,berupa: e-book, e-graphic novel book, dan video dokumenter kolaboratif yang menceritakan jalan dan konteks program ‘Anak Muda dan Seni Tradisi’ di Tembi (Yogyakarta), Singgahan (Ponorogo), dan Tambi (Indramayu).


Di awal tahun 2011, Kampung Halaman mengundang Anda pada acara NYALAKAN (seni) TRADISIMU!

PEMBUKAAN, 7 Januari 2011, pukul 15.00-18.00 WIB Halaman dan Lobby Societet, TBY, Yogyakarta. Jln. Sriwedani no. 01 PERFORMANCE ART, PAMERAN, VIDEO DOKUMENTER, CAFÉ GAUL, PELUNCURAN KOMIK dan E-BOOK, BAGI-BAGI 100 TIKET GRATIS PERTUNJUKAN “Pangeran Bintang dan Putri Embun” .

DISKUSI, 8 Januari 2011, pukul 15.00-18.00 WIB Ruang Perpustakaan Lama (sebelah Lobby Societet), TBY, Yogyakarta. Jln.
Sriwedani no. 01 bersama AFRIZAL MALNA (sastrawan dan kritikus seni pertunjukan) dan IFA ISFANSYAH (sutradara “Garuda di Dadaku”).

Kampung Halaman juga mengajak seluruh anak muda (SMU dan sederajat) menulis peristiwa NYALAKAN (seni) TRADISIMU! Pendapat, kesan, esai foto, …atau apapun!
Ayo, kirimkan tulisanmu! Ditunggu hingga tanggal 31 Januari 2011. Maks. 1000 kata, kirim ke: nyala_tradisi@yahoo.co.id (dua hadiah utama @ Rp.750.000,-).

Melalui peristiwa ini, diharapkan upaya dan proses menempatkan anak muda sebagai subjek revitalisasi seni tradisi dan menggenali seni tradisi melalui proses yang lebih partisipatoris dan menyenangkan bisa lebih dihayati oleh publik yang lebih luas. Upaya ini bukan upaya memuja-muja masa lalu, menangisi tradisi, tetapi upaya menyimpan dan memercikan semangat dari masa lalu dengan mengenali kondisi saat ini. Dengan kata lain: UPAYA MENYIMPAM API, BUKAN MEMUJA ABU.

via Kampung Halaman

Sabtu, 17 Juli 2010

Indonesia Kekinian dalam ART|JOG & Festival Gamelan Yogyakarta

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Taman Budaya Yogyakarta kali ini. Sebuah tentakel menjulur menggerogoti dinding Taman Budaya ini, didepannya terdapat pula pesawat tempur yang siap berperang. Jangan beranggapan bahwa Yogyakarta sedang diserang alien atau apapun. Mungkin anda akan terheran-heran melihat tampilan depan gedung Taman Budaya Yogyakarta. Semuanya menyala terang orange, ditambah mural yang dibuat dengan menawan oleh Eko Nugroho dengan kekhasan karyanya berupa tentakel-daging tumbuh yang melingkari sudut gedung itu. Apalagi didepan sebuah pesawat perang menunggu dengan ganas. Itu semua merupakan bagian dari acara Jogja Art Fair 2010.

Jogja art Fair tahun ini kembali hadir, dengan nama baru menjadi ART|JOG event ini kembali menghadirkan beragam karya seni rupa yang siap memberikan gambaran kondisi seni rupa Yogyakarta sekarang ini. Event yang sudah 3 kali terselenggara di Yogyakarta ini merupakan event tahunan perhelatan karya seni rupa Indonesia, meskipun diadakan di Jogja event ini tak lepas dari peran seniman peserta yang berasal dari kota-kota di Indonesia.

Indonesia Art Now, ini adalah tema yang digunakan dalam ART|JOG ini. dari informasi yang saya dapatkan, tema ini diambil untuk menajamkan pembacaan terhadap tanda-tanda didalam praktik seni rupa tanah air masa kini.

Dibagian depan ruang utama pameran kita sudah ditawarkan beragam merchandise yang merupakan project tersendiri dalam event ini. Merch I Project, merupakan gerakan seni rupa yang berawal dari kondisi seni rupa yang sering diposisikan sebagai bentuk oleh-oleh semata atau souvenir. melalui MerchIProject diharapkan karya seni rupa tidak hanya dipandang menjadi sebuah souvenir atau apapun bentuknya. Jadilah bagian dari karya adiluhung yang pernah diciptakan para seniman ini dengan memiliki karya cipta itu.

Beberapa acara yang menarik untuk diikuti antara lain adalah kunjungan ke studio seniman. Melihat ruang kerja seniman merupakan pengalaman menyenangkan tersendiri, melihat mereka berkreasi, cara menuangkan ide kedalam karyanya, bahkan tak segan seniman itu memberikan cerita-cerita pribadi tentang dirinya. Seniman yang studionya bisa dikunjungi adalah Djoko Pekik yang terkenal dengan "Celeng"nya, Nasirun seorang pelukis yang menanggap bahwa Indonesia merupakan tetesan dari surga yang bocor, Entang Wiharso seniman yang masih mempertanyakan identitas global, ikonografinya yang menjadikan karya-karya beliau. Serta Jumaldi Alfi seorang seniman yang bereksperimen tentang sebuah kemungkinan yang terus ada. Namun sayang, acara ini hanya untuk yang masih berlabel pelajar jadi untuk orang umum kemungkinan belum bisa mengikuti acara kunjungan ke studio seniman ini.

Namun, Tidak ada salahnya ART|JOG kali ini menjadi pilihan liburan akhir pekan kali ini. Acara ini akan berlangsung sejak tanggal 16 sampai 29 Juli. Menikmati Jogja dari sisi keseni-rupaan akan membawa anda ke dalam pengalaman visual yang lebih menarik tentang Jogja tentang Indonesia kekiniannya. Jadi jika anda ingin menyaksikan kondisi Indonesia dalam ruang lingkup seni rupa, tidak ada salahnya untuk mampir ke Taman Budaya Yogyakata melihat seniman kita menuangkan estetik keIndonesiannya serta pandangan-pandangan mereka tentang kondisi Indonesia kedalam seni rupa di ART|JOG ini.

Selain ada ART|JOG, Yogyakarta di bulan Juli juga memberikan sebuah acara menarik lainya. Ratusan penabuh gamelan yang berasal dari berbagai negara akan berkumpul juga dalam event international terbesar di Jogja di bulan Juli ini. Yogyakarta Gamelan Festival yang ke 15 kembali diadakan dengan mengusung tema "Gamelan Anytime".

Gamelan yang dalam perjalanannya selalu identik dengan nilai-nilai klasik mulai mencoba untuk menyatu dengan tradisi baru, kini mulai terbuka seiiring majunya perkembangan tekhnologi. modernisasi gamelan bisa kita saksikan di event yang menjadi daya tarik wisata Yogyakarta di bulan Juli ini, Trio Orchestra berhasil memberikan penampilan terbaiknya dangan kolaborasi musik etniknya pada penampilan pembuka malam 16 Juli 2010. Yogyakarta Gamelan Festival ini hanya akan berlangsung sampai tanggal 18 Juli.

2 event terbesar Yogyakarta menjadi satu di bulan Juli ini, Yogyakarta Gamelan Festival dan ART|JOG. Jadilah saksi harmonisasi nada gamelan yang disatukan oleh rasa adiluhung para pecinta gamelan dari penjuru dunia ini sambil menikmati cipta karya seni rupa seniman dalam ART|JOG.

Selamat berakhir pekan.