

Bayangan batu-batu besar diantara kabut menjadi pemandangan yang tak lazim. bayangan itu membentuk seperti binantang besar mirip monster, tapi ada juga yang seperti bidadari cantik. Inilah salah satu keunikan gunung api purba Nlanggeran, dengan batu-batu besar berjenis Breksi yang menjulang tinggi akibat dari pembentukan material vulkanik beberapa juta tahun yang lalu. Hitam, angkuh, angker batu-batu itu terlihat dalam pikiran saya membentuk bayangan aneh tapi lucu.
Bulan nampak tidak lebih besar menurutku, tidak ada perubahan malam itu. Itu yang kami lihat disana. Memang perubahan bentuk bulan tidak bisa benar-benar dirasakan selain dengan alat tertentu dan para astronom itu. Meski fenomena supermoon itu tidak bisa disaksikan langsung dengan mata langsung. Tapi malam itu memberikan sesuatu yang lebih menarik dari Supermoon.
Kami beranjak dari tempat kami tidur di pos 2. Setelah berkemas dan membersihkan sampah sisa pesta kami malam itu demi menyaksikan supermoon. Yula dan Ngashim pamit duluan untuk turun gunung karena ada keperluan. Hanya kami bertiga yang kemudian melanjutkan menuju puncak pelangi untuk menikmati sunrise pagi itu.
Jarak yang ditempuh daripos 2 menuju puncak lebih lama dari pos utama menuju pos 2. Kami menempuh sekitar 25 menit menuju puncak. Disana sudah ada beberapa kelompok yang ngecamp di deket puncak. jadilah puncak yang tidak begitu lebar penuh oleh anak muda yang menikmati alam ini. Untungnya ini kedua kalinya saya berada di tempat ini, akhirnya saya mengajak Pace dan Pariyem menuju sisi puncak kedua yang tak ada orang selain kami bertiga.
Dan, apa yang kami dapatkan kembali dari puncak ini? ini dia yang kami dapatkan dari atas sana.
Setelah menikmati hangatnya mentari pagi selama satu jam disana dan taklupa foto kenangan kamipun beranjak dari tempat itu. Tidak mudah meninggalkan kenikmatan itu tapi kami memang harus segera pergi dan perjalanan menguras keringat akan kami lakukan lagi,naik turun batu-batu besat hitam itu. Inilah sensasi yang kadang saya juga benci namun begitu menikmati dari setiap nafas yang tak rapi juga keringat yang hemm.
Ini dia perjalanan turun gunung yang sempat terekam. Dengan tenaga baru dari sinar mentari yang hangat ternyata cukup membuat kami mendapat energi lebih untuk melewati rute-rute menyenangkan dan menegangkan ini. Tidak lupa dalam kondisi apapun sebagai seorang blogger kita harus bisa menunjukan kenarsisan apapun itu. Narsis itu sangat perlu ternyata selain sebagai pura-pura nemu spot untuk foto ternyata juga bisa untuk pura-pura istirahat karena memang bener-bener capek, jadi kami tetap bernarsis ria sepanjang perjalanan.
Ditambah sensasi lainya yang didapat setelah mendaki gunung purba ini. Eh dari tadi sebenarnya ngomongin Purba melulu, memang apa bedanya gunung purba dengan gunung-gunung lainya? jadi yang saya tahu gunung itu merupakan gundukan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya memiliki tinggi diatas 600 mdpl. Dan untuk kata purba sepertinya akan selalu berhubungan dengan waktu yang berjuta-juta tahun yang lalu. Jadi kesimpulan saya artinya adalah gundukan tanah yang terbentuk berjuta-juta tahun yang lalu (semoga ini dibenarkan oleh ahli). Tapi memang pada dasarnya setelah saya baca web GAPN disitu disebutkan bahwa kenapa dinyatakan Nglanggeran sebagai gunung api purba memang dengan penelitian oleh ahliyang akhirnya menyimpulkan bahwa gunung yang memiliki tinggi 700mdpl ini merupakan gunung api purba.
Adalagi keunikan yang ada disekitar Nlanggeran. Ada suatu kampung di sisi bukit yang hanya ditempati 7 KK. tidak kurang dan tidak lebih, beberapa orang membenarkan cerita ini ketika saya tanya. Hanya ada 7 rumah dengan 7 keluarga. Dari informasi yang saya terima jika melebihi atau kurang itu tidak dibolehkan oleh adat setempat, atau bisa-bisa akan terjadi sesuatu. Sungguh keunikan tersendiri. Sayang tetep tidak punya waktu untuk mengunjungi tempat tersebut.
Akhirnya kami sampai di Pos Utama pada pukul 9 pagi. sesuai dengan rencana,setelah turun kami langsung mencari sarapan yang terdapat di sekitar lokasi pos utama. disini memang ada beberapa warung yang memang disiapkan untuk mendukung tempat wisata alam ini. Soto sapi menjadi pilihan pagi itu, cukup saya tidak bisa menuliskan tentang sarapan pagi itu.


Tetap pesan untuk pecinta gunung dan alam ini(titipan pemuda karang taruna Nglanggeran), rawatlah gunung tersebut biar tetep ijo dan tetep bisa kita nikmati. tidak membuang sampah disana (masih saja saya menemukan bungkusan snack yang dengan sengaja dibuang di setapak jalan selama perjalanan).
Beberapa gambar bagus yang kami dapatkan sebagai bonus. Jadi ingat pesan seorang teman, Nglanggeran memang menyimpan banyak gudang ilmu pengetahuan alami. kehidupan tumbuhan, binatang dan tentunya sejarah batu breksinya semoga akan menarik orang untuk datang ke tempat itu.




Tweet