Siapa yang ingin menjadi pilot? beberapa anak mengacungkan jarinya. Kemudian guide yang lucu dan sabar menghadapai anak-anak ini melanjutkan pertanyaannya, kalo pesawat terjadi kerusakan siapa yang memperbaikinya? montir, seru beberapa anak. Guide yang bernama Ula ini kemudian memberi sedikit pengetahuan tentang kondisi transportasi udara sebelum rombongan anak-anak menuju ke GMF Aero Asia(Garuda Maintenance Facilities). Pesawat merupakan alat transportasi yang paling aman, kenapa paling aman, karena setiap sebelum dan sesudah melakukan transportasi pesawat tersebut akan dicek, diperiksa semuanya. dan, yang memeriksa itu namanya teknisi bukan montir. Jadi anak-anak, yang mbenerin atau memeriksa pesawat adalah teknisi bukan montir ya.
Senin, 26 Desember 2016
Jumat, 09 September 2016
Sansevieria Pinguicula, Koleksi Baru Kami

Heboh sendiri ketika mendapat hibahan sansevieria dari seorang kolektor. saya beruntung sekali mendapatkan lebih dari satu pot sansevieria beragam jenis ini. Dari yang istimewa sampai jenis sansevieria sangat istimewa. Sampai saya sendiri tidak tahu nama id jenis sansevieria ini. Satu persatu mulai mulai dibersihkan dan repoting, Sansevieria Pinguicula yang merupakan the Quenn of sansevieria ini menjadi prioritas untuk dipindahkan ke pot yang baru. Pot istimewa untuk tanaman istimewa.
Berikut ini hasil repoting Sansevieria pinguicula koleksi baru di kebun kami, selamat menikmati manfaat dan keindahan serta ketajamannya.
Sabtu, 30 Juli 2016
Masuk lagi ke Gua, Sambil Belajar.
Aroma tanah basah, lembab langsung terasa ketika saya
memasuki ruang gelap di salah satu lubang bumi di tanah Bogor. Hari itu
saya berkesempatan untuk ikut ke dalam rombongan pelatihan fotografi gua
yang diadakan oleh ISS Indonesian Speleological Society. Sudah lama
sekali saya tidak memasuki lorong-lorong gelap dalam tanah, memasukinya
kembali memberikan perasaan yang sudah lama saya rindukan.
Lorong gua yang gelap, basah, bagiku selalu memberikan tantangan, apalagi saya baru pertama kali masuk ke gua ini. Gua yang kami masuki dari cerita tim memiliki 2 entrance, horisontal dan vertikal. Meski tujuan utama adalah untuk mempelajari fotografi gua, saya lebih menikmati hal-hal lain seperti melihat semua yang ada di dalam gua ini termasuk biota guanya. sayang meski saya sudah sangat dekat dengan si pingky (begitu anak-anak menyebutnya) salah satu biota yang katanya hanya ada di gua ini saya tak bisa melihatnya.
![]() |
Tetep keren |
Lorong gua yang gelap, basah, bagiku selalu memberikan tantangan, apalagi saya baru pertama kali masuk ke gua ini. Gua yang kami masuki dari cerita tim memiliki 2 entrance, horisontal dan vertikal. Meski tujuan utama adalah untuk mempelajari fotografi gua, saya lebih menikmati hal-hal lain seperti melihat semua yang ada di dalam gua ini termasuk biota guanya. sayang meski saya sudah sangat dekat dengan si pingky (begitu anak-anak menyebutnya) salah satu biota yang katanya hanya ada di gua ini saya tak bisa melihatnya.
Sayang lagi harus saya
sebutkan, ketika memasuki gua lebih dalam lagi ternyata saya menemukan
beragam bentuk limbah, sampah rumah tangga yang berukuran kecil sampai
kasur yang kemungkinan dibuang oleh warga.
Dalam kegiatan
kali ini saya bertemu dan berkenalan dengan fotografer gua yang berasal
dari NSS national speleological society Colorado, Norman Thompson dan
istri serta temannya. Memang acara ini adalah berbagi pengalaman dan
berbagi ilmu tentang fotografi gua. Karena menurut saya sendiri
fotografi gua menjadi penting untuk memadukan keindahan dan fungsi
gambar yang memberi info kondisi gua. sehingga yang melihat gambar akan
menjadi tertarik. Banyak info penting yang saya dapat dari Norman
Thompson ini. Beberapa tips bisa dilihat di video yang saya bikin khusus
untuk ISS Masyarakat Speleologi Indonesia.
Selasa, 21 Juni 2016
Behind the Scene Eagle documentary series Special Project: eps. Pesona Tanah Leluhur
Tiba-tiba perahu yang kami naiki mulai bergoyang dengan
cepat, menuju ke tengah ombak semakin meninggi. Saya yang duduk di ujung
perahu, perlahan mundur ke belakang. Kamera strip saya ikatkan ke
lengan biar aman. Padahal tadi waktu masih di dermaga, cuaca sangat
bersahabat. Langit biru, angin yang sepoi ga sekencang ini. Akhirnya
kapten perahu memutuskan untuk mampir dulu ke pulau Liwungan.
Tranplatasi terumbu karang dilanjutkan nanti setelah angin mereda.
Kamipun tak menyia-nyiakan ketika berada di pulau kecil ini. Pulau
Liwungan menjadi salah satu destinasi ketika wisatawan berada di area
teluk Ladda dan Tanjung lesung. Ini hari ke -4 pengambilan gambar untuk
eagle documentary series episode Tanjung Lesung. Ga terasa memang,
padahal saya masih ingat bagaimana Lutfi masih duduk di perahu
mengenakan vest orange, sedang diskusi dengan pak Arif, salah satu
narasumber kami. Melihatnya berbicara dengan pak arif di atas perahu
yang bergoyang karena ombak, dan saya seperti melihat orang yang dulu
sangat saya cinta. seperti itulah dia, yang membuat saya jatuh cinta.
Ini produksi program dokumenter ke-2 tahun ini untuk kami,
kalo saya masih beberapa menjadi editor project dokumenter temen.
Produksi kali ini merupakan special project eagle documentary series.
Tentang Tanjung Lesung, satu dari 10 destinasi wisata prioritas
pemerintah untuk dijadikan magnet wisatawan dalam dan luar negeri. Bagi
saya Tanjung Lesung sangat indah di beberapa spotnya. Jenis atraksi
wisata yang beragam dan juga aktifitas yang menyenangkan. Memang
membutuhkan duit banyak untuk bisa menikmati Tanjung Lesung tapi kita
masih bisa menikmati spot indah lain dengan menggunakan jasa wisatawan
setempat, lebih hemat. Yang masih disayangkan adalah, harga makanan di
desa nelayan sangat mahal, warung makannya ga sesuai sekali, dianjurkan
untuk melihat harganya. Mending nambah dikit terus makan di restoran
tanjung lesungnya.
Dua hari pertama kami habiskan untuk mengambil footage
atraksi dan keindahan Tanjung Lesung. Vila dan hotelnya yang mengesankan
tidak lupa kami ambil. Untung saja kami mendapatkan cuaca yang kami
inginkan, dan sunset yang menawan. Ada juga gambar gunung krakatau yang
terlihat dari hotel.
![]() |
Sebelum cuaca semakin tidak baik, dan langit semakin mendung. |
![]() |
Senjata produksi kali ini |
Hari berikutnya kami berencana ambil tranplatasi terumbu
karang. Seperti yang saya tulis diatas, rencana berubah karena cuaca dan
kami tetap menikmatinya. Inilah untungnya kerja sambil bermain, jadi ga
kerasa. Meski kerasa dikit kecemasan kalau hujan trus ga dapat gambar.
Hari keempat kami gunakan untuk mengambil gambar desa
wisata cikadu, yang didalamnya terdapat perajin batik. Di sana kami
mengambil kelompok ibu-ibu dari kelompok seni yang saya lupa namanya.
Pengambilan berlangsung lancar meski sedikit terkendala audio dari mesin
penggiling padi.
Hari ke lima adalah hari terakhir kami suting, memang tak
sesuai jadual, masih ada hari keenam. Tapi karena ada suatu sebab yang
bisa bikin malu dan trauma serta tak mau saya ceritakan maka suting
berhenti di hari kelima. Hari itu kami mengambil footage profile dari
sepasang wisatawan di tanjung lesung. Meski kaki bergetar, tubuh terasa
panas. Suting di villa berlangsung lancar.
Inilah sedikit cerita dari produksi kami untuk eagle
institute indonesia. Produksi kali ini saya merasa belum cukup puas
dengan kondisi di lapangan. Tapi, kami tetep senang setelah melihat
hasil tayangannya. Terima kasih untuk semua tim di kedoya, editor mas
darwin nugraha dan aris. Dan, tentu saja untuk director, penulis,
sekaligus istri yang selalu ada di setiap produksi.
![]() |
ini bossnya |
![]() |
Pilot yang bareng kami, Awal |
![]() |
Yeah, happy di atas dua roda. |
![]() |
Poster pertama |
![]() |
Favorit |
![]() |
Perajin Batik khas Banten |
Minggu, 01 Mei 2016
Teman Kopi #1 Aroma Pasar di Pasar Minggu
Bagi saya kopi itu seperti seorang teman, ada kalanya ia menjadi pengobat rindu, suatu waktu ia meringankan kepala dengan pekatnya rasa yang ia punya. Kopi seperti seorang teman yang memberikan hiburan, apalagi ketika kopi bertemu dengan canda, tawa, dan cerita. Ini cerita kopiku, dari rasa yang menggugah rasa.
![]() |
Apa yang kamu lihat bisa jadi bukan seperti yang kamu rasakan. |
Saya menyebutnya riak kopi, ia muncul ketika seduhan air dari panci yang saya tuang ke dalam cangkir kecil dengan 2 sendok kopi arabika yang saya dapat di pasar minggu. Sambil membayangkan seorang penari yang meliuk, air yang saya tuang mengikuti iramanya, berputar menimbulkan percikan kecil yang terdengar nyaring. Aromanya belum muncul, saya menantinya. Sambil menanti aroma arabika Wamena, akan saya ceritakan di mana bisa mendapat kopi dengan rasa istimewa ini.
Pasar Minggu, dulu terkenal dengan macet dan semrawutnya jalan yang menyatu dengan pasar tersebut. Dengan perlahan dan sedikit dibumbui dengan konflik ketika pemkot Jakarta mencoba berbenah, Pasar Minggu kini lebih baik dari sebelumnya, ini pendapat saya pribadi ketika pertama datang ke pasar minggu dengan kondisinya yang untuk jalan motor aja susah. Sekarang, saya merasa nyaman.
Kembali ke urusan kopi, sebenernya yang pertama tau ada kios kopi di dalam pasar Pasar Minggu adalah istri saya. Karena penasaran sayapun tertarik ingin berkunjung dan mencoba membeli beberapa ons kopi.
Akhirnya kami menemukan kios kecil penjual kopi tersebut. Sedikit lupa dan terasa menyenangkan memang ketika kita belum hapal kios pasar di dalam pasar minggu. Ramai orang dengan bentuk kios yang hampir sama, dan kecil, bisa membuat bingung. Ditambah hmmm aroma pasar yang membaur campur menjadi satu, aroma pasar! Setelah berputar-putar kami menemukannya, sayang kios yang dimaksud tutup. Tapi tidak kios yang sebelahnya. Kenapa kios ini tutup, akan saya tulis di blog post berikutnya, tunggu ya. Soalnya kios yang tutup tersebut menurut istri saya, orangnya lebih tau tentang kopi yang ia jual dan dia sangat ramah.
Kios kopi mereka bersebelahan, karena tujuan kami tutup, maka daripada pulang dengan tangan kosong kami mencoba ke kios sebelahnya. Namanya kios Merli Jaya, meski diplakat tertulis toko entah kenapa saya lebih suka menyebut kios. Kios ini terletak di lantai dasar, los C55-56 proyek pasar minggu. Kami bertemu dengan seorang ibu berkerudung yang menjaga kios. Berkerudung ping dan berkacamata. Saya lupa menanyakan nama beliau.
Pasar Minggu, dulu terkenal dengan macet dan semrawutnya jalan yang menyatu dengan pasar tersebut. Dengan perlahan dan sedikit dibumbui dengan konflik ketika pemkot Jakarta mencoba berbenah, Pasar Minggu kini lebih baik dari sebelumnya, ini pendapat saya pribadi ketika pertama datang ke pasar minggu dengan kondisinya yang untuk jalan motor aja susah. Sekarang, saya merasa nyaman.
Kembali ke urusan kopi, sebenernya yang pertama tau ada kios kopi di dalam pasar Pasar Minggu adalah istri saya. Karena penasaran sayapun tertarik ingin berkunjung dan mencoba membeli beberapa ons kopi.
Akhirnya kami menemukan kios kecil penjual kopi tersebut. Sedikit lupa dan terasa menyenangkan memang ketika kita belum hapal kios pasar di dalam pasar minggu. Ramai orang dengan bentuk kios yang hampir sama, dan kecil, bisa membuat bingung. Ditambah hmmm aroma pasar yang membaur campur menjadi satu, aroma pasar! Setelah berputar-putar kami menemukannya, sayang kios yang dimaksud tutup. Tapi tidak kios yang sebelahnya. Kenapa kios ini tutup, akan saya tulis di blog post berikutnya, tunggu ya. Soalnya kios yang tutup tersebut menurut istri saya, orangnya lebih tau tentang kopi yang ia jual dan dia sangat ramah.
Kios kopi mereka bersebelahan, karena tujuan kami tutup, maka daripada pulang dengan tangan kosong kami mencoba ke kios sebelahnya. Namanya kios Merli Jaya, meski diplakat tertulis toko entah kenapa saya lebih suka menyebut kios. Kios ini terletak di lantai dasar, los C55-56 proyek pasar minggu. Kami bertemu dengan seorang ibu berkerudung yang menjaga kios. Berkerudung ping dan berkacamata. Saya lupa menanyakan nama beliau.
![]() |
Ibu dengan kerudung Pink |
Saya langsung cinta dengan aroma pasar di posisi saya berdiri saat itu, bukan aroma pasar yang hmmm... Kopi dengan keistimewaannya memang memberikan wangi yang mudah diingat. Bau kopi, bau biji kopi, aroma biji kopi wangi. Lutfi sudah asik berbincang dengan ibu tersebut, saya masih mengagumi sudut kecil di ramainya pasar pasar minggu ini. Sambil tangan saya bergerak mengambil sejumput teh yang ada di depan saya. Lho kok teh, sebagai informasi kios ini selain menjual kopi juga menjual teh dan kerupuk serta keripik.tehnya macem-macem dan baru pertama kali saya meliihat bentuk teh seperti itu.
Istri saya langsung tanya, jadi mau ambil yang mana? Saya menanyakan pada ibu berkerudung ping dan memakai kacamata, biji kopi yang paling mahal yang mana bu. Di kios tersebut terdapat bermacam-macam biji kopi dengan toples yang sudah dilabeli dengan harga. Dan saya masih sepakat dengan pernyataan bahwa harga menentukan kualitas. Ibu itu menunjukan toples yang berada paling atas. Di wadah tersebut tertera label, sebenernya bukan label, melainkan kertas bertuliskan dan stiker harga dengan kreasi tangan pendjoealnja. Harganya 300ribu satu kilo. Saya kemudian meminta satu ons saja. Saya kemudian meminta untuk digiling agak halus aja, tapi ga terlalu halus agar rasanya masih bisa saya rasakan. Meski ternyata hasilnya halus maksimal dari si ibu berkerudung dan berkacamata. Tak apa ternyata tetep nikmat kok setelah saya mencobanya, meski halus sangat. Kadang saya sendiri ga masalah kok, mau halus atau tidak halus.
![]() |
Ibu dengan kerudung Pink sedang menggiling halus kopi pilihanku |
2 ons teh juga kami ambil, teh brindil dan teh pucuk yang diiris tipis. Rekomended banget pokoknya, kedua teh ini. legit dirasa, kentel setelah saya coba satu-satu di rumah. Kudu nyobain nih, citarasa pucuk teh dari puncak ciajur.
![]() |
Beberapa teh yang dijual di kios ini, wangi. |
![]() |
Teh Brindil, karena mungkin brindil-brindil |
Sepertinya kopi yang saya seduh sudah siap, wangi asam tercium nikmat. Masuk, menusuk dari lubang kecil hidung sampai masuk dan terasa sampai ke otak... Ga lebai karena emang begitu adanya.
Pagi masih indah, seindah cangkir kedua saat itu. Tak ada yang salah ketika dua insan menyatu, begitu juga kopi menyatu dengan gula pasir. Saya tambahkan satu sendok gula, jangan terlalu banyak biar ga terlalu rusak asamnya. Mari kita nikmati, karena teman selalu dibutuhkan untuk berbagi rasa. Seperti teman, kopi juga dibutuhkan karena ia seperti seorang teman.
Pagi masih indah, seindah cangkir kedua saat itu. Tak ada yang salah ketika dua insan menyatu, begitu juga kopi menyatu dengan gula pasir. Saya tambahkan satu sendok gula, jangan terlalu banyak biar ga terlalu rusak asamnya. Mari kita nikmati, karena teman selalu dibutuhkan untuk berbagi rasa. Seperti teman, kopi juga dibutuhkan karena ia seperti seorang teman.
![]() |
Mari sruput kopinya |
![]() |
Kemasan kopi 1 ons |
![]() |
Sentuhan rasa dari biji kopi. |
Jumat, 29 April 2016
Behind the Scene Eagle documentary series: eps. Merajut Desa Harapan
Hujan turun sangat deras menemani perjalanan kami bertiga menuju gunung kidul, jogja. Saya, Lutfi dan Nasrul, hanya kami bertiga dengan setumpuk alat untuk suting eagle documentary series di Gunung Kidul. 11 jam waktu tempuh yang sangat cepat menuju Gunung Kidul setelah dikurangin makan dan sholat di beberapa tempat.
![]() |
Perjalanan menyenangkan tanpa terasa |
![]() |
The Best driver partner, Mas Nasrul |
Sampai gunung Kidul di dini hari yang sepi nan dingin. Kami dijemput oleh warga Bleberan untuk diantar ke penginapan di rumah warga.
Ini produksi pertama untuk metro tv bagi saya, seringnya untuk tv tetangga dan tetangganya lagi. Membuat program tv dokumenter bagi saya seperti sedang bermain, karena saya menyukai feature seperti ini.
6 hari menjadi waktu yang sangat sedikit, tapi harus kami maksimalkan. Berikut ini foto kehebohan suting eagle documentary series episode Merajut Desa Harapan, yang bercerita tentang perjuangan masyarakat desa Bleberan dan Sri Getuk membuat desanya maju dengan wisata. Wisatanya wisata alam yang berasal dari air terjun.
Sebelumnya project ini diberi title oleh sutradaranya istri cantik saya sendiri ehmm Lutfi, "Air Mata Kehidupan" karena semua perubahan di desa tersebut bermula dari air. Tapi setelah proses editing berganti title. Ditambah rusaknya hardisk menjelang penayangan, jadinya dengan waktu mepet untuk editing berhasil dijahit ulang oleh editornya salut untuk. Yang telah bekerja maksimal.
![]() |
Best view, Sunrise di Nglanggeran, Gunung Kidul |
![]() |
Capture mbah pembuat tiwul terenak di Bleberan |
![]() |
Capture mata air. semua air terjun berasal dari mata air jernih ini |
![]() |
preview aerial footage dari om agung nih pilotnya |
![]() |
Sunrise timelapse |
![]() |
that its me |
![]() |
Mas Nasrul bergaya nih |
![]() |
Agung fotonya ga madep kamera nih. pilot dronenya |
![]() |
spesial culinary from Gunung Kidul |
![]() |
taste of Gunung Kidul, hmmm |
![]() |
cemilannya gan |
![]() |
This is us |
Kamis, 28 April 2016
Patah SatuTumbuh Seribu
Patah satu tumbuh seribu. Semoga ungkapan ini menjadi benar untuk saat ini. Pagi yang cerah di salah satu vila di cipanas. Masih dalam tahap latihan jadi expert pilot yuneex. Gunung GedePangrango dan gunung Salak terlihat dengan jelas dari tempatku berdiri menikmatinya. Tidak begitu dingin ternyata sekarang, meski berada di puncak cipanas. Masih pukul 6 pagi, di dalam vila sudah ramai crew video klip yang sedang mempersiapkan peralatan mereka. Mas tris sudah mulai make over artis video klipnya. Suara adukan gelas dari seduhan kopi dan the terdengar, membuat saya ingin meminta dibuatkan.
Saya menyiapkan alat baru dari kantor, sebuah RC quadqopter dengan kamera 4K yang sangat keren menurutku. Diberi tanggung jawab untuk bisa memakainya dan menjaganya maka saya harus sering terbiasa menggunakannya untuk tau seberapa canggih dan hebat serta tentu saja seberguna apa alat ini untuk kami. Latihan terbang sudah dilakukan beberapa kali, dan ini yang ketiga kali menerbangkan drone dari yuneeq q500.
Pagi yang cerah membuatku bergegas menyiapkan satu box yang berisi drone ini. Setelah semua baling-baling terpasang dan dinyakakan mesin serta remote ternyata memory card belum terpasang. Belum terbiasa :). Wuuuuung wuuuuing si yuni begitu panggilan untuk drone ini sudah melesat vertikal ke atas. Ganteng sekali si yuni ini, hitam dan terlihat sangar.
Masih dalam tahap belajar, selalu bermanuver standart. Si yuni terbang selama 20 menit dengan 2 batre tentunya. Seneng rasanya bisa menerbangkan alat seperti ini. Hingga musibah itu terjadi.
Batre yang sudah dicharge aku pakai untuk latihan, awalnya aku akan mengambil gambar crew yang sedang bersiap shooting. Si yuni aku alihkan ke mode turtle, setelah dinyalakan dia terangkat rendah setinggi 80an senti. Kemudian dia tiba-tiba oleng dan prank dia menabrak tiang terus nyungsep ke tanaman. Kejadian itu dilihat oleh semua crew, kecuali tim make up yang didalam :).
Baling-baling patah satu, yang lain tidak apa-apa dan untung saja body si yuni ga lecet sedikitpun. Semua begitu cepat sebenernya aku pengin ngerti apakah si drone ini mati otomatis atau aku matiin saat itu, karena lupa. Ga inget dah. Tau-tau udah langsung aku ambil aja dari tanah selepas crash.
Yak patah satu sebagai pembelajaran karena aku yakin bakal tumbuh seribu lagi. Kalo ga gitu ga bakal bisa-bisa, begitu seloroh bosku. Thanks bos...
Di kantor beberapa hari kemudian saya cerita ke temen PA trans7 kalo baling-balingku patah satu. Dia malah tertawa, katanya dia sudah matahin tiga. Menjadi hal biasa bagi seorang pilot drone quad qopter mengalami hal seperti itu ternyata. Kamipun tertawa, semoga bisa menjadi lebih baik lagi tetap semangart! Patah satu yakinlah bakal tumbuh seribu!
![]() |
looks cool hahahaha, that its me :) |
Rabu, 30 Maret 2016
Test Flight Yuneec Typhoon Q500
![]() |
Selatan Jakarta, Lapangan Pomad view spot. |
Keindahan gambar bisa dihasilkan dengan beragam cara. Salah satu yang sekarang ramai untuk menghasilkan gambar menarik adalah dengan angle lebar dan dari atas atau high angle. penggunan Quad qopter bahkan lebih menjadi pilihan yang terbaik. RC aero yang sangat ngetrend ini menjadi pilihan karena sangat mudah digunakan, tentunya dengna mempelejarinya lebih dulu.
Dari kantor, bos besar yang juga memiliki kecintaan pada gambar-gambar bagus akhirnya membeli sebuah drone. Yuneec typhoon Q500+ menjadi pilihan. Minggu kemarin saya berkesempatan untuk test flight bersama si yuni ini(yuneec ternyata sering diplesetin menjadi yuni oleh komunitas RC) Bagi saya setelah 30 menit mencoba Yuneec Typhoon Q500 ini ternyata memberikan efek aman. ya, aman adalah kekuatan pertama bagi saya untuk menerbangkan drone. Rasa aman yang bisa menyingkirkan rasa takut jika terjadi crash.
![]() |
Unboxing Typhoon Q500 |
Quad Qopter ini dilengkapi dengan fitur yang bisa membuat pilotnya merasa aman. gimbal 3 axis yang sudah termasuk didalam paketnya bersama kamera 3CGO mennjadi kesatuan yang menarik, redaman ga terasa ketika kita mengambil gambar. karena pilot nubi jadi belum mencoba untuk bermanufer mengambil gambar. Nanti dicoba selanjutnya, semoga dengan adanya tambahan alat ini Basecamp kami Alfa Griya Visual menjadi makin baik dan makin banyak job.
![]() |
Test Flight |
![]() |
Penampakan Yuneec Typhoon Q500 |
Kesimpulan: Yuneec Typhoon Q500+ sangat cocok untuk pemula. jangan takut untuk mencoba semua fitur. Kalibrasi awwal yang harus dibolak-balik dan restart power untuk siap terbang.
Label:
Drone,
Produksi Film,
Yuneec Typhoon,
Yuneeq
Kamis, 17 Maret 2016
Dari Balik Jendela
Tidak ada yang terlewat, meski itu hanya sekelibat. Dia
datang, kemudian pergi. Pagi hari yang sangat cerah di selatan Jakarta,
aku sengaja ingin mengalami, menikmati tanpa harus melihat yutub untuk
gerhana matahari total yang terjadi di tahun ini, dari para peneliti sih
hanya terjadi di abad ini. Aku terbangun bersama istri paling manis di
semesta ini. Kami bersama melihat fenomena gerhana ini dari balik
kendela kamar.
Kecil memang terlihat matahari yang sangat jelas seperti
bulan sabit waktu kami melihatnya. Dari pantulan kaca jendela, gerhana
kami lihat tanpa kacamata, meski harus sedikit menyipitkan mata untuk
melihat jelas. Dari balik jendela kami menatapnya. Dari balik jendela
kami berdua menikmatinya, hanya kami berdua :). Serasa milik berdua,
kamar kami.
Udah, sepertinya hanya ingin menuliskan itu saja. Disela
Maret bulan penuh kasih sayang bagiku. Disela kesibukan jadual motret
dan juga suting, hanya ingin menuliskan itu. Itu sudah, bagaimana
denganmu? Semoga tidak hanya melihat gerhana dari layar yutub ya :).
![]() |
Dari Balik Jendela |
Senin, 07 Maret 2016
Dari Sawah Turun ke Hati
Salah satu hal yang bisa membuat orang merasa bahagia adalah
mendapatkan makanan yang menjadi kesukaannya. Termasuk saya, rasa bahagia
selalu muncul dengan sendirinya ketika saya menemukan makanan kesukaan. Tapi,
ini bukan hanya tentang makanan, melainkan kenangan masa kecil yang ikut muncul
ketika saya bisa menikmati makanan tersebut. Kenangan masa kecil ketika saya
dan sepupu juga beberapa teman di kampong saya bermain di sawah mencari keong
kraca untuk kami masak. Ini adalah ceritaku dari sawah turun ke hati yang
menjadi kenangan menyenangkan masa kecil di sudut otak ini.
Cuaca mendung saat itu tak meyurutkan saya dan beberapa
teman di kampong Ranjingan untuk mencari keong kraca, keong kraca di beberapa
tempat disebut sebagai keong tutut. Meski orang tua kami melarang pergi ke
sawah ketika hujan, kami tetap pergi dengan membawa ember sebagai wadah keong
hitam keci-kecil tersebut.
Dulu kami sering mendengar cerita orang-orang tua di kampong
bahwa banyak kejadian orang yang disambar petir di sawah ketika hujan. Memang
cerita seperti itu membuat saya takut saat itu. Tapi, bayangan kenikmatan dari
kuah kuning keong kraca tersebut bisa mengalahkannya ditambah kenakalan masa
kecil yang diharuskan menjadi pemberani.
Rintik hujan sudah turun, kami tetap menyusuri pematang
sawah untuk mencari keong tersebut. Kaki-kaki kami mulai turun memasuki lumpur
sawah yang menunggu untuk ditanami padi lagi. Biasanya keong kraca dengan mudah
ditemukan ketika padi di sawah sudah selesai dipanen. Selain itu juga kaki kita
bisa leluasa menginjak lumpur sawah tanpa takut merusak padi karena memang
sudah tidak ada. Satu demi satu keong kecil tersebut memenuhi ember kami.
Setelah ember penuh, dengan penuh kebahagian kami pulang.
Badan beraroma lumpur dan basah kuyup karena hujan menjadi masalah yang
menyenangkan. Dan, kami membersihkan diri dulu di sumur tetangga sebelum sampai
rumah agar terlihat tidak terlalu kotor, tentunya agar tak dimarahi oleh orang
tua kami.
Biasanya keong direndam dulu semalam untuk menghilangkan
kotoran keong, merendam keong semalaman bisa mengurangi rasa pahit dari keong
kraca. Setelah direndam hal yang paling menyenangkan adalah memotong
buntut(ujung belakang keong). Sungguh menyenangkan itu semua, kenangan masa
kecil yang terekam dengan baik. Semua menjadi lebih bahagia ketika keong sudah
matang dan kami makan bersama-sama.
Belasan tahun berlalu. Kenangan itu kembali muncul ketika
saya suting program tv kuliner di Bandung. Produser saya waktu itu memberi tahu
bahwa ada keong tutut di warung tersebut. Saya ga tahu awalnya apa itu keong
tutut, ternyata….
Bahagia itu sederhana. Memang benar adanya kalimat tersebut.
Bahagia bisa menemukan kembali potongan masa kecil melalui makanan sederhana
itu.
Sekarang setelah saya berkeluarga, bersama istri cantik saya.
Kami membuat sendiri keong kraca berkuah yang menjadi favorit dulu waktu kecil.
Meski tanpa harus turun ke sawah karena menemukan penjual keong tersebut di
pasar kramat jati.
![]() |
Makan berdua |
Sekali lagi, bahagia itu sederhana. Kami menikmatinya
berdua, memasaknya berdua, mengolahnya dengan penuh tawa karena lutfi baru
pertama kali memasak menu tersebut. Ingatan masa kecil selalu terbawa bersama butir
demi butir keong tersebut, ingatan yang bahagia. Tidak ada yang lebih nikmat
ketika kita punya rasa itu. Rasa yang pernah berasal dari kaki-kaki kecil
berlumpur di sawah dengan tawa bahagia yang terbawa hingga saat ini.
Dan akhirnya kami memutuskan untuk memasukan menu keong
kraca menjadi salah satu menu bulanan istimewa kami. Terima kasih istriku. Terima
kasih hikayat dari sawah yang turun ke hati dan terbawa sampai saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)