Jumat, 29 Maret 2013

Selangkah Lebih Dekat

Pagi, siang, malam, dini hari.Setiap saya beranjak dari tempat saya tidur, terkadang beragam pikiran mulai muncul. dari yang ringan sampai ringan sekali. Memang pikiran yang berat seringnya saya tidak dipikirkan dulu ketika baru beranjak dari tempat tidur.

Hari ini saya mau tuliskan betapa kekuatan impian itu memang menjadi luar biasa ketika kita benar-benar ingin mewujudkannya. sesuatu yang kecil, berawal dari keinginan untuk membuat sesuatu untuk Indonesia(sedikit ga ringan ketika kita menyebut Indonesia). Pikiran ringan-ringan berat yang tidak bisa dibuang begitu saja.

Saya ingin melakukan sesuatu untuk Indonesia. Awalnya saya bukan siapa-siapa ketika menceritakan hal ini kepada kawan-kawan saya. beberapa bahkan menertawakan. Tapi, kemudian saya bertemu orang-orang hebat yang saya berani bilang merekalah orang-orang yang benar-benar mengerti, mengenal apa itu Indonesia.

Bersama mereka, menjadi bagian kecil dari mereka untuk mengenal Indonesia. Mereka adalah para pendaki yang mencintai tanahnya, tanah Indonesia. Dimana identitas keIndonesiaan muncul bersama mereka, jiwa-jiwa yang beruntung bisa merasaka Indonesia.

Saya bukan seorang pendaki. setiap keringat yang menetes, peluh, lelah dan asa menyatu bersama langkah yang lunglai. hanya untuk mencari apa yang tidak bisa dituliskan. Kemana saya pergi, mencari apa. Melakukan hal yang bodoh, bahkan beberapa orang menyebut itu sia-sia. kawan, saya menyadari itu semua.

dari setiap lelah yang saya rasakan, saya mulai merasakan sesuatu yang lain. kemudian sampai akhirnya saya berteriak lantang bahwa INI INDONESIA!

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita orang penting, yang akan mengubah ironi menjadi sebuah harapan baru. Ironi tentang Indonesia yang banyak orang bilang sebagai negara korup, politik yag amburadul dan cercaan lain yang semakin membuat indonesia kehilangan identitasnya.

Kita yang mencintai alam dan tanahnya akan merubah ironi itu, menjadi sebuah harapan yang lebih baik untuk Indonesia. teriakanlah terus dengan lantang Ini Indonesia. Tunjukan pada dunia bahwa Indonesia bukan hanya korupsi,politik yang carut marut. jika kita terus kobarkan jiwa semangat kita, semoga harapan kita semua menjadi kenyataan. Jelajahi terus setiap sudut Indonesia ini, katakan pada mereka hingga mereka benar-benar merasakannya.

Ini impian yang telah terpendam bertahun-tahun, impian dari seorang pekerja TV untuk sesuatu yang berbeda, untuk Indonesia.


 

Senin, 15 Oktober 2012

Warna-warni Hari Kemarin

 
Sabtu kemarin bisa dibilang hari yang uckup menyenangkan, ketemu temen-temen lama, meski hanya sebentar. Sama seperti tahun lalu acara Social Media Festival atau lebih sering disingkat menjadi SocMed Fest menjadi agenda yang harus didatangi. Awalnya saya datang kesana untuk main ke stand Indonesia Berkebun, cukup lama berada di stand tersebut baru ingat kalau ada temen-temen dari Story Lab Bandung dan Kampung Fiksi juga ikut berkolaborasi bikin acara di SocMed tahun ini.

Saya telpon Mas Nur, berharap dia beneran ada di Jakarta di acara ini. Ternyata memang pas, acara temen-temen Story Lab dan Kampung Fiksi akan berlangsung sebentar lagi. Mereka ngadain diskusi mengenai visualisasi cerita pendek menjadi sebuah karya audio visual yaitu film pendek.

Setelah telpon yang kedua saya langsungmenuju ke lokasi acara, disana sudah ada temen-temen dari Kampung Fiksi dan Story Lab tentu saja Mas Nur yang kumisnya saya lihat makin tipis. Ada juga Babeh Helmi yang selalu menyempatkan hadir acara temen-temen dari kompasiana. Kagetnya lagi ternyata ada mbak Endah yang jauh-jauh dari Jogja untuk acara ini. Salut untuk kekompakan temen-temen eh emak-emak dari Kampung Fiksi, jauh di Jogja saya merindukan bisa ngumpul kayak gini bersama temen-temen Canting :D.

Acara hampir dimulai, saya sempatkan duduk-duduk leyeh didepan lokasi bersama mas Edu dan Bintang Utamanya Emak Winda dan mas Nur, kemudian datang dengan cukup ramai NdiGun yang selalu24 jam full nonstop di timeline twitter. Seorang dengan monopod kamera video ditangannya, matanya tertuju pada viewfinder kamera sesekali menatap objek yang ada didepan kameranya dia kang Srondol lengkap dengan reporter dadaknnya yang katanya terpaksa,Naim Ali.

Diskusi dimulai oleh NdiGun dengan kecentilannya menggoda peserta yang hadir. Mbak Winda mulai mengajak peserta bermain dengan imajinasinya untuk mulai menulis dan menulis. Kemudian, Mas Nur atau orang lebih mengenal mas Dimas bercerita mengenai proses visualisasi dari cerita pendek berubah jadi karya film pendek. Cerita pendek dari mbak Ramdhani Nur yang berjudul Warna-warni Marni yang kemudian diadaptasi menjadi film pendek oleh Story Lab Bandung. Cerita mengenai seorang ibu dengan keaadannya, seorang pramuria. Ia hidup bersama anaknya. selama 7 tahun Marni menjalani kehidupanseperti itu dan berharap anaknya Upi tidak seperti dirinya.

Sayang, ketika pemutaran audio film tersendat karena masalah tekhnis dari perangkat sound. Tapi semuanya tetap berjalan menyenangkan, apresiasi terhadap film pendek masih terus dinikmati.

Ramai dan selalu menyenangkan memang bisa kumpul bersama temen-temen lama. untuk di Kampung Fiksi memang beberapa hanya mengenal namanya yang sudah cukup malang melintang didunia maya, kecuali mbak Endah dan mbak Winda yang pernah dan sering bertemu. Bertemu mereka adalah seperti sejenak melupakan rutinitas kerjaan di Jakarta, melihat sebuah karya dari temen-temen sendiri diapresiasi merupakan kenangan tersendiri.

Meski tak bisa mengikuti acara sampai akhir, tapi cukup menyenangkan bertemu dengan mereka. Terus berkarya temen-temen dari Story Lab dan Kampung Fiksi, semoga suatu saat kita bisa berkolaborasi untuk sebuah karya yang lebih baik untuk semuanya.



Minggu, 09 September 2012

Welcome to my Taste


Halo kawan, ini tulisan pertama saya mengenai makanan. Dari dulu hanya bisa membaca tulisan orang yang bisa menuliskan pengalaman rasa mereka dengan makanan. Kali ini saya juga ingin ikut belajar menulis tentang makanan dan juga tempat makannya juga.

karena kesempatan bisa datang 7 kali dalam hidup ini, itu kata saya. Kesempatan yang tak terduga bisa menikmati kemewahan rasa, suasana. Dan, saya ingin membagi itu. setelah bebeberapa kali ikut mencicipi, melihat beberapa tempat makan di Jakarta ini, baru kali ini saya kepikiran untuk menuliskannya.

Tulisan pertama ini hanya sebagai pengantar saja, dan tentu saja sebagai pengikat janji untuk menulis apa yang ingin saya tulis. Saya hanya ingin membagi pengalaman lucu dan unik ketika  bisa masuk ke tempat-tempat mewah itu merasakan hidangan spesial mewahnya tanpa harus menjadi mewah :D. Jadi, mari mulai makan dan menuliskannya.

Minggu, 05 Agustus 2012

Ketika Jogja nyatakan Cinta

Ini entah ditulis pada bulan berapa, namun yang jelas sepertinya ini ditulis setelah berada di Jakarta. Mengenai kerinduan untuk Jogja, tempat dimana semuanya berawal yang akan selalu menjadi pengantar kenikmatan untuk bercerita. tertulis disana ada cerita temen kost ESTU, nanti kita pasti akan bertemu kembali.


Seindah-indah Jakarta lebih indah Jogja. namun berbeda ketika saya meninggalkan Jogja, ada perasaan seperti meninggalkan sebuah rumah yang penuh dengan kesenangan. Seperti meninggalkan harapan yang ingin dirasakan disana. jogja, sebegitukah arti bagi sebagian orang yang pernah tinggal disana. Padahal, kota itu bukan tempat dimana saya dilahirkan, itu hanya tempat saya pernah belajar, bahkan tempat yang secara terpaksa menjadi tempat untuk belajar, karena memang tidak ada pilihan yang lain.

Jogja mengantarkan saya kepada titik dimana sebuah kerinduan itu datang. Kerinduan tentang sebuah tempat yang harus selalu disinggahi, tempat dimana setiap harapan akan selalu dibawa. Sudut-sudut kampung yang pernah saya singgahi, obrolan bersama warga, teman, untuk berkarya bersama, dan saya secara tidak sadar selalu membutuhkan itu semua. Aroma kehangatan dalam setiap obrolan pada sebuah warung kopi, hemmm saya pikir saya membutuhkan itu semua, karena itu yang selalu menginspirasi saya.

Ditengah ramainya Jakarta saya merindukan ramainya Jogja.

Saya ingat ketika seorang teman bilang pada saya bahwa, kalo lapar nempel aja bareng kawanmu di ujung jalan, tak susah nemuin gerobak angkringan itu. Bawa uang berapa, secukupnya aja, soalnya bisa unlimited keluar uangnya, semua makanan bakan bikin ngiler sepanjang kita ngobrolin ini-itu. 

Berapa pak, "pitungewu mangatus, pitungewu ae mas, ra ana jujule." (7500 rupiah, 7000 saja mas gak ada kembaliannya. Saya teringat kejadian yang sering terulang jika berada di angkringan. Bagi saya angkringan tidak semurah yang orang sering katakan, nasi cuma serebu bahkan ada yang 700 rupiah. Itulah cara Jogja nyatakan Cinta. Angkringan, di angkringan kita bisa ngobrol apapun.dari ngobrol sama tukang becak sampai doktorandus bahkan propesor pernah saya alamin. Sempat bingung juga angkringan yang sangat terkenal di Jogja ternyata kalau ditelusuri lebih lanjut kebanyakan penjual angkringan itu rata-rata berasal dari luar kota Jogja, kebanyakan mereka berasal dari kecamatan Mbayat, Klaten ato WOnosari(sering orang bilang wonosari sanes Jogja mas). Paling tidak angkringan bisa nggambarin bentuk kebudayan Djawa yaitu nongkrong, lesehan makan bareng sambil membicarakan sesuatu yang sedang hangat. Jadi kalau mau ngrasain cintanya Jogja ya mampir ke Angkringan, yang terkenal ada Angkringan kopi Jos Lik Min yang ada di deket Stasiun Tugu, tapi kalau mau yang bener-bener Jogja mampir aja angkringan yang ada di sudut-sudut kota jogja, akan ada bedanya. Inilah salah satu cinta yang ditawarkan Jogja, ah saya jatuh cinta dengan kota ini.

Jalan sore-sore enaknya kemana Gun. Saya jawab, mau jalan kaki, naik sepeda, motor, mbecak ato naik odong-odong. Saya sarinin yang pertama "jalan kaki." Cara Jogja nyatakan yang lain adalah dengan berjalan kaki kita bisa ikut bercinta dengan Jogja. Mau start dari mana silahkan, asalkan jangan lupa nengok kanan-kiri sebelum nyebrang sekarang banyak sekali motor yang 'pethakilan (pecicilan(ngebut pake motor = bahasa indonesia)) bisa-bisa keserempet. Kalau jalan kaki, kita bisa nyoba yang namanya unggah-ungguh tata cara wong Djowo. misalnya kalau kita lewat didepan orang, apalagi orang tua. Alangkah baiknya kita mengucap salam lebih dulu, dan lihatlah kalau perlu rekam pake kamera, orang tua tersebut pasti akan membalas salam kita, monggo... 

Banyak orang mengatakan Jogja ini begini jogja ini begitu, apapun yang dikatakan orang tentang Jogja, bagi saya Jogja adalah jogja dengan segala keistimewaannya serta ketidak-istimewaannya, dan dengan segala cintanya, segala kerinduannya. Paling sedih adalah ketika mendapat pesan singkat dari teman yang berada di Jogja, sebuah pesan singkat yang selalu bikin enek hati. "Gun, ning endi kowe?" harus dijawab bagaimana, padahal pertanyaan seperti itu tidak saya inginkan. Bukan soal dimana saya berada dimana, tapi ketika saya harus ada bersama mereka. Saya disini kawan, saat ini, berada di angkringan depan kost atau sedang sepedahan keliling taman sari. Mungkin terlalu absurd pandangan saya tentang Jogja. 

Menikmati Jogja dari pagi sampai malam, kebangetan saya ya, seperti tidak punya kerjaan saja. Memang benar kata salah satu brand kaos ternama di Jogja yang tertempel pada design kaosnya bahwa everyday in Jogja is Holiday. Rutinitas di Jogja yang tidak banyak membutuhkan kecepatan waktu membuat Jogja seperti kota yang lambat. Orang-orang bersantai dipinggiran jalannya, bermain catur, menghabiskan waktu senggangnya setelah bekerja. Dan yang pasti Jogja gak matre, gak perlu mewah kalo mau ngrasain Jogja. 

Hujan deras yang mengguyur jogja sore ini mengantarkanku pada cerita mengenai sebuah cita-cita. saat itu di depan kos Sorosutan, seorang teman menunggu. Gojegan khas temen-temen membuat perjalanan yang singkat menjadi tambah singkat dari Sorosutan menuju kali Code. Seperti biasa, kami harus mencari tempat yang kosong sekaligus nyaman untuk sekedar berbagi cerita di pinggiran kali Code. Ada satu tempat kosong, tepat di pinggiran kali COde, sangat pas menurut saya. Namun kami akhirnya pindah karena tempat yang awalnya kami tempati tidak cukup menampung rombongan si Berat yang ketawa-ketiwi sepanjang malam itu. 

Kami menceritakan tentang kebencian, cinta dan juga masa depan. Entah sudah berapa kali code menjadi tempat sekaligus teman setia bagi kami. Saya selalu teringat soal rencana yang pernah sama-sama kami bicarakan ataupun mengingat setiap kejadian yang membuat kami merasa bersalah, itu semua pernah ada di pinggiran kali code. Jogja telah mengikatku dengan caranya sendiri. 






Bersama seorang kawan bercerita tentang Jogja yang sama-sama memiliki cerita tersendiri dengan angka 7, ya Jogja menjadikan angka 7 menjadi angka untuk selalu mengenang hari lahirnya kerajaan di tengah republik ini. Teringat sebuah pesan unik "Jogja itu berhati nyaman!" yang artinya kalau diplesetin menjadi "Kalau berhati-hati akan merasa nyaman!" yup, memang selalu berhati-hati sepertinya dimanapun kita berada, bahkan Jogjapun tak luput dari kejadian yang membuat orang selalu berhati-hati. Sering saya dengar beberapa wisatawan yang secara dipaksa untuk membeli cinderamata yang sebenarnya tidak mereka butuhkan atau mendapati kabar bahwa seorang wisatawan kena palak di jalan. Kalau mendengar cerita seperti itu saya sendiri gemang, ingin rasanya bilang bahwa ini Jogja bung, salah tempat jika ingin membuat tidak nyaman. Makanya saya juga selalu berpesan kepada seorang teman, bahwa senyaman-nyamannya sebuah kota, sebuah tempat adalah jika kita tahu dimana tempat kita berdiri. Jika sudah tau itu kenyamanan itu akan datang sendiri. Taulah Jogja kota yang nyaman karena orangnya ramah, ketika ada orang datang kemudian terkesan tidak ramah sepertinya itu salah sendiri. bener katanya bang napi bahwa kita harus selalu waspadalah, waspadalah.

Sore di Lempuyangan, saya sering mengisi sunyinya pergantian antara sore yang menjadi malam. Memandang langit jogja yang memerah kemudian berganti kelam. Saat ini ruang publik di Jogja terkesan menjadi sempit, nyore yang bagi orang Jogja merupakan rutinitas melepas lelah bersama keluarga menjadikan Jogja membutuhkah ruang publik untuk warganya. Stasiun Lempuyangan menjadi salah satu pilihan bagi beberapa warga yang ingin nyore. si bawah jembatang layang Lempuyangan disisi utara rel stasiun lempuyangan menjadi pilihan yang murah sekaligus menyenangkan. Saya suka berada disini, dari awal saya suka nongkrong baik sendiri maupun bersama teman yang tertarik dengan apa yang pernah saya ceritakan. Dulu belum ada tukang parkir yang memanfaatkan lahan karena banyak warga yang banyak berdatangan kesini, sekarang ada tukang parkir tanpa seragam yang menurut saya sedikit membantu untuk menertibkan motor yang kadang parkir sembarangan, ada sedikit pula yang menyayangkan kenapa harus selalu ada tukang parkir di setiap sudut kota ini. Ada angkringan sampai odong-odong, itu terakhir saya melihat ramainya lempuyangan sore itu. 

Ada sedikit cerita yang pernah membuat teman saya penasaran. Dulu di tahun 2006 saya membuat sebuah project dokumenter tentang kehidupan malam di kota Jogja, mengawali riset dari Lempuyangan tempat gelandangan yang sering berkumpul dan saya menjadi bagian kecil dari mereka. perubahan yang sangat drastis di bawah jembatan Lempuyangan, setengah jam sebelumnya saya berada disini dengan derai tawa anak-anak yang sangat bahagia melihat kereta yang lewat, mereka melambaikan tangan kepada setiap kereta yang lewat sedangkan orang tua mereka memegang erat tubuh kecil anak mereka. setengah jam kemudian mereka meninggalkan lempuyangan karena hari sudah terlalu gelap, para pedagangpun sudah beranjak dari tempat itu karena sudah tidak ada pengunjung ruang publik mendadak itu. Tanpa laumpu penerangan yang terang dibawah jembatan itu menjadi seperti tempat yang sangat pas untuk para orang malam berada disana.Langit Jogja telah berubah menjadi hitam kelam saat itu, seorang dengan rok mini berjalan diantara rel, ia berjalan dari gudang material ujung stasiun, terlihat ia membenarkan roknya yang terlalu kecil untuknya. Saya pikir ia secara terpaksa memakainya, itu hanya sekedar menarik perhatian orang yang melihatnya dan saya menjadi salah satu korban dari rok mininya itu sebelum saya sadar bahwa yang saya lihat itu adalah waria.

Memang dulu terkenal waria yang suka berada disana, kemudian muncul ke pinggir jalanan ketika malam mulai menjelang. satu dua orang malam sudah mulai muncul, saya masih sendiri berada di pinggiran rel sambil sesekali celingukan mencari alasan tepat ngapain saya berada disini. di sebelah saya beberapa gelandangan sudah mulai merapikan alas tidur mereka, beratapan langit malam dengan bintang yang mungkin akan membuat mereka berkhayal tentang impiannya sendiri. Mungkin sekarang suasana sudah berubah, orang-orang malam itu sudah jarang terlihat. Lempuyangan memberi kenangan tersendiri bagi saya, dimana akhirnya saya mengenal sosok orang yang saat ini menjadi salah satu ketua yayasan bagi waria ODHA, Mami Vin, sosok orang yang bagi saya seorang pahlawan, seorang yang mengorbankan jiwa raganya untuk saudaranya sendiri, sebuah cinta yang dianugerahkan untuknya kemudian ia berikan untuk mereka yang membutuhkannya. Ah, Jogja memang selalu penuh dengan cinta.

Aku biarkan udara pagi masuk melalui jendela kamar kost yang pengap karena asap rokok sedari malam, hari itu saya sudah membuat janji untuk mendatangi laut wonosari, sendiri dengan harapan mendapatkan sesuatu yang istimewa.Tapi, kapan? saya merindukan birunya laut Wonosari.

bersambung.......

Sulit rasanya untuk sekedar mengingat cerita tentang Jogja, membaca tulisan temen-temen tentang Jogja yang katanya istimewa dan ternyata memang istimewa membuat saya ingin pulang kesana. Kembali merasakan cinta yang selalu tumbuh. Sudah sangat malam disini, Jakarta tak menyisakan waktu bagi seorang seperti saya saat ini, saya tak mau mengingat lagi cerita tentang Jogja, yang harus saya lakukan adalah pulang untuk kembali merasakan cintanya.

-masih bersambung,.....