
Sebuah monumen Arek lancor berdiri dengan gagah tepat ditengah alon-alun, dengan latar belakang masjid agung monumen tersebut akan terlihat semakin indah jika dinikmati ketika sore. Monumen tersebut adalah lambang perlawanan dan kegagahan masyarakat Madura khususnya Pamekasan, jika diperhatikan dari jauh memang yang nampak seperti api yang sedang berkobar, namun itu adalah bentuk dari Arek (sabit) yang bisa menggambarkan masyarakat madura. Terdapat 5 sabit saling mengapit menjulang ke atas, semakin sore cahaya lampu yang berwarna biru akan menerangi monumen terebut dan itu menambah kegagahan dalam keindahan monumen itu. Dari informasi yang saya dapat monumen tersebut adalah monumen untuk mengingat perjuangan masyarakat Madura Pamekasan dalam melawan penjajah kala itu.
Tidak jauh disebelahnya juga terdapat monumen Proklamasi dengan burung Garuda yang terbang diatas batu. Burung Garuda itu terlihat berteriak lantang kepada Monumen Arek lancor, dan ternyata kedua monumen itu saling berhubungan satu sama lain. Yang intinya memerdekakan diri dari penjajah.
Masih dari komplek alun-alun kota Pamekasan, tepat didepan Monumen Arek Lancor terdapat sebuah museum daerah. Museum ini ternyata baru didirikan bulan Maret lalu, pantas saja tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan museum yang sangat berarti bagi wisatawan terebut. Museum ini juga saya sarankan untuk menjadi tujuan pertama dari perjalanan wisata jika anda melakukan wisata ke Pamekasan Madura, selain banyak informasi tempat wisata dan daerah yang layak untuk dikunjungi museum ini akan menjadi pemandu anda jika masih bingung berada di Pamekasan. Museum ini memiliki jam buka dari pukul 9 pagi sampai 9 malam, jika anda mendatangi museum ini anda akan bertemu dengan penjaga museum yang akan dengan baik menceritakan semua bahkan apapun tentang pamekasan yang anda ingin tahu.

malam hari kami gunakan untuk melihat fenomena alam yang digunakan sebagai salah satu objek wisata andalan kabupaten Pamekasan yaitu Api Tak Kunjung Padam. Lokasi ini berada tidak begitu jauh dari pusat kota pamekasan, hanya berjarak 15 menit menggunakan kendaraan pribadi. Akses masuknyapun sangat mudah, hanya berjarak 800 meter dari jalan raya. Ketika kami memasuki daerah itu terlihat beberapa api yang menjulang tinggi ke atas, namun sayang akses menuju tempat tersebut sudah ditutup oleh kendaraan. Akhirnya kami hanya melihat api tersebut ditempat yang biasanya orang kunjungi juga. Ditempat tersebut sebuah petak tanah berukuran tidak lebar dari 10 meter dan dipagari besi api muncul dengan sendirinya dari dalam tanah. Api yang muncul tersebut saya rasakan tidak begitu panas dari api yang biasanya ada. Banyak dari pengunjung tempat wisata ini yang membawa makanan mentah untuk sengaja dimasak di Api Tak Kunjung Padam, seperti jagung, telur dan tak jarang juga membawa ikan. Di sekitar lokasi terdapat banyak penjual oleh-oleh seperti pakaian adat Madura Sakera lengkap dengan beragam senjata tajamnya dan juga bumbu dapur Terasi Madura.
Sekali lagi saya harus menyesalkan karena belum bisa menyaksikan seni tradisi khas Madura, Karapan Sapi yang katanya hanya bisa kita saksikan setiap bulan Agustus. Ternyata sehari sebelum kepulangan saya ke Surabaya saya bertemu dengan joki karapan sapi, Pak Etep namanya. Kami bertemu di Taroan, dari cerita yang saya dapatkan karapan sapi ternyata tidak hanya diadakan setiap bulan Agustus. Yang sangat saya sesalkan adalah bahwa minggu besok dia juga akan berlomba dengan karapan sapinya di daerah Pademawu Barat dan dia menawarkan untuk bisa melihat pertandingan karapan sapi dengan hadiah 5 buah motor tersebut. Namun pertemuan dengan joki karapan sapi itu dapat memberi informasi baru tentang karapan sapi yang diadakan secara besar di bulan Agustus itu.
Selain pantai Talang Siring di kecamatan Montok dan pantai Jumiang di Kecamatan Pademawu serta Api Tak Kunjung Padam di Tlanakan dan Museum Daerah yang berada di alun-alun kota, ternyata masih ada beberapa tempat yang layak untuk dikunjungi. Meski ada beberapa tempat yang saya belum sempat untuk mengunjunginya, namun akan saya ceritakan rangkuman yang saya dapat dari beberapa teman. Lokasi tersebut antara lain Pasar Batik yang terletak di jalan Joko Tole, ditempat tersebut kita akan banyak menemukan batik-batik khas Madura. Tempat kerajinan batik juga terdapat disekitaran pasar sore sebelah barat alun-alun kota, ditempat tersebut juga terdapat beberapa rumah kerajinan pembuat batik. Lokasi berikutnya adalah pasar 17 Agustus, pasar ini hanya ada setiap hari Minggu pagi dan Kamis pagi. Di pasar tersebut kita bisa melihat beragam hasil kerajinan Pamekasan lengkap dengan jajanan khas Pamekasan, lokasi ini terletak di utara pusat kota Pamekasan. Di ujung timur luar alun-alun Pamekasan juga terdapat bangunan Heritage berupa bangunan yang digunakan pada masa penjajahan sebagai bangunan listrik kota, bangunan ini berwarna biru yang akan dengan mudah kita lihat.

Sepertinya hanya itu yang bisa saya ceritakan tentang salah satu daerah di Pulau Madura ini. Daerah dengan syari'at Islam yang sangat terasa disetiap sudut kotanya.Daerah dengan eksotisme di setiap bukit yang ada didalamnya.Sebuah daerah yang menawarkan petualangan penuh ketegangan dan kesenangan. Tetap langkahkan kaki menuju Nusantara yang katanya indah itu hingga engkau benar-benar merasakannya.