Tampilkan postingan dengan label Gugun 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gugun 7. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Mei 2010

Mencari Trinity

Rata PenuhTulisannya bisa membuat orang terlena, kadang membuat orang jengkel. Untuk membuat orang jengkel dan iri adalah yang lebih banyak untuknya. Termasuk saya yang merasa iri jika berada diposisinya. Tapi jengkel dan iri disini adalah motivasi yang sangat tinggi untuk bisa sepertinya, traveling menuju tempat yang ingin dituju. Trinity si naked Traveler itu akhirnya bisa juga kutemukan. Ditemani oleh Ipey, kami berdua meluncur menuju Grand Indonesia tempat dimana TNT berada disana untuk peluncuran buku barunya. Sebelumnya ada Kiki teman baru di Jakarta yang juga berencana merapat ke Grand Indonesia. Inilah catatan kecil pencarian mencari Trinity.

Sore, setelah bergelut dengan pekerjaan kami mulai merapat ke halte Cawang untuk mencari angkot menuju Terminal kampung Melayu, jam saat itu sudah menunjukan pukul 16.00 padahal acaranya berlangsung jam itu juga. Kami lupa bahwa jam segitu adalah jam pulang orang kantoran yang pasti membuat angkutan kota penuh. Untung saja atau sebuah kebetulan meski berempet-empetan kami dapat angkutan yang tidak perlu lama menunggu.

Sampai di Kampung Melayu kami langsung menuju halte busway, dan kebetulan lagi meski ramai kami juga langsung dapat naik ke busway. Di tengah sel-selan penumpangnya Ipey malah sempet foto-foto dulu didalam angkutan kebanggaan warga jakarta ini. Meski goyang, saya upload saja karena foto ini memberi banyak cerita untuk sekedar mencari TNT.Dari Kampung Melayu kami transit di halte Matraman untuk menuju ke Dukuh Atas, ini dia baru pemandangan orang mengantri panjang untuk naik Busway jam pulang kerja di Dukuh Atas. Sayang kami belum bisa mengabadikan moment tersebut, apalagi ada banyak bule yang ikut mengantri dengan sabar di situ.

Di Dukuh Atas kami menunggu agak lama untuk mendapatkan busway menuju halte Bundaran HI tempat acara peluncuran buku berlangsung. Di Dukuh Atas seperti beberapa halte yang lain di jakarta memiliki pintu khusus untuk orang cacat, manula dan orang hamil, sejenak saya berpikir enak ya mereka gak perlu ngantri, hanya pikiran orang yang kotor untung saja pikiran ini berlalu begitu saja. Tuhan memang adil untuk moment saat itu, orang itu dengan celana boxer bergambar Naruto berlenggang masuk ke busway tanpa perlu berdesakan.Sampai di Bundaran HI hujan membuat kami menunggu sejenak untuk langsung menuju ke Grand Indonesia yang sudah ada di depan mata. Ternyata butuh waktu 45 menit untuk menuju Bundaran HI dari Cawang. Tidak menyia-nyiakan waktu menunggu hujan. iseng-iseng kami berdua foto aja Bundaran HI dari atas halte.
Bundaran HI diwaktu hujan

Baru setelah hujan agak kecil kami langsung menuju Grand indonesia. Grand Indonesia itu ternyata cukup besar, dan cukup membuat saya agak kebingungan mencari tempat acara peluncuran buku itu berlangsung. untung saja pihak informasi dari Grand Indonesia sangat baik dengan memberi informasi yang sangat detik untuk dua orang yang terlihat dengan pakaian yang paling lusuh di lokasi itu. Salut untuk management Grand Indonesia atas pelayanannya, soalnya saya pernah merasa dikecewakan dengan kondisi pakaian di salah satu Mall.

Sambil melihat beberapa karya seni rupa yang dipamerkan di Grand Indonesia sebelah timur, kami menuju tempat acara berlangsung. Itu dia, saya pernah mendengar suara itu di tivi. dimulai dari punggungnya saya mulai melihatnya, dengan kaos merah bergambar bendera Turki saya sekarang sudah berada persis tidak lebih 7 meter didepannya. TNT akhirnya bisa juga saya bertemu denganmu, orang yang membuat saya sangat menikmati perjalanan kemanapun.

Saat itu TNT sedang meluncurkan buku ketiganya yang ia buat bersama-sama dengan beberapa orang. Duo Hippo Dinamis, Tersesat di Byzantium adalah buku ketiga eh salah ternyata dari tadi salah nulis, itu adalah judul Graphic Travelogue (sambil masih mencari arti kata tersebut) komik kalo kata pihak informasi Grand indonesia yang tadi saya temui. Buku komik catatan perjalanan tersebut dibuat bersama-sama mulai dari Trinity dan Nina kemudian oleh Lala dibuatkan graphicnya. Dari peluncuran komik tersebut mereka bertiga menghabiskan waktu 6 bulan untuk brainstorming kemudian Lala sang grapichers menyeleseikannya dalam waktu 3 bulan. cukup lama juga ya, dan jerih payah mereka tidak sia-sia. Dari peluncuran perdananya itu orang yang membeli komik tersebut sudah merasakan kekonyolan dalam balutan komik mereka terlihat menikmati, termasuk anak-anak kecil yang seharusnya bukan konsumsi mereka.

Selesai acara peluncuran saya bertemu dengan Kiki saat bersama-sama membeli buku graphic Duo Hippo. Tanpa menunggu lama setelah basa-basi sedikit dengan Kiki dan temannya saya langsung mengambil posisi untuk antri tandatangan dan berfoto dengan idolaku itu. Akhirnya moment yang saya tunggu sejak lama itu terjadi juga, berfoto dengan orang yang membuat saya iri dengannya. Sejenak masih saja berpikir enaknyo jadi TNT bisa jalan-jalan kemana aja yang ia mau. Saya malah meminta kenang-kenangan dalam buku The Naked Traveler 2 yang baru kebeli kemarin di Bogor, "Mbak tolong tuliskan kata-kata ini, Prancis kamu pasti bisa. tanpa perlu diulangi dia menuliskan kalimat itu lengkap dengan tanda pentung dibelakangnya tanpa saya minta. thanks a lot hippies.
"Paris, kamu pasti bisa!"

Di sebelah Ipey dengan sepenuh hati sudah bersiap mengabadikan moment ini, mbak boleh saya peluk ya? dengan senang hati terjadi kekonyolan yang tak terduga, dia menjambak rambut saya. Kejadian tersebut langsung membuat beberapa orang disitu ikut tertawa. sayang ternyata foto pertama ngblur, dengan senang hati kami mengulangi kejadian yang sama dan tertawaan yang sama pula, bedanya yang ini fotonya lumayan cukup bagus. setelah itu barulah Kiki yang gantian ikut berfoto bersama dan mbak-mbak yang ikut nitip difotoin. Setelah poto-poto barulah saya mencari Hippo kedua Mrs KK dan mbak Lala. Moment to Remember for all.

Sampai TNTpun terpesona dengan rambut ini.

Sepertinya terlalu singkat kejadian sore itu, tapi percaya saja meski tak selalu berada di deket TNT. Virusnya tetap terasa dimanapun.Saya dan Ipey tetep saja ngobrol tentang TNT mengenai kenyamannya dia berpetualang, darimana ya duitnya hahahahaha....

Kami tidak langsung pulang, setelah menghadiri peluncuran komik Duo Hippo Dinamis yang tersesat di Byzantium kami menuju ke Bundaran HI tepat ditengah-tengahnya. Dan ternyata ipey juga memiliki kesamaan pikiran saat itu. Mari kita berfoto di sana. Ya, dua peristiwa penting hari ini telah terjadi. Bertemu dengan TNT yang sejak lama diinginkan dan berfoto di tengah Bundaran HI yang dulu hanya bisa dilihat di tipi dan internet.

(Ipey: kiri dan ane yang lagi ngucapin matur nuwun kagem sepatu kucelnya)

Oke teman, seperti biasa kalimat terakhir. Tetap langkahkan kakimu menuju Nusantara yang katanya indah ini, hingga kau benar-benar merasakan keindahan dan keajaibannya. Dalam kebahagiaan ini saya ikut mendoakan kepada Almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie, semoga mendapatkan tempat terbaik disisi Tuhan.

Gugun Junaedi

Djakarta - 22 mei 2010

Selasa, 18 Mei 2010

Cinta Pejantan Terindah #1

Dari ujung pantai masih belum terlihat ada setitik hitam sebuah bayangan, lelaki itu masih saja dengan doa-doa yang sama, berdoa untuk seseorang yang ia harapkan pulang dengan selamat. Beberapa waktu berlalu seperti waktu yang telah lelaki itu jalani, Setiap sore ia akan menunggu seseorang yang selalu melewati jalan sama dari ujung pantai muara Opak. Lelaki itu menikmati bayangan seseorang itu, dari mulai bayangan hitam kecil yang muncul dari ujung sana, sampai pada bayangan seseorang itu yang menyentuh dirinya. Lelaki itu tak pernah lupa berucap pada Matahari sore yang selalu membuat bayangan seseorang itu menjadi semakin indah, terima kasih telah menyatukan bayangan kami.

Sore itu Lelaki nampak pucat, matahari merasakan kegundahan lelaki itu. Matahari mencoba bertahan dengan sinar sorenya agar tidak menghilang, karena jika matahari meninggalkan lelaki itu makan ia tak akan menyatukan bayangan mereka berdua. Matahari bertahan dengan menambah mega sore. warna orange keemasan di ujung sana terlihat sangat menawan, lelaki itu berujar kepada daun bakau yang masih kecil. Namun tetap saja, bayangan kecil itu belum juga muncul. Matahari semakin khawatir, ia merasakan keraguan sore ini.

Hari itu sang Lelaki tak merasakan sentuhan bayangan seseorang yang ia selalu tunggu. Matahari bersedih, merasa bersalah. Si Lelaki sudah pulang, dia teringat semua kenangan setiap sore bersama seseorang yang ia tunggu. Moment bersatunya bayangan seseorang yang ia tunggu menyentuh tubuh Lelaki adalah yang paling indah selama hidupnya. Lelaki membayangkan jika saja matahari tidak cepat-cepat pergi.

Imajiner gila Cinta Penjantan Terindah#1 inspirational Photo

Minggu, 18 April 2010

Catatan Perjalanan Pamekasan Madura #2

Sore menunjukan pukul 17.30 kota Pamekasan masih terlihat sangat terang oleh matahari senja kala sore itu. Beberapa orang dengan busana muslim sudah terlihat banyak memasuki pelataran masjid agung As Syuhada. Didepan masjid yang merupakan alun-alun kota juga terlihat orang-orang yang menikmati sore bersama keluarga maupun kawan. Ruang publik tersebut semakin terlihat ramai dengan para penjual yang dikerubuti anak-anak kecil yang mengantri untuk membeli jajanan. Tak berbeda dengan masyarakat Pamekasan yang menikmati sore itu, saya dan teman saya juga berjalan mengitari alun-alun kota pamekasan itu, melihat dan menikmati setiap sudut alun-alun kota batik Pamekasan.

Sebuah monumen Arek lancor berdiri dengan gagah tepat ditengah alon-alun, dengan latar belakang masjid agung monumen tersebut akan terlihat semakin indah jika dinikmati ketika sore. Monumen tersebut adalah lambang perlawanan dan kegagahan masyarakat Madura khususnya Pamekasan, jika diperhatikan dari jauh memang yang nampak seperti api yang sedang berkobar, namun itu adalah bentuk dari Arek (sabit) yang bisa menggambarkan masyarakat madura. Terdapat 5 sabit saling mengapit menjulang ke atas, semakin sore cahaya lampu yang berwarna biru akan menerangi monumen terebut dan itu menambah kegagahan dalam keindahan monumen itu. Dari informasi yang saya dapat monumen tersebut adalah monumen untuk mengingat perjuangan masyarakat Madura Pamekasan dalam melawan penjajah kala itu.

Tidak jauh disebelahnya juga terdapat monumen Proklamasi dengan burung Garuda yang terbang diatas batu. Burung Garuda itu terlihat berteriak lantang kepada Monumen Arek lancor, dan ternyata kedua monumen itu saling berhubungan satu sama lain. Yang intinya memerdekakan diri dari penjajah.

Masih dari komplek alun-alun kota Pamekasan, tepat didepan Monumen Arek Lancor terdapat sebuah museum daerah. Museum ini ternyata baru didirikan bulan Maret lalu, pantas saja tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan museum yang sangat berarti bagi wisatawan terebut. Museum ini juga saya sarankan untuk menjadi tujuan pertama dari perjalanan wisata jika anda melakukan wisata ke Pamekasan Madura, selain banyak informasi tempat wisata dan daerah yang layak untuk dikunjungi museum ini akan menjadi pemandu anda jika masih bingung berada di Pamekasan. Museum ini memiliki jam buka dari pukul 9 pagi sampai 9 malam, jika anda mendatangi museum ini anda akan bertemu dengan penjaga museum yang akan dengan baik menceritakan semua bahkan apapun tentang pamekasan yang anda ingin tahu.
Meski baru berumur satu bulanan, koleksi museum ini cukup bisa menggambarkan sejarah dan kebudayaan Pamekasan Madura. Kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan Sultan Agung Mataram yang pernah menguasai Madura. Di museum ini kita juga bisa melihat kitab-kitab kuno Madura yang masih bertuliskan aksara jawa kuno dan kitab kuno dengan bahasa Arab. Beragam senjata tradisional khas Madura juga dipajang di museum ini mulai dari tombak sampai keris-keris pusaka. Tidak hanya memajang benda-benda sejarah, di museum ini kita bisa melihat Kleles yang biasa digunakan untuk karapan sapi dan sebuah Andong dengan tempat kusir dibelakang penumpang yang biasa digunakan oleh para ulama di Madura. Beragam kerajinan tradisional berupa alat-alat fungsional rumah tangga dan pajangan bisa kita temui di museum ini. Selain itu yang paling istimewa adalah kekhasan Pamekasan sebagai kota batik juga ditampilkan dengan batik yang pernah tercatat terpanjang di Indonesia, batik terpanjang itu bisa kita lihat di museum ini. jadi jangan lewatkan untuk memahami Pamekasan sebelum anda menjelajahi lebih lanjut melalui Museum ini, apalagi museum ini gratis dan terbuka untuk umum.

malam hari kami gunakan untuk melihat fenomena alam yang digunakan sebagai salah satu objek wisata andalan kabupaten Pamekasan yaitu Api Tak Kunjung Padam. Lokasi ini berada tidak begitu jauh dari pusat kota pamekasan, hanya berjarak 15 menit menggunakan kendaraan pribadi. Akses masuknyapun sangat mudah, hanya berjarak 800 meter dari jalan raya. Ketika kami memasuki daerah itu terlihat beberapa api yang menjulang tinggi ke atas, namun sayang akses menuju tempat tersebut sudah ditutup oleh kendaraan. Akhirnya kami hanya melihat api tersebut ditempat yang biasanya orang kunjungi juga. Ditempat tersebut sebuah petak tanah berukuran tidak lebar dari 10 meter dan dipagari besi api muncul dengan sendirinya dari dalam tanah. Api yang muncul tersebut saya rasakan tidak begitu panas dari api yang biasanya ada. Banyak dari pengunjung tempat wisata ini yang membawa makanan mentah untuk sengaja dimasak di Api Tak Kunjung Padam, seperti jagung, telur dan tak jarang juga membawa ikan. Di sekitar lokasi terdapat banyak penjual oleh-oleh seperti pakaian adat Madura Sakera lengkap dengan beragam senjata tajamnya dan juga bumbu dapur Terasi Madura.

Sekali lagi saya harus menyesalkan karena belum bisa menyaksikan seni tradisi khas Madura, Karapan Sapi yang katanya hanya bisa kita saksikan setiap bulan Agustus. Ternyata sehari sebelum kepulangan saya ke Surabaya saya bertemu dengan joki karapan sapi, Pak Etep namanya. Kami bertemu di Taroan, dari cerita yang saya dapatkan karapan sapi ternyata tidak hanya diadakan setiap bulan Agustus. Yang sangat saya sesalkan adalah bahwa minggu besok dia juga akan berlomba dengan karapan sapinya di daerah Pademawu Barat dan dia menawarkan untuk bisa melihat pertandingan karapan sapi dengan hadiah 5 buah motor tersebut. Namun pertemuan dengan joki karapan sapi itu dapat memberi informasi baru tentang karapan sapi yang diadakan secara besar di bulan Agustus itu.

Selain pantai Talang Siring di kecamatan Montok dan pantai Jumiang di Kecamatan Pademawu serta Api Tak Kunjung Padam di Tlanakan dan Museum Daerah yang berada di alun-alun kota, ternyata masih ada beberapa tempat yang layak untuk dikunjungi. Meski ada beberapa tempat yang saya belum sempat untuk mengunjunginya, namun akan saya ceritakan rangkuman yang saya dapat dari beberapa teman. Lokasi tersebut antara lain Pasar Batik yang terletak di jalan Joko Tole, ditempat tersebut kita akan banyak menemukan batik-batik khas Madura. Tempat kerajinan batik juga terdapat disekitaran pasar sore sebelah barat alun-alun kota, ditempat tersebut juga terdapat beberapa rumah kerajinan pembuat batik. Lokasi berikutnya adalah pasar 17 Agustus, pasar ini hanya ada setiap hari Minggu pagi dan Kamis pagi. Di pasar tersebut kita bisa melihat beragam hasil kerajinan Pamekasan lengkap dengan jajanan khas Pamekasan, lokasi ini terletak di utara pusat kota Pamekasan. Di ujung timur luar alun-alun Pamekasan juga terdapat bangunan Heritage berupa bangunan yang digunakan pada masa penjajahan sebagai bangunan listrik kota, bangunan ini berwarna biru yang akan dengan mudah kita lihat.Bagi yang suka kuliner, Pamekasan menyajikan sebuah tempat istimewa untuk para pecinta kuliner yaitu Sae Salera sebuah jalan di pamekasan yang diubah menjadi jalan dengan aneka masakan dan jajanan. Lokasi Sae Salera hanya berjarak 100 meter sebelah barat dari alun-alun kota, namun saya merasa ketika berada di tempat tersebut tidak terasa Maduranya. Untuk yang benar-benar penjelajah kuliner sepertinya tempat tersebut kurang pas, lebih menjanjikan jika kita mau warung kecil yang berada di pinggiran jalan di Pamekasan, memang agak sulit tapi sekalinya menemukan kita bisa merasakan masakan khas daerah Madura. Biasanya akan ada tanda dari dinas pariwisata Pamekasan jika warung terebut menyajikan masakan tradisional. Tanda tersebut berupa papan nama dengan motif batik bertuliskan wisata kuliner makanan khas daerah(jika tidak salah). Beberapa makanan khas yang pernah saya temui dan dinikmati antara lain, Kaldu Kokok, Kaldu Kikil, Rujak Cingur, Rawon dan Soto Madura. Kemungkinan jika beruntung anda bisa mendapatkan minuman Ta'al, minuman tradisional yang berasal dari pohon Siwalan. Serta jangan lupakan beberapa landscape sudut kota pamekasan yang memiliki mural-mural dengan gambar-gambar batik khasnya.

Sepertinya hanya itu yang bisa saya ceritakan tentang salah satu daerah di Pulau Madura ini. Daerah dengan syari'at Islam yang sangat terasa disetiap sudut kotanya.Daerah dengan eksotisme di setiap bukit yang ada didalamnya.Sebuah daerah yang menawarkan petualangan penuh ketegangan dan kesenangan. Tetap langkahkan kaki menuju Nusantara yang katanya indah itu hingga engkau benar-benar merasakannya.

Selasa, 13 April 2010

Catatan Perjalanan Pamekasan Madura

Perjalanan kali ini saya ingin menceritakan sedikit kisah dari beragam kisah yang sempat terekam di Madura. Pengalaman yang mengagumkan bisa merasakan keragaman Nusantara, perbedaan bahasa, cara bertutur masyarakatnya yang dinikmati dengan rasa kagum. Melihat budaya masyarakatnya, kuliner yang ada hingga keindahan alam dari mulai bentangan hijau dan bentangan pantai yang mengelilingi madura.

Minggu pertama saya bersama rombongan berada di Pemakasan, kabupaten kedua dari sisi timur Madura setelah Sumenep. Di Pamekasan tempat yang dikunjungi sangat banyak, daerah pelosok di kedalaman Pamekasan sempat kami datangi hingga puncak-puncak tertinggi di Pamekasan. Kontur tanah di Madura yang merupakan perbukitan membagi wilayahnya utara dan selatannya. Jika kita melewati daerah Waru menuju Pasian utara Pamekasan, pemandangan bukit batu menjadi pemandangan yang sangat menantang untuk ditaklukan.

Pada malam kedua kedatangan kami, kami menginap di rumah salah satu saudara teman saya yang berada di Sumenep. Malam itu kami berbicara dengan bahasa yang tidak karuan. Ada diantara ibu-ibu di daerah Sumenep yang tidak mengerti bahasa Indonesia, namun yang saya kagumi mereka tetap bisa menikmati sinetron. Meski berbicara dengan arah yang berbeda, dengan bahasa tubuh secukupnya saya berusaha mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan. Untung saja hanya beberapa ibu-ibu yang tidak bisa bahasa Indonesia, beberapa yang lain (yang pernah keluar dari Pulau madura bisa berbicara bahasa Indonesia) berbicara dengan bahasa indonesia Khas madura. Yang pasti saya bisa mengucapkan kata terimakasih dengan benar bahasa Maduranya, sakalangkong kak.

Di Sumenep saya sempat memperhatikan bentuk-bentuk bangunan yang ada, bentuk bangunan yang menunjukan bahwa pola kehidupan masyarakat Madura Sumenep bisa tergambar dari bentuk bangunan tempat tinggal mereka yang berkumpul menjadi satu menurut silsilah keluarga mereka. Setiap komplek bangunan biasanya terdapat satu mushola kecil untuk keluarga tersebut melakukan ibadah, tempat ibadah tersebut seperti menjadi tempat berkumpulnya keluarga setelah melakukan aktifitas. Namun hidup berkelompok di sebuah tempat tinggal tidak menunjukan bahwa antara warga satu dan yang lain, keluarga satu dan keluarga lainya tidak harmonis.

Setelah melewati malam yang sangat cepat, pagi itu saya bersama rombongan mendapatkan menu pagi yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. 5 piring rujak Madura ditata rapi dengan rantang piring khas Sumenep, ditambah secangkir teh dari cangkir lawas yang sudah jarang saya temui sekarang ini. Tidak ada yang berbeda dengan rujak yang pernah saya temui di daerah berbeda, dengan bumbu kacang dan campuran sayuran rujak madura itu disajikan dengan secangkir teh hangat istimewa.


Selain hidangan kopi tubruk yang sangat kasar dan teh yang lebih mirip sirup, ada hidangan tak sengaja yang membuat saya ingin mencicipinya. Tembakau Sumenep yang sudah terkenal rasanya, dengan sedikit keraguan saya mengambil irisan tembakau kecil yang masih berwarna kuning muda. Lintingan rokok yang sangat berharga malam itu, tanpa campuran sebatang rokok telah siap saya hisap. Terasa sangat enteng memang tembakau itu, pantas saja beragam merk rokok terkenal mengambil stok tembakau dari Sumenep. Di sepanjang perjalanan si pamekasan juga saya melihat beberapa pabrik rokok yang terkenal, mungkin rokok yang anda hisap sekarang ini merupakan tembakau dari Madura.

Selanjutnya saya akan sedikit bercerita tentang pantai selatan Madura yang memang lebih terkenal bagus daripada pantai utaranya. Di pesisir pantai Sumenep Pamekasan malah bisa saya gambarkan seperti cerita lama keindahan pantai Indonesia, Tepian pantai dengan nyiur melambai indah menjadi pemandangan yang harus dinikmati. Meski belum sempat menikmati pantai di Sumenep yang dikabarkan menarik itu, saya bisa menikmati salah satu pantai di daerah Montok, Pamekasan yang berbatasan dengan Sumenep. Angin di pantai selatan Madura lebih terasa dari pada sisi Utara, dilihat dari jumlah nelayan daerah selatan juga lebih banyak daripada utara. Di pantai Montok juga ada beberapa kapal penyebrangan menuju Besuki Banyuwangi, ini sekedar tips untuk backpacker bahwa jalur menuju Bali melalui Madura juga bisa dinikmati melalui Montok ke Besuki.

Bicara tentang masyarakat Madura, ada perbedaan yang besar dibanding dengan masyarakat Jawa, kita akan ditemukan dengan keunikan dan kekerasan warganya. Sampai-sampai saya berasumsi bahwa apa yang mereka inginkan itu merupakan apa yang mereka tetapkan. Salah satu cerita yang ingin saya bagikan dan saya alami sendiri ini merupakan kisah konyol yang mudah-mudahan tidak dialami teman-teman yang akan ke Madura.Wwaktu itu saya bertemu dengan Bpk "F", beliau orangnya sangat baik. kami bercerita banyak tentang pengalaman masing-masing, perbincangan kami cukup menyenangkan, sebatang dua batang rokok kami habiskan bersama. namun situasi tiba-tiba berubah sangat drastis. Bpk F yang awalnya baik jadi berubah drastis, alasanya hanya karena saya menolak tawarannya untuk mampir kerumahnya, mandi lalu minum kopi. Inilah keramahan yang tiba-tiba hampir menjadi kemarahan.Dari kejadian tersebut saya kemudian mengerti bahwa orang madura itu tidak mau dianggap kecil dengan tawaran mereka, apapun itu, sekecil apapun tawaran mereka jika kita menolak maka itu akan sangat menyakiti hati orang tersebut. Jika kebanyakan orang jawa basa-basi dalam melakukan penawaran terhadap tamu, maka itu kebalikan dari beberapa orang Madura yang menganggap menawarkan sesuatu kepada tamu merupakan kehormatan. apabila kita menolaknya berarti kita tidak menghormatinya.

Inilah sedikit cerita awal dari Madura, cerita yang saya dapat dari puncak-puncak tertinggi di Pamekasan. Apalagi bersama orang-orang hebat yang selama 2 Minggu ini menemani pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan di Pemekasan ini. Sayang saya belum sempat melihat kebudayaan asli Madura, Karapan Sapi. Bentuk tradisi masyarakat madura setelah melakukan panen besar, biasanya menurut informasi yang saya terima puncak tradisi Karapan Sapi ada pada bulan-bulan Oktober. Pada bulan tersebut sampai ada piala tertinggi dari presiden.

Sampai sini dulu kawan, tetaplah langkahkan kaki menikmati Nusantara yang katanya indah ini, sampai kita benar-benar merasakan keindahannya.


Rabu, 24 Maret 2010

Eat, Pray, Love Trailer

Akhirnya film yang pada masa pembuatanya sudah cukup menghebohkan ini sudah bisa kita lihat trailernya. Eat, Pray, Love merupakan film yang dibintangi oleh artis papan atas Hollywood Julia Robert. Bali menjadi salah satu lokasi suting film ini sesuai dengan cerita yang ada di film ini. Eat, Pray, Love berecerita tentang Elizabeth Gilbert ketika mencoba untuk hamil, seorang wanita yang sudah menikah bahagia hidupnya menyadari kebutuhan untuk pergi ke arah yang berbeda, dan setelah perceraian yang menyakitkan, ia melepas pada siang-perjalanan dunia. (Berdasarkan memoir oleh Elizabeth Gilbert)

Sutradara film ini adalah Ryan Murphy yang juga merupakan pembuat drama episode TV Glee yang fenomenal itu.

...and I am going to end the year in Bali", inilah kata Bali yang disebut oleh Julia Robert dalam trailernya, memang tidak ada Indonesianya. Mudah-mudahan dengan film ini pariwisata indonesia bisa lebih maju dan lebih dikenal dengan negara lain yang sukses setelah daerahanya dibuat untuk suting film. Kita bisa tahu bagaimana beberapa film berhasil memberikan motivasi orang untuk mendatangi lokasi syutingnya, karena keberhasilan film-film tersebut maka daerah yang pernah dijadikan lokasi syuting itu menjadi tempat wisata populer yang sering dikunjungi wisatawan. Mereka ingin datang setelah melihat pemandangan indah dari film yang pernah mereka tonton. Yang paling terkenal adalah Angkor Wat, kawasan candi di Kamboja ini menjadi semakin ramai dikunjungi wisatawan karena dijadikan lokasi syuting film Tom Raider. Ada juga film yang dibintangin oleh Leonardo di Caprio, The Beach, sebuah kawasan pantai Phi-phi Island menjadi ramai setelah lokasi tersebut dijadikan lokasi syuting. Masih banyak lagi film yang memberikan motivasi bahkan inspirasi seseorang untuk mendatanginya. Beberapa orang ingin pergi ke New Zealand setelah melihat keindahan alam kaum Hobbit di film The Lord of The Ring, ada juga yang ingin pergi ke Austria setelah melihat film Before Sunrise dan Before Sunshet. Bahkan gara-gara Laskar Pelangi Pulau Belitong menjadi tempat wisata favorit, mudah-mudahan Bali menjadi semakin terangkat setelah dijadikan lokasi film Pray, Eat and Love yang dibintangi Julia Robert.

Ini dia Trailernya yang baru terbit beberapa hari kemarin bisa dilihat




Traiiler yang berdurasi 2 menit 26 detik ini memang tidak cukup banyak menunjukan Keindahan Bali. tapi semoga saja bisa membuat orang semakin mengenal Bali.

Senin, 22 Maret 2010

Ketegangan, Kesedihan dan Kebahagiaan, 3 kata untuk Film 3 Idiots


Saya kembali merasakan Ketegangan, kesedihan dan kebahagiaan, sepertinya inilah ketiga kata yang saat ini mampu menggambarkan film 3 idiots. Banyak sekali yang terekam dalam tiap adegan, dialog dalam film ini yang akan membuat orang menontonnya merasakan ketegangan, kesedhian dan kebahagiaan. Setiap cerita yang tersaji dengan sangat menarik tanpa seperti menggurui bagi yang menontonnya. Inilah sebuah tontonan yang mampu memberikan tuntunan.

Jangan lagi anda memiliki anggapan bahwa menonton film india dengan durasi panjang-panjangnya hanya akan mendapat kebosanan atau hanya untuk melihat tarian-tarian, lagu dari penari-penari. Saya bisa meyakinkan bahwa anda tidak akan mendapatkan itu semua setelah melihat film ini bahkan film ini akan menhadirkan sesuatu yang baru bagi anda.

3 idiots sendiri bercerita tentang kehidupan 3 orang pelajar yang diketemukan di sebuah sekolah bagi calon insinyur terbaik di India. Cerita 3 orang pelajar inilah yang akan membawa kita berusaha mengingat tentang apa yang pernah kita lakukan selama ini untuk kehidupan kita sendiri. Kita bisa melihat bagaimana sebuah depresi menjadi akhir cita-cita atau melihat ketekunan yang menjadi pilihan seorang pembantu sekolah untuk bisa belajar dan banyak cerita tentang kebesaran jiwa yang bisa kita temui di film ini. Ya saya berani bilang banyak kebesaran jjiwa terekam dalam beberapa adegan dalam film 3 idiots ini. Cerita-cerita yang ada di film ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi disekitar kita atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya.

Selain cerita yang sangat memberi pesan film ini juga menghadirkan gambar-gambar yang menarik, selain itu juga si pembuat film tidak lupa menghadirkan beberapa adegan yang menurut saya sebuah komedi satir tentang kondisi di India. Dialog-dialog yang sangat ringan namun memiliki pesan yang cukup banyak dituturkan sangat baik oleh para pemain dalam film ini. Yang jelas permainan struktur cerita yang saling sambung memberikan emosi yang semakin baik dalam film ini.

Tidak heran jika film ini membuat salah satu pihak dari jaringan bioskop di Indonesia yang menayangkan kembali film ini dengan harga yang bertambah 50 % dari harga biasanya. Dari informasi yang saya dapat bahwa film 3 idiots dan My Name is Khan merupakan 2 film Bolywood yang mampu mencundangi beberapa film holywood saat ini.

Akhirnya saya berani menempatkan film ini menjadi film favorit saya setelah The Dark Knight saat ini. Sebuah tontonan yang mampu memberikan ketegangan, kesedihan dan kebahagiaan. Sebuah film yang mampu memberikan tuntunan edukasi tanpa perlu menggurui. Sepertinya salah satu pesan pendek dari teman saya akan selalu benar "You must to see it!"

Meski tidak menikmati film ini di bioskop, melainkan di layar laptop seorang kawan. Tapi film ini mampu memberikan motivasi tersendiri bagi saya di malam pertama di kota yang cukup panas ini.

Salam Gugun Junaedi Jakarta