Tampilkan postingan dengan label Panggung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panggung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2009

Where The Place I Wanna Go

Getaran itu memang sangat terasa malam itu tapi anehnya tidak berjejak. Ternyata masih harus mencari tempat yang dituju lagi. Where The Place I Wanna Go? Catatan kecil tentang konser musik Risky Summerbee & The Honeythief

Kamis malam 10 Desember Teater Garasi kembali menghadirkan tontonan yang menarik, malam itu Garasi menghadirkan Risky Summerbee & The Honeythief sebuah band dengan permainan jazz blues dan apapun itu yang pastinya sangat menarik. Malam itu saya mencoba membuktikan beberapa informasi yang pernah saya terima tentang perform dari band ini yang konon katanya sangat menarik. Tidak banyak lagu yang saya tahu dari band ini, tapi setelah mendapatkan lagunya ternyata memang sangat mempesonakan permainan mereka. Kunang-kunang sedang mencari tempat untuk dituju, eh ketemunya di Teater garasi.

Permainan skil tingkat tinggi dari masing-masing player memang menjadi tontonan menarik sepanjang konser malam itu, Risky, Erwin, Doni, Sevri Hadi dan Nadya menghadirkan permanian yang mempesonakan malam itu, antusias penonton menambah panas gig dengan tepukan tangan mereka.

Salah satu pengisi acara malam itu adalah Frau, kekaguman terhadap penyanyi satu ini memang tak akan berhenti, penampilannya malam itu semakin menambah kekaguman kepada perempuan yang bernama darat Lani. Ini kali keempat saya bisa melihatnya bermain dengan jemarinnya yang menekan-nekan setiap tuts hitam putih. Malam itu dia kembali berduet dengan Nadya pada lagu tentang sahabat, duet mereka berdua juga pernah terjadi di LIP Nadya juga menemani Frau dalam konser Run With The Girl. Pada lagu tersebut mereka bermain tanpa iringan Risky Sumerbee & The Honeythief, Frau dan Nadya yang bermain juga dengan Armada Racun membuat orang didepan saya menggeleng-nggelengkan kepalanya.

Naomi Srikandi hadir ditengah-tengah penonton membawakan sebuah cerita tentang seorang seniman panggung. Kalau tidak salah dia membawakan cerita tentang Tiaf. seorang penyanyi dari Perancis yang menceritakan tentang kehidupan panggungnya dengan menyanyi. Dengan gayanya yang selalu menarik di atas panggung Naomi Srikandi berhasil membuat penonton berhenti sejenak menyaksikan Riski Summerbee & The Honeythief. Sejenak panggung itu menjadi miliknya.

Seorang pianis perempuan lainya selain Frau adalah Andrea, dia membawakan satu komposisi yang sangat menarik malam itu. Penampilannya malam itu menjadi point tersendiri pada konser Risky Summerbee & The Honeythief. Malam itu Andrea menggunakan gaun dengan motif bunga yang sangat menawan dengan wajahnya yang memang cantik mengingatkanku pada cerita seorang gadis sadis dalam film Kado Hari Jadi dari Paul Agusta yang sangat ingin saya tonton, sekedar informasi gadis dengan gaun motif bunga itu diperankan oleh Tika.

Salah satu penampilan yang ditunggu-tunggu di konser malam itu adalah Tika. Tika malam itu datang tidak dengan bandnya Tika and the Dissidents. Penampilan Tika malam itu menjadi semakin menambah suasana panggung yang sudah terasa panas. Penyanyi yang terbiasa dengan lagu-lagu penuh dengan kesan kepedihan, sorrow ini membawakan 3 lagu, sebuah lagu dari Riski Summerbee & The Honeythief yang berjudul Fireflies dinyanyikan olehnya dengan berduet dengan Riski. Pada akhir lagu ia menceritakan bahwa ia baru melihat Fire Flies (kunang-kunang) ketika ia baru berumur 21 tahun. Lagu kedua yang ia bawakan malam itu adalah Clausmophobia sebuah lagu miliknya sendiri yang bercerita tentang realitas homoseksual dimasyarakat. Lagu terakhir menjadi lagu pamungkasnya malam itu adalah May Day, lagu yang membawa persamaan terhadap “buruh” ini dibawa dengan penuh semangat. Diiringi Risky Summerbee & The Honeythief kesan dari lagu ini tidak menjadi hilang dan menjadi sebuah getaran yang memang terasa tapi tidak berjejak pada akhirnya.

Sebetulnya ada beberapa tanggapan buruk dari penonton malam itu yang sempat saya temui dalam acara malam itu, namun keburukan itu saya kira pasti tertutupi oleh penampilan atraktif seluruh pengisi acara malam itu. Riski Summerbee & The Honeythief ditambah dengan Frau dan Tika tentunya yang bermain-main dengan para penonton menggunakan harmonisasi nada-nada dan skill mereka dalam bermusik. Iringan tepuk tangan panjang selalu menutup akhir lagu dengan sangat meriah ini membuktikan penampilan mereka memang sangat layak untuk mendapat atensi yang meriah dari penonton yang kebanyakan anak muda.

Nuansa konser malam itu tidak terlepas dari peran dari artistic panggung. Sebuah background 2 hati menggantung dan saling terbalik. Selain itu di samping panggung terdapat WC, ini bener-bener bilik termenung bagi penonton yang ingin memberi kesan maupun saran terhadap acara malam itu. Namun ada yang mengganggu malam itu dengan keartistikannya panggung malam itu, pada stand mik terdapat sebuah senapan kayu yang sampai acara selesai saya dan teman saya tidak berhasil mencari tahu maksud dari senapan kayu tersebut. Kemungkinan terlalu nyeni jadi saya tidak bisa mengartikannya.

Pada akhirnya malam itu adalah milik semua orang yang malam itu berada di Teater Garasi, menikmati komposisi yang sangat cerdik dari Riski Summerbee & The Honeythief tidak akan pernah bosan, dan ternyata mereka memang bener terlihat nggregeti setiap . Frau tetep Frau dengan keindahan dalam keunikan lagu yang ia mainkan. Tika dia tetap menyuguhkan yang menarik bagi penontonnya dengan suaranya yang mengesankan. Naomi Srikandi yang sejenak mencuri panggung dan Andrea tidak terlupa, penampilannya membawakan satu komposisi menarik menjadi point tersendiri malam itu. Inilah para musisi dan seniman yang tidak hanya mengandalkan teknik tinggi melainkan juga mempertimbangkan rasa dalam setiap lagu yang terdengar malam itu.

Lagu Risky Summerbee & The Honeythief bisa didengarkan di MySpace.


.:Gugun Junaedi sedang bingung mencari tempat yang ada kunang-kunang:.

.:Spesial matur nuwun gak pake martabak BCA kagem mbak Cahya. love yu pull deh:.




Sabtu, 28 November 2009

Kethoprak Mranggas

Malam minggu kemarin saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan kethoprak di gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukan ini merupakan salah satu dari bagian pertunjukan dalam festival kethoprak antar kabupaten dan kota se-DIY yang berlangsung selama 3 hari pada tanggal 20-22 November lalu.

Pertunjukan malam minggu kemarin yang saya saksikan merupakan pertunjukan dari Kota Yogyakarta, grup ini mempertunjukan lakon Mrangas, dari sinopsis yang saya terima cerita ini adalah kisah yang awalnya merupakan persahabatan antara dua orang anak, Taruna dan Sembada. Mereka menandai persahabatan mereka dengan menanam sebuah pohon perdu di pinggir sendang Manisrenggo. Taruna merupakananak seorang demang di Manisrenggo dan Sembada merupakan anaka dari seorang petani biasa. Taruna tumbuh menjadi seorang prajurit sedangkan Sembada tetap menjadi seorang biasa. Waktu yang berlalu seiring semakin tumbuh besar pohon Perdu yang pernah mereka tanam di pinggir sendang. Sebuah Konflik muncul setelah berdirinya tanah perdikan baru bernama Mataram yang berkembang dan menimbulkan ketidaksukaan Pajang. diantara konfilk daerah tersebut, muncul pula konflik yang terjadi antara Taruna dan Sembada dan Kenanga dan Telasih, konflik pribadi yang nantinya memperburuk keaadan yang telah mereka jalin ditambah konflik daerah saat itu. Ending cerita ini bisa dengan mudah diterka diantara mereka yaitu salah satu dari mereka akan meninggal.

Setelah gamelan ditabuh dan kelir dibuka, terlihat sebuah set panggung yang menarik. Sebuah lampu menyorot pada dua orang anak kecil yang bermain disebuah set yang terlihat seperti gunungan tanah yang memiliki sendang (mata air) sebelumnya suara dari kedua anak kecil langsung menarik perhatian penonton didalam societed malam itu. kedua anak kecl itu merupakan Taruna dan Sembada yang sedang menanam sebuah pohon perdu kecil di tepi sendang.

Setengah pertunjukan mengalir dengan biasa tanpa ada unsur kejutan yang saya rasa menarik, setting lampu yang kadang sering terlewat dan juga tidak pas menjadi sedikit masalah selama saya menonton, barulah setelah selingan komedi (saya kurang begitu tau sebutan dagelan dalam kethoprak) penonton bisa dibuat seperti memiliki interaksi dengan tontonan di depan mereka. sebuah cerita dagelan antara seorang pemuda dengan 2 orang gadis desa yang sedang mencuci di sendang. Permainan dari ketiga aktor diatas panggung tersebut mampu membuat penonton terawa terbahak melihat setiap adegan yang memang saya rasa cukup bisa membuat penonton yang tidak mengerti bahasa jawa pasti akan ikut tertawa.

Klimaks dari pertunjukan ini adalah saat Sembada akhirnya tewas ditangan Taruna, saya masih bisa teringat jelas adegan tewasnya Sembada diatas panggung itu. sebuah lampu spot kepada mereka berdua, tepat dimana mereka dulu menanam pohon perdu yang sudah cukup besar. beberapa lama kemudian muncul suara anak-anak, Taruna dan Sembada kecil berlari-lari ditepi panggun sebelah kanan. Visualisasi yang menarik dari sebuah pertunjukan, saya juga baru mengerti ternyata dalam kethoprak juga bisa berlaku teknik split screen dua adegan yang menjadi satu. ditambah penataan panggung yang menarik, saya bisa terbawa dramatikal dalam adegan itu. Emosi yang ingin disampaikan saya rasa sangat berhasil.

Akhir adegan itu bisa mengobati rasa penasaran saya, karena saya ingin melihat sebuah koreografi yang menarik dan ternyata tidak saya temukan selama pertunjukan lakon Mranggas ini. Namun penutup pertunjukan itu bisa membayar semuanya, selamat kepada grup dari kota Yogyakarta, semoga mendapat yang terbaik dalam festival itu. Salam kesenian rakyat.

Gugun Junaedi