Rabu, 05 Februari 2014

Gondrong Biar ga Bengong

Saya ingin cerita kejadian yang kalau saya ceritakan, kebanyakan gak pada percaya. Kalau akhirnya ada yang percaya tetep aja mereka ga percaya dengan apa yang mereka akhirnya tau itu. Ceritanya adalah, pernah pas saya kemah(biar kaya anak pramuka) tapi kemahnya di gunung. Waktu itu ada beberapa orang yang minta foto. Kata mereka lho ya, bukan kata saya. Bahwa saya ini mirip pokalis ben(baca: penyanyi). Ga perlu saya sebutkan band apa yang mereka maksud ya. Dan, sudah sering saya katakan juga bahwa ini itu anugerah atau musibah kalau saya dikatakan mirip dengan pokalis ben itu. Kejadian ini bukan satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tu7uh kali saya alami.

Semoga ada yang percaya sampai saya nulis ini. Bahkan kemarin, 2 Minggu yang lalu pas saya dan temen jalan-jalan di Taman Sari terus mampir ke galeri lukisan, ada seorang guide yang bilang bahwa saya mau konser :) ah, biasa aja tuh. Nambah lagi orang yang bilang saya mirip dia, pokalis ben yang lagunya sayapun suka.

Lain cerita bagus, ada juga cerita jeleknya. Pacarnya temenku, dia itu suka sekali dengan pemain sepak bola. Semuanya harus dihubungkan dengan bola. Bahkan cowoknya yang bukan pemain bola, dia bilang mirip pemain bola. Pas ketemu dia bilang bahwa saya mirip charles Puyol. Masih terdengar baik, tidak sejelek yang dibayangkan.

Diatas saya tulis anugerah atau musibah. Cerita jelek berikut bisa menjelaskan. Beberapa orang bilang "mas, kok ga suting-suting. Malah sekarang di balik layar" saya diem masih belum nangkap maksud mereka. Mereka nglanjutin tuh ceritanya. "Kabar pepi gimana mas?" Baru aku sadar kalo yang mereka anggap lawan bicara mereka adalah Budi Anduk, aduuuuh... Saya emang salah satu fansnya mas Budi Anduk, tak apalah dibilangin mirip. Jadi terserah yang lain setelah nanti bisa ketemu ( bagi yang belum pernah ketemu saya) anggap saya ini mirip siapa. Untungnya sebagian banyak bilang saya mirip pokali ben :).
Cerita itu semua memiliki satu kesamaan atau satu penyebab, yaitu rambut. Sebelum saya memiliki rambut gondrong seperti sekarang, ga pernah ada kejadian seperti itu. Dari disangka preman, intel, pokalis, komedian, pemain bola. Tapi yang paling saya seneng adalah ketika saya disebut dengan sebutan "stylenya seniman, gayanya orang lapangan" nah itu yang paling saya suka.

Sudah 4 tahun rambut ini gondrong. Sudah 4 tahun juga rambut ini memberi banyak cerita.  Selain cerita mirip saya juga akan membagi cerita seputar rambut.

Deket kantor LSM tempat saya dulu pernah jadi volunteer, ada sebuah salon. Yang punya tante tinggi dan kuning kulitnya. Warna rambutnya kuning kadang kuning kemerahan. Kalau makan siang kita sering bareng, lha wong salon sama warung sebelahan. Dia suka tiba-tiba gemes pengin njambak ini rambut. Kalo saya sih mau aja dijambak kok mbak :).

Berikutnya rambut saya ini pernah menakuti bahkan membuat histeris anak ibu kantin tempat saya shooting. Jadi kalau saya masuk kantin, anak itu teriak dengan sangat kencang kemudian menangis tersedu-sedu. Sudah saya lakukan tips membuat anak kecil menyukai kita, tetep aja gagal. Selama seminggu shooting, 6 hari kemudian saya makan diluar kantin, padahal diluar debunya minta ampun, wong lokasi sutingnya di pabrik semen.

Yang seru lainnya adalah, salah satu temanku bilang ke ponakan mereka bahwa om gondrong ini bisa main sulap. Bahwa dari rambut gondrong itu saya bisa ngeluarin apa saja, dari kecoa bahkan kelinci. Eh, dia percaya. Satu, dua kali saya tipu anak itu dengan pensil dan kerikil yang bisa keluar dari rambut. ketemu lagi minta kecoa dikeluarin dari rambut.

Punya rambut gondrong banyak seneng dan susahnya. Keramas tiap hari biar ga panas dan gatel. Sampai sekarang belum nemu shampoo yang cocok sebenernya, yang mendekati cocok ada.
Jimmy Chin
 Kemudian saya juga punya idola orang yang rambut gondrong, rambutnya dia emang ga tebel dan ikal seperti milik saya.tapi cita-citanya mudah-mudahan sama. Dia seorang fotografer national geographic, namanya jimmy Chin. Seorang petualang sekaligus fotografer. Siapa sih yang ga pengin memiliki dream job seperti Jimmy Chin, saya sih sangat pengin. Sekarang hampir miriplah, kami sama-sama berambut panjang, sama-sama petualang :), dia fotografer saya videografer ga jauh beda. Kita sama-sama ingin membuat suatu karya tentang alam dan petualangan yang bagus dan bisa memberi makna orang lain.
Merdeka orang gondrong :) mumpung masih panjang rambut ini. Jabat erat dari saya untuk teman-teman yang berambut gondrong, yang pendek juga.


bonus saat ga gondrong

"personal journey" edisi narsis: tantangan dari orang



Selasa, 07 Januari 2014

Selamat Tahun Baru 2014 #episodetu7uh



Good morning everyone, heve a cheerful day.

Tahun sudah berganti begitu saja tanpa memberi kabar bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang baik. 2013 menjadi tahun yang sibuk, menikmati setiap hari di dalamnya atau bahkan hanya merasakan hari yang kosong di dalamnya. Ada teman yang datang ada teman yang pergi. Ada hari yang pernah dilalui bersama mereka ada hari yang tak ada lagi bersama mereka. 


Pondok Saladah

Pondok Saladah, 31 Desember 2013. Dingin sekali waktu itu, angin dingin mampu menembus tenda, jaket polar dan sleeping bag yang saya kenakan. Angin menghentakan tenda, suaranya terdegar nyaring bahkan merinding. Dari luar hanya terdengar beberapa orang yang saling berbicara dari dalam tenda mereka masing-masing.  Dan, saya menikmati dingin dari dalam tenda sendirian tanpa berpikir apa yang 2013 lalu saya lakukan atau 2014 saya mau ngapain. Banyak orang menyusun plan, resolusi yang seharusnya ada untuk tahun berikutnya, mengevaluasi tahun yang telah berlalu. Apakah ada kemajuan atau bahkan diam tanpa ada kemajuan.

Angin sudahtidak bertiup sekencang sebelumnya. Di luar sudah terdengar banyak orang, dingin tak bisa mengekang mereka untuk hanya diam di dalam tenda. Pergantian tahun menjadi momen yang harus dinikmati. Sekali lagi, bunyi keras dari kembang api terdengar dari Pondok Saladah. Tar, cuuush tar. Tidak membuat saya tertarik untuk mendekat kerumunan itu, hanya sesekali memotret kembang api yang jarang terjadi di tempat yang seharusnya sesunyi yang diharapkan.

Tidak lama mereka berkumpul di tanah lapang kecil itu. Satu persatu terdengar langkah kaki meninggalkan tempat itu, kembali ke tenda masing-masing. Dan, saya tertidur sampai pagi. Hari pertama di tahun yang baru. Matahari hangat yang diharapkan belum memberikan kehangatannya. Ini hari pertamaku. Terima kasih masih diberi kesempatan untuk menikmati hari baru, Tuhan.

Beberapa teman masih bertanya Goal di tahun 2014 ini. Saya diam, tidak bisa memberi jawaban pasti. Kadang satu, dua kalimat muncul memberi jawaban yang bisa membuat mereka tersenyum, membuat mereka terdiam. Adalah seorang produser yang membuat saya belajar terus, memahami apa sebuah arti dari tujuan membuat karya film, Mira Lesmana. Tahun ini untuk sekedar bisa bertemu dengannya mungkin yang saya harapkan. Itu yang saya ucapkan ke temanku, bahwa saya ingin bertemu dengan seorang produser yang bisa membuat tim kemudian menghasilkan karya yang menginspirasi saya, saya menyukainya.

Dan, gunung dengan para pendakinya tetap menjadi target-target saya berikutnya. Mungkin, saya juga akan potong rambut panjang ini. Terima kasih pada semua teman yang telah dan pernah menemani setiap waktu yang bermanfaat di tahun 2013, tahun ini semoga kita masih bisa membuat sesuatu bersama yang lebih baik. Jika memang kita dilahirkan untuk menjadi orang luar biasa, mari kita buat sesuatu yang luar biasa di tahun ini! Jadikan perjalanan ini menjadi cerita yang menarik untuk bisa diceritakan.

2014. Nikmatilah proses ini secara alami. Selatan Jakarta, 7 Januari 2014. Selamat menempuh hari baru kawan!
 


Kamis, 26 Desember 2013

Bermimpi dengan Uang Seribu

Saya mulai menuliskan ini ketika sebuah lagu dari Ebiet G Ade terdengar penuh makna di setiap liriknya. Judulnya Berita kepada Kawan. Tapi, saya tidak akan menceritakan lagu tersebut. Lain tempat jauh dari meja tempat laptop saya terletak di Selatan Jakarta, jauh di timur Indonesia. Tempat di mana terdapat sejarah yang semoga saja banyak orang tahu dan menyadari bahwa kolonialisme bermula dari tempat itu, ini menurut pengetahuan saya sebenernya.  Jadi, perhatikan baik-baik dengan tidak terlalu serius tulisan saya ini.

Tahu apa yang dipikirikan anak kost di setiap akhir bulan seperti ini. Tidak perlu pusing memikirkan jawabannya, karena jawabannya sudah bikin pusing. Dulu sekali apalagi pas jaman sekolah, setiap akhir bulan “uang”menjadi masalah yang dianggap serius bagi saya. Selember uang seribuan menjadi sangat berarti waktu itu. Selembar uang seribu yang lusuh bisa mendapatkan indomie rasa ayam spesial di warung depan, tentunya yang mentah. Selembar uang seribuan yang kadang gambar kapiten Patimuranya bisa tersenyum sinis pada saya “anak muda, apa sebenarnya yang kau risaukan. Segitu aja kemampuanmu hah!” nah, kalau sudah seperti itu, kalau ilusi, imajinasi liar muncul tiba-tiba dari selembar uang seribuan. Pasrah, karena ga bisa ngelakuin apa-apa lagi “Tenang pakKapitan, saya anak muda yang tidak menyerah begitu saja!” Tirakat, mungkin kata yang menjadi alasan terbaik dalam kondisi akhir bulan.

Daripada berperang dengan ilusi pak Kapitan, selembar uang seribuan tadi saya balik. Tersenyum sendiri, .....  lama ga bisa nulis (hampir beberapa menit) membayangkan gambar yang terdapat di uang kertas seribuan.


Saya yakin, 7 kali yakin. Bisa dibuktikan 7 dari 8 orang ketika ditanya gambar apa yang di balik Kapitan Patimura itu apa, tidak ada yang bisa menjawab dengan cepat. Ini yang tadi saya ceritakan di awal, saya tidak bercerita soal lagu pak Ebiet yang suka bikin galau, atau kondisi akhir bulan meringis karena tipis.Adalah gambar di uang seribuan yang menarik buat saya tulis. 

Pulau Maitara dan Tidore. Silahkan kalau mau petunjuk di Google dulu, apa itu dua pulau tersebut sampai dijadikan gambar untuk uang seribuan. Pastinya ada yang spesial dari pulau kecil tersebut. Di awal pembuka tulisan ini sempet saya tulisbahwa di tempat inilah kolonialisme berawal. Di tempat inilah yang telah  mengundang penjelajah yang akhirnya memonopoli perdagangan apa yang terdapat di pulau tersebut. Penjelajah dari spanyol, Portugis, dan Belanda datang ke pulau ini. Aroma ciptaan Tuhan yang ada di tempat ini telah memanggil para penjelajah itu. 

Ok, sudah. Saya kurang jago untuk cerita soal sejarah, jadi saya hanya ingin bilang bahwa apa yang terdapat di uang seribuan itu ternyata menyulut, membakar, emosi saya. “apa mungkin saya bisa berada di sana?” dari balik uang seribuan itu ternyata gambar Kapitan Patimura sepertinya mendengarnya “Kamu bisa anak muda, nothing imposible in this world!”, “Terima kasih pahlawanku, saya tidak akan membuat ini hanya omongan belaka, saya akan kesana!”

Akan kukumpulkan kisah saya nanti jika sudah berada di sana. Dan, mungkin akan saya pasang lagu dari pak Ebiet dengan liriknya yang kadang bermakna itu. Berita kepada Kawan. Tapi saya berharap seorang teman akan menemaniku duduk di sampingku, tidak seperti kata pak ebiet yang ga ada temennya duduk sendirian menatap kering rerumputan.  Mungkin kalau ada telegram J koma akan kukabarkan temanku di sana dengan telegram biar romantis agar menunggu dengan sabar kedatanganku nanti titik Kemudian akan saya ceritakan bahwa ada uang seribuan di mimpiku titik
 


Minggu, 20 Oktober 2013

Kontemplasi di Toko Buku

Pernah ga menemukan sebuah tempat dimana kita bisa merasakan ketenangan atau mungkin kita bisa merasakan keajaiban? Bahkan di kota yang panas ini, ternyata ada tempat seperti itu. Jakarta, beberapa orang membencinya seperti saya yang juga kadang membencinya. Tapi percayalah semakin benci kita terdorong semakin dekat dengan kenyataan bahwa apa yang kita benci itu kenapa selalu dekat dengan kita. Dan ini adalah cerita tentang ketenangan kecil di sudut Jakarta.

Jakarta Sabtu sore 19 Oktober, niat awal hari ini berada di Bandung bertemu dengan teh Butet Manurung dan sorenya mau mengagetkan kawan lama di acara yang ia bikin, gagal! Memang benar istilah 'kita merencanakan, Tuhan yang menentukan' rencana saya ke Bandung gagal. Jadi, hari itu setelah sebelumnya suting sampai larut, saya habiskan hari sabtu santai dengan tidur spesial kemudian terbangun dan ngobrol dengan mas Agung tentang impian saya selama ini, membuat sebuah film tentang gunung. kemudian yang dilakukan adalah nonton film, kemudian, doing nothing.

Saya merenung. Melihat tembok kamar kos, kadang berdialog dengannya. Ngliat buku di rak. Tasssss. Kemudian ada momen ketika melihat buku-buku itu, tiba-tiba merasa seneng. Sudah pasti saya senyum-senyum sendiri. Kemudian ada salah satu buku seperti berbisik "bro, gak beli buku lagi! Masih ada tempat kosong di sisiku nih."

Nah kan, kegilaan mulai muncul. Padahal malam tadi ga minum-minum juga. Kenapa merasa sinting sendiri. Hmmm... Buku yang satu lagi mau bicara sepertinya. Saya siap ndengerin "bos, katanya mau beli kakak saya lagi."

Oh iya, saya lupa mau beli majalah berlogo kuning itu. "Terima kasih ya sudah ngingetin" lho kok, gw ikutan ngomong juga ke mereka. Sialan, ini efek sendirian di kamar dengan suhu ac 16 derajat. Matiin ac, biar panas maksudnya kemudian mandi biar terlihat segar.

Bagi saya berada di toko buku merupakan momen tersendiri dimana saya dan buku-buku yang ada di rak seperti memiliki ikatan. Saya tahu mereka, begitupun buku tersebut. Dia juga mungkin selalu tahu siapa pemiliknya. Buku tersebut tidak bersuara, tapi saya bisa mendengarkan apa isi hatinya :). Ini mungkin yang sering orang sebut sebagai kontemplasi. Saya dapatkan ketenangan saat ada di toko buku. Saya sadari ini ternyata sudah dialamin dari dulu.

Di Jakarta yang panas ini ternyata ada tempat bagi saya bisa berkontemplasi. Ga perlu pergi ke gunung atau pantai sepertinya :).

Seperti biasa ga ada rencana mau beli apa. Nyusurin rak demi rak merupakan pengalaman spiritual sepertinya, uh yang ini terlalu lebay. Dari rak buku anak-anak sampai dewasa. Dari rak buku akutansi sampai politik. Meski ga mungkin beli buku politik :). Makanya tadi saya bilang, buku akan tau siapa pemiliknya.

Saya nyusurin rak di buku rekomendasi, sudah sering berada di bagian rak ini. Tiba-tiba ada buku bersampul orange seperti memanggil. Bergambar sampul seorang indian memegang tombak naik kuda. Ada satu nama yang tak asing. Winnetou, beberapa bulan terakhir saya seering mendengar nama ini. Saya baru sadar bahwa nama ini merupakan tokoh yang diceritakan oleh pak Herman Lantang dan pak Heru Soeprapto mereka ini tokoh petualang Indonesia. Mereka pernah menceritakan kenapa mereka mendaki juga karena membaca Winnetou. Buku ini dibuat oleh Karl May, langsung saja saya ambil buku ini. Mungkin si buku tersenyum, karena dia bertemu dengan pemiliknya.

Kalau buku kedua saya tertarik karena judulnya. "Mahameru. Bersamamu." Buku ini tentang catatan perjalanan yang ditulis oleh Ken Ariestyani. dan, saya memang belum mengenalnya. Saya pikir yang menulis ini orang yang berada di rotasi kegiatan outdoor Indonesia. Ga tau juga, namanya belum saya kenal. Tapi saya selalu suka dengan catatan perjalanan. Apalagi itu tentang gunung, saya langsung membelinya. Padahal tiga tahun belakangan ini saya malas lewat rak buku travel. Ga tau malas aja, ngeliat catatan perjalanan yang isinya how to atau where to aja... Maafin saya. Kalau di rak travel, mungkin ga ketemu dengan buku ini. Untung saja buku ini ada bersama novel, jadi kebeli. Mungkin yang sortir ga ngerti. Tapi karena itu jadi berjodoh buku ini. dan lagi, buku ini tau siapa pemiliknya.

Rak demi rak saya susuri lagi, membaca sinopsis peradaban dunia. atau bertemu tokoh dunia yang wajahnya memberikan senyum di sampul bukunya. Saya pegang buku biografi pak Sjahrir, salam hormat saya untuk anda pak. Terima kasih memperjuangkan bangsa ini. Saya kembali letakan buku itu.

Ada satu buku yang belum bisa kebeli sampai saat ini, ekspedisi dari Wanadri tentang pulau terdepan Indonesia. Saya hanya bisa melihat, memegang dan berharap suatu saat bisa mengambilnya.

Buku ketiga yang dibeli adalah buku Ring of Fire. Ketertarikan saya tentang dunia petualangan memang diharuskan untuk membaca buku-buku seperti ini. Apalagi buku ini diciptakan oleh seorang produser acara tv dan film. Lowrence Blair dan Lorne Blair. Senang bisa berjuma dengan anda-anda pak, buku anda sudah ada ditangan saya. Ini buku berisi catatan ekspedisi 10 tahun persinggahan mereka di Indonesia, di tengah hutan hujan, gunung. Wah baca halaman belakang saya bener merinding. Dengan berucap Bismillah saya mengambil buku tersebut. Semoga bermanfaat untuk saya. Buku ini telah memilih pemiliknya :).

Buku keempat tentang tumbuhan yang dilindungi di Taman Nasional Gede Pangrango. Gunung favorit saya. 100 Tumbuhan Dilindungi di Gede Pangrango. Buku ini dibuat oleh Edith Sabara & Sopian, semoga bermanfaat buku ini. Menambah literatur untuk film saya nanti, amin.
Sudah cukup, sekarang tinggal dompet yang berbisik lirih :). Tapi majalah edisi spesial belum kebeli, jangan sampai lupa lagi. Saya langsung ambil Natgeo edisi Oktober yg telat saya beli. Kemudian ke rak komik untuk ambil seri ke-4 dan 5 cerita chef Mitsuboshi yang konyol, ini komik seru lho.
 Dan, gerimis mengiringi saya pulang di dalam angkot. Kontemplasi saya berakhir hari ini. Tinggal jangan hanya jadi pajangan di rak nanti itu buku.

Dari dalam tas terdengar suara buku-buku itu meributkan sesuatu, sepertinya mereka saling bertaruh siapa yang akan baca duluan. Tenang saja kalian, kalian bertemu pemilik yang tepat kok. Buku, mereka tau siapa pemiliknya.

Jakarta 19 Oktober 2013
"personal journey"