Jumat, 23 Agustus 2013

Belum Ada Judul

Di suatu malam, kita pernah berbincang bersama. Satu cerita tentang mimpimu yang membuat ingatan malam itu kembali terbang malam ini. Malam itu kita bercerita bahwa dunia akan tahu mimpi-mimpi kita. Mimpimu agar orang yang ada disampingmu merasa bangga. Percaya anak ingusan ini bisa memberi perubahan.

Tapi kemudian, saya lupa tentang mimpi-mimpi kita itu. -terdengar lirih lagu Iwan Fals, Belum Ada Judul.

Senin, 12 Agustus 2013

Lama Berucap


Suatu hari, sentilan kecil saat membaca tulisan di bak truk. Tulisan tersebut cukup sederhana, bak truk berwarna kuning itu bertuliskan "jangan tunggu masa tuamu" tercetak tebal berwarna biru.

Hingga sebuah pesan masuk ke inbox social media "kapan mau nulis lagi?" Menulis blog menjadi salah satu kegiatan yang dulu janjinya konsisten. Saat ini, sudah jarang menulis. Bagi seorang bloger mendapat pertanyaan seperti itu adalah bagian dari kesenangan ngeblog. Ternyata saya masih punya pembaca :).

Konsistensi ngeblog perlahan hilang. Ga apa, sementara pikirku waktu itu. Tapi ini sudah keterlaluan, bahkan blog di kompasiana menulis hanya setahun sekali. Dulu saya punya pembaca setia, jumlahnya ga sampai jumlah jari di tangan kananmu. Tapi dari dia, saya punya motivasi besar untuk selalu menulis, bahkan sampai saat ini belum pernah bertemu dengannya.

Mungkin sekaran harus berubah program agar bisa konsisten lagi menulis.

Tulisan baru ini, saya hanya ingin mengucapkan "Mohon maaf lahir batin, buat temen-temen yang merayakan lebaran. Maafkan jika ada salah.

 

Rabu, 05 Juni 2013

Meet Le' Paimo


2012. Suara kereta masih menemai sepanjang perjalanan Jakarta-Jogja. Saat itu masih banyak pedagang lalu-lalang menawarkan aneka jajanan, sekarang sudah tidak lagi. lembaran majalah kuning itu masih berada di pangkuan, dalam artikel ada tulisan dari seorang yang belum saya kenal. Saya lupa waktu itu ia menjelajah bersama Tantyo bangun di Perancis kalo tidak salah. hanya foto punggungnya yang terlihat, wajahnya ga nampak. Dia adalah Bambang Hertadi, pesepeda asal Indonesia.

Tujuan pulang ke Jogja kali ini adalah mengikuti pelatihan caving yang sudah saya rencanakan jauh hari. 2 Minggu meninggalkan pekerjaan di Jakarta memang tidak mudah, tapi keinginan untuk melengkapi pengetahuan alam liar sebagai pondasi nanti menjadi lebih penting menurutku saat itu. Caving, salah satu kegiatan alam liar yang memang harus saya pelajari lebih lanjut. kesempatan kali ini tidak saya sia-siakan, saya tinggalkan keramaian jakarta saat itu.

Pelatihan 2012 saya bertemu dengan banyak temen-temen Mapala dari seluruh Indonesia. kegiatan dimulai, dari awal technical meeting diberitahu program yang harus diikuti selama pelatihan. Dan, inilah yang mau saya ceritakan terkait seorang pesepeda yang hanya terlihat punggungnya di artikel national geographic traveler itu. salah satu pelatih fisik saat itu adalah lek paimo, saya belum tau banyak tentang dia. Jam setengah lima kami sudah dibangunkan untuk latihan fisik, mata masih berat. enggan memang, kami berkumpul pukul 5.30, menghitung denyut nadi. setelah pemanasan kami disuruh berlari. Yang memimpin kami adalah seorang dengan kain penutup kepala, tubuhnya kecil, namun tatapan matanya tajam. Dia ga mengenalkan siapa dia seperti instruktur caving disini. 

Kami berlari beberapa kilo, kemudian masih ngos-ngosan kami melakukan olahraga pagi dipimpin olehnya. push up dan yang lainya berpuluh-puluh push up, sampai ratusan sepertinya dilakukan selama kegiatan. Pikir saya udah tua kuat juga ini orang, masa saya kalah lari. masih muda nafaas udah ga jelas. Nah, tiba saatnya ketika malam akhirnya saya tahu siapa dia sebenarnya. setiap malam kami diberi materi tentang caving dan kegiatan penjelajahan. Saat itu, orang yang saya kenal nama aslinya Bambang Hertadi itu memberikan materi manajemen perjalanan. 

Dia ceritakan pengalaman-pengalamannya. kemudian tiba di satu cerita, saya seperti pernah mendengar cerita itu. ternyata dia orang yang ada di Majalah. oh ternyata. yang paling saya ingat adalah ketika lek paimo bercerita tentang bagaimana ia bisa membaca tanda-tanda alam, seperti diberitahu oleh alam bahwa sesuatu akan terjadi padanya. hmmmm mungkin tak semua orang bisa seperti itu.

Jum'at 31 Mei 2013. di Bentara Budaya Jakarta ada sebuah acara diskusi tentang penjelajahan sepeda dari national geographic traveler. Pembicaranya adalah lek paimo. saya mengetahui acara ini malam sebelumnya bahwa baru tahu ada event tersebut. Langsung saja atur jadual agar bisa mengikuti diskusi itu.

Di acara tersebut benar-benar tidak mengenal satupun yang datang. Saya memang sempat berpapasan dengan mbak Aristi didepan tapi mau menyapa ga enak, mungkin dia lupa :). Mbak aristi juga salah satu pembicara saat itu. karena tak ada yang kenal kemudian nyari tempat sepi untuk merokok sebentar. kemudian masuk toilet, di toilet sempit saya berpapasan dengan orang yang memang ingin saya temui. seorang pesepeda dan pendaki yang menjadi instruktur fisik caving. orang yang tak bisa lepas dari radio kecil yang pernah saya tanya sebagai teman perjalanan. Lek Paimo, ketemu lagi di sebuah toilet sempit di sudut Bentara.

Acara share cerita berlangsung cukup cepat, dialog yang tercipta memberikan pengetahuan bagi saya yang awalnya hanya menggunakan sepeda sebagai alat transportasi kalau sedang males. Dari diskusi saya mengetahui bahwa lek paimo akan menjelajah gunung di Iran. Mumpung ada orangnya saya minta tanda-tangan darinya dihalaman 7 buku membelah pegunungan andes yang ditulis olehnya. satu buah kaos ijo toska yang sebenarnya kekecilan juga saya ambil sebagaikenang-kenangan, kaos yang sering dipake juga oleh lek paimo.
 
Bertemu dengan orang yang pernah memberi inspirasi memang selalu seperti itu, ketika mau bertanya malah bingung. hanya bisa terpesona mendengar apa yang ia ceritakan. tapi bisa mendengarkan cerita-cerita yang penuh resiko itu selalu menyenangkan kawan. sayangnya dia cerita sedikit, memang terkesan kaku karena diatas panggung kali.



Senin, 27 Mei 2013

Tujuh tahun lalu di Jogja

Suatu hari di sebuah kota yang penuh dengan kedamaian. tempat dimana pemuda-pemudinya suka berkarya, tempat dimana kesopanan menjadi modal untuk bisa hidup di era yang katanya semakin modern. namun kota ini masih dengan tradisi sopan santun yang melekat. Saat itu puluhan pemuda yang berlabel mahasiswa sedang melakukan produksi film pendek sebagai syarat untuk kelulusan mata kuliah dari dosen yang baik hati dan tidak sombong. Sebut saja rombongan tim A yang membuat film pendek mengenai pemuda galau yang mengidap penyakit dan akan meninggal (di script ceritanya begitu sebenarnya: karena saya yang nulis naskahnya :) Kami akhirnya suting dan kelar, bermodal kamera yang masih pake kaset vhs dan seorang lightingman yang baru keluar magang dari belantara jakarta kami menyelesaikan tugas akhir tersebut.

Malam saat itu tim post produksi sudah berkumpul bersiap untuk edit film pendek. berlokasi di tempat Rohman yang paling memiliki alat-alat canggih waktu itu saya bertolak menuju rumahnya. Berangkat dengan Itok biasa dipanggil suprapto meminjam motor Ronny. malam itu kami bersenang-senang sambil mendengar obrolan Rohman yang emang banyak bicara.

Malam berlalu, jam berlalu waktu itu kami hampir terlelap. Pagi disaat masih terlelap, tiba-tiba kota yang damai itu berguncang hebat. Suara teriakan, takbir untuk Tuhan Yang Maha Esa terdengar jelas. suara teriakan orang minta tolong membangunkan kami.

Ingatan saya masih ingat ketika terlihat Itok memegang LCD besar milik rohman, namun benda-benda yang lain disekitar itu ikut berjatuhan karena goncangan hebat. Setelah berhenti kami keluar, tak ada waktu itu pikiran menghindar jika rumah itu rubuh. Setelah keluar gempa susulan masih terasa sangat besar, bangunan masih bergoyang, tembok rubuh. Seorang kakek yang minta tolong saya angkat dari depan rumah rohman. Dia, kesakitan tertimpa atap rumahnya.

Saya menaruh kakek itu dihalaman yang aman, kemudian melihat sekeliling dimana terlihat rumah-rumah yang hancur. teriakan, tangisan semakin kencang. saya meninggalkan kakek itu setelah beberapa orang menghampiri. ada yang jelas teringat ketika seorang ibu menanyakan anaknya, kemudian yang lain menjawab masih didalam rumah. ia kembali histeris. di tempat Rohman di Gowok memang termasuk daerah yang terkena dampak gempa itu.

Saya kembali ke rumah Rohman, ternyata rumah kakak rohman yang terletak dibelakang kamar sudah rata dengan tanah. Ponakannya duduk terdiam diatas reruntuhan rumah itu. kami berteriak agar ia pergi dari situ takut ada gempa susulan. setelah itu saya dan itok berniat kembali ke kontrakan. motor ga ada, kami cari ternyata tertimbun rumah kakak rohman.

Dijalan terlihat muka-muka dengan ekspresi sedih, muka kotor berdebu. hari itu saya masih bisa menahan tangis saya, melihat kesedihan dimana-mana. sampai di kontrakan, temen-temen sudah pada diluar. kontrakan kami ikut hancur, atap sudah rusak, genting sudah pada hancur.

Satu lagi, disaat kami warga berkumpul terdengar teriakan dari selatan yang bilang akan ada Tsunami,spontan orang-orang ikut berlari ke utara. semuanya, berlari. Saya pasrah, bila saatnya tiba ya mungkin bukan begini caranya. hanya keluarga dirumah yang saya ingat waktu itu. saya beranikan diri masuk ke kamar dalam kondisi gempa susulan. hanya mengambil foto keluarga, dalam hati saya berujar mungkin jika terjadi apa-apa foto ini akan menjadi alat pengenal.

Mereka berlari, berjalan, menangis, mencari anaknya yang terpisah. waktu itu yang saya ingat adalah ketika seorang nenek yang berjalan aja susah masih berusaha menuju selatan. ingin sekali sebenarnya menggendong nenek itu. tapi ini sudah suratan jika saja memang terjadi tsunami.

Orang semakin banyak berlari menuju utara menghindari isu tsunami. saya masih berada di depan kontrakan, berkumpul bersama beberapa warga yang tidak berlari sambil mendengarkan radio informasi.

Sepertinya tak ada habisnya mengingat bercerita kisah memilulan ini, tapi semua sudah kambali normal. setelah gempa saya ikut menjadi volunteer di rumah sakit Sarjito beberapa minggu, sampai kondisi hampir normal. ada satu kalimat yang saya ingat dari korban gempa waktu itu, pas saya mengantar bapak itu menuju rumah didalam ambulan dia bilang untung saja kaki kanan saya masih utuh. inilah jogja, saya lihat bapak itu masih tegar selama perjalanan. sampai dirumahnya yang sudah hancur saya melihat beberapa orang sudah berkumpul. Bapak itu tiba-tiba menangis ketika bertemu warga sekitar, dan saya baru tahu bahwa bapak itu kehilangan beberapa keluarganya. Saya hanya ingat bahwa dia mencoba tidak menunjukan kesedihan kepada kami. kemudian kami mengantar pasien lain lagi, diperjalanan saya bertemu dengan bayi kecil yang kehilangan ibunya.

2006 lalu menjadi cerita tersendiri, tragedi yang sekarang sudah terlupa. Jogja bangkit, Jogja harus bangkit. itu yang mereka katakan. Bencana tidak bisa dihindari. masa lalu memang tak bisa dihindari, namun masa depan harus bisa kita rubah. Jogja Bangkit.

Hari ini selalu menjadi pengingat akan kejadian luar biasa 7 tahun lalu. 27 Mei 2006 akan menjadi sejarah di Jogja. Film yang kami buat sampai sekarang belum jadi, tapi pernah diedit dan menjadi draft awal.