Rabu, 21 Juli 2010

Inception: Serangan Alam Bawah Sadar

Film ini berhasil mempermainkan pikiranku. Kalimat inilah yang pertama muncul ketika baru saja melihat film ini berganti latar hitam secara mendadak pertanda film telah berakhir. Saya bahkan atau kemungkinan semua orang dalam theater 2 kaget ketika tiba-tiba ternyata film ini sudah berakhir tanpa kepastian yang didapatkan.

Tidak hanya sampai disitu, seseorang dengan temannya mempeributkan mimpi siapa yang sebenarnya yang tadi ditonton. selebihnya ada seseorang yang berbicara dengan keras, bahwa saya harus menonton ulang film ini.

Inilah kejeniusan yang diciptakan kembali oleh Cristhoper Nolan. Ya diciptakan, sebuah kata yang pas menggambarkan masterpiecenya kembali setelah The Dark Khinght menurut saya. Inception merupakan film thriller yang mengharuskan setiap orang ketika menonton film ini meletakan handphone bahkan cemilan yang biasa dibawa saat menonton. Ketegangan yang dibalut dengan lambat akan membawa pengalaman ke dalam tingkatan dunia mimpi yang mencengangkan.

Apalagi jika anda memang penggemar karya dari Sutradara Batman ini. Selain Memento, Insomnia, The Prestige dan tentu saja Batman Seriesnya yang hampir memasuki seri ke tiga ini Nolan kembali memberi cerita original di Hollywood yang masih ramai diantara film-film adaptasi. Setelah berhasil mengemas Batman menjadi lebih gelap tapi menarik, karya-karya Nolan selalu ditunggu oleh penikmatnya termasuk saya sendiri.

Sedikit bocoran tentang film Inception: Bayangkan sebelumnya jika dunia mimpi itu sudah bisa dikendalikan oleh manusia. Kemauan orang akan menjadi kenyataan dalam realitas kenyataannya. Film ini langsung tertuju kepada beberapa orang yang sudah bisa menguasai mimpi orang lain untuk tujuan tertentu. Ada Dom Cobb yang diperankan selalu dengan menarik oleh pemain tingkat tinggi Leonardo Di Caprio, dia seorang yang sangat menguasai tekhnologi untuk pemimpi. Cobb merupakan seorang dengan kemampuan mencuri daerah bawah sadar seseorang yang menjadi targetnya. Dibantu oleh timnya Cobb berusaha menyelesaikan tugas terakhirnya yang menurutnya bisa membuat kehidupannya menjadi baik kembali setelah istrinya meninggal.

Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy. Lihatlah itu nama-nama bintang yang ikut dalam ekspedisi mimpi Cobb. Tidak perlu diragukan lagi ketika saya mendengar artis-artis itu membintangi film Inception ini. Permainan akting mereka mampu memberikan kenangan tersendiri. Tom Hardy yang bisa memberikan ketegangan sedikit lunak dengan candaannya. Atau Ellen Page yang setelah bermain sebagai remaja hamil dalam Juno, kali ini bermain sebagai arsitek dunia mimpi. Apalagi untuk Leonardo danKen Watanabe tak perlu dibicarakan lagi kemampuan anak emas dan aktor jepang ini.

Dalam menyelesaikan tugas terakhirnya itu Cobb mendapat musuh yang tidak terduga, musuh itu merupakan istrinya sendiri yang tidak mau lepas dari dunia mimpi Cobb. Istrinya sendiri yang membuat berantakan misi terakhirnya, membuat berantakan tim yang ikut bertugas dengannya.

Sisi lain yang menarik selain science fiction film ini tentu saja drama yang terjadi di film ini. hubungan seorang ayah dan anak menjadi menarik ketika kepercayaan diantara mereka hilang. Cobb harus menghindar dari anaknya untuk menyelesaikan masalahnya, sedangkan Fisher yang menjadi target misi Cobb dalam dunia mimpi untuk mendapatkan informasi bawah sadarnya merupakan seseorang yang juga mengalami masalah kepercayaan dengan ayahnya.

Jika anda ingat film Matrix, sepertinya ingatan anda akan kembali dibawa oleh adegan yang berputar-putar. inilah salah satu adegan favorit saya ketika Arthur sedang berkelahi dengan seseorang di dalam sebuah hotel. Pantas saja majalah Rolling Stone berani menuliskan bahwa Inception merupakan kejeniusan penggabungan antara James Bond dan Matrix.

Tidak lupa kemegahan musik yang mengiringi film ini juga menjadi sesuatu yang menarik, setelah saya coba cek di Google ternyata yang membuat Sound semegah itu adalah Hans Zimmer, seseorang yang juga membuat ilustrasi untuk film-film besar seperti Gladiator, The Dark Knight, Pearl Harbour, the Last samurai, dan masih banyak lagi tidak cukup untuk menulisnya disini. yang jelas carilah kursi tengah yang nyaman untuk anda untuk bisa mendengar kemegahan alunan musik scoring dalam film tersebut.

Inception memberikan kenyataan bahwa mimpi membuat orang merasakan realitas dalam dunia bawah sadar itu lebih baik dalam dunia nyata. "Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up
that we realize something actually strange" inilah salah satu kutipan yang menarik dari film ini.

Akhirnya meskipun masih bengong juga setelah menyaksikan film Inception ini, semoga sedikit tulisan ini bisa memberikan review yang menarik untuk menonton Inception ini. Tetap perhatikan apakah kita sedang bermimpi melihat film mimpi, atau ikut bermimpi bersama Dom Cobb. Sambil menunggu Batman series ke-3nya yang sepertinya akan premier tahun depan sepertinya saya akan memasukan film ini menjadi film 2010 sampai ada film yang sanggup menandinginya di penutup tahun nanti.

Selamat menonton kawan.

Sabtu, 17 Juli 2010

Indonesia Kekinian dalam ART|JOG & Festival Gamelan Yogyakarta

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Taman Budaya Yogyakarta kali ini. Sebuah tentakel menjulur menggerogoti dinding Taman Budaya ini, didepannya terdapat pula pesawat tempur yang siap berperang. Jangan beranggapan bahwa Yogyakarta sedang diserang alien atau apapun. Mungkin anda akan terheran-heran melihat tampilan depan gedung Taman Budaya Yogyakarta. Semuanya menyala terang orange, ditambah mural yang dibuat dengan menawan oleh Eko Nugroho dengan kekhasan karyanya berupa tentakel-daging tumbuh yang melingkari sudut gedung itu. Apalagi didepan sebuah pesawat perang menunggu dengan ganas. Itu semua merupakan bagian dari acara Jogja Art Fair 2010.

Jogja art Fair tahun ini kembali hadir, dengan nama baru menjadi ART|JOG event ini kembali menghadirkan beragam karya seni rupa yang siap memberikan gambaran kondisi seni rupa Yogyakarta sekarang ini. Event yang sudah 3 kali terselenggara di Yogyakarta ini merupakan event tahunan perhelatan karya seni rupa Indonesia, meskipun diadakan di Jogja event ini tak lepas dari peran seniman peserta yang berasal dari kota-kota di Indonesia.

Indonesia Art Now, ini adalah tema yang digunakan dalam ART|JOG ini. dari informasi yang saya dapatkan, tema ini diambil untuk menajamkan pembacaan terhadap tanda-tanda didalam praktik seni rupa tanah air masa kini.

Dibagian depan ruang utama pameran kita sudah ditawarkan beragam merchandise yang merupakan project tersendiri dalam event ini. Merch I Project, merupakan gerakan seni rupa yang berawal dari kondisi seni rupa yang sering diposisikan sebagai bentuk oleh-oleh semata atau souvenir. melalui MerchIProject diharapkan karya seni rupa tidak hanya dipandang menjadi sebuah souvenir atau apapun bentuknya. Jadilah bagian dari karya adiluhung yang pernah diciptakan para seniman ini dengan memiliki karya cipta itu.

Beberapa acara yang menarik untuk diikuti antara lain adalah kunjungan ke studio seniman. Melihat ruang kerja seniman merupakan pengalaman menyenangkan tersendiri, melihat mereka berkreasi, cara menuangkan ide kedalam karyanya, bahkan tak segan seniman itu memberikan cerita-cerita pribadi tentang dirinya. Seniman yang studionya bisa dikunjungi adalah Djoko Pekik yang terkenal dengan "Celeng"nya, Nasirun seorang pelukis yang menanggap bahwa Indonesia merupakan tetesan dari surga yang bocor, Entang Wiharso seniman yang masih mempertanyakan identitas global, ikonografinya yang menjadikan karya-karya beliau. Serta Jumaldi Alfi seorang seniman yang bereksperimen tentang sebuah kemungkinan yang terus ada. Namun sayang, acara ini hanya untuk yang masih berlabel pelajar jadi untuk orang umum kemungkinan belum bisa mengikuti acara kunjungan ke studio seniman ini.

Namun, Tidak ada salahnya ART|JOG kali ini menjadi pilihan liburan akhir pekan kali ini. Acara ini akan berlangsung sejak tanggal 16 sampai 29 Juli. Menikmati Jogja dari sisi keseni-rupaan akan membawa anda ke dalam pengalaman visual yang lebih menarik tentang Jogja tentang Indonesia kekiniannya. Jadi jika anda ingin menyaksikan kondisi Indonesia dalam ruang lingkup seni rupa, tidak ada salahnya untuk mampir ke Taman Budaya Yogyakata melihat seniman kita menuangkan estetik keIndonesiannya serta pandangan-pandangan mereka tentang kondisi Indonesia kedalam seni rupa di ART|JOG ini.

Selain ada ART|JOG, Yogyakarta di bulan Juli juga memberikan sebuah acara menarik lainya. Ratusan penabuh gamelan yang berasal dari berbagai negara akan berkumpul juga dalam event international terbesar di Jogja di bulan Juli ini. Yogyakarta Gamelan Festival yang ke 15 kembali diadakan dengan mengusung tema "Gamelan Anytime".

Gamelan yang dalam perjalanannya selalu identik dengan nilai-nilai klasik mulai mencoba untuk menyatu dengan tradisi baru, kini mulai terbuka seiiring majunya perkembangan tekhnologi. modernisasi gamelan bisa kita saksikan di event yang menjadi daya tarik wisata Yogyakarta di bulan Juli ini, Trio Orchestra berhasil memberikan penampilan terbaiknya dangan kolaborasi musik etniknya pada penampilan pembuka malam 16 Juli 2010. Yogyakarta Gamelan Festival ini hanya akan berlangsung sampai tanggal 18 Juli.

2 event terbesar Yogyakarta menjadi satu di bulan Juli ini, Yogyakarta Gamelan Festival dan ART|JOG. Jadilah saksi harmonisasi nada gamelan yang disatukan oleh rasa adiluhung para pecinta gamelan dari penjuru dunia ini sambil menikmati cipta karya seni rupa seniman dalam ART|JOG.

Selamat berakhir pekan.

Minggu, 13 Juni 2010

Lebih Dekat dengan Soe Hok Gie.

Tidak pernah sebelumnya bisa berada ditempat ini, melihat tempat yang pernah menjadi persinggahan jasadmu. Diiringi sepasang kupu-kupu putih aku melihat prasasti itu, berharap ada ketenangan yang engkau rasakan disana. Soe Hok Gie, aku telah datang. Namun, belum semua janji ini terpenuhi hingga pada saat hari nanti aku bisa menemukan dirimu yang lain di lembah kasih Mandalawangi.

Minggu pagi saya telah bersiap untuk bisa mengunjungi salah satu tempat yang harus dikunjungi selama di jakarta ini. Tempat pertama kali seseorang yang selama ini memberikan jawaban yang selama ini masih saya cari di semayamkan sebelum akhirnya dibongkar kembali karena penggusuran. Apakah harus setragis itu dia merasakan kegelisahan hingga tempat jasadnya pun harus berpindah. Namun karena penggusuran pada tahun 1971, menjadikan salah satu keinginan Soe Hok Gie terwujud, menyatu dengan bukit Mandalawangi. Mandalawangi merupakan salah satu lembah yang berada di gunung pangrango, Pangrango menjadi salah satu gunung favoritnya untuk melepas kepenatan yang ada di jakarta. Bersama teman-temannya ia sering berada di lembah Kasih begitu Soe menyebutnya disalah satu puisinya tentang Mandalawangi yang juga menjadi salah satu puisi Scoring film Gie karya Riri Riza.

Nisan Soe Hok Gie berada di dalam komplek museum Taman Prasasti yang ada di jalan Tanah Abang I. Tidak sulit untuk menemukan tempat bersejarah di abad 17-20 itu. Saya menuju tempat itu menggunakan transportasi Busway dan turun di halte Museum Nasional, dari museum nasional saya berjalan kaki ke utara dengan jarak kurang dari 2 km. Memang sangat melelahkan tapi patut dicoba, karena daerah tersebut begitu rindang. Ojek juga menjadi pilihan alternatif dari halte Museum Nasional untuk menuju Museum Taman Prasasti itu.

Didepan kita sudah disambut oleh beberapa tiga buah prasasti yang abstrak menurut saya ini karena saya memang tidak memahami prasasti itu, dan dua buah meriam yang didalamnya berisi sampah yang berasal dari orang kurang kerjaan. Tiket masuk ke dalam Taman Prasasti cukup murah. Dengan harga Rp. 2000, kita bisa menyaksikan prasasti yang berasal dari abad 16. Kebanyakan saya perhatikan merupakan Prasasti yang di buat oleh Belanda. Memasuki Taman pilar-pilar berjejer dengan rapi, kita seperti langsung dibawa ke abad 16 saat itu.

Inilah salah satu lintasan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia ini. Namun sayang, tidak berbeda dengan beberapa tempat vital yang ada di negeri indah ini. Tempat sejarah inipun tak luput dari tangan jahil Vandalisme. Lihatlah betapa karya monumental yang sangat berharga itu menjadi tampak seperti patung jalanan yang sering ditemui di pinggiran jalan. Ah, sudahlah untuk hal itu saya tidak mau berkomentar apalagi tidak jauh dari tempat berdiri saat itu juga terdapat beberapa kelompok orang yang dengan sengaja membuang sampah dengan sembarangan. Ditempat ini juga terdapat dua peti jenasah sang proklamator kita, sayang saya tidak sempat melihatnya langsung.

Museum Taman prasasti bisa menjadi pilihan diwaktu luang untuk menikmati kicauan burung dan rindangnya tumbuhan yang berada disitu, saking rindangnya tidak salah kalo membawa lotion anti nyamuk, karena banyak sekali nyamuk disini.

Memang dari awal tujuan saya adalah untuk mencari nisan prasasti Soe Hok Gie yang pernah di semayamkan disitu. Setelah hampir 30 menit mencari-cari akhirnya sayapun menemukannya. Lihatlah ia begitu sendirian ditemani daun-daun kering yang jatuh. Saya jadi teringat betapa Soe Hok Gie pernah menulis hanya di terangi lampu kecil dan banyak nyamuk mengganggunya, namun ia tak pernah keberatan dengan keaadan itu. Ditempat itupun nyamuk begitu banyak karena memang Taman Prasasti ini banyak sekali tumbuh-tumbuhan. Dan tempat itu tidak terawat, mungkin jika masih ada yang menyampaikan pesanmu sepertinya kamu juga tidak perlu sebuah prasasti untuk mengenalmu dengan indah dan mewah.

Saya duduk sambil memandangi Prasasti nisan itu, beberapa batang rokok saya habiskan hanya untuk mencoba lebih mengenal anak-muda yang selalu memberi inspirasi ini. Aku sedikit membayangkan bagaimana anak muda sepertinya yang mampu berteriak lantang dengan segala tindakannya menentang ketidak adilan, meski seringnya ia sendiri yang merasakan ketidak adilan.

Soe Hok Gie hari ini saya datang ke tempatmu, besok saya akan mengunjungi salah satu sahabat baikmu yang masih menyimpan beberapa puisimu. Kemudian saya juga akan mengunjungi tempat di mana abu kremasi jasadmu ditaburkan, di Mandalawangi saya akan coba lebih mengenalmu di antara bunga-bunga Edelweis di Pangrango. Sudah sangat dekat kaki ini melangkah karena semagatmu. Seperti katamu "Dunia itu seluas langkah kaki.. Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah, hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya." ijinkan saya untuk lebih dekat denganmu. semangatmu, dan mimpimu.








Senin, 07 Juni 2010

From Bandung with Realitas

Jalan-jalan ke Bandung, mau apa, kemana tak ada siapa? Sampai akhirnya kupencet nomer yang sudah terlalu lama tersimpan di Phones book tapi belum pernah dihubungi. "Saya ke Bandung hari ini mas." tanpa persiapan hanya ada waktu, tenaga dan sedikit uang saya meluncur sendiri dari Cawang menuju Kota Kembang. Ini hanya sepenggal catatan kecil jalan-jalan tanpa tujuan, tidak ketempat wisata yang enak-enak dan memanjakan mata dan imajinasi, melainkan ke tempat yang ternyata mampu membuka kacamata realitas dari Bandung. inilah sepenggal cerita dari bandung dengan realitasnya.

Berbekal informasi dari teman-teman. Luqman dan Fery, Prima Jasa menjadi pilihan bus yang akan membawaku ke Bandung melalui tol Cileunyi. Jarak Cawang menuju pull Prima jasa harusnya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit namun karena kesalahan naik angkot di halte Cawang, perjalanan memakan waktuhampir 2 jam, untungnya saya masih saja menikmati Jakarta meskipun macet. Area nyasar bisa digunakan untuk menghapal Jalan di Jakarta ini, jadi ingat ungkapan paman saya, kalo gak nyasar gak bakal tahu arah yang bener.

Di Prima jasa tanpa menunggu lama, saya langsung naik bus AC ekonomi dengan harga 26.000. Saya rekomendasikan bis Prima Jasa ini, pengalaman pertama bisa membuktikan kepuasan konsumennya. Dalam bus saya bertemu dengan bapak-bapak yang ternyata memiliki hobby jalan-jalan, Australia sudah diuat khatam olehnya. Pesen darinya "mumupung masih muda nikmati saja mas, kalo sudah punya prioritas gak bisa kemana-mana, karena keterbatasan waktu."

Dari tol ciluenyi saya turun di jalan Mohamad Thoha, kita tinggal ngomong saja ke Kondektur mau turun dimana. Kalo saya dan semoga temen-temen yang lain mau ngikuti, ternyata turun di jalan Moh Toha lebih deket rutenya menuju Bandung Kota, tidak ribet naik angkotnya. cukup satu kali naik angkot bisa langsung turun di Tegalega.

Setelah dari Tegalega, kemudian nyari angkot menuju ke jalan Ahmad Yani di tempat meeting Point Sanggar Story Lab Bandung. Setelah hampir berputar-putar dengan ankutan kota selama satu setengah jam akhirnya sampai juga di Jalan Mangga dimana StoryLab bermarkas.

Akhirnya Ketemu juga dengan idola saya di blog kompasiana yang ternyata sedang absen sampai saat ini. di Mas Nur ku temukan obrolan bertajuk ralitas, he's the one film maker in kompasiana. Entah beberapa kali saya membatalkan janji bisa bertemu dengannya, berbicara sambil ngopi. Dan akhirnya terwujud juga perbincangan malam itu, kopi malam itu, curcol malam itu, serta kekonyolan malam itu di Malam Minggu Story Lab.

Satu cangkir kopi dan berbatang-batang rokok telah menemani kami dan seisi Story Lab, juga yumie yang asin tapi enak. Sebuah realitas dari keaadan terbentuk di malam itu meski kecil tapi itu merupakan realitas yang sudah terbentuk dan akan terbentuk menjadi lebih baik lagi. Terimakasih buat teman-teman Story Lab, apapun yang ada di Mas Nur akan saya tunggu.

***

Bandung, malam itu sudah semakin dingin. Ini malam Minggu di Bandung, di setiap perempatan Dago banyak sekali penjual bunga dan pengamen yang berkelompok. Ini yang membedakan Bandung dengan kota lainnya, Kota Kembang, pantesan ada saja penjual bunga di sudt-sudut jalan. Disetiap sudut jalan beberapa warung hampir semuanya sudah dipenuhi oleh muda-mudi Bandung. Saya merasakan baju yang dikenakan sudah tidak bisa memberikan kehangatan tapi cerita dari Bandung ini membuat saya bisa merasakan kehangatan lain yang bisa saya rasakan dan sanggup menghilangkan rasa dingin itu.

"Kita berhenti disini saja, sepertinya menarik disini." Cikapayang, Dago 5 Juni 2010 pukul 11.00 pm. Saya dengan barudak Bandung Ipey Geboy Kasep menikmati salah satu sudut ramai di Bandung. Ipey datang setelah menjemput di markas Story Lab, dengan motor Mionya saya diajak muterin kota kembang ini. lagi-lagi hawa dingin yang terasa bisa dikalahkan oleh keterpesonaan pandangan di setiap jalan di Bandung. Setelah berputar-putar tanpa tujuan, di persimpangan Cikapayang ini akhirnya kami menikmati malam di Bandung di temani sedikit sisa minuman kalengan bergambar bintang merah.

Beberapa kali pemandangan seperti film gangster terekam dalam pandangan saya, anak-anak yang mengaku punk mereka berlarian menghhindari kejaran Polisi. Di depan karya Instalasi typographi D.A.G.O rombongan anak-anak yang bermain skater dan BMX tak peduli dengan adegan kejar-kejaran itu, begitu juga beberapa orang di tempat itu dan saya yang hanya tersenyum menyaksikan itu semua.

Klimaks dari kejadian gangster malam itu adalah ketika ada rombongan pengendara motor yang membuat ribut di tengah persimpangan jalan Cikapayang, sebuah samurai terlihat dengan jelas berayun-ayun menunjukan keberanian yang salah tempat. Sungguh pemandangan yang biasanya hanya saya saksikan di film. Ternyata berita tentang Gang motor itu memang benar adanya, tapi sepertinya saya menganggap itu hanya beberapa orang saja. Seperti perkumpulan motor di depan kami yang terlihat rukun duduk sambil bersenda gurau, bahkan mereka memberikan tempat kepada rombongan tour yang akan berfoto di area Cikapayang. Dan lagi-lagi orang disekitar Cikapayang menganggap kejadian itu sudah biasa terjadi di Bandung, wow apa yang sedang terjadi sebenarnya, orang bermain sammurai kok biasa.

Setelah adegan gangster tersebut kami memutuskan untuk berpindah lokasi menikmati Bandung. sekre Mapala Universitas Islam Nusantara menjadi pilihan malam itu oleh Ipey. Giriraya, sebuah komunitas Pecinta Alam Uninus memberikan banyak cerita dan kawan-kawan baru. Kehangatan terjalin saat itu hingga tidak terasa Pagi menyadarkan bahwa saat itu saya berada di Bandung.

***

Dingin benar-benar sangat terasa di pertigaan Cianjur menuju Cipanas, "ini artinya kita sudah deket dengan Puncak." wow tidak sabar juga bisa menikmati dinginnya puncak Cipanas. Dalam perjalanan saya sedikit mendapat hiburan yang menyenangkan selain gerimis yang menemani dari Bandung-Cimahi hingga Cianjur, tak henti-hentinya gerimis menyiram aspal yang sudah basah sedari sore. Hiburan menyenangkan lainnya adalah ketika berada di Pinggiran kota Cianjur. Sebuah neon box dari jarum super itu ternyata bisa membuat saya tertawa sendiri melihat model-model dalam iklan tersebut. Djarum super versi World Cup 2010 menampilkan model berupa binatang khas Africa Selatan, namun yang sanggup menarik perhatian adalah pas bagian burung onta. Mungkin bagi temen-temen yang sudah menyaksikan film Prince of Persia akan mengalamin nasib yang sama denganku. tertawa melihat adegan burung Unta sedang beradu cepat dengan jokinya yang lucu.

Pasti semua akan tertawa ketika scene dimana pangeran Dastan dan Putri Tamina terjebak disituasi yang sangat konyol di daerah hitam perbudakan. Dari situlah saya baru tahu bahwa ternyata ada balapan burung unta. Lucu, konyol dan terlihat kasihan juga melihat ekspresi burung terbesar didunia ini. Setelah mendapat adegan balap burung itu akhirnya penasaran saya terbayar setelah membaca beberapa artikel mengenai keunikan burung unta di beberapa situs.

Puncak semakin dekat, dingin juga semakin terasa. Motor hanya bisa bertahan 40 km/jam dibeberapa tanjakan. Jalan yang terlihat licin juga membuat Ipey melambatkan laju Mionya. Ini pengalaman pertama saya di Cipanas, melihat perempuan-perempuan cantik di setiap warung. Wah ada yang mirip Song Hye Kyou bahkan sejenak ada juga yang mirip Suzan Cofeey. Kalo duit kita banyak baru kita mampir kesana.... hahaha obrolan konyol diatas Mio yang kedinginan. Di Warung depan parkiran masjid besar akhirnya saya, Fery dan Bebi(tambahan teman perjalanan) mampir sejenak menikmati dinginnya Cipanas. saya pernah bilang bahwa ingin sekali menikmati jagung di CIpanas, ternyata sama saja. Hanya teringat kaliurang yang sudah lagi tidak dingin.

Jakarta we're coming. Setelah dua hari ini menikmati hari bebas dengan berjalan-jalan di Bandung. Bertemu Rindu dengan realitas yang sejenak terbuka. Terimakash buat mas Nuraziz, saya selalu menunggu saat itu. Bertemu dengan temen-temen Mapala Giriraya Uninus, semoga camping di Kepulauan Serbu terlaksana kawan, Salam Lestari buat semua. Serta menikmati dingin Cipanas bersama teman. Dan segala apa yang sempat dan telah terekam di setiap pandangan sudut kota Bandung dan Cipanas.

Kita bisa menikmati apabila kita tahu dimana kita berdiri saat itu dan percayalah bahwa tidak ada tempat yang membuat kita merasa tidak nyaman.Tetap melangkahkan kaki untuk menikmati Nusantara yang katanya indah ini, lakukanlah meski itu hanya sedekat jangkauanmu hingga kita benar-benar merasakannya. From Bandung with Realitas.

Gugun 7
Djakarta. 070610
masih di Pinggir Rel Cawang
dikancani lagune Mocca - Do What You Wanna Do.

***