Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

Cerita Nglanggeran #1: Menggapai Kabut

Kabut mengembang di atas langit Jogja. Pedesaan Pathuk tertutup rapat oleh kabut yang turun secara perlahan setelah hujan yang mengguyur dari sore hingga malam di langit Jogja. Petir yang sedari tadi memekikan telinga seakan menyadari bahwa suaranya tidak membuat takut 5 orang yang sedang memenuhi janjinya pada sang bulan di Bukit Nglanggeran, Gunung Kidul Yogyakarta.

Langit mendung, rintik hujan sudah mulai terasa di sepanjang perjalanan menuju Gunung Kidul. Sejenak saya mampir kerumah teman Studio Biru di pedukuhan Sengit Prambanan sebelum menuju bukit Purba Nganggeran.Handphone beberapa kali menerima pesan. kabar bahwa beberapa teman sudah menunggu di tempat yang sudah ditentukan membuat saya sedikit senang karena jalan-jalan kali ini akan ditemani oleh teman untuk melihat fenomena Supermoon. Koencung, Ngashim & Pace sudah hampir sampai di meeting point, Saya dan Pariyem bersiap meluncur kesana.
13007591381983224006
satu tebing Nglanggeran

Bukit Gunung api purba Nglanggeran adalah tujuan kami. saya akan ceritakan sedikit bukit yang menjadi tempat melepas kepenatan di Jogja. Jika di Jakarta bisa melepas kepenatan ke Gede-Pangrango yang paling dekat dengan kota. Maka di Jogja juga punya tempat serupa yang cukup dekat dengan Jogja. Meski tidak semenarik Gede-Pangrango, tapi kedua tempat itu memiliki gudang pengetahuan yang sama untuk di eksplore.

13007594571608262541
dari puncak Pelangi *dok GAPN

Untuk yang belum tahu dimana itu Gunung Api Purba Nglanggeran saya akan bercerita sedikit. Gunung ini merupakan gunung setelah dilitian menyebutkan bahwa gunung dengan banyak batuan berjenis Breksi ini merupakan gunung api purba, memang berbeda jika dilihat.Berada dikawasan Baturagung, Pathuk,GUnung Kidul dengan tinggi 700 mdpl gunung ini memang sedang mempromosikan tempat wisata alamnya. Batu-batu yg menjulang tinggi tersebut yang merupakan bentukan dari material vulkanik akan memberikan sensasi bagi yang menaikinya. Jarak yang ditempuh dari kota Jogja juga tidak cukup jauh hanya sekitar 20an KM.

Jangan kuatir untuk teman-teman yang akan mengunjungi tempat ini. Fasilitas di tempat ini sudah standart eko-wisata. Dari fasilitas kesehatan, keamanan maupun kuliner sudah tesedia. Apalagi keramah tamahan penduduk sekitar akan membuat kita semakin nyaman.

13007595532003102114
menunggu hujan di pendopo Pos utama pendakian

Tidak ada yang kami lakukan setelah hujan yang sangat deras dan petir yang menyambar di tempat yang harusnya kami pikir akan memberikan kenikmatan. Selama hampir 4 jam Kami hanya duduk dan saling bercerita. Bercerita tentang tanah kelahiran, adat dan joke kecil yang membuat kami sejenak melupakan hujan yang tak kunjung reda.

Kami sepakat setelah pukul 9 jika hujan tak reda maka kita akan tetap manjat bukit purba ini. Kamipun beranjak dari tempat duduk, sebelumnya saya sempat berkata pada Agung "milih balik tidur di kost yang hangat atau tetep naik ke puncak?" Jawaban yang tidak perlu di jawab. Kamipun memulai ekspedisi supermoon ini dengan doa di Pos utama Nglanggeran.

Rain coat, senter apa adanya sudah disiapkan dengan baik. (sebenarnya 2 dari senter yang kami bawa tidak layak disebut senter, karena yang satu senter 2in1 korek api dan yang satu senter bawaaan Hape).

1300759616893180883
memulai pendakian dengan rute rasakan sendiri

Jalan ternyata tidak begitu licin, sepertinya rombongan kami adalah rombongan pertama yang naik ke Bukit, jadi di jalanan kalau boleh dibilang masih perawan karena seharian tidak ada orang yang mendaki. Tapi tebing yang curam-curam itu tetap membutuhkan kehati-hatian tingkat tinggi apalagi penerangan kita cukup 'sederhana.

Sepertinya teman-teman karang taruna Nglanggeran yang menjaga dan mengelola wisata alam ini begitu peduli dengan pengunjung yang akan mendaki. Beberapa rute telah lebih baik dari sebelumnya saya datang ke tempat ini. Tali pengaman sudah diganti dengan goni yang cukup besar hingga membuat pegangan menjadi nyaman.

Di sepanjang jalan, kami sepakat bahwa siapa yang celaka (seperti terpeleset, kejedot batu atau pohon) akan kami tertawakan. Dan ternyata saya yang menjadi bahan tertawaan mereka. Kepala ini terkena dahan pohon yang lumayan berat. cukup sakit juga.

"Gimana Pace, sudah dapat sensasinya?"

pertanyaan itu saya ucapkan ketika kami berada di celah sempit yang merupakan rute paling tidak menyenangkan. Tapi malam itu suara air yang mengalir dari atas memasuki celah yang kami lalui itu memberikan gemericik suara yang sangat indah. Dan itu membuat perjalanan semakin menyenangkan meski hujan tak reda.

1300759696270102012
harus tetap narsis dalma kondisi apapun

Saya dalam perjalanan di celah sempit itu sempat berpikir. Tatkala yang lain memilih kehangatan di kost, saat ini saya malah memilih bersama 4 orang gila yang hujan-hujanan naik turun menapaki batu-batu besar breksi .buang jauh-jauh pikiran itu dan kamipun selalu tertawa sepanjang perjalanan.Membuang pikiranmemang tidak bisa, tapi kesadaran penuh bahwa kami pasti akan mendapatkan imbalan yang pasti menarik saya menyadari penuh di puncak sana.

Tidak lupa di sepanjang perjalanan Yula menunjukan pohon-pohon yang temen-temen dari Canting tanam beberapa waktu lalu. Dan, saya sangat senang melihat tunas-tunas muda itu tumbuh di batang kecil pohon Nangka dan Matoa. Pohon-pohon tersebut yang kami tanam untuk membuat monumental ulang tahun canting yang pertama. Semoga tunas kehidupan itu menambah semangat Canting, bahwa apa yang kita lakukan selama ini tidak sia-sia.

13007597532038069441
lihatlah, tunas muda itu tumbuh. Kehidupan baru telah dimulai.

Maria Ika aka Pariyem, satu-satunya cewek di rombongan beberapa kali harus ditarik tanganya dan didorong dari belakang tas punggungnya. Perempuan satu ini memang sangat hobi melakukan outdoor activity. Sebulan yang lalu dia ikut Ekspedisi susur pantai gunung kidul. belum genap sebulan sekarang ia kembali disini melawan kenyamanan berada dirumah.

1300759975852658179
Pariyem ketika XPDC susur pantai gunung kidul 2hari

Akhirnya kami sampai di Pos 2, tempat dimana kami akan menyaksikan fenomena Supermoon yang hanya 75 tahun sekali bisa kita nikmati. fenomena jarak terdekat antara bulan dengan bumi, Lunar Perigee kata yang sangat saya sukai.

Di titik ketinggian ini saya bersama 4 orang teman menyaksikan sendiri keajaiban yang disajikan sang alam. Setengah jam kami disambut dengan kabut yang datang. Kami bersukur, beberapa menit setelah kami berada di Pos 2. hujan beranjak mereda. Kabut yang datang selepas Hujan di sepanjang sore ternyata tergantikan dengan kabut salam pembuka.

Yang kami lihat adalah hamparan lautan Kabut.Langit jogja semuanya dipenuhi Kabut putih tersebut. Bukan dingin, melainkan kehangatan ketika kabut itu secara langsung melewati dan bersinggungan dengan kulit muka saya. Sungguh, terbayarkan rasa pesimis tadi. (sayang karena keterbatasan kamera,permadani kabut itu tidak bisa benar-benar terekam)

1300760065991457496
pasukan langit bergaya dulu

13007601791639040057
hal ini seperti kewajiban. api unggun
1300760278271209570
Masih tertutup kabut

13007603621709722093
Ngitip, eh masih belum terlihat dengan jelas juga

1300760416692603017
jam 4.30 kalo tidak salah. magic hour, langit akan menjadi biru kalau di foto

Kopi, api unggun, kebersamaan, dan cerita konyol menemani kami sepanjang malam menunggu kehadiran Lunar Perigee. Meski sang bulan masih tertutup kabut, kami tidak merasa kecewa. karena apa yang ada di depan kami adalah hamparan keindahan lain yang jarang didapatkan di cuaca tidak biasa seperti ini. Kabut, suara alam, dan langit Jogja terhampar menemani malam kami. Keintiman ini terjalin bersama hangatnya kabut dengan sendirinya.


bersambung.......

Minggu, 13 Juni 2010

Lebih Dekat dengan Soe Hok Gie.

Tidak pernah sebelumnya bisa berada ditempat ini, melihat tempat yang pernah menjadi persinggahan jasadmu. Diiringi sepasang kupu-kupu putih aku melihat prasasti itu, berharap ada ketenangan yang engkau rasakan disana. Soe Hok Gie, aku telah datang. Namun, belum semua janji ini terpenuhi hingga pada saat hari nanti aku bisa menemukan dirimu yang lain di lembah kasih Mandalawangi.

Minggu pagi saya telah bersiap untuk bisa mengunjungi salah satu tempat yang harus dikunjungi selama di jakarta ini. Tempat pertama kali seseorang yang selama ini memberikan jawaban yang selama ini masih saya cari di semayamkan sebelum akhirnya dibongkar kembali karena penggusuran. Apakah harus setragis itu dia merasakan kegelisahan hingga tempat jasadnya pun harus berpindah. Namun karena penggusuran pada tahun 1971, menjadikan salah satu keinginan Soe Hok Gie terwujud, menyatu dengan bukit Mandalawangi. Mandalawangi merupakan salah satu lembah yang berada di gunung pangrango, Pangrango menjadi salah satu gunung favoritnya untuk melepas kepenatan yang ada di jakarta. Bersama teman-temannya ia sering berada di lembah Kasih begitu Soe menyebutnya disalah satu puisinya tentang Mandalawangi yang juga menjadi salah satu puisi Scoring film Gie karya Riri Riza.

Nisan Soe Hok Gie berada di dalam komplek museum Taman Prasasti yang ada di jalan Tanah Abang I. Tidak sulit untuk menemukan tempat bersejarah di abad 17-20 itu. Saya menuju tempat itu menggunakan transportasi Busway dan turun di halte Museum Nasional, dari museum nasional saya berjalan kaki ke utara dengan jarak kurang dari 2 km. Memang sangat melelahkan tapi patut dicoba, karena daerah tersebut begitu rindang. Ojek juga menjadi pilihan alternatif dari halte Museum Nasional untuk menuju Museum Taman Prasasti itu.

Didepan kita sudah disambut oleh beberapa tiga buah prasasti yang abstrak menurut saya ini karena saya memang tidak memahami prasasti itu, dan dua buah meriam yang didalamnya berisi sampah yang berasal dari orang kurang kerjaan. Tiket masuk ke dalam Taman Prasasti cukup murah. Dengan harga Rp. 2000, kita bisa menyaksikan prasasti yang berasal dari abad 16. Kebanyakan saya perhatikan merupakan Prasasti yang di buat oleh Belanda. Memasuki Taman pilar-pilar berjejer dengan rapi, kita seperti langsung dibawa ke abad 16 saat itu.

Inilah salah satu lintasan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia ini. Namun sayang, tidak berbeda dengan beberapa tempat vital yang ada di negeri indah ini. Tempat sejarah inipun tak luput dari tangan jahil Vandalisme. Lihatlah betapa karya monumental yang sangat berharga itu menjadi tampak seperti patung jalanan yang sering ditemui di pinggiran jalan. Ah, sudahlah untuk hal itu saya tidak mau berkomentar apalagi tidak jauh dari tempat berdiri saat itu juga terdapat beberapa kelompok orang yang dengan sengaja membuang sampah dengan sembarangan. Ditempat ini juga terdapat dua peti jenasah sang proklamator kita, sayang saya tidak sempat melihatnya langsung.

Museum Taman prasasti bisa menjadi pilihan diwaktu luang untuk menikmati kicauan burung dan rindangnya tumbuhan yang berada disitu, saking rindangnya tidak salah kalo membawa lotion anti nyamuk, karena banyak sekali nyamuk disini.

Memang dari awal tujuan saya adalah untuk mencari nisan prasasti Soe Hok Gie yang pernah di semayamkan disitu. Setelah hampir 30 menit mencari-cari akhirnya sayapun menemukannya. Lihatlah ia begitu sendirian ditemani daun-daun kering yang jatuh. Saya jadi teringat betapa Soe Hok Gie pernah menulis hanya di terangi lampu kecil dan banyak nyamuk mengganggunya, namun ia tak pernah keberatan dengan keaadan itu. Ditempat itupun nyamuk begitu banyak karena memang Taman Prasasti ini banyak sekali tumbuh-tumbuhan. Dan tempat itu tidak terawat, mungkin jika masih ada yang menyampaikan pesanmu sepertinya kamu juga tidak perlu sebuah prasasti untuk mengenalmu dengan indah dan mewah.

Saya duduk sambil memandangi Prasasti nisan itu, beberapa batang rokok saya habiskan hanya untuk mencoba lebih mengenal anak-muda yang selalu memberi inspirasi ini. Aku sedikit membayangkan bagaimana anak muda sepertinya yang mampu berteriak lantang dengan segala tindakannya menentang ketidak adilan, meski seringnya ia sendiri yang merasakan ketidak adilan.

Soe Hok Gie hari ini saya datang ke tempatmu, besok saya akan mengunjungi salah satu sahabat baikmu yang masih menyimpan beberapa puisimu. Kemudian saya juga akan mengunjungi tempat di mana abu kremasi jasadmu ditaburkan, di Mandalawangi saya akan coba lebih mengenalmu di antara bunga-bunga Edelweis di Pangrango. Sudah sangat dekat kaki ini melangkah karena semagatmu. Seperti katamu "Dunia itu seluas langkah kaki.. Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah, hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya." ijinkan saya untuk lebih dekat denganmu. semangatmu, dan mimpimu.








Senin, 07 Juni 2010

From Bandung with Realitas

Jalan-jalan ke Bandung, mau apa, kemana tak ada siapa? Sampai akhirnya kupencet nomer yang sudah terlalu lama tersimpan di Phones book tapi belum pernah dihubungi. "Saya ke Bandung hari ini mas." tanpa persiapan hanya ada waktu, tenaga dan sedikit uang saya meluncur sendiri dari Cawang menuju Kota Kembang. Ini hanya sepenggal catatan kecil jalan-jalan tanpa tujuan, tidak ketempat wisata yang enak-enak dan memanjakan mata dan imajinasi, melainkan ke tempat yang ternyata mampu membuka kacamata realitas dari Bandung. inilah sepenggal cerita dari bandung dengan realitasnya.

Berbekal informasi dari teman-teman. Luqman dan Fery, Prima Jasa menjadi pilihan bus yang akan membawaku ke Bandung melalui tol Cileunyi. Jarak Cawang menuju pull Prima jasa harusnya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit namun karena kesalahan naik angkot di halte Cawang, perjalanan memakan waktuhampir 2 jam, untungnya saya masih saja menikmati Jakarta meskipun macet. Area nyasar bisa digunakan untuk menghapal Jalan di Jakarta ini, jadi ingat ungkapan paman saya, kalo gak nyasar gak bakal tahu arah yang bener.

Di Prima jasa tanpa menunggu lama, saya langsung naik bus AC ekonomi dengan harga 26.000. Saya rekomendasikan bis Prima Jasa ini, pengalaman pertama bisa membuktikan kepuasan konsumennya. Dalam bus saya bertemu dengan bapak-bapak yang ternyata memiliki hobby jalan-jalan, Australia sudah diuat khatam olehnya. Pesen darinya "mumupung masih muda nikmati saja mas, kalo sudah punya prioritas gak bisa kemana-mana, karena keterbatasan waktu."

Dari tol ciluenyi saya turun di jalan Mohamad Thoha, kita tinggal ngomong saja ke Kondektur mau turun dimana. Kalo saya dan semoga temen-temen yang lain mau ngikuti, ternyata turun di jalan Moh Toha lebih deket rutenya menuju Bandung Kota, tidak ribet naik angkotnya. cukup satu kali naik angkot bisa langsung turun di Tegalega.

Setelah dari Tegalega, kemudian nyari angkot menuju ke jalan Ahmad Yani di tempat meeting Point Sanggar Story Lab Bandung. Setelah hampir berputar-putar dengan ankutan kota selama satu setengah jam akhirnya sampai juga di Jalan Mangga dimana StoryLab bermarkas.

Akhirnya Ketemu juga dengan idola saya di blog kompasiana yang ternyata sedang absen sampai saat ini. di Mas Nur ku temukan obrolan bertajuk ralitas, he's the one film maker in kompasiana. Entah beberapa kali saya membatalkan janji bisa bertemu dengannya, berbicara sambil ngopi. Dan akhirnya terwujud juga perbincangan malam itu, kopi malam itu, curcol malam itu, serta kekonyolan malam itu di Malam Minggu Story Lab.

Satu cangkir kopi dan berbatang-batang rokok telah menemani kami dan seisi Story Lab, juga yumie yang asin tapi enak. Sebuah realitas dari keaadan terbentuk di malam itu meski kecil tapi itu merupakan realitas yang sudah terbentuk dan akan terbentuk menjadi lebih baik lagi. Terimakasih buat teman-teman Story Lab, apapun yang ada di Mas Nur akan saya tunggu.

***

Bandung, malam itu sudah semakin dingin. Ini malam Minggu di Bandung, di setiap perempatan Dago banyak sekali penjual bunga dan pengamen yang berkelompok. Ini yang membedakan Bandung dengan kota lainnya, Kota Kembang, pantesan ada saja penjual bunga di sudt-sudut jalan. Disetiap sudut jalan beberapa warung hampir semuanya sudah dipenuhi oleh muda-mudi Bandung. Saya merasakan baju yang dikenakan sudah tidak bisa memberikan kehangatan tapi cerita dari Bandung ini membuat saya bisa merasakan kehangatan lain yang bisa saya rasakan dan sanggup menghilangkan rasa dingin itu.

"Kita berhenti disini saja, sepertinya menarik disini." Cikapayang, Dago 5 Juni 2010 pukul 11.00 pm. Saya dengan barudak Bandung Ipey Geboy Kasep menikmati salah satu sudut ramai di Bandung. Ipey datang setelah menjemput di markas Story Lab, dengan motor Mionya saya diajak muterin kota kembang ini. lagi-lagi hawa dingin yang terasa bisa dikalahkan oleh keterpesonaan pandangan di setiap jalan di Bandung. Setelah berputar-putar tanpa tujuan, di persimpangan Cikapayang ini akhirnya kami menikmati malam di Bandung di temani sedikit sisa minuman kalengan bergambar bintang merah.

Beberapa kali pemandangan seperti film gangster terekam dalam pandangan saya, anak-anak yang mengaku punk mereka berlarian menghhindari kejaran Polisi. Di depan karya Instalasi typographi D.A.G.O rombongan anak-anak yang bermain skater dan BMX tak peduli dengan adegan kejar-kejaran itu, begitu juga beberapa orang di tempat itu dan saya yang hanya tersenyum menyaksikan itu semua.

Klimaks dari kejadian gangster malam itu adalah ketika ada rombongan pengendara motor yang membuat ribut di tengah persimpangan jalan Cikapayang, sebuah samurai terlihat dengan jelas berayun-ayun menunjukan keberanian yang salah tempat. Sungguh pemandangan yang biasanya hanya saya saksikan di film. Ternyata berita tentang Gang motor itu memang benar adanya, tapi sepertinya saya menganggap itu hanya beberapa orang saja. Seperti perkumpulan motor di depan kami yang terlihat rukun duduk sambil bersenda gurau, bahkan mereka memberikan tempat kepada rombongan tour yang akan berfoto di area Cikapayang. Dan lagi-lagi orang disekitar Cikapayang menganggap kejadian itu sudah biasa terjadi di Bandung, wow apa yang sedang terjadi sebenarnya, orang bermain sammurai kok biasa.

Setelah adegan gangster tersebut kami memutuskan untuk berpindah lokasi menikmati Bandung. sekre Mapala Universitas Islam Nusantara menjadi pilihan malam itu oleh Ipey. Giriraya, sebuah komunitas Pecinta Alam Uninus memberikan banyak cerita dan kawan-kawan baru. Kehangatan terjalin saat itu hingga tidak terasa Pagi menyadarkan bahwa saat itu saya berada di Bandung.

***

Dingin benar-benar sangat terasa di pertigaan Cianjur menuju Cipanas, "ini artinya kita sudah deket dengan Puncak." wow tidak sabar juga bisa menikmati dinginnya puncak Cipanas. Dalam perjalanan saya sedikit mendapat hiburan yang menyenangkan selain gerimis yang menemani dari Bandung-Cimahi hingga Cianjur, tak henti-hentinya gerimis menyiram aspal yang sudah basah sedari sore. Hiburan menyenangkan lainnya adalah ketika berada di Pinggiran kota Cianjur. Sebuah neon box dari jarum super itu ternyata bisa membuat saya tertawa sendiri melihat model-model dalam iklan tersebut. Djarum super versi World Cup 2010 menampilkan model berupa binatang khas Africa Selatan, namun yang sanggup menarik perhatian adalah pas bagian burung onta. Mungkin bagi temen-temen yang sudah menyaksikan film Prince of Persia akan mengalamin nasib yang sama denganku. tertawa melihat adegan burung Unta sedang beradu cepat dengan jokinya yang lucu.

Pasti semua akan tertawa ketika scene dimana pangeran Dastan dan Putri Tamina terjebak disituasi yang sangat konyol di daerah hitam perbudakan. Dari situlah saya baru tahu bahwa ternyata ada balapan burung unta. Lucu, konyol dan terlihat kasihan juga melihat ekspresi burung terbesar didunia ini. Setelah mendapat adegan balap burung itu akhirnya penasaran saya terbayar setelah membaca beberapa artikel mengenai keunikan burung unta di beberapa situs.

Puncak semakin dekat, dingin juga semakin terasa. Motor hanya bisa bertahan 40 km/jam dibeberapa tanjakan. Jalan yang terlihat licin juga membuat Ipey melambatkan laju Mionya. Ini pengalaman pertama saya di Cipanas, melihat perempuan-perempuan cantik di setiap warung. Wah ada yang mirip Song Hye Kyou bahkan sejenak ada juga yang mirip Suzan Cofeey. Kalo duit kita banyak baru kita mampir kesana.... hahaha obrolan konyol diatas Mio yang kedinginan. Di Warung depan parkiran masjid besar akhirnya saya, Fery dan Bebi(tambahan teman perjalanan) mampir sejenak menikmati dinginnya Cipanas. saya pernah bilang bahwa ingin sekali menikmati jagung di CIpanas, ternyata sama saja. Hanya teringat kaliurang yang sudah lagi tidak dingin.

Jakarta we're coming. Setelah dua hari ini menikmati hari bebas dengan berjalan-jalan di Bandung. Bertemu Rindu dengan realitas yang sejenak terbuka. Terimakash buat mas Nuraziz, saya selalu menunggu saat itu. Bertemu dengan temen-temen Mapala Giriraya Uninus, semoga camping di Kepulauan Serbu terlaksana kawan, Salam Lestari buat semua. Serta menikmati dingin Cipanas bersama teman. Dan segala apa yang sempat dan telah terekam di setiap pandangan sudut kota Bandung dan Cipanas.

Kita bisa menikmati apabila kita tahu dimana kita berdiri saat itu dan percayalah bahwa tidak ada tempat yang membuat kita merasa tidak nyaman.Tetap melangkahkan kaki untuk menikmati Nusantara yang katanya indah ini, lakukanlah meski itu hanya sedekat jangkauanmu hingga kita benar-benar merasakannya. From Bandung with Realitas.

Gugun 7
Djakarta. 070610
masih di Pinggir Rel Cawang
dikancani lagune Mocca - Do What You Wanna Do.

***

Jumat, 28 Mei 2010

Baron Undercover

Hanya ingin berbagi tentang obrolan di malam hari mengenai sebuah perjalanan untuk liburan panjang pekan ini. Pantai Baron mungkin temen-temen sudah banyak mengetahui tentang salah satu pantai di jogja ini. Namun ternyata tidak banyak orang yang menikmati dengan klimakas apa yang telah ditawarkan Baron, hingga obrolan malam itu kami sebut Baron Undercover karena banyak diantara temanku yang belum tahu enaknya Baron selain mandi di sungai Baron, menikmati aktifitas nelayan di pantai tersebut dan mencari ikan segar untuk di panggang ramai-ramai.

"Kok kamu dapat foto itu." itu pertanyaan dari seorang kawan hingga akhirnya saya mendapat motivasi untuk menuliskan tentang keberadaan foto perjalanan itu. Sebenarnya gambar itu saya ambil pada tahun 2009, tepatnya dari atas bukit kapur sisi kiri Pantai Baron Yogyakarta.

"Memangnya ada jalan menuju tempat itu, kok saya tidak tahu." Kemungkinan karena waktu itu teman saya pas datang ke Pantai baron dalam kondisi pantai yang rame pas liburan, jadi bisa dipastikan akses jalan pun tertutup oleh banyaknya pengunjung yang datang menikmati salah satu wisata pantai di Gunung Kidul itu. Jalan kecil menuju bukit kapur sisi kiri terdapat dua buah, ada yang setengah curam dan ada yang sangat curam. yang pertama saya sarankan untuk menjadi pilihan. Dengan memasukan 1000 rupiah kedalam kotak amal (jangan terlalu pelit jadi orang, bayangkan penduduk setempat membuat jalan tidak dengan mudah lho, apalagi batu kapur disitu sangat keras) kita bisa menuju ke bukit kapur yang menjorok ke lautan tersebut.

jalanan curam yang bisa menguras energi, tapi percaya saja kita akan bertemu dengan jerih payah kita nantinya.

"Waktu itu sendirian, gak ada orang disitu." Tenang saja kawan, ada nikmatnya sendirian ada kurang enaknya berpetualang sendirian. Di atas bukit tersebut juga terdapat beberapa pedagang, terus pas disisi ujung dinas parwisata juga sudah membuat sebuah Gazebo kecil yang sekarang usdah penuh dengan coretan. Oh ya jika pas beruntung kita juga bisa melihat penduduk setempat yang sedang memasang perangkat untuk burung atau kelelawar(yang ini patut dipertanyakan).
Menuju Gazebo diatas bukit Baron

"Ternyata memang benar, keindahan pantai Gunung Kidul bisa dinikmati dari atas sini." Dari atas kita bisa melihat beberapa pantai favorit yang terdapat di Gunung Kidul. Pantai terdekat tentu saja dengan sangat jelas kita bisa melihat pantai Kukup yang memiliki Tanah Lotnya sendiri.

Pemandangan pantai yang ada disisi Baron, Pantai Kukup dengan Tanah Lotnya terlihat dengan jelas

Jangan lupa membawa oleh-oleh. Saya berani bilang diantara penjual buah Sirkaya yang ada di sepanjang pantai di Gunung Kidul, di baron yang paling komplit. dari yang masih benih, belum matang dan hampir busuk. Lebih baik jika kita membeli Buah Sirkaya yang setengah matang. Dan kalo mau langsung di makan cari yang buahnya matang di Pohon itu sangat enak.

Penjual Sirkaya paling banyak terdapat di Baron dibanding pantai lainnya
yang mentah lupa di foto jadi saya hidangkan yang sudah mateng saja ya.

Jika ada yang sudah sering ke jogja dan hanya menikmati wisatanya yang selalu itu-itu saja, tidak ada salahnya bermain ke timur Yogyakarta untuk menikmati wisata pantai yang ditawarkan di Gunung Kidul. Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 20 km arah selatan kota Wonosari (40 km dari kota Yogyakarta) tidak sampai 1 jam untuk mencapai Pantai di Gunung Kidul. Apalagi kita tidak hanya akan menikmati satu pantai saja, Gunung Kidul menawarkan 7 pantai langsung dalam sekali perjalanan. Pantai baron menjadi pantai pembuka diantara 7 pantai yang lain, Pantai Kukup, Sepanjang, Drini,Sundak,Krakal dan yang agak jauhan dikit adalah Pantai Siung. Pantai-pantai tersebut sebenarnya terlalu singkat jika hanya dinikmati dalam satu hari, satu hari terasa kurang jika ingin exlpore pantai-pantai itu.

beragam pemandangan yang bisa menarik mata untuk melihatnya.

Last but not least, akhirnya teman saya itu berencana pergi ke Baron dan ke 6 pantai lainya, apalagi dia juga akan menuju ke Ngrenehan dan Ngobaran yang belum sempet saya singgahi. Sepertinya balas dendam sudah menunggu.

Salam
.
Gugun
Djakarta, 28 Mei 2010 pinggir rel Cawang.
Dikancani lagune Crisye - Negriku
“Capailah angan dengan segenap rasa….”

“Selamat berakhir pekan.”