Minggu, 25 Desember 2022

Pagi Dari Tempat Yang Katanya Rumah

 
Pagi ini udara dingin terasa sampai ujung kuku di jari kaki kiri. Setelah air yang diseduh ke gelas menimbulkan aroma arabika, saya kembali tersadar, masih sangat pagi. Sambil menikmati aroma dari kopi yang seorang kawan kirimkan jauh dari desa di Sumatera Barat, saya perlahan mengaduknya, membawanya ke samping rumah. Di sebuah meja kayu yang terbuat dari kayu nangka saya meletakannya, memunguti beberapa daun mlinjo yang mungkin semalam terjatuh dan tergeletak pada meja, agar terlihat lebih rapi sebagai background foto.

Suara burung sudah mulai terdengar dari belakang rumah, kelelawar terlihat terburu-buru pulang ke kandangnya. Ada juga suara sapi yang berteriak memanggil si empunya untuk memberinya makan. Sedangkan laba-laba besae yang membuat sarang di antara pohon nangka dan pohon mlinjo terlihat diam, di jaringnya terdapat banyak embun.

Saya minum kopi saya, pertama mengucap syukur bisa menikmati hari baru.

Kemudian saya nyalakan rokok pertama di pagi hari sambil merasa bersalah kenapa saya masih merokok.

Bunga anggrek di depan saya begitu cantik, saya tidak tahu namanya, cukup menikmati bentuk, warna dan motif yang ada pada tiap kelopaknya. Kemudian pandangan berhenti pada senthe yang berjejer, daunnya yang lebar terdiam seperti telinga gajah yang sedang tertidur. Angin kecil membangunkan gajah-gajah itu, menggerakan beberapa tanaman lain, dan juga menggerakan bulu rambut di lengan saya. Dingin.

2019, saya pernah berjanji pada diri saya jika saya akan bangun sebelum matahari terbangun. Sekarang 2022 beberapa hari lagi sudah 2023, susah mau jalan 3 tahun rutininas bangun pagi saya lakukan, dan itu berhasil membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Saya sedikit berubah, kemudian banyak, menjadi lebih dekat dengan yang memberi hidup, lebih merasakan apa itu hidup, emosi yang mulai terkendali, dan banyak yang lain. Dan percaya tidak percaya sebelum matahari terbit, ada banyak orang yang menyebutkan di sepertiga malam terakhir adalah sebuah keistimewaan. Dan, saya percaya itu dan mengalaminya. Hanya imanku yang fluktuatif tidak memberi ruang untuk bisa mengalami lagi keistimewaannya. Tapi, bangun sebelum matahari terbangun adalah hadiah terindah dari sebuah konsistensi. Lakukanlah! Jika ingin sesuatu berubah.

Tulisan ini sebagai pengingat untuk saya sendiri, selalu ada jalan bagi yang mencari. Terima kasih tahun ini, dan selamat datang tahun yang baru.

Minggu, 24 Oktober 2021

Netherland Dwarf, kelinci mungil penghuni kandang estu


Rutinitas selama pandemi ini semakin bertambah setelah saya memelihara beberapa ekor kelinci. Setelah memiliki kelinci jenis rex, saya mencari jenis kelinci hias untuk mencoba dikembang-biakan. Setelah melihat beberapa referensi saya mengambil kelinci mini Netherlan Dwarf.

Kelinci ini bukan asli kelinci dari Indonesia, melainkan kelinci yang dibawa orang Belanda saat itu, bertahun-tahun yang lalu ke tanah Indonesia. Kecil, mungil, pesek, telinga pendek, seperti itulah terlihat Kelinci Netherland Dwarf ini.

Apa kabar pembaca blog ini, jika kalian membaca postingan ini, komen ya, agar tahu blog ini masih hidup. Terima kasih.





Rabu, 20 Mei 2020

Indonesia, Terserah!


Seorang penjual makanan ringan sedang duduk membereskan bungkusan makanan yang terlihat masih menumpuk di meja dagangan di hadapannya. Begitu pula penjual takjil yang ada di sebelahnya. Ada beberapa pembeli yang menggunakan motor berada di sekitar kantor kecamatan itu. Tidak begitu ramai seperti tahun sebelumnya. Namun, ada satu penjual yang masih terlihat ramai dengan beberapa pembeli yang sibuk memilih makanan yang mereka cari. 

Penjual gorengan langganan saya yang berada di depan SMP 1 Wangon tetap terlihat seperti biasanya, setiap saya datang kompor mereka selalu menyala dengan minyak yang mendidih di atasnya. 

Tahun ini, Ramadan tahun ini memang Ramadan spesial dengan pagebluk Covid-19 yang ada di seluruh dunia, tidak hanya di kampung halamanku di Wangon, Banyumas. Saya sendiri tidak bisa keluar kota, sebelumnya panggilan produksi suting di Jakarta tidak bisa saya ambil. Bahkan saya tidak bisa bertemu dengan istri saya meski dia berada di Jogja. Aturan dari pemerintah yang mengharuskan membawa surat sehat, negatif covid-19, dan surat kelengkapan lainnya harus ada jika kita akan bepergian keluar kota. Tanpa itu semua sebenarnya bisa, orang Indonesia sangat bisa main belakang.

Tapi tidak untuk saya, ada yang lebih penting dari itu. Sudah lebih dari 3 bulan wabah ini menyebar dan menganggu rutinitas masyarakat. Ada yang melawan aturan ada yang taat aturan. Beberapa hari ini saya mendapati berita tentang bagaimana orang-orang tidak mempedulikan keseahatan mereka dan bahkan tidak mempedulikan gugus depan orang yang bekerja di sektor kesehatan yang sedang berusaha mengurangi wabah ini.

Indonesia, Terserah... itu kalimat yang saya dapati dari beberapa dokter dengan pakaian pelindung diri yang terlihat mengembun di bagian mukanya, karena panas jika mengenakannya. Mereka memegang tulisan 'terserah anda' terlihat memang seperti moral kita jatuh, putus asa. Sebenarnya apa yang orang-orang itu pikirkan, atau karena mau lebaran mereka tetap berdesakan di Mal-mal. membuat gugus depan seperti tidak berarti, sakit ya masuk rumah sakit. Padahal ada banyak orang yang bertugas untuk itu.

Mall yang ramai itu semoga saja mendapat hukuman. Dan, saya sendiri beberapa kali menangis ketika lewat di depan masjid yang ditutup. Beribadah kami tidak bisa di tempat itu. Apalagi di masjid yang saya sering singgah, mendapati palang bambu dengan tulisan masjid ditutup itu rasanya seperti... ah terserah. 

Saya teringat ketika sedang mengedit video untuk Trans 7 tayangan dokumenter seri tentang anak kecil yang menghafal Quran. Tepatnya di Suriah, mereka sembunyi-sembunyi untuk melakukan ibadah. Untuk beribadah mereka selalu diliputi kekhawatiran akan nyawa mereka yang bisa tiba-tiba tertimpa rudal yang sengaja dijatuhkan. 

Apa yang saya rasakan di sini, tidak lebih besar dari itu, bahkan sangat kecil. Meski saya juga jarang jamaah di masjih. tapi melihat kondisi saat ini, yang dirasakan adalah kenapa bisa seperti ini. Di Kampungku beberapa orang yang baru pulang dari kota, juga tidak mengikuti anjuran untuk karantina. Terserah sekali lagi, tapi saya selalu mencoba bilang ke keluarga di sini untuk selalu terapkan pola hidup bersih. 

Semoga tidak terjadi apa-apa, aku putar lagu Slank biar ngurangin kecemasan ini. Terserah.... terserah...

Senin, 07 Oktober 2019

Anxiety Disorder, Hadapi!

Beberapa hari terakhir ini saya mendapat banyak hal baru dari pertemanan yang baru juga, salah satunya mengenai kecemasan, bahkan kecemasan yang berlebihan yaitu anxiety disorder. Saya mendapat ini setelah melihat postingan dari Lingkaran (sebuah startup pendidikan) dia mengadakan kelas tentang anxiety. Saya ga ikut kelas ini, pengin ikut sebenernya.

Saya masih sering mengalami kecemasan yang tinggi, ketakutan, kekhawatiran akan banyak hal yang sebenernya belum jelas. Dulu saya bisa mengurangi dengan melakukan apa yang bisa bikin senang, melupakan hal-hal negatif itu. Saya berkebun, saya naik gunung dan traveling (travelingnya ke yang deket-dekat aja) itu bener-bener bikin adem, ngelupain sedikit hal negatif itu. Kemudian saya bekerja, salahnya saya juga beberpa kali mendapat manajemen yang buruk, dan itu ternyata memperparah perasaan negatif. Saya bisa melakukan pekerjaan itu, dengan mudah, cepat, hasil yang bagus jika perasaan negatif itu tidak mengganggu. Biasanya saya merokok untuk nenangin, kalo dulu bisa sedikit alkohol (jangan ditiru)  setelah menikah saya ga pernah sama sekali minum alkohol. Kalo tuak pernah sekali ketika di Kalimantan, itupun lebih ke adat Dayak ketika kita bertamu.

Mempunyai teman yang bisa memberi keyakinan dan juga selalu menyemangati adalah hal yang sangat bagus bagi yang suka mengalami perasaan negatif seperti saya. Berada di komunitas yang baik juga akan sangat membantu, perlahan itu bisa menjadi obat penangkal yang baik. Kalo kita tertutup dengan hal baru, takut memulai dengan yang baru, karena perasaan takut cemas sudah kita alami dari dulu, saya sendiri mulai menghilangkan itu, meskipun masih suka cemas bertemu dengan orang baru.

Kalau kita belum bisa mendapat teman baru, belum bisa memulai kehidupan baru, paling tidak kita meninggalkan kebiasaan buruk kita, teman-teman yang memperburuk keaadan kita. itu sedikit membantu. 

Kecemasan, ketakutan hal yang normal kok, tapi apa yang terjadi jika itu terus menerus terjadi. Baca saja literasi tentang anxiety disorder, banyak sekali di google. Bisa lebih baik daripada baca-baca timeline yang banyak berisi hal negatif.

Dan saya menulis lagi untuk menghilangkan kecemasan saya... ini salah satu cara. AllisWell

Rabu, 26 Desember 2018

Makan sambil kerja atau kerja sambil makan.

Nyobain menu produk baru yang akan launching tahun depan, masih rahasia.
Kali ini saya ingin menceritakan aktifitas makan di warung arisan, salah satu tempat makan yang harus dikunjungi di One bell park, Jakarta Selatan. Mall ini masih terlihat tidak begitu ramai, jika dibandingkan dengan mall lain di jakarta selatan. Tapi di sini ada beberapa tempat makan, restoran yang bisa menjadi pilihan. Salah satunya warung arisan, apalagi jika kita menyukai makanan indonesia dengan ragam sambal dan olahannya. 

Saya datang dengan tujuan meeting untuk project Banyumili Sinema selanjutnya, di sana saya bertemu dengan beberapa orang yang memiliki bisnis di bidang kreatif industri. Selain ngomongin soal makanan kami juga antusian ngomongin tempat makan di one bell park ini. Secara saya hampir 3 tahun membuat produk audio visual tentang kuliner, sedikit hapal tentang makanan. 
 
mungkin masih belum sebahagia perut terisi, itu bos-bosnya
Menu di Warung Arisan banyak sekali, tapi menurut orang-orang yang kesini termasuk temanku ini, kalian haru mencoba kopinya.  Ya, kopi. Kopi di warung arisan bisa menjadi pilihan utama setelah makan, atau jika kumpul bareng teman2 di sini. Dari kopi panas sampai kopi dingin ada. Ternyata warung arisan memanh satu keluarga dengan warung tator yang sudah terkenal dengan olahan kopinya, karena saya ga ngerti kopi banyak. Saya ngrecokin kopi punya temen saya. 

Saya memesan rawon, mi goreng dan nasi goreng spesialnya, semua saya pesan spesial. Kenapa banyak sekali memesan makanan. Ya karena kami miting ngomongin kerjaan dari siang sampai makan malam, diselingi Cemilan. Untuk minuman saya merekomendaaikan es tape. Es tape spesial warung arisan ini bikin nagih. Kalo suka sama yang manis, ini sangat cocok. Seperti ini rasanya, es serut yang halus, ketika dicampur dengan tape ketan dan tape ubi yang halus juga, masuk ke mulut, dan lelehan semuanya nyampur. Manis terlalu manis yang sangat manis terasa di lidah. Bukan manis penguat rasa, tapi manis dari gabungan rasa di es tape tersebut. Apalagi ada tambahan kelapa muda di dalamnya. 
 
es tape terbaik di jakarta selatan
Selain es tape saya juga minum es cincau kelapa, mirip sama es tapenya. Mungkin karena satu dapur, satu rasa. Semua menari manis di dalam mulut. Kalo otak sama pikiran sudah diperas dengan kerjaan. Maka hati yang puas diisi oleh makan makanan yang bikin senyum puas. 

Ini versi lutfi, dia makan paling banyak. Dia nyiba nila colo-colo, biar ingat kalo dulu bolak-balik ke ambon, maluku.  Karena dari ambon sambal ini tercipta. Di sini banyak olahan makanan dengan sambel-sambel daerah di indonesia. Dia juga minum es tape, punya saya. Bebek bali. Dan saya lupa makan apalagi dia.
itu punya dia, mi gorengnya cocok dengan selera lidahnya. bukan versi jogja bukan versi surabaya menurutnya
Itu dulu aja pamer miting sambil makan di one bell park jakarta selatan. Untuk kisaran harga dari 25 -  45k, tapi sangat puas. Makan sambil ndengerin lagu-lagu lama yang diputer di warung makan ini. Sambil berlalu saya mendengar pelanggan yang pesan order ditelp, sepertinya dia memesan java blue kopi jawa yang menjadi pilihannya.

buat kerja buat bawa keluarga

Selasa, 18 Desember 2018

Bersihin Sensor Kamera Sony a7s

 
Sudah sebulan terakhir rencana mau mbersihin sensor kamera terkendala terus. Akhirnya hari ini kudu terlaksana, meski kaki, betis masih pegel sisa suting 4 hari berturut-turut. Dia yang juga bekerja keras (baca: kamera)  juga kudu dimanjain, dibersihinlah sensor serta lensa pasangan setianya. 

Kembali ke Pasar Baru, Jakarta Pusat, tempat banyak sekali service kamera dan penjualan kamera. Tenang saja semua rata-rata harga sama rata, tanya dulu aja lebih baik kisaran harga dari masalah kamera jika mau service. Kebetulan saya cuman mau mbersihin sensor karena udah kotor sepulang suting dari sulawesi bulan kemarin dan menimbulkan noda hitam di gambar. 

Kalo kemarin masih 75 ribu, sekarang diangka 100 ribu. Masih terjangkaulah mbersihin sensor lensa uang udah nempel stabilizer di dalam bodynya. Kalo saya misal udah ga  bisa diblower ya bawa ke pasar baru aja tempat bersihin sensor kamera di jakarta. 

Saya ke Kurnia kamera, langsung ke masnya yang tiap hari utak atik kamera. Sebelumnya tanya mbaknya dulu. Iseng nawar, mas kok ga 75ribu lagi. Eh dia jawab kalo mau ya pego sekalian maksidnya 150 ribu, ketawa deh. Ya udah, untuk sensor saya ga mau banyak ketawa kalo udah kotor suka sedih di akhir. Padahal cuma lap tipis2 seperti banyak tutorial di YouTube tuh. Sekitar 15 menit saya hitung, lumayan tebal juga itu noda hitam, karena memang medan laut pasir Debu kemarin jadi lahan basah buat jamur di sensor. Setelah beberapa kali dilap, saya coba dulu,mas nya sempet bilang, jangan kaget kalo kayak baru lagi. Ah sing penting hilang itu titik hitam bang.

Saya tes dulu di tembok putih, eh udah hilang itu titik hitam. Di rumah saya tes lagi, aman. Ini kamera siap bertempur lagi. 

Senin, 25 Desember 2017

Travel Journey episode: dari danau toba


Kamu pernah ke danau toba?  Belum, jawabku saat itu. Itu danau terdalam di dunia, itu merupakan sejarah super super volcano yang pernah terjadi hingga terbentuk kaldera seperti sekarang ini. Iya, itu yang aku baca. Selain hanya melihat beberapa keindahan gambar atau video di timeline Facebook.
Keinginan untuk bisa ke Sumatera utara semakin kuat ketika ternyata Lutfi juga sangat ingin kesana, propinsi ke 8 terakhir yang belum dikunjungi. Katanya ia ingin kesana karena ingatannya tentang pelajaran di Sekolah Dasar tentang danau toba.
Beberapa calon project memang menawarkan berada di sana,  namun selalu belum terwujud. Tapi, kesempatan selalu datang bagi yang selalu mengharap dan berusaha. Project liputan ke beberapa daerah di Indonesia kembali datang, dan saya disuruh memilih sendiri daerah yang akan didatangi.

Untuk istri tercinta yang ingin mewujudkan bisa berada di 34 propinsi Indonesia,  saya memilihkan 3 lokasi yang belum pernah ia kunjungi, dan dia bisa ikut nebeng traveling. Sumatera utara menjadi pilihan pertama kala itu. Danau Toba, pesonanya yang ingin saya rengkuh akhirnya bisa terwujud,  dan ini perjalanan cerita saya. 
Orang pertama yang saya kenal di Sumatera Utara adalah Erwin Sirait, Driver yang akan menemani kami selama 4 hari di Simalungun. Dia menjemput di Kuala namu, salah satu bandar terbaik menurut saya. Badannya kecil dengan tato kecil di tangan kirinya. Dia mengenalkan dirinya setelah kami masuk ke inova, sebenernya kami meminta avanza saja karena lebih murah, tapi dia bilang daripada rugi badan mending rugi sedikit uang. Dan, benar katanya rute yang kami lalui memang membutuhkan diameter roda yang cukup lebar untuk menghadapi lubang jalanan dari Medan menuju Simalungun. 

Yang masih saya ingat selama perjalanan adalah sapi,  kebun sawit, dan pos pemuda pancasila. Banyak sekali saya lihat pos-pos pemuda pancasila di rute Medan-simalungun ini. Kami berhenti istirahat untuk makan,dia mengantarkan kami ke warung halal katanya. Begitulah disana memang ada dua pilihan tempat untuk makan, tenang saja banyak kok yang bisa kita makan.
Kami bermalam di Pematang Siantar. Kota yang cukup ramai di malam hari. Kami mencari makan malam yang cocok dengan selera kami malam itu, untung saja saya bisa makan apa saja asal enak dan lapar,  meski nasi goreng jika ditambah ayam, ikan, kuah soto, kerupuk, emping, sambal itu akan menjadi nikmat.
Pekerjaan dimulai pada esok paginya,  jalanan kabupaten Simalungun mulai menunjukan kehijauannya. Jalanan berbukit dengan pasar yang kami lewati selalu terlihat ramai. Dan juga penjual makanan ternak babi, yaitu ampas tahu.
Hari pertama kami langsung diajak ke landmark propinsi Sumatera Utara ini, danau toba. Dari jalanan yang terus menanjak di simalungun saya mulai melihat bulir cahaya pada air dari kejauhan. Itukah danau toba yang banyak orang bicarakan. Semakin dekat, saya semakin melihat luasnya danau terdalam ini. Melintasi bukit berkelok dengan sisi kanan adalah danau toba. "nanti kita berhenti di sana, tempatnya bisa mendapatkan view yang bagus" kata pak yang mengantar kami. Kami ikut saja, menurut saya dimanapun view danau toba ini, seperti selalu terlihat menarik.
Saya mengambil beberapa shoot untuk kebutuhan gambar. Meski langit tidak begitu seperti yang saya inginkan, pemandangan yang tersaji di depan mata saya adalah sebuah keindahan. Lutfi sudah asik sendiri mencari spot foto untuk instagramnya. Kalau foto di lokasi ini harus bayar 5000 perorang.  Pulau Samosir terlihat sangat besar mengisi bagian tengah danau toba. Besok kami akan kesitu, memutarinya sampai brastagi dan menuju medan. 

rumah pengasingan bung karno di danau toba
Pekerjaan  kami sangat cepat selesai di Simalungun, itu artinya sisa waktu yang ada adalah liburan. Yak kami akan liburan di danau toba. Berputar2 di samosir, mencari rumah adat asli sumatera selatan dan mendengar penuturan kisah dari penghuninya. Tempat pertama adalah rumah pengsingan Bapak pendirij bangsa ini, pak Karno pernah diasingkan di danau toba. Lihatlah dan rasakanlah apa yang pak Karno lakukan ketika di tempat ini. Saya membayangkan sosoknya keluar rumah, menikmati senja di hadapannya. Dia, tersenyum melihat nelayan dari kejauhan, atau dia tersenyum menyadari bahwa negeri yang tanahnya ia perjuangkan begitu indah.
Sebelum menuju samosir kami mengisi makanan dulu, baru kemudian akan menuju ke pelabuhan yang akan mengantar kami ke samosir. Saya membaca kembali gapura bertuliskan selamat datang di kabupaten lain  Ternyata danau toba ini cukup luas dan berada di wilayah beberapa kabupaten di sumatera utara. 
kapal gagal berangkat
Rencana kami berubah, ternyata kapal yang akan membawa kami menyeberang tak bisa berangkat, kapal berikutnya  berangkat pukul lima, itu artinya selama 6 jam kami harus menunggunya. Akhirnya lutfi merubah rencana dengan mendatangi temannya di balige, dan juuus kami langsung menuju ke balige. Hujan deras menemani kami di perjalanan menjju balige. 3 jam yang bisa membuat saya tertidur.
Kami sampai di balige, sebuah tempat bernama helo toba. Semacam showroom dengan produk kerajinan dan cinderamatakhas sumatera utara. Kami bertemu simon dan dia mengajak serta mengantar kami untuk melihat sekaligus mengambil gambar sunset dengan spot terbaik. Sebelumnya kami disajikan kopi dari toba.

Kami sempat khawatir karena hujan tak kunjung reda, sepanjang perjalanan hujan terus menerus turun tanpa ada tanda untuk berhenti. bahkan ketika kami diajak ke pantai yang sebenarnya danau ini hujan masih turun. sekedar untuk mengambil foto rumah adat di pinggiran danau toba juga gagal karena hujan.

Kami melanjutkan menuju spot sunset sambil berharap hujan mereda. kami mendapat bonus sebuah pelangi yang terlihat sangat indah dari balik jendela mobil. bukan hanya satu pelangi, melainkan dua pelangi. Kamipun memakasa turun meskipun masih hujan, dengan berhati-hati saya mengeluarkan kamera untuk mengambil momen ini. sambil terburu-buru saya mengambil momen berharga ini. sampai saya sendiri lupa lens cap tertinggal di tempat ini.

Setelah mengambil gambar pelangi kami melanjutkan menuju bukit sunset. Kamu tahu  Ronggur terbunuh di tempat ini, di sini terkubur jasad ronggur. Penjahat keren yang ada di film Toba Dream. Saya mengingat pengalaman visual saya ketika melihat film Toba Dream yang memang keren ini. oh inikan lokasi suting film itu.

Angin langsung menusuk tanpa permisi, hanya kaos yang saya kenakan waktu itu, tanpa tahu bahwa kondisi di tempat ini adalah angin dingin. dan saya pun menggigil. Rasa dingin terkalahkan dengan motivasi untuk sedikit mengambil gambar Toba dari tempat ini. Lutfi masih terlihat bahagia meski sedikit kedinginan. Kami menyempatkan untuk berfoto bersama sebagai bukti bahwa kami sudah sampai di tempat istimewa ini.

Tanpa berlama-lama kamipun segera masuk kembali ke mobil untuk menghindari angin dingin di bukit Ronggur saya menyebutnya, sebuah lokasi makam yang sangat cantik di atas kaldera toba. Sambil tertawa mengingat kejadian dingin ini kami berlalu dari tempat ini dan berharap bisa kembali ke tempat indah ini dengan persiapan yang lebih baik.



Rabu, 09 Agustus 2017

Merayakan Kemenangan di Tahu Campur Ojo Lali, Tebet, Jakarta Selatan

 Kami sepakat untuk makan malam tahu campur hari itu. Yak, tahu campur, makanan yang berasal dari Jawa Timur ini bisa dibilang menjadi salah satu makanan favorit saya. Ceritanya makan malam ini untuk merayakan dipilihnya tulisan Lutfi sebagai salah satu yang terbaik dalam lomba penulisan catatan perjalanan di Asean Literary Festival yang ke 4 di Jakarta. Dia sangat bahagia mendapatkan namanya berada di poster pengumumannya. Apalagi para pemenang dengan tulisan terbaik akan dibukukan. Jadi malam itu kami merayakan dengan makan tahu campur.

Karena sudah terlalu sering makan tahu campur yang ada di Pejaten, kami berencana untuk mencoba nasi campur yang ada di Jalan Dr. Saharjo , Tebet - Jakarta Selatan. Kalian mungkin sudah terbiasa bergoyang lidah dengan tahu campur, potongan tahu yang beradu dengan kikil, tetelan sapi yang kemudian dilembutkan dengan gurihnya kuah kaldu yang meresap dalam, ditambah kressnya daun selada yang masih segar, dan pecahnya racikan petis spesial yang luber di rasa, maka nikmat mana yang bisa kau dustakan ketika lidahmu bergoyang dengan cita rasa makanan khas Jawa Timur ini.

Senin, 31 Juli 2017

Harmoni dari Klenteng Dukuh, Surabaya

Menyinggahi kelenteng tertua di Surabaya saya merasakan pengalaman baru. Semua itu berasal dari orang-orang di kelenteng yang saya temui. Cerita sejarah, bencana dan harmonisasi kita sebagai manusia bercampur menjadi pengalaman. Bersama rekan kerja, sekaligus sutradara documenter sekaligus istri tercinta, kami menikmati satu Minggu di distrik pecinan di Surabaya.

Tujuan kami ke Surabaya kali ini adalah untuk membuat documenter tentang wayang potehi. Wayang Potehi adalah salah satu jenis permainan wayang yang berasal dari Tiongkok. Dan, komunitas wayang potehi terbesar saat ini ada di Surabaya. Saya tidak akan banyak bercerita tentang wayang potehi, karena referensi banyak terdapat di google. Yang pasti wayang potehi sekarang sudah mengalami akulturasi budaya Indonesia. 

Sabtu, 29 Juli 2017

Jalan-jalan di pameran tanaman keren di Jakarta, Instagramable


Boleh dibilang pameran tanaman flona ini menjadi event tahunan yang selalu saya kunjungi di Jakarta. Flona merupakan pemeran flora dan fauna tahunan yang menampilkan peserta dari vendor tanaman & hewan juga dari pemkot Jakarta. Banyak kesenangan dan ada juga ga senangnya jika berada di sini.
Tahun ini menurut saya booth-booth peserta pameran berkurang, lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Booth-booth langgananku untungnya selalu ada. Booth anggrek dan booth dari Trubus menjadi langganan jika ada flona. Untungnya booth dari pemerintah kota di Jakarta menampilkan sesuatu yang lebih menarik dari tahun lalu. Langsung saja saya tertarik dengan booth dari Jakarta Pusat, mereka menggunakan bambu untuk menarik pengunjung. Selain itu setiap detail yang mereka bikin, menurut saya sangat efisien dan berfungsi, tidak sekedar display booth buat foto-foto pengunjung yang kadang bikin riweh.

Kamis, 13 Juli 2017

Merupakan Cerita yang Tidak Penting

Ini good mood kedua untuk menulis lagi, apa saja, kapan saja, di mana saja. Surabaya, saya kembali lagi ke kota ini. Banyak kenangan terekam dari salah satu kota besar di Indonesia ini. Kalau dulu naik kereta eksekutif dengan tidak perlu beli tiket, kota inilah yang dituju. Tahun 2000 sekian, saya lupa naik kereta eksekutif cukup bayar 50.000, caranya tidak mau saya ceritakan di sini, biar ga ditiru dan sekarang juga ga bisa diterapkan lagi soalnya. 


Tujuan kedatangan kali ini adalah untuk produksi program dokumenter. 3 bulan yang lalu saya juga ke surabaya, sama untuk suting profile petani. Kali ini untuk eagle institute metro tv tentang wayang potehi. Lengkapnya nanti saya tulis lagi di blog ini, kalo mood menulis lagi baik. Kali ini saya cuma mau cerita asal aja tentang hati ini dan juga tentang hari ini.

Rabu, 12 Juli 2017

Di Balik Layar: Yang Bertahan di Jalan (Ondel-ondel)

Poster promo
Apa yang anda pikirkan ketika melihat, mendengar tentang ondel-ondel? Apakah sama seperti saya. Pertama, itu adalah salah satu kesenian khas dari Jakarta. Kedua, ondel-ondel dinyanyikan oleh Bang Benyamin Sueb. Ketiga, ondel-ondel adalah rombongan pengamen yang kadang menyebabkan macet di Jakarta. Seperti itu mungkin gambaran umum tentang ondel-ondel saat ini, itu menurut saya. 

Ketiga hal itu bertambah setelah saya dan Lutfi mendapat project dokumenter tentang ondel-ondel untuk Melihat Indonesia, Metro TV. Kami mulai riset pra produksi tentang ondel-ondel, dalam riset kami menemukan beberapa hal yang memang jarang orang mengerti. kami bertemu dengan seniman ondel-ondel, kami bertemu dengan beberapa orang yang menggunakan ondel-ondel untuk mencari nafkah. Ternyata di balik boneka besar itu banyak cerita yang baru saya ketahui.

Kamis, 23 Februari 2017

Warga Baru Anggrek Spesies di Kebun

Sosok indah yang tahan lama itu bertambah, meski belum nampak bunganya, saya yakin anggrek tetaplah bunga yang sangat indah. Selalu mendambakan tanaman cantik, anggrek menjadi salah satu pilhan saya, terlebih tanaman tersebut memberikan nuansa alami dalam pot, segar dan membuat mata tertarik melihat ke arahnya.

Warga baru yang datang untuk menambah koleksi anggrek di kebun adalah salah satu jenis spesies dari Eria multifora (id ini saya dapat setelah bertanya di grup Anggrek Spesies Indonesia di Facebook) kemudian yang satunya adalah Bulbophyllum flavescens. 
Bulbophyllum flavescens

Senin, 26 Desember 2016

Melihat Pesawat Udara dari Dekat


Siapa yang ingin menjadi pilot? beberapa anak mengacungkan jarinya. Kemudian guide yang lucu dan sabar menghadapai anak-anak ini melanjutkan pertanyaannya, kalo pesawat terjadi kerusakan siapa yang memperbaikinya? montir, seru beberapa anak. Guide yang bernama Ula ini kemudian memberi sedikit pengetahuan tentang kondisi transportasi udara sebelum rombongan anak-anak menuju ke GMF Aero Asia(Garuda Maintenance Facilities). Pesawat merupakan alat transportasi yang paling aman, kenapa paling aman, karena setiap sebelum dan sesudah melakukan transportasi pesawat tersebut akan dicek, diperiksa semuanya. dan, yang memeriksa itu namanya teknisi bukan montir. Jadi anak-anak, yang mbenerin atau memeriksa pesawat adalah teknisi bukan montir ya.

Jumat, 09 September 2016

Sansevieria Pinguicula, Koleksi Baru Kami

Kalau kita punya sebuah tanaman yang istimewa, tanaman yang memiliki banyak manfaatnya, tanaman yang lebih memiliki fungsi dari yang kita tahu, itu sangat memberikan kebahagiaan tersendiri. Postingan kali ini saya ingin memamerkan tanaman Sansevieria atau orang indonesia lebih mengenal lidah mertua. Tanaman yang memiliki ujung daun tajam, mungkin karena tajam jadi dinamakan lidah mertua (yang kadang mertua itu tajam kalau berbicara :D )

Heboh sendiri ketika mendapat hibahan sansevieria dari seorang kolektor. saya beruntung sekali mendapatkan lebih dari satu pot sansevieria beragam jenis ini. Dari yang istimewa sampai jenis sansevieria sangat istimewa. Sampai saya sendiri tidak tahu nama id jenis sansevieria ini. Satu persatu mulai mulai dibersihkan dan repoting, Sansevieria Pinguicula yang merupakan the Quenn of sansevieria ini menjadi prioritas untuk dipindahkan ke pot yang baru. Pot istimewa untuk tanaman istimewa.

Berikut ini hasil repoting Sansevieria pinguicula koleksi baru di kebun kami, selamat menikmati manfaat dan keindahan serta ketajamannya.







Sabtu, 30 Juli 2016

Masuk lagi ke Gua, Sambil Belajar.

Aroma tanah basah, lembab langsung terasa ketika saya memasuki ruang gelap di salah satu lubang bumi di tanah Bogor. Hari itu saya berkesempatan untuk ikut ke dalam rombongan pelatihan fotografi gua yang diadakan oleh ISS Indonesian Speleological Society. Sudah lama sekali saya tidak memasuki lorong-lorong gelap dalam tanah, memasukinya kembali memberikan perasaan yang sudah lama saya rindukan.
Tetep keren

Lorong gua yang gelap, basah, bagiku selalu memberikan tantangan, apalagi saya baru pertama kali masuk ke gua ini. Gua yang kami masuki dari cerita tim memiliki 2 entrance, horisontal dan vertikal. Meski tujuan utama adalah untuk mempelajari fotografi gua, saya lebih menikmati hal-hal lain seperti melihat semua yang ada di dalam gua ini termasuk biota guanya. sayang meski saya sudah sangat dekat dengan si pingky (begitu anak-anak menyebutnya) salah satu biota yang katanya hanya ada di gua ini saya tak bisa melihatnya.

Sayang lagi harus saya sebutkan, ketika memasuki gua lebih dalam lagi ternyata saya menemukan beragam bentuk limbah, sampah rumah tangga yang berukuran kecil sampai kasur yang kemungkinan dibuang oleh warga.
Dalam kegiatan kali ini saya bertemu dan berkenalan dengan fotografer gua yang berasal dari NSS national speleological society Colorado, Norman Thompson dan istri serta temannya. Memang acara ini adalah berbagi pengalaman dan berbagi ilmu tentang fotografi gua. Karena menurut saya sendiri fotografi gua menjadi penting untuk memadukan keindahan dan fungsi gambar yang memberi info kondisi gua. sehingga yang melihat gambar akan menjadi tertarik. Banyak info penting yang saya dapat dari Norman Thompson ini. Beberapa tips bisa dilihat di video yang saya bikin khusus untuk ISS Masyarakat Speleologi Indonesia.

Terimakasih untuk kesempatannya dari temen-temen ISS. keep eksplore dan keep sharing. save our karst.
Special Capture by Rodhi AlFallah (rodhialfalah@gmail.com) Suwun mas

Selasa, 21 Juni 2016

Behind the Scene Eagle documentary series Special Project: eps. Pesona Tanah Leluhur



Tiba-tiba perahu yang kami naiki mulai bergoyang dengan cepat, menuju ke tengah ombak semakin meninggi. Saya yang duduk di ujung perahu, perlahan mundur ke belakang. Kamera strip saya ikatkan ke lengan biar aman. Padahal tadi waktu masih di dermaga, cuaca sangat bersahabat. Langit biru, angin yang sepoi ga sekencang ini. Akhirnya kapten perahu memutuskan untuk mampir dulu ke pulau Liwungan. Tranplatasi terumbu karang dilanjutkan nanti setelah angin mereda. Kamipun tak menyia-nyiakan ketika berada di pulau kecil ini. Pulau Liwungan menjadi salah satu destinasi ketika wisatawan berada di area teluk Ladda dan Tanjung lesung. Ini hari ke -4 pengambilan gambar untuk eagle documentary series episode Tanjung Lesung. Ga terasa memang, padahal saya masih ingat bagaimana Lutfi masih duduk di perahu mengenakan vest orange, sedang diskusi dengan pak Arif, salah satu narasumber kami. Melihatnya berbicara dengan pak arif di atas perahu yang bergoyang karena ombak, dan saya seperti melihat orang yang dulu sangat saya cinta. seperti itulah dia, yang membuat saya jatuh cinta. 
Sebelum cuaca semakin tidak baik, dan langit semakin mendung.
Ini produksi program dokumenter ke-2 tahun ini untuk kami, kalo saya masih beberapa menjadi editor project dokumenter temen. Produksi kali ini merupakan special project eagle documentary series. Tentang Tanjung Lesung, satu dari 10 destinasi wisata prioritas pemerintah untuk dijadikan magnet wisatawan dalam dan luar negeri. Bagi saya Tanjung Lesung sangat indah di beberapa spotnya. Jenis atraksi wisata yang beragam dan juga aktifitas yang menyenangkan. Memang membutuhkan duit banyak untuk bisa menikmati Tanjung Lesung tapi kita masih bisa menikmati spot indah lain dengan menggunakan jasa wisatawan setempat, lebih hemat. Yang masih disayangkan adalah, harga makanan di desa nelayan sangat mahal, warung makannya ga sesuai sekali, dianjurkan untuk melihat harganya. Mending nambah dikit terus makan di restoran tanjung lesungnya.
Senjata produksi kali ini
Dua hari pertama kami habiskan untuk mengambil footage atraksi dan keindahan Tanjung Lesung. Vila dan hotelnya yang mengesankan tidak lupa kami ambil. Untung saja kami mendapatkan cuaca yang kami inginkan, dan sunset yang menawan. Ada juga gambar gunung krakatau yang terlihat dari hotel.

Hari berikutnya kami berencana ambil tranplatasi terumbu karang. Seperti yang saya tulis diatas, rencana berubah karena cuaca dan kami tetap menikmatinya. Inilah untungnya kerja sambil bermain, jadi ga kerasa. Meski kerasa dikit kecemasan kalau hujan trus ga dapat gambar.

Hari keempat kami gunakan untuk mengambil gambar desa wisata cikadu, yang didalamnya terdapat perajin batik. Di sana kami mengambil kelompok ibu-ibu dari kelompok seni yang saya lupa namanya. Pengambilan berlangsung lancar meski sedikit terkendala audio dari mesin penggiling padi.

Hari ke lima adalah hari terakhir kami suting, memang tak sesuai jadual, masih ada hari keenam. Tapi karena ada suatu sebab yang bisa bikin malu dan trauma serta tak mau saya ceritakan maka suting berhenti di hari kelima. Hari itu kami mengambil footage profile dari sepasang wisatawan di tanjung lesung. Meski kaki bergetar, tubuh terasa panas. Suting di villa berlangsung lancar.

Inilah sedikit cerita dari produksi kami untuk eagle institute indonesia. Produksi kali ini saya merasa belum cukup puas dengan kondisi di lapangan. Tapi, kami tetep senang setelah melihat hasil tayangannya. Terima kasih untuk semua tim di kedoya, editor mas darwin nugraha dan aris. Dan, tentu saja untuk director, penulis, sekaligus istri yang selalu ada di setiap produksi.
ini bossnya

Pilot yang bareng kami, Awal
Yeah, happy di atas dua roda.
Poster pertama
Favorit
Perajin Batik khas Banten







Minggu, 01 Mei 2016

Teman Kopi #1 Aroma Pasar di Pasar Minggu

Bagi saya kopi itu seperti seorang teman, ada kalanya ia menjadi pengobat rindu, suatu waktu ia meringankan kepala dengan pekatnya rasa yang ia punya. Kopi seperti seorang teman yang memberikan hiburan, apalagi ketika kopi bertemu dengan canda, tawa, dan cerita. Ini cerita kopiku, dari rasa yang menggugah rasa.
Apa yang kamu lihat bisa jadi bukan seperti yang kamu rasakan.
Saya menyebutnya riak kopi, ia muncul ketika seduhan air dari panci yang saya tuang ke dalam cangkir kecil dengan 2 sendok kopi arabika yang saya dapat di pasar minggu. Sambil membayangkan seorang penari yang meliuk, air yang saya tuang mengikuti iramanya, berputar menimbulkan percikan kecil yang terdengar nyaring. Aromanya belum muncul, saya menantinya. Sambil menanti aroma arabika Wamena, akan saya ceritakan di mana bisa mendapat kopi dengan rasa istimewa ini.

Pasar Minggu, dulu terkenal dengan macet dan semrawutnya jalan yang menyatu dengan pasar tersebut. Dengan perlahan dan sedikit dibumbui dengan konflik ketika pemkot Jakarta mencoba berbenah, Pasar Minggu kini lebih baik dari sebelumnya, ini pendapat saya pribadi ketika pertama datang ke pasar minggu dengan kondisinya yang untuk jalan motor aja susah. Sekarang, saya merasa nyaman.

Kembali ke urusan kopi, sebenernya yang pertama tau ada kios kopi di dalam pasar Pasar Minggu adalah istri saya. Karena penasaran sayapun tertarik ingin berkunjung dan mencoba membeli beberapa ons kopi.
 

Akhirnya kami menemukan kios kecil penjual kopi tersebut. Sedikit lupa dan terasa menyenangkan memang ketika kita belum hapal kios pasar di dalam pasar minggu. Ramai orang dengan bentuk kios yang hampir sama, dan kecil, bisa membuat bingung. Ditambah hmmm aroma pasar yang membaur campur menjadi satu, aroma pasar! Setelah berputar-putar kami menemukannya, sayang kios yang dimaksud tutup. Tapi tidak kios yang sebelahnya. Kenapa kios ini tutup, akan saya tulis di blog post berikutnya, tunggu ya. Soalnya kios yang tutup tersebut menurut istri saya, orangnya lebih tau tentang kopi yang ia jual dan dia sangat ramah.

Kios kopi mereka bersebelahan, karena tujuan kami tutup, maka daripada pulang dengan tangan kosong kami mencoba ke kios sebelahnya. Namanya kios Merli Jaya, meski diplakat tertulis toko entah kenapa saya lebih suka menyebut kios. Kios ini terletak di lantai dasar, los C55-56 proyek pasar minggu. Kami bertemu dengan seorang ibu berkerudung yang menjaga kios. Berkerudung ping dan berkacamata. Saya lupa menanyakan nama beliau. 
Ibu dengan kerudung Pink
Saya langsung cinta dengan aroma pasar di posisi saya berdiri saat itu, bukan aroma pasar yang hmmm... Kopi dengan keistimewaannya memang memberikan wangi yang mudah diingat. Bau kopi, bau biji kopi, aroma biji kopi wangi. Lutfi sudah asik berbincang dengan ibu tersebut, saya masih mengagumi sudut kecil di ramainya pasar pasar minggu ini. Sambil tangan saya bergerak mengambil sejumput teh yang ada di depan saya. Lho kok teh, sebagai informasi kios ini selain menjual kopi juga menjual teh dan kerupuk serta keripik.tehnya macem-macem dan baru pertama kali saya meliihat bentuk teh seperti itu.


Istri saya langsung tanya, jadi mau ambil yang mana? Saya menanyakan pada ibu berkerudung ping dan memakai kacamata, biji kopi yang paling mahal yang mana bu. Di kios tersebut terdapat bermacam-macam biji kopi dengan toples yang sudah dilabeli dengan harga. Dan saya masih sepakat dengan pernyataan bahwa harga menentukan kualitas. Ibu itu menunjukan toples yang berada paling atas. Di wadah tersebut tertera label, sebenernya bukan label, melainkan kertas bertuliskan dan stiker harga dengan kreasi tangan pendjoealnja. Harganya 300ribu satu kilo. Saya kemudian meminta satu ons saja. Saya kemudian meminta untuk digiling agak halus aja, tapi ga terlalu halus agar rasanya masih bisa saya rasakan. Meski ternyata hasilnya halus maksimal dari si ibu berkerudung dan berkacamata. Tak apa ternyata tetep nikmat kok setelah saya mencobanya, meski halus sangat. Kadang saya sendiri ga masalah kok, mau halus atau tidak halus.

Ibu dengan kerudung Pink sedang menggiling halus kopi pilihanku
2 ons teh juga kami ambil, teh brindil dan teh pucuk yang diiris tipis. Rekomended banget pokoknya, kedua teh ini. legit dirasa, kentel setelah saya coba satu-satu di rumah. Kudu nyobain nih, citarasa pucuk teh dari puncak ciajur.

Beberapa teh yang dijual di kios ini, wangi.
Teh Brindil, karena mungkin brindil-brindil
Sepertinya kopi yang saya seduh sudah siap, wangi asam tercium nikmat. Masuk, menusuk dari lubang kecil hidung sampai masuk dan terasa sampai ke otak... Ga lebai karena emang begitu adanya.

Pagi masih indah, seindah cangkir kedua saat itu. Tak ada yang salah ketika dua insan menyatu, begitu juga kopi menyatu dengan gula pasir. Saya tambahkan satu sendok gula, jangan terlalu banyak biar ga terlalu rusak asamnya. Mari kita nikmati, karena teman selalu dibutuhkan untuk berbagi rasa. Seperti teman, kopi juga dibutuhkan karena ia seperti seorang teman.

Mari sruput kopinya

Kemasan kopi 1 ons
Sentuhan rasa dari biji kopi.