Ada Ketegangan, Kesenangan, Kesedihan dalam kesendirian ini. Namun anehnya kenapa saya sangat menikmati, semua ini sungguh luar biasa saya dapatkan dari kesendirian dan saya sangat menyukai hal itu. Alone but Not Lonely.
Victoria's Real
Perempuan berbaju merah itu tersenyum, memberikan apa yang terbaik dimilikinya untuk seorang yang ia mungkin tak kenal
The Miracle
Somebody wants something badly, but having a hard time getting it
Wadah
Sunday, November 8, 2009
3 Perempuan Plaosan Lor
Panas, adem, panas & rame. Pemotretan kali ini merupakan proyek yang bisa dibilang dadakan. persiapan tidak lebih dari beberapa hari. Brief pemotretan hanya ingin memberikan kesan abhwa Kebaya ini memang nyaman dipakai alias comfortable kata orang. Jam 9 pagi talent udah memake-upkan diri, Gesta, Omi & Sekar adalah pilihan terakhir untuk talent yang digunakan dalam sesi pemotretan kali ini. Lokasi yang dipilih adalah Candi Plaosan dan Candi Sewu, namun karena ada halangan kecil candi sewu tidak jadi menjadi tempat pertama buat eksekusi pemotretan. Candi Plaosan yang terkenal dengan mitos sebagai candinya wanita, candi yang menggambarkan tokoh-tokoh wanita menjadi tempat pemotretan keseluruhan busana dari Larasgriya.
sebenarnya tidak banyak masalah dalam pengarahan gaya dari beberapa model itu selain rasa panas yang panas banget. Panas beberapa bulan terakhir ini memang sangat menyiksa. Tapi dengan semangads 45 para model berakhir melaluinya dengan menyenangkan.
Title : 3 Perempuan Plaosan Lor Fotografer: Sigit Pamungkas Client: Larasgriya Salon Ass Fotografer: Bimo Wikan, Gugun Junaedi Wardrobe & Make up : Larasgriya Salon by Yulia Djayusman Digital Imaging: episodetu7uh Talent: Gestari Loren, Omi, Sekar Special Guest : Bang Nawir Location: Candi Plaosan - Klaten
Saya kembali menemukan jalan yang telah lama tertutup, jalan itu dulu telah lama saya tempuh. Jalan yang sangat saya hafal dari setiap tikungan maupun jalan mana yang buntu, sekarang saya mulai merasakan jalan itu lagi. Merasakan jalan yang belum rata, jalan yang masih berkerikil tajam, jalan yang memiliki banyak genangan, jalan dengan bunga di setiap pinggirnya bahkan jalan dengan air jernih yang berada tepat disampingnya. Jalan itu telah lama tertutup, jalan yang ingin saya lalui. Jalan yang bisa membawaku pulang dengan rasa bangga. Melalui jalan itu saya bisa melihat senyuman dari orang-orang, teman, sahabat, keluarga, guru. Senyuman dari seseorang yang tak pernah melewatkan namaku dalam setiap doanya. Melalui jalan itu saya bisa merasakan pandangan orang yang melihatku dari ujung rambut hingga kaki dengan ketidak percayaan. Di jalan itu pernah kurasakan tepukan pundak dari seorang kawan juga tamparan keras dari seorang sahabat. Jalan yang dulu ingin saya lalui kembali terlihat didepan mata. “saya ingin melaluinya, kembali melaluinya.”
Sulit juga memulai tulisan dengan prolog yang agak puitis, maunya ngomong apa jadinya seperti apa. Berikan saya beberapa lembar halaman kosong saja untuk bisa menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan saat ini. Kamu percaya dengan ‘kebetulan’, seperti itulah. Seperti kebetulan, kebetulan yang memang sudah lama saya persiapkan dengan tenang.
Pertama saya akan bahas judul yang saya tulis diatas, seperti judul film saja ‘tiga hari untuk selamanya’ film yang disutradarai Riri Riza dan dibintangi Adinia Wirasti dan Nicholas Saputra. Tiga hari itu hari yang sangat cepat, tiga hari itu semuanya berlalu begitu saja, tiga hari itu saya menemukan tenaga lagi, tiga hari itu saya bertemu sesuatu yang baru, tiga hari itu adalah workshop film dokumenter yang diadakan oleh Ina Frontier.
Sebelumnya saya ingin menceritakan pertama kali tau informasi workshop tersebut. Malam minggu sepertinya tepat 9 hari sebelum workshop itu berlangsung, di IVAA Indonesian Visual Art Archive ketika saya menghadiri bedah buku dari Krishna Murti tentang New Media Art. Dari acara tersebut saya mendapat flyer tentang acara tersebut, kemudian saya minta keterangan dari teman saya Surya dia aktif di FFD jogja jadi pasti dia tahu seluk beluk tentang film dokumenter . Jawaban yang dia kasih memberikan keyakinan untuk saya agar harus mengikuti workshop tersebut walaupun investasinya mahal juga menurut saya. Saya berterimakasih buat IVAA untuk informasinya walau secara tidak langsung, tapi matur nuwun karena mengundang acara kemarin jadi saya tau ada informasi ini.
Wrokshop ini berjudul Intensive Workshop – memproduksi film dokumenter yang menjual – bersama Nick Deocampo, Garin Nugroho, Gunawan Kusmantoro dan Dicky Sofyan.
Hari ke-1 Workshop Film Dokumenter yang saya ikuti kemarin memberi banyak hal. Pertama saya bisa kembali mendapatkan teman-teman baru, yang pasti ilmu baru dan pengalaman seru yang akan beratus-ratus halaman jika diceritakan. Dari tadi ngomong workshop, tapi belummengenalkan pembicara dalam workshop tersebut. Nick Deocampo, Garin Nugroho, Gunawan Kusmantoro dan Dicky dari Ina Frontier. Mereka adalah orang-orang yang mengisi workshop ini menjadi menarik. Hari pertama kami para peserta workshop dikenalkan kembali mengenai esensi film dokumenter . Sesi ini diisi FULL DAY oleh Nick Deocampo (orang ini sangat hebat, lain hari saya akan tuliskan khusus profil buat dia) dia mengenalkan kembali film dokumenter . Creativity interpretation of reality - John Grierson, mengambil istilahnya om Grierson mas Nick memberi keterangan kepada peserta workhop pagi itu. Adalagi pengertian lain dari film dokumenter yaitu, real time, real people in real time in real situation & in real events.
Hari itu workshop diisi dengan pemahaman peserta terhadap “idea”. Bagaimana kita bisa mencari ide, mendeskripsikan ide itu menjadi bahasa visual yang menarik. Dari seluruh peserta yang ada kebanyakan mereka memberikan ide mengenai isu global yang sedang semarak dan selalu panas untuk diikuti. Beberapa diantara mereka ada yang memberikan ide tentang Yahudi, Gender, Boundaries(bener gak ni nulisnya) Feminisme, organic pestisida, religious, street child, kebudayaan, adventure. Untuk ide saya yang terlintas saat itu adalah “hujan” tema saya sepertinya yang paling kecil diantara beberapa tema yang diajukan teman-teman perserta. Mas Nick diam saya bisa melihat kerutan diantara di tengah mata kanan dan kirinya ketika mas disky menerjemahkan ide saya, coba saya bisa bahasa inggris dengan fasih ya. Dari beberapa tema entah kenapa tema saya ini yang sering banyak ditertawakan, kenapa hujan, apa yang bisa ditampilkan oleh hujan, apa yang ingin disampaikan. Padahal ada beberapa tema yang juga ringan. Ah biarkan saja soalnya hujan ingin menyampaikan pesan itu baru kepada saya.
Dari workshop hari pertama itu saya menemukan kata yang benar-benar baru. “Diagesis – Imagine, sebuah pengertian tentang dunia imaginasi. Lain kali saya akan mencari tau lebih tentang hal ini. Dalam film dokumenter kita harus mengerti representation dari cerita yang akan dibuat, mas Nick Deocampo memberikan strategi dalam film dokumenter , Plan strategy. Dimulai dari Theme tentu saja seperti yang telah saya sampaikan diatas, banyak sekali tema seperti juga yang telah saya sebutkan seperti juga tema hujan lho. Tema yang ingin disampaikan itu tentang apa, what is about? kalo film saya akan bercerita tentang hujan. Yang kedua Story, cerita apa yang ingin disampaikan. Yang ketiga adalah Character, who story, siapa yang akan menjadi jalan cerita. Karakter tidak saja manusia, yang jelas bisa berarti sebagai subjek dalam cerita yang akan dibuat, seperti Hujan karakter dalam film yang akan saya buat. Yang keempat adalah Structure, bagaimana struktur film yang akan kita buat nantinya. Kalo untuk struktut akan lebih baik dibahas dengan sendirinya. Yang kelima adalah Process/Method, ini juga harus diterangkan sendiri. Dan yang terakhir adalah Audience Impact, untuk apa film ini dibuat nantinya kalau tidak untuk ditonton, jadi audience impact merupakan tujuan dari film ini dibuat. Menjelang akhir mas Nick Deocampo memberikan tugas untuk membuat story line dengan tema yang sudah kita buat tadi dalam presentasi.
Hari ke-2 Hari kedua kita ada Garin Nugroho yang sudah banyak orang kenal dengan karya-karyanya yang selalu menarik untuk diikuti. Dihari ketiga itu kami mendapat banyak info seperti elaborasi dari tema yang sudah kita buat. Elaborasi dalam naskah yang nantinya akan membantu. Selain itu mas Garin juga memberikan informasi yang akan selalu saya ingat, ia menjelaskan tentang Shoot, ya just shoot. Dalam sebuah shoot ada tiga element yang harus ada kalo gak ada gimana ya, elemen dalam shoot adalah, Informasi, Dramatic, Estetik. Dia juga menceritakan bagaimana kita harus menghormati karakter dalam film yang akan kita bikin. Dihari kedua ini peserta diperlihatkan sebuah film dokumenter dari mas garin yaitu Free Jazz, sebuah permainan music yang disandingkan dengan Borobudur, sangat cantik dan manis melihat Borobudur ternyata memiliki arti yang indah tidak hanya sebuah relief-relief yang saya juga belum tahu artinya, sangat menarik dan kreatif idenya ya. Kok bisa ya.
Ditengah acara hujan datang, temen-temen peserta yang lain langsung melihat kearahku. Begitu juga mas Nick yang langsung menyuruh saya untuk mengambil gambar hujan diluar. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan, langsung saja saya mengambil kamera mas Nick ditemani oleh mas Aris untuk mengambil hujan yang sedang turun diluar. Oh hujan begitu berartinya kau, hingga kau turun disaat yang tepat.
Sepertiga hari workshop digunakan untuk produksi dari storyline yang sudah kami buat, untuk saya karena sudah mengambil gambar hujan siang tadi jadi untuk produksi tidak mendapatkan kesempatan lagi. Seluruh peserta dibagi menjadi beberapa tim. Ada Tim Street Child, Tim Banana Vendor, Tim Boundaris, Tim wayang, Tim Aksara, Tim Pustakawan, Tim Monkey Man, Tim Pestisida dan tentu saja tim Adventure yang saya ikuti dengan Mas Doni. Seluruh peserta saling bantu membantu dalam produksi ini, sangat menyenangkan ada yang sampai ke UIN jauh juga, tapi percayalah kawan perjuangan itu tak pernah sia-sia.
Malam hari setelah makan malam hasil bidikan peserta dipresentasikan, semua sangat bangga dengan karyanya masing-masing. Setelah itu mas Nick memberikan analisisnya, ketiga film yang mendapatkan apresiasi paling banyak adalah dari Tim Jakarta (tadinya Monkey Team nih), Tim Adventure dan Tim Banana Vendor. Wah saya sangat salut dengan analisa yang begitu dalam dari mas Nick untuk sebuah satu shoot, analisa semoitika, analisa komposisi semua diterangkan dengan sangat menarik malam itu. Tidak ada yang bagus dan jelek malam itu, saya yakin semua itu karena setiap shot yang kami bikin adalah keyakinan yang ada dalam diri kami bahwa kami mampu membuat film.
Hari kedua ini sepertinya sangat singkat tapi sangat-sangat menyenangkan, soalnya dihari kedua ini kami para peserta workhop sudah semakin dekat dan mengenal.
Hari ke-3 Hari ketiga diisi dengan sesi Director, penyutradaan, bagaimana seorang sutradara membuat setiap shoot dalam film dokumenternya memiliki nilai estetis, informative dan dramatis. Kali ini peserta duduk di lantai, mas Nick memperagakan bagaimana menjadi seorang sutradara film dokumenter yang baik. Peserta dikasih tahu bagaimana sinematic element sebuah film dokumenter . Shot, Cut, Camera Movement dan Effect, ada empat elemen yang biasa digunakan dalam pembuatan film.
Pada sesi ini mas Nick memberikan contoh teknik Cuting dari film Stanley Kubric 2001:a spacey oddisey film yang sangat saya ingin tonton dari semenjak baca majalah film. Kemudian mas Nick lebih banyak memberikan komposisi kamera dari mulai size komposisi pada gambar seperi Close up, Long Shot, Medium Shot. Angle kamera(low angle dan High angle). Juga kamera movement(teknik Pan, Tilt, dan Track)
Setelah sesi dari mas nick selesai, sehabis makan siang peserta di beri informasi mengenai market film dokumenter oleh mas Gunawan Kusmantoro juga Mas Nick yang tak kenal lelah. Dalam market dokumenter mas Gunawan lebih kepada televise, ini juga karena beliau pernah bekerja di stasiun tv yang baru kehilangan tanda bintangnya. Kemudian mas nick juga menambahkan bagaimana proses sebuah film dokumenter dari tahap ide, pra produksi +produksi + pasca produksi, kemudian lewat distribusi film untuk kemudian menjadi sebuah tontonan yang menarik seperti di Festival, School, Media TV(apalagi ya saya lupa) tidak lupa mas Nick menambahkan peran Internet dalam distribusi sebuah film.
Workshop tiga hari ini ditutup dengan kesan-kesan peserta tentang workshop ini, kebanyakan dari peserta memang memberikan acungan jempol kepada pembicara kami, Mr. Nick Deocampo atau Mas Nick teman-teman memanggilnnya, setiap peserta memberikan tanggapanya. Sebenarnya saya juga ingin memberitahukan kesan saya, tapi ya sudah tetap sama kok kesannya. Yang jelas saya tidak puas sampai disitu, tidak puas karena masih banyak ilmu lainya yang belum saya dapat. Saya akan terus mencari ilmu lain lagi sampai tidak perlu lagi ada kata puas. Dan saya orang yang tidak pernah puas.
Sebelum acara bubar kita ramai-ramai nonton acara berita di TV, soalnya mas Doni bilang bahwa akan memasukan workshop ini diacara berita sore di TVRI. Sebelumnya peserta tidak banyak yang tau bahwa liputannya akan ditayangkan, sialnya katanya mas Doni akan memasukan saya pas waktu dikali eh ternyata?
Buat Ina Frontier dan all crew panitia terimakasih atas kesempatannya, jangan bosen untuk mengadakan acara serupa ya, tapi dengan tutor yang sama seperti mas Nick boleh diatasnya tapi jangan sampai dibawah mas Nick. Many tahnks to para pengisi Nick Deocampo, Garin Nugroho, Gunawan Kusmantoro, Dicky Sofyan. Teman-teman peserta I Love You Pull. Kapan Kita Bikin Film.
PENGHARGAAN Juara 1 HelloFest 6(Pilihan Penonton) Hadiah Yahud dari Detik.Com - iMac
Juara 2 HelloFest 6(Pilihan Penonton) Hadiah dari Cams Solution
Special Jury Prize HelloFest 6(Pilihan Juri HelloFest) Hadiah dari Sponsor
CARA IKUTAN
DOWNLOAD & isi formulir pendaftaran dengan lengkap.
Pendaftaran tidak dipungut biaya.
Jika kamu ingin mengirim lebih dari 1 karya, kamu dapat mengkompilasinya dalam 1 Kaset Mini Dv / DVD / CD, jangan lupa mengisi 1 formulir per karya.
Kirim formulir & materi karya ke : HelloFest 6 Jl. Tebet Raya 45 C Jakarta 12820 Indonesia
Khusus untuk materi berbentuk file sharing dari Rapidshare, kamu cukup mengirimkan scan formulir dan link Rapidshare yang harus kami download melalui email.
Kami akan menayangkan snapshot karya kamu melalui website kita sebagai tanda karya kamu sudah masuk.
Jika kamu tidak mendengar kabar ( melalui email ) hingga 10 hari setelah masa pengiriman, berarti proses pendaftaran bisa dikatakan gagal.
15 Karya finalis akan kita umumkan pada H-10 melalui email masing - masing.
JENIS KARYA YANG DAPAT DIKIRIM
Kami menerima apapun jenis karya kalian ( mulai dokumenter, video klip, live shoot, animasi, hingga karya yang tidak bisa dikategorikan )
Karya dibuat minimal tahun 2000, dan durasi maksimal 10 menit pas ! (durasi minimal 30 detik )
Kami juga menerima karya yang sudah pernah diikutkan di festival diluar HelloFest.
Format : Mini DV, DV Cam, CD/DVD File (720 x 576 mov/avi), kami tidak menerima format lain diluar ini.
Memiliki minimal 1 dari 3 unsur berikut :
* INOVATIF Kami suka formula penyampaian serta penggarapan yang tidak lazim, liar, dan tidak terpikirkan oleh orang awam, Karena memang itulah kreator yang sejati, memberi pencerahan dalam hal - hal yang baru.
Contoh : Karya dari Firman Widyasmara - Jakarta. Ia cukup menggunakan kapur dan papan tulis dalam pembuatan animasinya dan ternyata film ini menjadi salah satu karya favorit pilihan penonton HelloFest Vol.2. Lihat Contoh >
* INSPIRATIF
Penonton jangan dibikin mengambang, mereka sudah merelakan duduk untuk menonton karya kalian. Setidaknya kasih pesan yang dapat diserap oleh penonton. Lebih baik lagi jika bisa mempengaruhi pola pikir penonton ke arah yang lebih baik lagi. Tapi jangan coba - coba menggurui penonton, he..he.. Contoh : Karya dari Jangan Menangis Oh Mama Organization - Jakarta. Mereka menyadarkan penonton agar memilih sinetron yang berbobot. Bukan sinetron yang membuang - buang waktu dan membisingkan telinga. Penyampaian yang unik tanpa embel - embel menggurui. Film ini menjadi film dengan jumlah pemilih terbanyak di HelloFest Vol.3.
Banyak ekspetasi penonton bahwa karya - karya yang ada di festival biasanya membosankan, aneh dan harus berpikir berat. Buktikan bahwa karya kalian bisa tetap dinikmati dengan tidak membosankan ( tips dari kami, biasanya dengan sedikit unsur komedi atau alur yang dinamis, karya kalian akan berhasil masuk dalam kategori ini ). Contoh : Karya Tosan Priyonggo - Surabaya. Menampilkan sosok super hero Indonesia dengan penuturan yang sangat lucu. Film ini menjadi salah satu film favorit pilihan penonton HelloFest Vol.4
Puasa Vs Pemotretaan Final Project Koh Yohan behind the scene
Title: Cheating Tragedy Fotografer: Yohan Gunawan Ass Fotografer, Set Buliding, Artisitik: Iput, Gde, Sigit Wardrobe & Make Up: Joko Digital Imaging: Episodetu7uh Talent: Josephine Nandy, Dias, Ronny. Special Guest Crew: Mas Tri Love, Mas Ferry Thah Jogja Location: Galery Win Dwi Laksono Nitipuran Jogjakarta.
Synopsis: Cerita ini dimulai ketika Lastri (Josephine Nandy) datang untuk bekerja pada seorang bangsawan Broto (Ronny) dan istrinya Ny. Delilas (Dias). Broto yang tertarik dengan Lastri mencoba merayunya, beberapa kali Lastri digoda oleh majikannya. Tanpa sepengetahuan Ny. Delilah Broto masih juga menggoda Lastri, Lastri yang merupakan gadis kampung hanya diam saja tanpa memberontak. Cerita ini berakhir setelah Ny. Delilah meracuni suaminya Broto lalu iapun mencoba membunuh Lastri karena telah merusak keutuhan keluarganya. Seperti itulah gambaran Story Telling yang baru saja diproduksi. Semoga saja tidak ada halangan untuk post production sotry telling ini. Bleending gambar untuk menjadikan layout yang menarik. hasil akhirnya nanti saja setelah diaprove sama pak Fotografer.
Isu lingkungan bukan merupakan hal yang baru bagi masyarakat perkotaan. Kata Climate Change atau Perubahan Iklim diserukan disetiap penjuru, dilengkapi dengan ajakan untuk merubah gaya hidup untuk merespon fenomena tersebut. Begitupun bencana alam yang acapkali melanda. Kondisi alam dan lingkungan sering dituding sebagai penyebab dibalik semuanya.
South to South Film Festival (StoS) adalah sebuah Film Festival pertama yang mengkhususkan diri untuk menayangkan film-film mengenai lingkungan hidup serta berbagai kegiatan pendukung lainnya. Festival ini diadakan di Jakarta, lalu dilanjutkan dengan rangkaian StoS keliling di beberapa SMU di Jabodetabek. Berbagai film yang pernah dibuat oleh para sineas atau aktivis yang peduli lingkungan dari berbagai belahan dunia dikumpulkan untuk kemudian ditayangkan kepada masyarakat umum agar bisa memberikan gambaran yang lebih komprehensif serta menyuarakan cerita menarik dari berbagai komunitas. Dengan pengemasan informasi dalam bentuk yang menarik dan populis, StoS bisa menjadi sebuah ruang penting untuk menggugah kesadaran publik dalam mendukung upaya-upaya mengatasi berbagai tantangan lingkungan.
StoS 2010 adalah StoS ketiga yang pernah diadakan dan didukung oleh lembaga-lembaga seperti Walhi, Jatam, FWI, Gekko Studio, Ecosisters, Kiara, Goethe Institute, Solidaritas Perempuan, SBIB, CSF dan Sawit Watch. StoS sebelumnya diadakan pada awal tahun 2007 dengan tema “We Are Connected” untuk melihat keterkaitan fenomena alam antara negara-negara selatan dengan negara-negara industrialis di utara. Kali ini South To South ketiga akan mengusung tema “We Care/Kita Peduli“ dan kembali mengajak masyarakat untuk terlibat dan berperan lebih aktif terhadap lingkungan sekitarnya. Kampanye publik yang dibangun melalui media visual ini akan menayangkan berbagai potret perjuangan dan cerita-cerita sukses dari para penggerak lingkungan hidup, isu-isu lingkungan hidup urban seperti gaya hidup ramah lingkungan, ancaman yang mungkin ditimbulkan, serta keterkaitannya dengan berbagai pemangku kepentingan seperti perempuan, anak-anak, masyarakat adat, dan sebagainya.
kami mengundang kawan-kawan untuk ikut berpartisipasi dengan menyiapkan film yang akan ikut diseleksi dan ditayangkan dalam acara StoS 2010 nanti. Film yang akan disertakan bisa berupa dokumenter maupun animasi atau fiksi. Kami akan mulai membuka pendaftaran film pada bulan Juli 2009 nanti. Kami akan sangat senang jika rekan-rekan sekalian bisa membantu menyebarkan informasi ini kepada jaringan anda.
Frau, A Girl On The Run Tiba-tiba keramaian malam itu terheti sejenak oleh harmoni suara vocal seorang perempuan dan alunan tuts piano. Semua mata tertuju dipojok Kartapustaka, seorang perempuan sedang bernyanyi dan memainkan sendiri pianonya. Lagu itu mampu membuat semua orang yang berada disitu terpana melihat performing dari orang dibalik piano besar itu. Saya memang tak tahu siapa dia, lagu apa yang sedang ia mainkan, tapi mendengar ada lagu seperti itu saat ini di jogja dengan nada-nada, lirik yang berkelas dan berbeda tentu saja semua orang pasti suka. Frau, dia menyebutnya seperti itu, pendatang baru? Bukan, yang jelas dia yang akan menjadi salah satu orang yang mempermegah music Indonesia.
Jumat, 22 Mei 2009 ketika membuka facebook, saya mengetahui bahwa Frau yang sempat saya dengar dari kejauhan dulu akan pentas di Lembaga Indonesia Perancis (LIP), apalagi diiringi dengan seni pertunjukan Pantomim. Awalnya ketika mencoba menghubungi panitia, saya mendapati info bahwa semua tiket telah habis. Untungnnya seorang di telp itu bilang bahwa, masih ada waiting list yang masih bisa dipakai bila penonton tidak datang. Akhirnya saya dan teman saya mendapat pertnujukan sesi ke-2.
Frau, siapa yang mengenal perempuan ini, berapa banyak yang mengenal, mengetahuinya. Tidak perlu mengenal dia untuk mengenal lagunya. Simak saja dengarkan dengan baik, dan aku berharap siapkan juga rokok serta kopi hangat disebelahmu. Ketika mulai mendengar lagu dari Frau pasti ada sesuatu yang berbeda, perasaan menikmati kenyamanan tiba-tiba datang. Kenyamanan yang semua orang inginkan, dari lagu Frau saya mendapatkannya, namun sayang saya hanya baru tahu 3 lagu yang ada di profil myspacenya, dan satu lagu yang ada dalam daftar list no 1 winamp komputerku. Simaklah Mesin Penenun Hujan dari Frau, liriknya, nada-nadanya menjadi kesatuan yang utuh, membentuk kesederhanaan yang berkelas.
Malam itu pentas yang berlangsung selama 1 jam, memang menunjukan sesuatu yang menarik. Pentas acara yang diadakan oleh musicbox records itu merupakan sebuah catatan diary dari Frau yang terbentuk dari lirik lagu-lagunya. Diiringi oleh Bengkel Mime Theatre yang mempu membuat penonton terbahak-bahak ketika menyaksikannya. Tidak jelas berapa Frau malam itu membawakan lagu-lagunya, namun sangat jelas bahwa pertunjukan itu membuat tepuk tangan yang meriah untuknya dan tim pendukung malam itu. Didukung oleh elemen yang ada dalam pertunjukan itu seperti koreografi, tata artistic, lampu, soundscape juga kolaborasi dengan seorang pianis wanita lainya juga sang ibunda , acara itu menjadi acara yang menyenangkan.
A girl on the Run , sendiri menceritakan tentang anakmuda ditengah dunia yang bergerak, seorang gadis yang berada ditengah-tengah lingkungan yang terus bergerak dan dinamis. Seorang gadis yang memiliki imajinasi-imajinasi unik bersama pianonya sebagai tempatnya berlari dan menemukan dirinya ditengah dunia yang tak pernah berhenti bergerak. :::www.itsmusicboxtoday.com:::
Melihat pertunjukan malam itu memang seperti berada dalam dunia Frau yang bergerak-gerak mendengar dari tiap lagu-lagunya yang santai, kita terbawa santai. Kesan saya adalah tidak berkata apa-apa, hanya jari-jari melipat saling menggenggam dan menjadi penopang dagu menyisakan telinga yang siap mendengar lagu-lagu yang ingin saya dengar malam itu.
::::::: Gugun 7 ::::::: ::::::: Episodetu7uh with Frau a Girl in the Run May, 22, 2009 :::::::
Lirik "Mesin Penenun Hujan" Frau
merakit mesin penenun hujan/hingga terjalin terbentuk awan/sebuah tentang kebalikan/terlukis, tertulis, tergaris diwajahku/
keputusan yg telah terputuskan/ketika engkau telah tunjukan/semua tentang kebalikan/kebalikan diantara kita/
kau sakiti aku, kau gerami aku/kau sakiti, gerami, kau benci aku/tetapi esok nanti, kau akan tersadar/kau temuakan sebuah hal yang lebih baik/dan aku kan pergi /kuakan jadi hujan/tapi tak akan lama ku akan jadi awan/
merakit mesin penenun hujan/ketika engkau telah tunjukan/semua tentang kebalikan/kebalikan diantara kita
Saya ingin mengawali tulisan ini dengan berterima kasih kepada seorang teman, saat itu dia sedang terkena bencana, dompet yang berisi uang hasil kerjanya sebulan hilang didalam kamarnya. Tarno, saya mengenalnya sebagai penjaga kampus, saat saya datang ia bercerita bahwa dompetnya hilang dikamar, dikamar yang pernah saya gunakan juga sebagai setting film tugas kuliah dulu. Di perbincangan sore itulah saya teringat ketika saya pernah juga duduk disini bersama teman.
Kami duduk berdua setelah sebelumnya melahap bakso bakar di Wirosaban. Duduk di kursi yang akhirnya menimbulkan beragam argumen dari teman-teman di AKRAB yang memang sengaja saya upload lewat facebook, dari postingan mereka saya bisa tahu bahwa kursi itu memiliki banyak kenangan. Beragam cerita timbul dari yang belum saya ketahui dan cerita-cerita lama tentang angkatanku. Salah satu postingan menyebutkan sebuah nama, nama yang pernah saya cukup kenal. Marina, seorang anak yang menutup dirinya, juga selalu menutup kepalanya dengan topi. Kabar terakhir yang saya dengar bahwa ia akhirnya menikah dengan seorang yang juga pernah saya kenal.
Cerita lain dari sebuah kursi itu muncul, kursi itu hanya sebuah kursi, bukan kursi yang menarik. Dari kursi itu saya bisa memandang seluruh kelas-kelas yang pernah membuat saya kecewa dan bangga dengan keadaan kampus kecil itu. Dari kursi itu saya mendengar cerita-cerita yang ingin saya dengar. Dari kursi itu saya mendengar harapan, cita-cita, impian serta musibah. Teman saya bilang itu hanya sebuah batu, yang akan diam walaupun dikentuti. Sejenak, saya teringat kuliah umum bersama Heri Dono beberapa waktu lalu, ia percaya bahwa semua benda memiliki roh, keyakinan animismenya membuat saya bertanya, apa ada sesuatu yang lebih dari sekedar kursi?
Kursi, apa yang pernah kamu dengar dari semua harapan kami?
Pertanyaan ini kembali muncul setelah sudah lebih dari setahun saya bersertifikat kelulusan dari kampus kecil ini. Pertanyaan yang sama ketika pertama kali menjatuhkan pilihan kepada kampus yang hampir tidak dikenal di Jogja. Apakah saya tidak salah memilih, apakah saya hanya korban iklan seperti teman yang lain bilang. Tidak, semua ini dengan sengaja dan tidak sengaja terbentuk disini. Hingga jawaban dari pertanyaan itu hanya jawaban paling bodoh yang pernah saya pikirkan. Kenapa saya kuliah dan untuk bilang kenapa saya kuliah, kenapa saya memilih kampus ini ternyata harus melalui 4 tahun yang begitu cepat untuk mencari jawaban itu. 4 tahun hanya di buat untuk bisa bertanya, kenapa kuliah? Kenapa di AKRAB? Bagaimana kalau saya tidak kuliah, tidak akan ada pertanyaan konyol ini.
Dan semua ini berawal dari mimpi kecil seorang anak kampung, yang kembali nyata ketika duduk di kursi halaman kampus kecil itu. Kursi yang selalu mengingatkan kenangan akan kekecewaan dan kebanggaan. Berada disana, hanya akan menemukan tanah lapang kosong. Tanah lapang itu bisa saya isi dengan harapan dan semua harapan yang seseorang titipkan kepadaku. Di kursi itu, aku tunggu kedatangan kalian teman lama, ceritakan padaku cerita mengenai indahnya kebanggaan, harapan dan impian.
Akhirnya bisa mendengarkan secara langsung lagu-lagu yang biasa saya dengarkan di kost sendirian. Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono akan hadir di JOgja. langsung saja mengubah rencana yang terpaksa tersusun. Tak lupa mengucapkan mas Kusen yang telah jauh hari dulu menceritakan akan ada Ari Reda di Jogja (thank Q bapake). Setelah acara yang di Memento Cafe dulu gak sempet datang, terbayarkan sudah dengan semalem malah dapat jackpot banyak disini. Melihat penampilan Mereka ditambah permainan gitar Jubing juga Juki dan So' Imah yang gak ada matinya membuat malam ini menjadi mewah, mewah karena tontonan seperti ini yang selalu ditunggu olehku (biar gratis tapi mewah megah).
Separuh kepalaku masih sakit, ah gak ada yang peduli. lagian yang merasakan saya, yakin mau pergi ke tembi? ia mbak, jarang2 saya bisa menikmati secara langsung tanpa mendengarkan dari mp3. Hari itu sampai saat ini seperuh kepalaku memang masih agak pusing, gak tau migrain kali ini memang sangat mengganggu. tapi memang aneh setelah sampai di tembi dan melihat crowdit di situ bukannya kepala tambah pusing eh malah terlupakan. Di Tembi langsung mencari tempat duduk paling depan, dan mencari kursi tengah biar audio yang masuk pas, eh gak dapat ya akhirnya duduk dipinggir deh. Ketemu dengan mas Zam-zam dia sekarang tutor di kelas IVAA yang sedang saya ikuti, mas Kusen tentu saja lalu Rizki juga Mbak Ani dengan Mbak Reni. dibelakang sana masih terlihat orang yang pernah saya kenal yang sehari sebelumnya bertemu di Nagan 19, Mas Mukhlas dan rombongannya dari Rumah Opak.
Kembali ke Konser Kuhentikan Hujan malam tadi, konser tersebut menjadi salah satu konser yang indah yang pernah saya saksikan. tepukan tangan tak pernah berhenti ketika mereka menghentikan lagu yang dinyanyikan. Sebuah lagu yang sering saya dengarkan beberapa hari ini Metamorfosis ternyata masuk di playlist mereka, senangnya. sambil sedikit memejamkan mata membayangkan di kamar kost yang berantakan. Diam-diam ada yang menjadi dirimu. sajak yang bagus dan dimusikalisasikan dengan sangat bagus. dan anehnya yang membuat lagu itu adalah orang yang saya kenal, Budiman hakim. Dia seorang praktisi iklan , penulis buku sex after dugem yang sedang merajalela itu dengan cerita konyolnya yang menegangkan, mengharukan dan menyedihkan. Wah salut deh tenyata orang ini serba bisa.
Konser malam itu diakhiri dengan request lagu dari penonton yang ada disitu, mereka teriak senang ketika lagunya dinyanyikan oleh Ari Reda juga Jubing. Imagine menjadi penutup yang pas malam itu
dari kiri Reda Gaudiamo, Aku, Ari Malibu dan Reni.
Bersalaman dengan orang yang dikagumi tentu saja, apalagi bisa mengabadikan moment tersebut. ah sayang fotoku ngeblur semua, ini gara-gara mas Kusen hahaha. tapi ada satu yang bagus kok. dan ini menjadi yang tak akan saya lupa. Terimakasih buat semuanya, suara yang nyaring melengking hingga memesan rasa lapar yang asik itu buat mBak Reda Gaudiamo yang ternyata mantan orang iklan. juga buat Ari malibu yang misterius meminjam istilah orang. juga pendukung acara lainya yang menghibur malam minggu itu.
Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini. Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput. (penggalan Hatiku Selembar Daun SDD)
Ikutin Short Story Competition dan dapetin kesempatan bikin script bareng script writter terkenal dalam program MEET THE EXPERTS yaitu: Salman Aristo (writer Laskar Pelangi; Ayat-ayat cinta; Jomblo; Alexandria dll…) dan Titien Wattimena (writer Mengejar Matahari; Bukan Bintang Biasa; LOVE; the Butterfly dll…)
Empat cerita terbaik akan difilmkan dalam bentuk film pendek berdurasi maksimal 15 menit dalam program La.Lights Indie Movie 2009."
Persyaratan pesertanya sebagai berikut:
Terbuka untuk umum
Peserta minimal umur 18thn
Kumpulkan short story maksimal 2 halaman folio, 1,5 spasi
Lampirkan dan isi formulir yang dapat didownload lewat www.la-lights.com, atau lewat email panitia la.indiemovie@gmail.com
Kriteria Cerita:
Bertema dunia anak muda
Tidak menampilkan tokoh dibawah 18th
Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi
Cerita harus original bukan jiplakan
Belum pernah dipublish dalam bentuk apapun
Pengumpulan karya mulai 1 April 2009
Deadline pengiriman 1 Juni 2009
Setiap peserta tidak boleh mengirimkan lebih dari satu cerita
Empat cerita terbaik akan diumumkan Juli 2009 dalam Indie Movie
Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Kirim Ke sekretariat :
SET Film Jl. Sinabung No.4B, Kebayoran Baru Jakarta Selatan - 12120 Telp. 021 727 99227/727 99226 HP Panitia 0815 1059 4899 Contact Person: Fira/Anunk
Sebelum akhirnya bisa terdampaaar dalam ruangan favorit, sebuah kamar baru dengan ukuran cukup luas di Pandeyan. Sudah agak lama emang tidak bekerja dengan suasana tegang dan menyenangkan seperti beberapa hari ini. Bekerja disebuah event organizer memang harus membutuhkan nyali kuat ditambah mental yang kuat. Kerjaan yang mendadak namun harus cepat, ah.... imposible. tapi si bos bilang nothing. melihat mukanya saja sudah bisa membuat ayam yang hampir menjatuhkan telornya tidak jadi bertelor. dengan senyum ancamannya yang menyegarkan nurani dia mulai membuat bawahannya termasuk saya menjadi punya semangat membara kembali walau agak terpaksa juga.
Sebenarnya kerjaan event kemarin cukup mudah, karena saya terbiasa dimultimedia jadi agak nyantai gak ngrus bagian tetek bengek, namun karena kekurangan orang untuk menghemat biaya juga klien yang maunya aneh2 membuat saya ikut kena impact dari itu. mulai menyapu ruangan nyiapin sound sistem sampai keperluan aneh-aneh lainya. dan yang paling parah adalah disuruh menghilangkan air dihalaman yang habis terguyur hujan. Gila pikirku, menghilangan air. kembali dengan terpaksa dan disiksa aku menaruh tasku yang berisi camera dan teman2nya lalu mencari sapu juga temannya untuk membersihkan halaman yang mau buat permainan mereka. Setelah acara selesai, aku kira sudah selesai untuk hari ini. eh, klien minta langsung dicopy file foto 38 buah cd. Oh tuhan kenapa ya, enak jadi klien yang punya banyak duit. mau-gak-mau waktu untuk istirahat tidurku terhambat. Tetapi inilah yang menyenangkan dalam EO, ketegangan, kesenangan, kesedihan semua bercampur jadi satu. ternyata cepet juga walau harus kurang tidur 2 hari tapi sudah terbayarkan semua, besok tinggal tandan tangan dan ambil duit buat beli es cream chocolate.
Ini The Power of Team "keep smiling" yang membuat acara ini berjalan dengan baik.
Name: Gugun Tu7uh Home: The Art Pain City "Jogja", Yogyakarta, Indonesia About Me: Saya hanya ingin melihat jauh disana, ingin melihat tentang apa yang ingin selalu kulihat, tanpa batasan. Bebas Merdeka See my complete profile