Jumat, 09 September 2016

Sansevieria Pinguicula, Koleksi Baru Kami

Kalau kita punya sebuah tanaman yang istimewa, tanaman yang memiliki banyak manfaatnya, tanaman yang lebih memiliki fungsi dari yang kita tahu, itu sangat memberikan kebahagiaan tersendiri. Postingan kali ini saya ingin memamerkan tanaman Sansevieria atau orang indonesia lebih mengenal lidah mertua. Tanaman yang memiliki ujung daun tajam, mungkin karena tajam jadi dinamakan lidah mertua (yang kadang mertua itu tajam kalau berbicara :D )

Heboh sendiri ketika mendapat hibahan sansevieria dari seorang kolektor. saya beruntung sekali mendapatkan lebih dari satu pot sansevieria beragam jenis ini. Dari yang istimewa sampai jenis sansevieria sangat istimewa. Sampai saya sendiri tidak tahu nama id jenis sansevieria ini. Satu persatu mulai mulai dibersihkan dan repoting, Sansevieria Pinguicula yang merupakan the Quenn of sansevieria ini menjadi prioritas untuk dipindahkan ke pot yang baru. Pot istimewa untuk tanaman istimewa.

Berikut ini hasil repoting Sansevieria pinguicula koleksi baru di kebun kami, selamat menikmati manfaat dan keindahan serta ketajamannya.







Sabtu, 30 Juli 2016

Masuk lagi ke Gua, Sambil Belajar.

Aroma tanah basah, lembab langsung terasa ketika saya memasuki ruang gelap di salah satu lubang bumi di tanah Bogor. Hari itu saya berkesempatan untuk ikut ke dalam rombongan pelatihan fotografi gua yang diadakan oleh ISS Indonesian Speleological Society. Sudah lama sekali saya tidak memasuki lorong-lorong gelap dalam tanah, memasukinya kembali memberikan perasaan yang sudah lama saya rindukan.
Tetep keren

Lorong gua yang gelap, basah, bagiku selalu memberikan tantangan, apalagi saya baru pertama kali masuk ke gua ini. Gua yang kami masuki dari cerita tim memiliki 2 entrance, horisontal dan vertikal. Meski tujuan utama adalah untuk mempelajari fotografi gua, saya lebih menikmati hal-hal lain seperti melihat semua yang ada di dalam gua ini termasuk biota guanya. sayang meski saya sudah sangat dekat dengan si pingky (begitu anak-anak menyebutnya) salah satu biota yang katanya hanya ada di gua ini saya tak bisa melihatnya.

Sayang lagi harus saya sebutkan, ketika memasuki gua lebih dalam lagi ternyata saya menemukan beragam bentuk limbah, sampah rumah tangga yang berukuran kecil sampai kasur yang kemungkinan dibuang oleh warga.
Dalam kegiatan kali ini saya bertemu dan berkenalan dengan fotografer gua yang berasal dari NSS national speleological society Colorado, Norman Thompson dan istri serta temannya. Memang acara ini adalah berbagi pengalaman dan berbagi ilmu tentang fotografi gua. Karena menurut saya sendiri fotografi gua menjadi penting untuk memadukan keindahan dan fungsi gambar yang memberi info kondisi gua. sehingga yang melihat gambar akan menjadi tertarik. Banyak info penting yang saya dapat dari Norman Thompson ini. Beberapa tips bisa dilihat di video yang saya bikin khusus untuk ISS Masyarakat Speleologi Indonesia.

Terimakasih untuk kesempatannya dari temen-temen ISS. keep eksplore dan keep sharing. save our karst.
Special Capture by Rodhi AlFallah (rodhialfalah@gmail.com) Suwun mas

Selasa, 21 Juni 2016

Behind the Scene Eagle documentary series Special Project: eps. Pesona Tanah Leluhur



Tiba-tiba perahu yang kami naiki mulai bergoyang dengan cepat, menuju ke tengah ombak semakin meninggi. Saya yang duduk di ujung perahu, perlahan mundur ke belakang. Kamera strip saya ikatkan ke lengan biar aman. Padahal tadi waktu masih di dermaga, cuaca sangat bersahabat. Langit biru, angin yang sepoi ga sekencang ini. Akhirnya kapten perahu memutuskan untuk mampir dulu ke pulau Liwungan. Tranplatasi terumbu karang dilanjutkan nanti setelah angin mereda. Kamipun tak menyia-nyiakan ketika berada di pulau kecil ini. Pulau Liwungan menjadi salah satu destinasi ketika wisatawan berada di area teluk Ladda dan Tanjung lesung. Ini hari ke -4 pengambilan gambar untuk eagle documentary series episode Tanjung Lesung. Ga terasa memang, padahal saya masih ingat bagaimana Lutfi masih duduk di perahu mengenakan vest orange, sedang diskusi dengan pak Arif, salah satu narasumber kami. Melihatnya berbicara dengan pak arif di atas perahu yang bergoyang karena ombak, dan saya seperti melihat orang yang dulu sangat saya cinta. seperti itulah dia, yang membuat saya jatuh cinta. 
Sebelum cuaca semakin tidak baik, dan langit semakin mendung.
Ini produksi program dokumenter ke-2 tahun ini untuk kami, kalo saya masih beberapa menjadi editor project dokumenter temen. Produksi kali ini merupakan special project eagle documentary series. Tentang Tanjung Lesung, satu dari 10 destinasi wisata prioritas pemerintah untuk dijadikan magnet wisatawan dalam dan luar negeri. Bagi saya Tanjung Lesung sangat indah di beberapa spotnya. Jenis atraksi wisata yang beragam dan juga aktifitas yang menyenangkan. Memang membutuhkan duit banyak untuk bisa menikmati Tanjung Lesung tapi kita masih bisa menikmati spot indah lain dengan menggunakan jasa wisatawan setempat, lebih hemat. Yang masih disayangkan adalah, harga makanan di desa nelayan sangat mahal, warung makannya ga sesuai sekali, dianjurkan untuk melihat harganya. Mending nambah dikit terus makan di restoran tanjung lesungnya.
Senjata produksi kali ini
Dua hari pertama kami habiskan untuk mengambil footage atraksi dan keindahan Tanjung Lesung. Vila dan hotelnya yang mengesankan tidak lupa kami ambil. Untung saja kami mendapatkan cuaca yang kami inginkan, dan sunset yang menawan. Ada juga gambar gunung krakatau yang terlihat dari hotel.

Hari berikutnya kami berencana ambil tranplatasi terumbu karang. Seperti yang saya tulis diatas, rencana berubah karena cuaca dan kami tetap menikmatinya. Inilah untungnya kerja sambil bermain, jadi ga kerasa. Meski kerasa dikit kecemasan kalau hujan trus ga dapat gambar.

Hari keempat kami gunakan untuk mengambil gambar desa wisata cikadu, yang didalamnya terdapat perajin batik. Di sana kami mengambil kelompok ibu-ibu dari kelompok seni yang saya lupa namanya. Pengambilan berlangsung lancar meski sedikit terkendala audio dari mesin penggiling padi.

Hari ke lima adalah hari terakhir kami suting, memang tak sesuai jadual, masih ada hari keenam. Tapi karena ada suatu sebab yang bisa bikin malu dan trauma serta tak mau saya ceritakan maka suting berhenti di hari kelima. Hari itu kami mengambil footage profile dari sepasang wisatawan di tanjung lesung. Meski kaki bergetar, tubuh terasa panas. Suting di villa berlangsung lancar.

Inilah sedikit cerita dari produksi kami untuk eagle institute indonesia. Produksi kali ini saya merasa belum cukup puas dengan kondisi di lapangan. Tapi, kami tetep senang setelah melihat hasil tayangannya. Terima kasih untuk semua tim di kedoya, editor mas darwin nugraha dan aris. Dan, tentu saja untuk director, penulis, sekaligus istri yang selalu ada di setiap produksi.
ini bossnya

Pilot yang bareng kami, Awal
Yeah, happy di atas dua roda.
Poster pertama
Favorit
Perajin Batik khas Banten







Google+ Badge