Senin, 27 Desember 2010

Kawulo Pecinta Awul-awul

jadi, ada yang selalu menarik langkah jika demam sekaten mulai melanda negeri Ngayogyakarto ini. Awul-awul laksana mencari jarum dalam tumpukan jerami.Awul-awul yang membuat saya merasa seperti jagoan yang mendapatkan layangan putus mengalahkan teman-teman saya yang ngos-ngosan tidak berhasil mendapatkan layangan tersebut.

Sebenarnya melihat tumpukan baju sebanyak itu, bayangan saya langsung terbayang dengan kondisi pengungsian beberapa waktu lalu. Baju pantas pakai yang bertumpuk, bau tidak sedap yang membuat hidung pendek ini erpaksa bersin-bersin. Itu cerita lalu, sekarang demam Sekaten sudah mulai meramba Jogja tercinta ini. Melupakan kesedihan kembali dengan kenyamanan Jogja itu yang saya harapkan meski kadang kepikiran juga bencana yang nggrogotin nggerogotin negeri yang kuat ini.

Sebelumnya saya dan teman-teman mengatur permainan lidah di malam minggu ini dengan menyepakati makan di bakmi Koeswaji yang terletak di pojokan alun-alun utara. Ada yang menarik dengan olahraga lidah yang sedang saya lakukan ini. 4 penjuru keraton jogja masing-masing ternyata memiliki tempat makan uenak, bakmi djawa yang rasanya pas sekali dengan keistimewaan jogja. saat ini saya baru mencoba 3 penjuru bakmi jawa ini, yang pertama Bakmi bu Giyo yang jebolan bakmi Kadin, warung kecil ini terletak di selatan alun-alun kidul pinggir jalan besar. Yang jual orangnya serem tapi masakannya nikmat dan istimewa. Yang kedua Bakmi Pele depan keraton sisi timur, selalu rame dan kita bisa lesehan duduk di emperan esde, pengamennya juga ramah-ramah. terus yang semalam adalah bakmi Koeswaji yang terletak disisi barat Alun-alun utara. Semua bakmi ini adalah legendanya warung bakmi di Jogja. Untuk yang ke empat belum menemukan yang cocok untuk rekomendasi.

Sambil menanti bakmi mateng, saya dan teman-teman berpetualang dulu di arena sekaten yang belum terlalu ramai. Langsung menuju awul-awul tempat istana kaos KW-2 terdapat disana. Bertumpuk-tumpuk pakaian pantas pakai itu selalu menjadi ikon dalam Sekaten. Selalu saja saya tertarik hunting beberapa lembar pakaian meski kadang akhirnya pakaian tersebut hilang entah kemana.

ah sudah dulu... seenak-enaknya bakmi kalo Garuda lagi bersedih jadi enek. nulis jadi ora semangat, aneh.

i'm still proud of my Garuda

Senin, 20 Desember 2010

1000 burung kertas dari Goodreads

Pagi itu beberapa teman sudah berkumpul, dengan seragam hitam dan putih mereka terlihat kompak dari kejauhan. Jogja, 19 Desember, meneruskan cerita 1000burungkertas ketika sama-sama menjadi volunteers untuk Merapi, Canting dan GRI(Goodreads Indonesia) memang berencana untuk bersama-sama bermain dengan anak-anak di Sanggar Studio Biru. Untuk teman-teman yang belum tahu Studio Biru, saya akan cerita sedikit tentang sanggar anak diatas bukit ini. Sanggar ini sebelumnya merupakan rumah darurat untuk Korban gempa 2006 lalu, rumah darurat itu sekarang digunakan sebagai sanggar studio biru karena memang awalnya rumah itu digunakan oleh beberapa volunteer untuk pendampingan anak pasca gempa. Setelah masa recovery selesai ternyata sanggar itu masih tetap berlanjut selama 4 tahun ini. Rendra, dialah yang mendampingi anak-anak di Pedukuhan sengir, kecamatan Prambanan Yogyakarta yang setia mendampingi anak-anak tersebut. Sendirian, dengan semangatnya dia mendampingi anak-anak itu sampai sekarang.Kondisi saat ini memang memprihatinkan, melihat semangat anak-anak disana, diam ternyata menjadi pilihan terburuk bagi saya dan teman-teman.Sedikit-demi sedikit donasi baik itu buku, dana dukungan serta dukungan moral dari teman-teman membuat kami percaya bahwa perbaikan Sanggar Studio Biru akan cepat terlaksana.

Tempat yang sangat sulit ditempuh menjadikan Sanggar Studio Biru tidak diketahui oleh kebanyakan orang, namun tidak demikian dengan saya dan teman-teman yang suka kelayapan menyusuri jalan kecil di Jogja. Dan, kami beruntung bisa bertemu dengan sanggar Studio Biru.

Sebelumnya kami senang setelah mendengar kabar bahwa ada perusahaan yang mengadakan CRS membantu kegiatan sosial seperti ini. Founding itu berasal dari program Klik Hati dari MERCK Indonesia, namun sepertinya karena terlihat seperti kompetisi dengan syarat dan ketentuannya kami kemudian berniat untuk lebih keras dan semangat mengkampanyekan 1000burungkertas untuk Hope & Happiness ini. Beruntung juga kami bisa bertemu dengan komunitas GRI yang mempunyai semangat sama untuk perubahan khususnya anak-anak Indonesia. namun, seperti kata seorang teman bahwa "kalau untuk tujuan memanangkan kompetisi Klik Hati itu tidak baik, lakukanlah seperti yang kalian lakukan dulu. dengan tujuan yang berasal dari hati kalian sepertinya itu sudah merupakan kemenangan yang sebenarnya, jadi semangat terus pantang mundur!" maturnuwun buat Babeh Helmi yang selalu membimbing kami. kami sebenarnya hanya ingin memberitahukan bahwa kebersamaan ini akan lebih menyenangkan jika bertemu dengan kesempatan Klik hati itu, semoga saja ya Beh karena kita juga selalu percaya dari niat baik akan berakhir baik pula.

Sebuah tulisan penuh warna menyambut kami, saya dan temen-temen dari Goodreads tidak menyangkan akan ada penyambutan seperti itu. Sepertinya perjalanan yang menegangkan naik bukit sengir telah terbayarkan dengan penyambutan itu, sebelumnya dalam perjalanan ada Panda yang terpeleset juga Desi dan Mey yang motornya hampir terjatuh. yang jelas ketegangan sangat terlihat di muka temen-temen GRI yang baru pertama kali di Studio Biru, tapi saya percaya bahwa ketegangan itu akan menjadi kenangan bersama keceriaan di Studio Biru.

Kedatangan kami sepertinya pas sekali dengan moment sehabis tes sekolah, tanpa beban ujian anak-anak itu bergembira , bersenang-senang bersama kami. Saya tidak akan banyak menceritakan keceriaan kami kemarin, semoga dengan gambar-gambar ini temen-temen bisa ikut merasakan keceriaan kemarin di sanggar Studio Biru. Terimakasih buat Goodreads Indonesia juga sanggar Studio Biru dan juga untuk temen-temen Canting yang selalu penuh SemangArt. Suara tawa itu tergambar dengan jelas.





Ini dia temen-temen yang selalu penuh tekad dan semangat


1000burungkertas

Hope & Happines

untuk dukungan #1000burungkertas program #klikhati:

lets follow

twitter: @burung_kertas

facebook fanpage: 1000burungkertas

Ngobrolin Lokalitas yang gak ada habisnya

Kalau kemarin pas nongkrong diwarung yang ada patung orang sedang duduknya saya dan teman-teman sempat ngrumpi ngalor ngidul tentang bentuk lokalitas di Jogja itu seperti apa. Paling tidak saya sendiri jadi sedikit ngerti tentang apa itu lokalitas.apalagi kata orang-orang sekarang bahwa lokalitas itu penting di era moderen ditambah globalisasi gila-gilaan, begitu kata seorang teman sambil mengunyah produk amerika yang aslinya berasal dari Indonesia itu.

Tulisan ini hanya rangkuman perbincangan beberapa orang yang hampir dan akan peduli dengan lokalitas. Awalnya saya mencoba nyari arti kata lokalitas di manalagi kalau bukan di mbah Google. Beberapa kalimat, ya bisa dibilang pengertian sedikit tentang lokalitas saya dapatkan. Salah satunya menyebutkan bahwa lokalitas merupakan

terus ada juga yang menyebutkan bahwa lokal tidak berarti melawan global. lha ini dia yang menjadi obrolan hangat kami. Salah satu orang yang saya temui tadi pagi di warung pecel Peci Mirng (saya menyebut lokal sekali makanan ini) . "Saya pernah berpikir bagaimana tempat makan seperti mcD itu dibuat dengan nuansa Jogja, jadi kalo ada orang bule makan dia akan merasakan makanan luar itu dengan nuansa lokal sini." itu dia kalimat yang saya rangkum dari teman saya.

Kemudian dia menambahkan, inilah lokalitas Jogja yang sebenarnya. Bisa dilihat bahwa sesangar-sangarnya anak punk dijalanan. Kalau beli nasi kucing di angkringan dia akan menggunakan unggah-ungguh yang sangat baik, dia masih menunduk jika ada orang yang ebih tua darinya. Lokalitas dalam konteks inilah yang sebenarnya lebih baik untuk dirasakan, selain lokalitas dalam bentuk kebudayaan manusia yang lainnya. Jadi gak perlu dengan menggunakan apa yang terlihat seperti penggunaan bahasa tradisional yang bahkan mereka baru tahu artinya. Tapi bukannya itu menunjukan lokalitas. Memang benar, paling tidak secara perlahan lokalitas akan mulai tumbuh lagi sekarang ini.

Pasar tradisional, bagaimana nasibnya sekarang ini? Kami mulai berbincang tentang lokalitas yang paling sentral sebenarnya pada suatu daerah. Lokalitas yang sesungguhnya ada di sebuah pasar, tidak percaya? Kita akan tahu bagaimana daerah itu tidak berhenti rodakehidupan daerahnya bisa melalui sebuah pasar. Contoh yang sangat jelas, ketika terjadi gempa 2006 beberapa pasar berhenti beroperasi. Itu menunjukan bahwa daerah ini sedang dalam masa tanggap bencana. Jadi pasar bisa sebagai barometer kehidupan daerahnya, yup itu dia. Padahal di pasar bisa kita temukan apa yang tidak ada dalam era modern ini. Itulah lokalitas lagi, lokalitas penduduknya yang berinteraksi di pasar.

Apa yang membuatmu tidak mau ke pasar daerah, kamu malah seneng pergi ke superindo atau supermarket. Kebanyakan menjawab kalau kita di pasar, seringnya kita merasa ditipu dengan sebuah harga. Jadi rasa tidak puas yang saya rasakan seperti tertipu. Tapi, kalau di supermarket label harganya sudah tertampang jadi gak perlu lagi menawar. Dan itu membuat nyaman tentunya.

Sudahlah,begitu banyak lokalitas yang kita tinggalkan. Lebih baik.... -berhenti sejenak- (inilah sedikit dari kondisi lokalitas sekarang) dipertahankan. Kalau bukan kita siapa lagi? hups jangan banyak omong, lets do it (ah kebaratan katanya lokalitas)

Senin, 06 Desember 2010

Episode: Cerita Sumur #1

Mereka berkumpul disitu, menceritakan mengenai remeh-temeh kehidupan. Cerita untuk masa depan keluarga mereka bahkan cerita keburukan keluarga mereka. Di sebuah sumur yang menjadi saksi, cerita-cerita itu mengalir dengan sendirinya. Bersama cucian pakaian mereka, bersama piring kotor mereka, bersama sabun, deterjen mereka. ia menjadi saksi di balik kehidupan kecil di sudut cerita masyarakat.

Suara anak kecil menangis, matanya dikucek-kucek menggunakan tangan kirinya. kemungkinan sabun mandi itu mengenai matanya. ia menangis bukan karena perihnya sabun, melainkan tidak mau mandi hingga sabetan halus tangan sang ibu mendarat pada bokong kiri anak itu. Sambil entah mengomel apa ibu itu berbicara ngalor ngidul, ia mengomel bukan karena anaknya menangis, melainkan ia sendiri merendahkan kehidupannya. Kehidupan hingga ia mengalihkan pikiran tentang kerasnya kehidupan kepada bokong kiri anaknya.

Seorang lelaki dengan jubah putih mendekat diantara ibu-ibu di sebuah sumur. lengan putih bajunya ia lipat perlahan, jubah putih hingga menutup tungkak kakinya ia gulung perlahan keatas kemudian dimasukan diantara selangkangan kakinya. Kopyah putih yang menutup rambut kepalanya ia dorong sedikit kebelakang. Tangan nya mulai membuka padasan tua, dibasuh dengan pelan kedua tangan, hidung, muka, telinga hingga ujung-ujung kakinya. Dipanjatkan doa kepada Yang Esa setelah tangan yang masih bercucuran air itu diangkat ke depan mukanya.Suaranya yang akan terdengar sebentar lagi dari suara toa mushola kecil kalah oleh suara alunan omelan seorang ibu yang sedang memandikan anak kecil yang menangis.

Dari ujung jalan terlihat seorang ibu muda berteriak-teriak sambil memegang telinga kanan seorang lelaki, setengah berlari mereka menuju sebuah sumur ujung jalan. Lelaki yang di jewer sempat tersenyum kepada seorang lelaki berjubah putih yang dilewatinya, dia sempat mendengar suara orang itu melantunkan 'astagfirulloh'. Ibu muda itu semakin berteriak marah mengalahkan seorang ibu yang memandikan anak kecil yang menangis. Ia ambil sebuah kemeja putih dalam rendaman cucian pakaian kotornya, ia tunjukan bercak merah berbentuk bibir pada bagian dada kemeja putih itu. Ia berteriak lantang, si lelaki hanya diam saja sambil menahan malu karena di perhatikan orang-orang yang ada di sebuah sumur itu.

Hampir malam di sebuah sumur. Tidak terdengar lagi suara kerekan timba dari sumur itu. percikan, riak air hampir tak terdengar. Sumur kehilangan cerita dari beberapa saat ketika hampir malam. Ia menjadi sebuah ruang tersembunyi di balik kehidupan kecil di sudut cerita masyarakat.

Sumur riwayatmu kini

Minggu, 05 Desember 2010

Episode: Pagi di Pasar Sentul

"Bung, nanti malam jangan lupa pertandingan Chris John melawan Argentina lho, terus sesuk PSIM ning TV Anteve lho. Lha selasane jam 7 ning RCTI Indonesia karo Thailand." Itu merupakan cuplikan perbincangan tukang becak didepan pasar Sentul yang pagi tadi sempat terdengar.

Karena ingin makanan yang lain, pagi itu saya sampai di pasar Sentul hanya sekedar mencari nuansa makan pagi yang berbeda. Warung tenda biru kecil disamping pasar menjadi pilihan, selain kata orang sayur bayem dan tempenya yang katanya begitu nikmat. Warung itu ternyata sudah ada sejak lama berada di lokasi itu.

Yang namanya jadul utawa klasik mungkin njenengan tahu, di komplek pasar yang terlihat kebanyakan adalah bapak-bapak tua, mbah-mbah. terlihat sangat klasik pokoknya, seperti berada di jaman entah berantah. Mendengar perbincangan seorang tukang becak bersama kawannya yang saya tulis diatas memang bukan sesuatu yang luar biasa, tapi akan menjadi biasa ketika Jogja dalam masa tanggap mengenai masalah keistimewaannya. yups. keistimewaan yang menjadi harga mati warga Jogja.

Saya memperhatikan sekeliling orang yang berada di tempat itu. Apakah mereka akan menjawab ya jika saya memberikan beberapa pertanyaan mengenai referendum, apakah mereka tahu bahwa situasi politik di Jogja sedang bersenandung. Mereka terlihat nyaman, tenang dengan kondisi ini. Referendum, Merapi, Kali Code sedikit teralihkan dengan yang namanya Bola. "Pokokmen aja lali PSIM main." di hati mereka PSIM menjadi sesuatu yang lebih menarik. Ah sudahlah, disisi lain sudah banyak orang yang memikirkan tentang itu semua, dibalik senyum bapak itu ketentraman merupakan yang lebih menyenangkan.

Pagi itu kami menghabiskan banyak sayur dan lauk ala pasar sentul dengan rangkaian muka klasik yang menawarkan keistimewaan Jogja dengan sendirinya. saya berharap Jogja tetap menjadi Jogja, apapun istimewanya sesuatu jika bukan untuk dirinya bukanlah hal yang istimewa. Jogja akan tetap Jogja apapun yang terjadi.

Bersama wajah-wajah penuh rasa tentrem, untuk warga Jogja kita tahu apa yang harus dilakukan. Bukan hanya omongan entah kemana, bertindak membuat Jogja semakin Jogja menjadi lebih dibanggakan dan dihargai.

Sabtu, 04 Desember 2010

Episode: Terbanglah Garudaku

"Terbanglah garudaku tidak hanya untuk malam ini." kalimat ini yang dengan tiba-tiba keluar begitu saja setelah menyaksikan Tim Garuda berhasil mengalahkan Laos 6-0 pada pertandingan kedua Piala AFF Suzuki. Rasa bangga setelah pada pertandingan pertama juga berhasil mengalahkan Malaysia 5-1 semakin besar pada tim Merah-Putih ini. Kemenangan akan pertandingan malam ini sebenarnya saya rasa lebih kecil kebanggaannya dengan kemenangan dengan Malaysia. Emosi kemenangan dengan malaysia menjadi campur aduk antara sportifitas dengan emosi bebuyutan malingsia, apa mau dikata pertandingan kemarin menjadi semacam obat bahwa kita bisa mengalahkan Malaysia yang beberapa kali merendahkan Indonesia.

Kembali ke pertandingan malam ini, Merah putih berkibar diantara ribuan pendukungnya. Beragam yel-yel yang terucap malam ini menjadi dukungan penuh kepada Firman dan teman-temannya di lapangan rumput yang rusak karena selama 3 hari rumput GBK di injak-injak oleh pertandingan AFF. Tidak apalah GBK berkorban untuk kali ini, untung saja Tim kita bisa menang meski rumput di GBK semakin rusak karena tidak ada jeda untuk memperbaikinya.

Malam ini lutisannya serasa nikmat, dengan Laos sebagai bumbu di tambah dengan racikan bumbu-bumbu gocekan permainan Okto, lutisan malam itu menjadi sungguh-sungguh nikmat. Namun, tidak cukup untuk malam ini saja saya berharap Garuda bisa terbang denganpenuh kebanggaan. Hari selasa besok, tepat tanggal 7 Garuda akan mengepakan sayapnya untuk Thailand yang memiliki tim kuat.Menyiapkan dukungan buat selasa malam besok agar Tim Garuda menjadi kebanggaan di tanah sendiri.

Terbanglah Garudaku tidak hanya untuk malam ini.

Kamis, 21 Oktober 2010

Sinetron, Julia Roberts, Tanah Leluhur

Seorang teman yang sama-sama menonton Eat, Pray, Love memberi anggapan "Kita sedang menonton sinetron yang dibintangi oleh Julia Roberts." Tidak salah jika temanku sampai beranggapan seperti itu, film Hollywood yang memiliki cerita seperti yang ada di dalam setiap sinetron kita. Cerita-cerita di sinetron memang terbiasa menggambarkan seorang tokoh yang bisa mendapatkan segalanya, dia kaya, kadang menjadi tersiksa karena masih saja merasa kurang dengan apa yang telah ia dapatkan. itu gambaran kecil tentang sinetron indonesia yang hampir mirip dengan tokoh sentral film Eat, Pray, Love sama-sama seorang yang bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara yang kadang tidak perlu dengan logika. Saya sendiri kemudian berkata bahwa ini bukan sinetron melainkan FTV yang hampir tiap hari ada di SCTV, FTV yang ambil setting di Bali dan dibintangi Julia Roberts.

Luapan kekesalan memang saya temui dari beberapa orang yang menonton film ini. namun, banyak juga yang menilai film ini bagus dan menghibur. Mereka bisa tertawa lepas melihat semua tingkah Ketut yang diperankan sangat baik oleh Hadi Subiyanto yang baru pertama kali main di sebuah film. Mereka mengapresiasi ketika Cristine Hakim muncul dalam frame pertama film itu dan tentu saja penampilan Julia Roberts yang selalu menarik.

Julia Roberts yang mampu mengalihkan setiap plot cerita yang terkesan selalu cepat, plot cerita yang singkat dan padat pasti akan menyulitkan penonton yang sebelumnya tidak membaca buku aslinya. Latar belakang cerita, pengenalan tokoh dengan tiba-tiba sangat sulit untuk cepat diketahui siapa itu, siapa dia. Yang bisa dilihat adalah Julia Roberts yang memerankan Liz adalah seorang perempuan yang dengan mudah melakukan perjalanan 3 negara, punya masalah dengan suaminya, memiliki teman banyak yang selalu berada disampingnya, dialah drama quen yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tidak ada konflik dalam cerita ini, konflik yang biasanya membuat sebuah film akan menjadi hidup. Memang dalam bukunya konflik sebenarnya yang terjadi juga tidak dijelaskan.
Kemudian kalau ditanya apa yang menarik dalam film ini. Pertama saya langsung bilang, Ubud, Julia Roberts, Ketut, dan Cristine Hakim. saya hanya menyayangkan mengapa Ryan Murphy sang Sutradara yang sedang mendapat banyak penghargaan ini malah membuat film ini tidak bisa dinikmati. Seharusnya film dengan buku yang laris itu dapat membuat tontonan yang lebih bagus lagi. Memang tidak salah ketika seorang teman beranggapan seperti menonton sinetron. cerita tanpa konflik berjalan mulus melihat Liz gilbert mendapatkan apa yang ia inginkan seperti cerita sinetron yang memenuhi layar di sore hari, datang mendapatkan dan pergi.

Ada satu hal yang mengkhawatirkan yang bisa saya tuliskan disini. Semoga yang lain juga merasakan hal yang sama. Ini tentang Ubud, Bali, Indonesia yang ditampilkan dengan indah dibanding dua negara sebelumnya. Itali yang penuh dengan gedung-gedung serta India yang potret kemiskinannya nampak sekali dalam film ini. Sedangkan Ubud ditampilkan dengan sangat menawan pada segment Love ini.

Awalnya saya iseng menelpon seorang teman di Bali untuk menanyakan kondisi Ubud seperti apa, harga tanahnya berapa. Saya kemudian mendapati bahwa Ubud merupakan sebuah 'tanah leluhur'. Lalu apa hubungannya dengan film yang mendapat dukungan dari pemerintah ini dan membuat suatu kekhawatiran dibalik dampak positifnya. Bagi yang sudah membaca bukunya pasti tahu bahwa rumah Tutti (rumah kebersamaan) milik Wayan adalah rumah yang berhasil didirikan oleh beberapa orang teman Liz Gilbert. Kita bisa merasakan rasa saling membantu pada bagian ini, keinginan membantu bagi yang membutuhkan dan rasa kebersamaan. Setelah uang terkumpul satu petak tanah berhasil di beli dan didirikan rumah. Saya hanya membayangkan bagaimana jika dikemudian hari ada Liz yang lain, yang bisa mendapatkan tanah kembali di Ubud bersama teman-temannya. Tanah leluhur di ubud akan semakin merasa dimiliki oleh tangan orang lain. Itu hanya kekhawatiran kecil saja dan saya yakin tanah leluhur itu tidak dengan mudah didapatkan. Ubud bisa mencegah perpindahan tanah itu, menjaga tanah leluhur itu.

Kesuksesan film EPL pasti akan membawa dampak besar bagi wisata indonesia khususnya Ubud yang pernah dinobatkan sebagai kota terbaik se-Asia yang mengalahkan Bangkok dan Hongkong. Konsekuensi yang harus diterima dengan semakin dikenalnya Ubud lewat film ini harusnya sudah dipersiapkan dengan matang oleh semua pihak. Semua orang pasti akan mencoba merasakan apa yang dirasakan Liz Gilbert di Ubud. Wisatawan akan banyak datang, kebutuhan akan penginapan semakin besar.

Apakah Ubud telah menyiapkan untuk itu semua, perubahan dampak dari film EPL agar tetap menjaga keseimbangan lingkungan, dan budayanya. Banyak sekali tempat yang menjadi lokasi film akhirnya berubah menjadi tujuan favorit wisatawan. AngKor Wat (Kambodja, Angelina Jolie), Viena(Before Sunsite, Ethan Hawke & Jlie Delphi) bahkan ada juga lokasi film yang dibintangi Julia Roberts, Nothing Hill menjadi tempat favorit wisatawan di London. Banyak keuntungan yang didapatkan dari itu Angkor Wat tetap bisa menjaga nilai sejarah tempat itu apakah Ubud tidak tenggelam dalam euphoria film Eat, Pray, Love.

Sungguh ironis jika karena kesuksesan film ini lahan-lahan persawahan tanah leluhur akan semakin hilang berubah menjadi hotel untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. film ini telah memulai perubahan ini yang akan membuka kembali minat wisatawan asing datang ke Indonesia. Saya yakin target 7 juta pada tahun ini bisa terpenuhi bahkan akan melebihi angka tersebut, apalagi data semester awal pada Juli sudah pada angka 4,5 juta wisatawan asing di Indonesia.

Saya tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, konsekuensi itu ada didepan Ubud. Sedikit kekhawatiran memang muncul agar kota terbaik itu tidak semrawut dan mempertahankan setiap budaya lokalnya. Selalu berpandangan positif untuk keutuhan Ubud menjadi pilihan untuk saat ini. dan saya tetap mendukung wisata Indonesia, selamat bergabung dalam euphoria Eat, Pray, Love.

Kamis, 14 Oktober 2010

Catatan Perjalanan di Balik Ganasnya Pantai Gunung Kidul #2: Tempat itu harus didatangi.

Matahari masih nampak berada tepat diatas kami, waktu itu menunjukan pukul 12.30 ketika kami memulai perjalanan susur pantai ini. Pasir putih Wediombo masih melekat pada kaki-kaki, Cuaca cerah yang cukup panas diimbangi dengan desiran angin pantai yang membuat kami tidak terlalu merasakan panas matahari siang itu.

Tidak ada rencana yang harus kami tempuh dalam perjalanan ini. Dimana kaki sudah merasa sangat lelah maka disitulah kami harus menghentikan susur pantai ini. Bahkan, kami tidak tahu rute yang akan ditempuh selama perjalanan. Pantai apa yang akan terlalui, desa apa yang akan kami lewati. Yang kami tahu hanyalah terus melangkahkan kaki ini hingga menemukan sesuatu yang membuat kami harus berhenti dan menikmati setiap keintiman eksotisme laut selatan.

30 menit pertama untuk rute yang kami lalui adalah semak belukar yang rata-rat tingginya hampir sama dengan tubuh kami. Diantara semak belukar tersebut hanya sedikit tanda yang kami ketahui bahwa rute yang kami tempuh pernah dilewati oleh penduduk setempat. Dengan melihat tanda-tanda tersebut itulah yang selalu menjadi penuntun kami selain jalan yang memang sering dilalui. Tanda-tanda tersebut bisa diketahui dengan melihat batu wadas kapur yang atas nya berwarna kuning karena sering terinjak oleh telapak kaki.

Dengan tenaga yang masih penuh, kami berjalan tanpa ragu. Bahkan, Yula tanpa merasa panas menaiki menara pandang. Dari menara tersebut pasti dia bisa melihat pemandangan tanpa batas Samudera Hindia.

Pantai pertama yang kami temui setelah Wediombo adalah Watu Limbung. Awalnya kami tidak tahu nama pantai yang memiliki karakter unik ini. Pantai ini dipenuhi dengan banyak sekali batu-batu, terdapat pula batu-batu yang nampak seperti batu kali dengan melihat dari bentuknya yang bulat-bulat, batu yang sama seperti berada di kali progo atau kalo Moyo. Di pantai ini memang terdapat sungai yang bernama Kali Pasewan, kemungkinan dari sungai inilah batu-batu tersebut terbawa hingga ke pantai. Tidak ada akses mudah menuju Watu Limbung, kami harus menuruni bukit yang sedikit curam untuk bisa sampai ke pantai ini

Watu Limbung, awalnya kami sempat bingung kenapa dinamakan seperti itu. Apa karena bukan pasir yang memenuhi sepanjang pantai itu. Ternyata awal mula Watu Limbung itu berasal dari dua bongkah batu yang cukup besar, dua batu itu menurut penduduk setempat mirip seperti tokoh Punakawan pewayangan yaitu Limbung dan Semar. Dua saudara yang memiliki perbedaan karakter.

Batu yang besar adalah Limbung dan batu kecil yang terletak lebih dekat dengan bibir pantai adalah Semar. Perbedaan penggambaran yang menarik menurut saya. Ketika sesuatu yang menjadi besar bisa menjadi Limbung dan Semar tetap menjadi kecil. Dalam cerita pewayangan kedua tokoh tersebut juga memiliki karakter yang unik. Semar yang yang dijadikan guru sekaligus pelindung pandawa hingga mereka bisa menemukan hakekat sejati kabajikan dan Limbung(Bilung) merupakan tokoh punakawan lainya yang kadang memihak musuh meski kadang menjadi bagian dari gerombolan punakawan. Disitu batu semar lebih dulu melindungi batu limbung dari ombak lembih dulu. Karena posisinya yang berada lebih dekat dengan bibir pantai.

Di pantai ini kami bertemu dengan beberapa nelayan yang sedang memancing lobster. I kg Lobster berharga sampai 350 ribu namun jika ada salah satu bagian tubuh lobster cacat seperti kakinya hilang satu, harga 1 kg lobster turun drastis menjadi 50 ribu. Harus sangat hati-hati sepertinya untuk dapat melindungi lobster tersebut agar tidak lepas kakinya.

Keluar dari Watu Limbung perjalanan kami berlanjut. Mengikuti jalan setapak yang kecil, semak belukar bahkan harus mencari jalan sendiri karena jalan yang biasa dilalui sudah hilang karena longsor. Untuk itu kami harus lebih berhati-hati, beberapa kali batu sebagai pijakan lepas. Tanah yang masih terasa labil karena longsor membuat tangan kami juga harus mencari tumpuan agar berat badan tidak terasa lebih berat. Melihat batu yang meluncur kebawah membuat nyiut nyali saya, kalau hanya jatuh beberapa meter sepertinya tidak ada apa-apa tapi dibawah kami adalah ombak yang besar dengan batuan karang hitam yang terlihat seperti siap menerkam apapun yang akan jatuh kebawahnya. Kalau sudah seperti itu saya hanya bisa mengeluh sendiri “untuk apa melakukan kegiatan seperti ini.” Sedangkan Yula terlihat santai saja dengan keaadan yang sebenarnya membahayakan; kok ada orang setenang dia ya? Tidak ada ekspresi selain seperti hanya gambaran wajah arca pada relief candi-candi yang terlihat selalu tenang.

Namun itu semua segera hilang setelah saya melewatinya dan berada di titik tertinggi perbukitan, sambil mengatur nafas yang masih terengah-engah melihat jalan menanjak yang membuat nafas 234 Semua kejadian seperti naik bukit, menuruni bukit menaiki tebing menuruninya dan mencapai titik tertinggi juga nafas yang terengah-engah, suara ombak dan juga tiupan angin yang kadang kencang seperti sebuah de-javu. Terulang-ulang sampai berapa perbukitan yang kami lewati berapa batu karang yang harus kami naiki dan yang pasti berapa keindahan yang tertangkap oleh rasa kami.

Kejernihan yang hanya nampak pada sebuah lukisan, saya kembali mengingat syair ini. Kalau melihat apa yang sedang saya pandangi saya merasa ragu dengan beberapa cerita yang pernah saya dengar bahwa Gunung Kidul merupakan daerah tandus dengan keterbatasan air. Apa yang membentang dihadapan saya seloah mengaburkan relaitas yang memang terjadi di beberapa daerah di Gunung Kidul.

Ada satu pemandangan yang sepertinya akan selalu tersimpan dengan jelas dalam ingatan saya. Sebuah jalan setapak kecil yang berada di tengah perbukitan yang dipenuhi dengan ilalang. Sungguh pemandangan yang nampak hanya seperti dalam sebuah film luar eh Denias juga berhasil membawa keindahan alam Papua kok. Bahkan orang harus tiarap sedikit agar orang yang berpapasan bisa lewat. Disamping bukit tersebut ada sebuah air terjun yang memiliki tinggi belasan meter. Inilah pemandangan Banyu Tibo (air jatuh). Sayang sekali kami tidak bisa turun kebawah menikmati air terjun itu. Jika ada yang pernah melihat air terjun surga dalam film animasi UP maka gambaran umum tentang sebuah bukit dengan air terjun ditambah pantai yang biru ada pada Banyu Tibo. Sepertinya penduduk setempat tidak terlalu memikirkan nama tempat yang begitu menawan ini.

Setelah selama 2 jam lebih melewati pinggiran Samudera Hindia yang terisi dengan ketegangan, kesenangan, keindahan kelelahan dan kesadaran penuh bahwa itu merupakan bagian kecil dari Nusantara yang benar-benar indah ini. Pantai Siung, kami akhirnya sampai juga di pantai yang cukup terkenal dikalangan pemanjat ini dan wisatawan umumnya. Disiung kami sempat menikmati segelas es teh. Berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya selain Wediombo. Pantai ini sudah dikelola dengan baik. Karena sepertinya orang sudah banyak mendengar tentang pantai Siung saya tidak akan menulis banyak tentang pantai ini. Kami hanya beristirahat sejenak meneguk segelas es teh, namun saya sempat berpikir, membayangkan kepada wisatawan yang sedang menikmati siung. Coba mereka bisa melihat pemandangan apa yang kami lihat sebelumnya, pemandangan pantai yang masih terlihat alami, semoga saja nanti ada akses mudah menuju kesana. Watu Limbung dengan keunikannya yang bisa menarik perhatian para pemanjat, Banyu Tibo yang mirip air terjun surga dalam film Up pasti akan menarik beberapa wisatawan dan penjelajah.

Tetapi jauh dalam pandangan saya agar pantai itu tetap seperti itu, tidak banyak pengunjung yang biasanya akan meninggalkan sampah dan coretan tidak penting. Tapi, sayang juga ada tempat seindah itu tidak bisa dinikmati.

Bersambung……..

.... sebuah jalinan antara ganasnya pantai dan penduduk setempat dalam rangkaian cerita.

Selasa, 12 Oktober 2010

Catatan Perjalanan dibalik Ganasnya Pantai Gunung Kidul #1: Gerbang kerjernihan itu bernama Wediombo

Gunung Kidul, salah satu daerah yang memiliki bentangan karst terbesar di Indonesia. Hasil pembentukan alam itu telah memberikan keindahan alam yang layak untuk dirasakan. Beragam bentuk keindahan ditawarkan oleh Kabupaten yang terletak disebelah timur Jogjakarta: Perbukitan karst yang kokoh menawan, wisata purbakala, wisata alam seperti gua dan juga pantai-pantainya yang memiliki karakteristik khas perbukitan karst.

Pantai-pantai Gunung Kidul yang menjadi tujuan saya dan teman saya Yula untuk melakukan perjalanan susur pantai ini. Kami menempuh waktu 2 hari satu malam bersama ganasnya ombak samudera hindia. Inilah sedikit catatan yang tertulis dalam menikmati keindahan dibalik ganasnya pantai selatan. Seperti seorang kawan telah memberi semangat bahwa hasil yang baik adalah hasil yang diperoleh dengan keberanian. Sedikit keberanian dan kenekatan inilah modal utama yang saya gunakan untuk melakukan perjalanan ini, selebihnya saya percaya dengan teman saya Yula yang sepertinya telah terbiasa dengan keaadan ini.

***

Sabtu, 9 Oktober 2010. Hujan lebat mengawali hari ketika matahari belum memberikan sinarnya. Waktu menunjukan pukul 5 pagi, hujan yang turun dipagi ini seperti memberikan satu firasat yang tidak baik akan cuaca hari ini. Namun, keadaan dengan cepat berubah. Hujan mulai mereda pada pukul 6. yang terlihat hanya renai gerimis pagi yang menimbulkan nuansa kehangatan di pagi itu.

Jalanan terlihat lebih bersih, air hujan telah menjadikan aspal hitam itu menjadi mengkilap. Beberapa pedagang makanan yang berada di ruko-ruko jokteng kulon masih terlihat mengenakan baju hangat mereka, ibu-ibu tua itu menikmati pagi itu bersama sopir bus yang ngetem didaerah itu. Lihatlah, gerimis pagi itu menyatukan beberapa orang dibawah atap ruko, mereka berlindung dari hujan. Anak sekolahan, buruh pabrik, bahkan becak yang terlihat merayu anak sekolahan untuk dijadikan calon penumpangnya. Mereka menyatu, berkumpul diantara gerimis pagi. Inilah salah satu hal yang saya suka dari hujan, hujan bisa menyatukan mereka pada sebuah kondisi meski kadang saya juga membenci hujan.

Sesuai janji, saya bertemu dengan Yula teman perjalanan yang akan bersama susur pantai Gunung Kidul. Kami bertemu di meeting point kami di terminal Giwangan. Tanpa menunggu lama kami langsung bergegas menuju bus kecil jurusan Jogja-Wonosari.

Bus kecil yang kami tumpangi cukup bersahabat, bersama seorang sopir yang ramah perjalanan yang ditempuh selama hampir 2 jam berjalan tanpa terasa. Di sepanjang jalan yang penuh tikungan dan tanjakan itu pak sopir yang tak saya tahu namanya itu memberikan beberapa informasi tentang daerahnya. Ongkos dari Jogja-Wonosari hanya Rp. 6.000 untuk satu orang.

Sampai di terminal Wonosari, kami mampir di angkringan untuk sekedar mengisi perut yang masih kosong sambil melengkapi perlengkapan yang akan dibawa selama perjalanan.

Kembali bus kecil akan kami tumpangi, bus kecil jurusan Wonosari – Jepitu. Tidak sulit menemukan bus kecil tersebut, hampir tiap 20 menit bus-bus kecil itu akan berangkat menuju Kecamatan Jepitu. Dalam perjalanan menuju Jepitu akan nampak bentangan perbukitan karst yang menjadi ciri khas daerah Gunung Kidul. Tidak terlihat tandus seperti dalam cerita yang sering didengar, yang nampak adalah gugusan bukit berbatu yang kadang seperti sebuah candi yang tertata rapi. Pemandangan bentangan gugusan karst tersebut bisa menjadi bonus tambahan, dengan ogkos Rp. 6.000 perjalanan dengan bus kecil itu menjadi lebih menyenangkan menuju Jepitu.

Sampai di tujuan kami langsung didatangi tukang ojeg yang telah menunggu di pertigaan Jepitu. Tanpa menawar kami langsung sepakat dengan harga yang mereka tawarkan, Rp. 5000 untuk satu orang menuju Pantai Wediombo. Dengan naik ojeg kami juga bisa lolos tanpa membayar biaya retribusi Rp. 2000 yang biasa ditarik kepada pengunjung Wediombo.

Sebuah cakrawala biru membentang, inilah pemandangan pertama. Dengan jelas nampak Samudera Hindia, bentangan garis lurus yang terhalang pohon itu sejenak menghilangkan lelah setelah selama 3 jam berada dalam bus. Pemandangan ini terlihat setelah saya melalui pos retribusi, dalam hati saya sempat berujar “senang bisa berjumpa kembali denganmu Wediombo.”

Pantai Wediombo merupakan pantai dengan pasir putih yang menarik. Sebagai slaah satu pembentukan pantai perbukitan karst dengan karakteristik pantainya yang berbeda dengan pantai-pantai di jogja, Wediombo menawarkan eksotisme keganasan pantai selatan dengan sendirinya.

Saya masih terduduk menikmati salam perjumpaan kembali dengan pantai ini, pemandangan pantai, gemuruh ombak serta awan yang berarak mengalihkan perhatian yang sebelumnya mengusik pikiran. Itu tentang kekalahan tim Garuda yang belum mengalahkan Uruguay, beberapa headlines di suratkabar yang membuat saya tidak menerimanya. Saya memang menerima kekalahan tim Garuda, tapi saya tidak menerima kepada semua surat kabar yang terlihat mengucilkan kekalahan tim Garuda. Seharusnya mereka terus mendukung bukan dengan menggunakan moment kekalahan tersebut melalui tulisan pada headline yang menambah kekalahan. Namun semua perhatianku tentang itu semu sudah teralihkan dengan Wediombo, sedikit juga membayangkan ratusan kilometer dari sini, Wasior, Papua semoga juga bisa merasakan ketenangan seperti yang saya rasakan waktu itu, banayk doa untuk saudaraku disana.

Wediombo dengan keunikannya selalu memberikan sesuatu yang tak perlu untuk dituliskan kembali. Datang dan rasakanlah setiap hempasan angin, dengarkanlah deburan ombak pada karang yang berdiri kokoh itu.

Setelah menikmati sejenak Wediombo, kami beristirahat di bawah pohon kelapa untuk segera memulai perjalanan yang akhirnya kami tahu bahwa perjalanan ini ternyata penuh dengan resiko. Beberapa kumang kecil terlihat berjalan dengan lambat, sepertinya bulan ini adalah musim kumang-kumang itu menetas diantara pasir putih Wediombo.

Bersama gemuruh ganasnya ombak samudera hindia yang akan menjadi teman selama perjalanan, kami akan memulai perjalanan susur pantai ini. Kami sadar bahwa kami telah sedikit keluar dari rutinitas keseharian kami, keluar dari zona kenyamanan hanya untuk mencari sebentuk keindahan dibalik keganasan Pantai Gunung Kidul. Pantai Wediombo menjadikan gerbang kejernihan yang gambaran jernihnya hanya bisa ditemukan pada lukisan.(kutipan syair “Bunga dan Burung” Tan Swie Han) yang akan mengawali perjalanan kali ini.

to be continue.......

Rabu, 06 Oktober 2010

Sebelum 1000 Burung Kertas

Sore menjelang malam. "Gimana? sudah siap untuk membuat sebuah harapan melalui kertas-kertas ini?" Suara seseorang dengan penuh semangat membuka obrolan diujung sore menjelang malam. "Dulu saya membuat 1000 burung kertas untuk seseorang yang selalu ada di doa-doaku, hampir selesai sebelum ada sesuatu yang harus menghentikan."

"Aku masih ingat." Lihatlah, pupil matanya bergerak menuju sudut kiri atas, terlihat sangat menawan perempuan didepan kami ini. Setelah berhenti sejenak ia melanjutkan kembali kisahnya. "Dulu ketika ayahku menceritakan cerita tentang Sadako yang malang, sebelum ia berhasil melipat kertas-kertas menjadi sebentuk burung kertas ia tertidur selamanya dalam impiannya untuk menyelesaikan 1000 burung kertas. Padahal waktu itu Sadako baru menyelesaikan 644 buah burung kertas. Setelah ia meninggal ternyata ada teman dan keluarganya membantu menyelesaikan 1000 burung kertas itu. Bukan burung kertasnya tapi aku melihat sebuah ikatan emosial yang tinggi dari budaya orang jepang itu. Sampai sekarang aku gak tahu apa sebenarnya yang diharapkan Sadako, harapannya dengan melipat 1000 burung kertas. Apakah agar tidak lagi ada anak-anak yang menderita seperti dirinya dulu ketika menjadi bagian dari tragedi bom atom Hiroshima."

Kami hanya duduk mendengarkan cerita dari teman telapak tangan kasar diantara dua beringin. Dia membawa seseorang itu berkumpul bersama kami, memberikan sebuah kenangan pada suatu sore. Kertas berwarna yang seharusnya sudah menjadi beberapa burung kertas masih terlihat rapi. Kami masih begitu memperhatikan setiap kata yang dikisahkan teman dari telapak tangan kasar diantara dua beringin.

1000 burung kertas, memang saya pernah mendengar cerita itu dari perempuan yang pasti sudah mengetahui cerita tentang Sadako, saya yakin itu. Sri, orang yang tidak suka mendengarkan orang berbicara tentang sebuah hal yang tak mungkin terjadi. Orang yang selalu memikirkan bahwa beratus-ratus, ribu kilometer dari sini kenapa masih ada peperangan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sri Bintang Delima, sebelum tidak ada yang berkata realitas itu belum selesai.

Saya tuliskan surat yang lalu tentang rencana membuat 1000 burung kertas, kukabarkan padamu nanti. Sudah banyak teman yang akan membantu, diantaranya orang yang ingin sekali bertemu denganmu. Bahkan temanmu memberi masukan yang sangat menarik tentang kultur Jawa, mungkin jika ada kamu kita akan sepakat bahwa ini bukan tentang suatu kultur jepang maupun jawa tetapi bagaimana kita mengapresiasi terhadap bentuk keindahan oleh ikatan emosional yang terbentuk dari 1000 burung kertas itu. Kita akan sepakat bahwa keindahan tak bisa dibatasi oleh sebuah kultur.

Salam damai dari Jogja.

Gugun
(merakit harapan bersama beberapa kawan disudut Nagan: Greg, Vani, Rizki, Dhea)


Senin, 04 Oktober 2010

Harmoni Dua Beringin

Ditemukan sebuah harmoni dipinggir jalan. Itu milik siapa tidak ada yang tahu. Harmoni itu tak berbentuk berwarna kuning kebahagiaan. jika saya mendekat harmoni itu memberikan keharuman kabut pagi Dieng. Pernah saya mau mencoba memegangnya, dia begitu keras seperti karang di pesisir Pacitan. Namun, seorang teman yang duduk memperhatikan tingkah saya dengan harmoni itu penasaran. Ia meniupnya, dan lihat tiba-tiba harmoni itu seperti kapas yang terhempas kena tiupan angin tepi pantai parang Ndog.

Harmoni memberikan citranya kepada seseorang dengan telapak tangan kasar diantara dua beringin alun-alun kidul. Dia sengaja datang diundang melalui penyatuan dua simphoni. Hasrat dan sayang, harmoni mengatakan 2 hal itu yang akan disatukan kepada seorang dengan telapak tangan kasar diantara dua beringin.

Temanku kembali meniup harmoni itu, kali ini dengan hasrat untuk memilikinya. Kembali harmoni berubah menjadi sekeras karang yang menjulang tinggi. Si telapak tangan kasar diantara dua beringin sudah hadir. Dengan kasihnya ia menyibak harmoni yang ada, bukan dengan hasrat matanya yang nampak kaku melihat keindahan harmoni itu. Harmoni itu begitu indah berada ditangan yang tepat. Semua orang tertuju pada telapak tangan kasar itu, ia memainkan harmoni itu dengan penuh keindahan. Terbentukalah sebuah Harmoni dijalan itu, seorang dengan telapak tangan kasar telah membuat harmoni diantara dua beringin menjadi lebih menarik.

Harmoni itu ada, masih tersimpan diantara dua beringin. Ia menjaganya dengan kasih, ia lupakan hasratnya. Sesekali saya masih bisa menikmati harmoni itu dari kejauhan, sungguh perpaduan yang menarik. Sri Bintang Delima, suatu waktu akan kuajak engkau menikmati harmoni itu. Akan kutunjukan sebuah harmoni dari telapak tangan kasar diantara dua beringin.

Senin, 27 September 2010

Sugesti minggu ini

Adventurous. The wonder of life fills me as i look to new horizons. Sugesti minggu ini yang bisa didapatkan dari sebuah kumpulan kartu yang katanya bisa menambah semangat dalam melakukan rutinitas. Kalimat itu memang bisa mewakili apa yang ingin dilakukan dalam minggu ini. Percaya atau tidak yang penting berpetualang kembali merupakan salah satu cara untuk melepas rutinitas yang belum jelas ini.

Keajaiban dalam kehidupan itu memenuhi ku. Jadi mari lakukan sesuatu yang baru, berharap keajaiban akan mengisi kehidupan ini. Kalau keajaiban tidak juga ditemukan, kita buat keajaiban sendiri.

Terimakasih buat seorang dengan telapak tangan kasar diantara dua beringin. Ya sudah, dia kembali lagi.

Kamis, 02 September 2010

Berteman dengan Mereka

Beberapa minggu ini ada dua orang perempuan yang selalu mengisi hari-hari saya. yang pertama mungkin sudah sangat dikenal oleh orang banyak bahkan namanya sudah sangat internasional, dialah penulis buku mega best seller Elizabeth Gilbert. yang kedua adalah Erni Dianita, siapa dia? saya mengenalnya ketika seorang teman saya menyalakan handphone dan memutar salah satu lagu lama yang ia nyanyikan. Ernin Dianita adalah seorang penyanyi dangdut.

Pertama saya ingin sekali bercerita tentang Elizabeth Gilbert ini, minggu ini adalah minggu panjang yang saya habiskan bersama dengannya,bersama dengan sebuah buku yang ia tulis, Eat, Pray, Love. buku itu menjadi teman yang sangat baik, menemani menunggu buka sampai mampu memberikan sebuah jawaban tentang sebuah pertanyaan yang lama sekali tersimpan.

Beberapa sengaja saya tulis kutipan darinya yang saya anggap mewakili kehidupan saya juga. Heran dia seorang wanita tetapi apa yang ia rasakan justru apa yang kebanyakan seorang pria ingin merasakannya. Kebebasan, ini dia. Liz merasakan apa yang selalu ia sebut dengan memaksimalkan kesenangan. Berharap bisa bertemu dengannya, berbincang tentang menikmati kesenangan, menikmati teh bersama, menghabiskan sebuah pizza bersamanya.

Perempuan kedua dia adalah Erni Dianita, dari pojok kamar hingga di pinggiran Ngarsopuo Solo saya sanggup untuk terus melihat goyangannya di youtube. Aneh memang untuk saya yang termasuk kurang suka dengan musik rockdut, sekaang malah terpesona gara-gara suara dari Erni Dianita. Untuk Erni saya masih belum punya data banyak tentang dirinya, semoga saja saya bisa bertemu dengan idola baru saya ini. Lagu Rela yang dulu dinyanyikan Inka Cristi ini yang membuat saya mengidoalaknnya, silahkan dicoba mang.

Rabu, 21 Juli 2010

Inception: Serangan Alam Bawah Sadar

Film ini berhasil mempermainkan pikiranku. Kalimat inilah yang pertama muncul ketika baru saja melihat film ini berganti latar hitam secara mendadak pertanda film telah berakhir. Saya bahkan atau kemungkinan semua orang dalam theater 2 kaget ketika tiba-tiba ternyata film ini sudah berakhir tanpa kepastian yang didapatkan.

Tidak hanya sampai disitu, seseorang dengan temannya mempeributkan mimpi siapa yang sebenarnya yang tadi ditonton. selebihnya ada seseorang yang berbicara dengan keras, bahwa saya harus menonton ulang film ini.

Inilah kejeniusan yang diciptakan kembali oleh Cristhoper Nolan. Ya diciptakan, sebuah kata yang pas menggambarkan masterpiecenya kembali setelah The Dark Khinght menurut saya. Inception merupakan film thriller yang mengharuskan setiap orang ketika menonton film ini meletakan handphone bahkan cemilan yang biasa dibawa saat menonton. Ketegangan yang dibalut dengan lambat akan membawa pengalaman ke dalam tingkatan dunia mimpi yang mencengangkan.

Apalagi jika anda memang penggemar karya dari Sutradara Batman ini. Selain Memento, Insomnia, The Prestige dan tentu saja Batman Seriesnya yang hampir memasuki seri ke tiga ini Nolan kembali memberi cerita original di Hollywood yang masih ramai diantara film-film adaptasi. Setelah berhasil mengemas Batman menjadi lebih gelap tapi menarik, karya-karya Nolan selalu ditunggu oleh penikmatnya termasuk saya sendiri.

Sedikit bocoran tentang film Inception: Bayangkan sebelumnya jika dunia mimpi itu sudah bisa dikendalikan oleh manusia. Kemauan orang akan menjadi kenyataan dalam realitas kenyataannya. Film ini langsung tertuju kepada beberapa orang yang sudah bisa menguasai mimpi orang lain untuk tujuan tertentu. Ada Dom Cobb yang diperankan selalu dengan menarik oleh pemain tingkat tinggi Leonardo Di Caprio, dia seorang yang sangat menguasai tekhnologi untuk pemimpi. Cobb merupakan seorang dengan kemampuan mencuri daerah bawah sadar seseorang yang menjadi targetnya. Dibantu oleh timnya Cobb berusaha menyelesaikan tugas terakhirnya yang menurutnya bisa membuat kehidupannya menjadi baik kembali setelah istrinya meninggal.

Ken Watanabe, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Cillian Murphy. Lihatlah itu nama-nama bintang yang ikut dalam ekspedisi mimpi Cobb. Tidak perlu diragukan lagi ketika saya mendengar artis-artis itu membintangi film Inception ini. Permainan akting mereka mampu memberikan kenangan tersendiri. Tom Hardy yang bisa memberikan ketegangan sedikit lunak dengan candaannya. Atau Ellen Page yang setelah bermain sebagai remaja hamil dalam Juno, kali ini bermain sebagai arsitek dunia mimpi. Apalagi untuk Leonardo danKen Watanabe tak perlu dibicarakan lagi kemampuan anak emas dan aktor jepang ini.

Dalam menyelesaikan tugas terakhirnya itu Cobb mendapat musuh yang tidak terduga, musuh itu merupakan istrinya sendiri yang tidak mau lepas dari dunia mimpi Cobb. Istrinya sendiri yang membuat berantakan misi terakhirnya, membuat berantakan tim yang ikut bertugas dengannya.

Sisi lain yang menarik selain science fiction film ini tentu saja drama yang terjadi di film ini. hubungan seorang ayah dan anak menjadi menarik ketika kepercayaan diantara mereka hilang. Cobb harus menghindar dari anaknya untuk menyelesaikan masalahnya, sedangkan Fisher yang menjadi target misi Cobb dalam dunia mimpi untuk mendapatkan informasi bawah sadarnya merupakan seseorang yang juga mengalami masalah kepercayaan dengan ayahnya.

Jika anda ingat film Matrix, sepertinya ingatan anda akan kembali dibawa oleh adegan yang berputar-putar. inilah salah satu adegan favorit saya ketika Arthur sedang berkelahi dengan seseorang di dalam sebuah hotel. Pantas saja majalah Rolling Stone berani menuliskan bahwa Inception merupakan kejeniusan penggabungan antara James Bond dan Matrix.

Tidak lupa kemegahan musik yang mengiringi film ini juga menjadi sesuatu yang menarik, setelah saya coba cek di Google ternyata yang membuat Sound semegah itu adalah Hans Zimmer, seseorang yang juga membuat ilustrasi untuk film-film besar seperti Gladiator, The Dark Knight, Pearl Harbour, the Last samurai, dan masih banyak lagi tidak cukup untuk menulisnya disini. yang jelas carilah kursi tengah yang nyaman untuk anda untuk bisa mendengar kemegahan alunan musik scoring dalam film tersebut.

Inception memberikan kenyataan bahwa mimpi membuat orang merasakan realitas dalam dunia bawah sadar itu lebih baik dalam dunia nyata. "Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up
that we realize something actually strange" inilah salah satu kutipan yang menarik dari film ini.

Akhirnya meskipun masih bengong juga setelah menyaksikan film Inception ini, semoga sedikit tulisan ini bisa memberikan review yang menarik untuk menonton Inception ini. Tetap perhatikan apakah kita sedang bermimpi melihat film mimpi, atau ikut bermimpi bersama Dom Cobb. Sambil menunggu Batman series ke-3nya yang sepertinya akan premier tahun depan sepertinya saya akan memasukan film ini menjadi film 2010 sampai ada film yang sanggup menandinginya di penutup tahun nanti.

Selamat menonton kawan.

Sabtu, 17 Juli 2010

Indonesia Kekinian dalam ART|JOG & Festival Gamelan Yogyakarta

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Taman Budaya Yogyakarta kali ini. Sebuah tentakel menjulur menggerogoti dinding Taman Budaya ini, didepannya terdapat pula pesawat tempur yang siap berperang. Jangan beranggapan bahwa Yogyakarta sedang diserang alien atau apapun. Mungkin anda akan terheran-heran melihat tampilan depan gedung Taman Budaya Yogyakarta. Semuanya menyala terang orange, ditambah mural yang dibuat dengan menawan oleh Eko Nugroho dengan kekhasan karyanya berupa tentakel-daging tumbuh yang melingkari sudut gedung itu. Apalagi didepan sebuah pesawat perang menunggu dengan ganas. Itu semua merupakan bagian dari acara Jogja Art Fair 2010.

Jogja art Fair tahun ini kembali hadir, dengan nama baru menjadi ART|JOG event ini kembali menghadirkan beragam karya seni rupa yang siap memberikan gambaran kondisi seni rupa Yogyakarta sekarang ini. Event yang sudah 3 kali terselenggara di Yogyakarta ini merupakan event tahunan perhelatan karya seni rupa Indonesia, meskipun diadakan di Jogja event ini tak lepas dari peran seniman peserta yang berasal dari kota-kota di Indonesia.

Indonesia Art Now, ini adalah tema yang digunakan dalam ART|JOG ini. dari informasi yang saya dapatkan, tema ini diambil untuk menajamkan pembacaan terhadap tanda-tanda didalam praktik seni rupa tanah air masa kini.

Dibagian depan ruang utama pameran kita sudah ditawarkan beragam merchandise yang merupakan project tersendiri dalam event ini. Merch I Project, merupakan gerakan seni rupa yang berawal dari kondisi seni rupa yang sering diposisikan sebagai bentuk oleh-oleh semata atau souvenir. melalui MerchIProject diharapkan karya seni rupa tidak hanya dipandang menjadi sebuah souvenir atau apapun bentuknya. Jadilah bagian dari karya adiluhung yang pernah diciptakan para seniman ini dengan memiliki karya cipta itu.

Beberapa acara yang menarik untuk diikuti antara lain adalah kunjungan ke studio seniman. Melihat ruang kerja seniman merupakan pengalaman menyenangkan tersendiri, melihat mereka berkreasi, cara menuangkan ide kedalam karyanya, bahkan tak segan seniman itu memberikan cerita-cerita pribadi tentang dirinya. Seniman yang studionya bisa dikunjungi adalah Djoko Pekik yang terkenal dengan "Celeng"nya, Nasirun seorang pelukis yang menanggap bahwa Indonesia merupakan tetesan dari surga yang bocor, Entang Wiharso seniman yang masih mempertanyakan identitas global, ikonografinya yang menjadikan karya-karya beliau. Serta Jumaldi Alfi seorang seniman yang bereksperimen tentang sebuah kemungkinan yang terus ada. Namun sayang, acara ini hanya untuk yang masih berlabel pelajar jadi untuk orang umum kemungkinan belum bisa mengikuti acara kunjungan ke studio seniman ini.

Namun, Tidak ada salahnya ART|JOG kali ini menjadi pilihan liburan akhir pekan kali ini. Acara ini akan berlangsung sejak tanggal 16 sampai 29 Juli. Menikmati Jogja dari sisi keseni-rupaan akan membawa anda ke dalam pengalaman visual yang lebih menarik tentang Jogja tentang Indonesia kekiniannya. Jadi jika anda ingin menyaksikan kondisi Indonesia dalam ruang lingkup seni rupa, tidak ada salahnya untuk mampir ke Taman Budaya Yogyakata melihat seniman kita menuangkan estetik keIndonesiannya serta pandangan-pandangan mereka tentang kondisi Indonesia kedalam seni rupa di ART|JOG ini.

Selain ada ART|JOG, Yogyakarta di bulan Juli juga memberikan sebuah acara menarik lainya. Ratusan penabuh gamelan yang berasal dari berbagai negara akan berkumpul juga dalam event international terbesar di Jogja di bulan Juli ini. Yogyakarta Gamelan Festival yang ke 15 kembali diadakan dengan mengusung tema "Gamelan Anytime".

Gamelan yang dalam perjalanannya selalu identik dengan nilai-nilai klasik mulai mencoba untuk menyatu dengan tradisi baru, kini mulai terbuka seiiring majunya perkembangan tekhnologi. modernisasi gamelan bisa kita saksikan di event yang menjadi daya tarik wisata Yogyakarta di bulan Juli ini, Trio Orchestra berhasil memberikan penampilan terbaiknya dangan kolaborasi musik etniknya pada penampilan pembuka malam 16 Juli 2010. Yogyakarta Gamelan Festival ini hanya akan berlangsung sampai tanggal 18 Juli.

2 event terbesar Yogyakarta menjadi satu di bulan Juli ini, Yogyakarta Gamelan Festival dan ART|JOG. Jadilah saksi harmonisasi nada gamelan yang disatukan oleh rasa adiluhung para pecinta gamelan dari penjuru dunia ini sambil menikmati cipta karya seni rupa seniman dalam ART|JOG.

Selamat berakhir pekan.

Minggu, 13 Juni 2010

Lebih Dekat dengan Soe Hok Gie.

Tidak pernah sebelumnya bisa berada ditempat ini, melihat tempat yang pernah menjadi persinggahan jasadmu. Diiringi sepasang kupu-kupu putih aku melihat prasasti itu, berharap ada ketenangan yang engkau rasakan disana. Soe Hok Gie, aku telah datang. Namun, belum semua janji ini terpenuhi hingga pada saat hari nanti aku bisa menemukan dirimu yang lain di lembah kasih Mandalawangi.

Minggu pagi saya telah bersiap untuk bisa mengunjungi salah satu tempat yang harus dikunjungi selama di jakarta ini. Tempat pertama kali seseorang yang selama ini memberikan jawaban yang selama ini masih saya cari di semayamkan sebelum akhirnya dibongkar kembali karena penggusuran. Apakah harus setragis itu dia merasakan kegelisahan hingga tempat jasadnya pun harus berpindah. Namun karena penggusuran pada tahun 1971, menjadikan salah satu keinginan Soe Hok Gie terwujud, menyatu dengan bukit Mandalawangi. Mandalawangi merupakan salah satu lembah yang berada di gunung pangrango, Pangrango menjadi salah satu gunung favoritnya untuk melepas kepenatan yang ada di jakarta. Bersama teman-temannya ia sering berada di lembah Kasih begitu Soe menyebutnya disalah satu puisinya tentang Mandalawangi yang juga menjadi salah satu puisi Scoring film Gie karya Riri Riza.

Nisan Soe Hok Gie berada di dalam komplek museum Taman Prasasti yang ada di jalan Tanah Abang I. Tidak sulit untuk menemukan tempat bersejarah di abad 17-20 itu. Saya menuju tempat itu menggunakan transportasi Busway dan turun di halte Museum Nasional, dari museum nasional saya berjalan kaki ke utara dengan jarak kurang dari 2 km. Memang sangat melelahkan tapi patut dicoba, karena daerah tersebut begitu rindang. Ojek juga menjadi pilihan alternatif dari halte Museum Nasional untuk menuju Museum Taman Prasasti itu.

Didepan kita sudah disambut oleh beberapa tiga buah prasasti yang abstrak menurut saya ini karena saya memang tidak memahami prasasti itu, dan dua buah meriam yang didalamnya berisi sampah yang berasal dari orang kurang kerjaan. Tiket masuk ke dalam Taman Prasasti cukup murah. Dengan harga Rp. 2000, kita bisa menyaksikan prasasti yang berasal dari abad 16. Kebanyakan saya perhatikan merupakan Prasasti yang di buat oleh Belanda. Memasuki Taman pilar-pilar berjejer dengan rapi, kita seperti langsung dibawa ke abad 16 saat itu.

Inilah salah satu lintasan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia ini. Namun sayang, tidak berbeda dengan beberapa tempat vital yang ada di negeri indah ini. Tempat sejarah inipun tak luput dari tangan jahil Vandalisme. Lihatlah betapa karya monumental yang sangat berharga itu menjadi tampak seperti patung jalanan yang sering ditemui di pinggiran jalan. Ah, sudahlah untuk hal itu saya tidak mau berkomentar apalagi tidak jauh dari tempat berdiri saat itu juga terdapat beberapa kelompok orang yang dengan sengaja membuang sampah dengan sembarangan. Ditempat ini juga terdapat dua peti jenasah sang proklamator kita, sayang saya tidak sempat melihatnya langsung.

Museum Taman prasasti bisa menjadi pilihan diwaktu luang untuk menikmati kicauan burung dan rindangnya tumbuhan yang berada disitu, saking rindangnya tidak salah kalo membawa lotion anti nyamuk, karena banyak sekali nyamuk disini.

Memang dari awal tujuan saya adalah untuk mencari nisan prasasti Soe Hok Gie yang pernah di semayamkan disitu. Setelah hampir 30 menit mencari-cari akhirnya sayapun menemukannya. Lihatlah ia begitu sendirian ditemani daun-daun kering yang jatuh. Saya jadi teringat betapa Soe Hok Gie pernah menulis hanya di terangi lampu kecil dan banyak nyamuk mengganggunya, namun ia tak pernah keberatan dengan keaadan itu. Ditempat itupun nyamuk begitu banyak karena memang Taman Prasasti ini banyak sekali tumbuh-tumbuhan. Dan tempat itu tidak terawat, mungkin jika masih ada yang menyampaikan pesanmu sepertinya kamu juga tidak perlu sebuah prasasti untuk mengenalmu dengan indah dan mewah.

Saya duduk sambil memandangi Prasasti nisan itu, beberapa batang rokok saya habiskan hanya untuk mencoba lebih mengenal anak-muda yang selalu memberi inspirasi ini. Aku sedikit membayangkan bagaimana anak muda sepertinya yang mampu berteriak lantang dengan segala tindakannya menentang ketidak adilan, meski seringnya ia sendiri yang merasakan ketidak adilan.

Soe Hok Gie hari ini saya datang ke tempatmu, besok saya akan mengunjungi salah satu sahabat baikmu yang masih menyimpan beberapa puisimu. Kemudian saya juga akan mengunjungi tempat di mana abu kremasi jasadmu ditaburkan, di Mandalawangi saya akan coba lebih mengenalmu di antara bunga-bunga Edelweis di Pangrango. Sudah sangat dekat kaki ini melangkah karena semagatmu. Seperti katamu "Dunia itu seluas langkah kaki.. Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah, hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya." ijinkan saya untuk lebih dekat denganmu. semangatmu, dan mimpimu.








Senin, 07 Juni 2010

From Bandung with Realitas

Jalan-jalan ke Bandung, mau apa, kemana tak ada siapa? Sampai akhirnya kupencet nomer yang sudah terlalu lama tersimpan di Phones book tapi belum pernah dihubungi. "Saya ke Bandung hari ini mas." tanpa persiapan hanya ada waktu, tenaga dan sedikit uang saya meluncur sendiri dari Cawang menuju Kota Kembang. Ini hanya sepenggal catatan kecil jalan-jalan tanpa tujuan, tidak ketempat wisata yang enak-enak dan memanjakan mata dan imajinasi, melainkan ke tempat yang ternyata mampu membuka kacamata realitas dari Bandung. inilah sepenggal cerita dari bandung dengan realitasnya.

Berbekal informasi dari teman-teman. Luqman dan Fery, Prima Jasa menjadi pilihan bus yang akan membawaku ke Bandung melalui tol Cileunyi. Jarak Cawang menuju pull Prima jasa harusnya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit namun karena kesalahan naik angkot di halte Cawang, perjalanan memakan waktuhampir 2 jam, untungnya saya masih saja menikmati Jakarta meskipun macet. Area nyasar bisa digunakan untuk menghapal Jalan di Jakarta ini, jadi ingat ungkapan paman saya, kalo gak nyasar gak bakal tahu arah yang bener.

Di Prima jasa tanpa menunggu lama, saya langsung naik bus AC ekonomi dengan harga 26.000. Saya rekomendasikan bis Prima Jasa ini, pengalaman pertama bisa membuktikan kepuasan konsumennya. Dalam bus saya bertemu dengan bapak-bapak yang ternyata memiliki hobby jalan-jalan, Australia sudah diuat khatam olehnya. Pesen darinya "mumupung masih muda nikmati saja mas, kalo sudah punya prioritas gak bisa kemana-mana, karena keterbatasan waktu."

Dari tol ciluenyi saya turun di jalan Mohamad Thoha, kita tinggal ngomong saja ke Kondektur mau turun dimana. Kalo saya dan semoga temen-temen yang lain mau ngikuti, ternyata turun di jalan Moh Toha lebih deket rutenya menuju Bandung Kota, tidak ribet naik angkotnya. cukup satu kali naik angkot bisa langsung turun di Tegalega.

Setelah dari Tegalega, kemudian nyari angkot menuju ke jalan Ahmad Yani di tempat meeting Point Sanggar Story Lab Bandung. Setelah hampir berputar-putar dengan ankutan kota selama satu setengah jam akhirnya sampai juga di Jalan Mangga dimana StoryLab bermarkas.

Akhirnya Ketemu juga dengan idola saya di blog kompasiana yang ternyata sedang absen sampai saat ini. di Mas Nur ku temukan obrolan bertajuk ralitas, he's the one film maker in kompasiana. Entah beberapa kali saya membatalkan janji bisa bertemu dengannya, berbicara sambil ngopi. Dan akhirnya terwujud juga perbincangan malam itu, kopi malam itu, curcol malam itu, serta kekonyolan malam itu di Malam Minggu Story Lab.

Satu cangkir kopi dan berbatang-batang rokok telah menemani kami dan seisi Story Lab, juga yumie yang asin tapi enak. Sebuah realitas dari keaadan terbentuk di malam itu meski kecil tapi itu merupakan realitas yang sudah terbentuk dan akan terbentuk menjadi lebih baik lagi. Terimakasih buat teman-teman Story Lab, apapun yang ada di Mas Nur akan saya tunggu.

***

Bandung, malam itu sudah semakin dingin. Ini malam Minggu di Bandung, di setiap perempatan Dago banyak sekali penjual bunga dan pengamen yang berkelompok. Ini yang membedakan Bandung dengan kota lainnya, Kota Kembang, pantesan ada saja penjual bunga di sudt-sudut jalan. Disetiap sudut jalan beberapa warung hampir semuanya sudah dipenuhi oleh muda-mudi Bandung. Saya merasakan baju yang dikenakan sudah tidak bisa memberikan kehangatan tapi cerita dari Bandung ini membuat saya bisa merasakan kehangatan lain yang bisa saya rasakan dan sanggup menghilangkan rasa dingin itu.

"Kita berhenti disini saja, sepertinya menarik disini." Cikapayang, Dago 5 Juni 2010 pukul 11.00 pm. Saya dengan barudak Bandung Ipey Geboy Kasep menikmati salah satu sudut ramai di Bandung. Ipey datang setelah menjemput di markas Story Lab, dengan motor Mionya saya diajak muterin kota kembang ini. lagi-lagi hawa dingin yang terasa bisa dikalahkan oleh keterpesonaan pandangan di setiap jalan di Bandung. Setelah berputar-putar tanpa tujuan, di persimpangan Cikapayang ini akhirnya kami menikmati malam di Bandung di temani sedikit sisa minuman kalengan bergambar bintang merah.

Beberapa kali pemandangan seperti film gangster terekam dalam pandangan saya, anak-anak yang mengaku punk mereka berlarian menghhindari kejaran Polisi. Di depan karya Instalasi typographi D.A.G.O rombongan anak-anak yang bermain skater dan BMX tak peduli dengan adegan kejar-kejaran itu, begitu juga beberapa orang di tempat itu dan saya yang hanya tersenyum menyaksikan itu semua.

Klimaks dari kejadian gangster malam itu adalah ketika ada rombongan pengendara motor yang membuat ribut di tengah persimpangan jalan Cikapayang, sebuah samurai terlihat dengan jelas berayun-ayun menunjukan keberanian yang salah tempat. Sungguh pemandangan yang biasanya hanya saya saksikan di film. Ternyata berita tentang Gang motor itu memang benar adanya, tapi sepertinya saya menganggap itu hanya beberapa orang saja. Seperti perkumpulan motor di depan kami yang terlihat rukun duduk sambil bersenda gurau, bahkan mereka memberikan tempat kepada rombongan tour yang akan berfoto di area Cikapayang. Dan lagi-lagi orang disekitar Cikapayang menganggap kejadian itu sudah biasa terjadi di Bandung, wow apa yang sedang terjadi sebenarnya, orang bermain sammurai kok biasa.

Setelah adegan gangster tersebut kami memutuskan untuk berpindah lokasi menikmati Bandung. sekre Mapala Universitas Islam Nusantara menjadi pilihan malam itu oleh Ipey. Giriraya, sebuah komunitas Pecinta Alam Uninus memberikan banyak cerita dan kawan-kawan baru. Kehangatan terjalin saat itu hingga tidak terasa Pagi menyadarkan bahwa saat itu saya berada di Bandung.

***

Dingin benar-benar sangat terasa di pertigaan Cianjur menuju Cipanas, "ini artinya kita sudah deket dengan Puncak." wow tidak sabar juga bisa menikmati dinginnya puncak Cipanas. Dalam perjalanan saya sedikit mendapat hiburan yang menyenangkan selain gerimis yang menemani dari Bandung-Cimahi hingga Cianjur, tak henti-hentinya gerimis menyiram aspal yang sudah basah sedari sore. Hiburan menyenangkan lainnya adalah ketika berada di Pinggiran kota Cianjur. Sebuah neon box dari jarum super itu ternyata bisa membuat saya tertawa sendiri melihat model-model dalam iklan tersebut. Djarum super versi World Cup 2010 menampilkan model berupa binatang khas Africa Selatan, namun yang sanggup menarik perhatian adalah pas bagian burung onta. Mungkin bagi temen-temen yang sudah menyaksikan film Prince of Persia akan mengalamin nasib yang sama denganku. tertawa melihat adegan burung Unta sedang beradu cepat dengan jokinya yang lucu.

Pasti semua akan tertawa ketika scene dimana pangeran Dastan dan Putri Tamina terjebak disituasi yang sangat konyol di daerah hitam perbudakan. Dari situlah saya baru tahu bahwa ternyata ada balapan burung unta. Lucu, konyol dan terlihat kasihan juga melihat ekspresi burung terbesar didunia ini. Setelah mendapat adegan balap burung itu akhirnya penasaran saya terbayar setelah membaca beberapa artikel mengenai keunikan burung unta di beberapa situs.

Puncak semakin dekat, dingin juga semakin terasa. Motor hanya bisa bertahan 40 km/jam dibeberapa tanjakan. Jalan yang terlihat licin juga membuat Ipey melambatkan laju Mionya. Ini pengalaman pertama saya di Cipanas, melihat perempuan-perempuan cantik di setiap warung. Wah ada yang mirip Song Hye Kyou bahkan sejenak ada juga yang mirip Suzan Cofeey. Kalo duit kita banyak baru kita mampir kesana.... hahaha obrolan konyol diatas Mio yang kedinginan. Di Warung depan parkiran masjid besar akhirnya saya, Fery dan Bebi(tambahan teman perjalanan) mampir sejenak menikmati dinginnya Cipanas. saya pernah bilang bahwa ingin sekali menikmati jagung di CIpanas, ternyata sama saja. Hanya teringat kaliurang yang sudah lagi tidak dingin.

Jakarta we're coming. Setelah dua hari ini menikmati hari bebas dengan berjalan-jalan di Bandung. Bertemu Rindu dengan realitas yang sejenak terbuka. Terimakash buat mas Nuraziz, saya selalu menunggu saat itu. Bertemu dengan temen-temen Mapala Giriraya Uninus, semoga camping di Kepulauan Serbu terlaksana kawan, Salam Lestari buat semua. Serta menikmati dingin Cipanas bersama teman. Dan segala apa yang sempat dan telah terekam di setiap pandangan sudut kota Bandung dan Cipanas.

Kita bisa menikmati apabila kita tahu dimana kita berdiri saat itu dan percayalah bahwa tidak ada tempat yang membuat kita merasa tidak nyaman.Tetap melangkahkan kaki untuk menikmati Nusantara yang katanya indah ini, lakukanlah meski itu hanya sedekat jangkauanmu hingga kita benar-benar merasakannya. From Bandung with Realitas.

Gugun 7
Djakarta. 070610
masih di Pinggir Rel Cawang
dikancani lagune Mocca - Do What You Wanna Do.

***

Rabu, 02 Juni 2010

Pakaian(template) Baru buat Episodetu7uh

Ini menjadi seperti buku kedua. didalamnya berisi pemikiran yang kadang telalu aneh untuk ditulis pada sebuah buku. Beberapa orang pernah mengatakan "keabsurdanmu tidak terdapat disini, tapi itu bisa dirasakan." Setelah selama lebih dari 3 tahun akhirnya rumah kecil ini berganti pakaian.

Masih ingat ketika pertama kali bermain dengan yang namannya blogger. Dari sekedar karena ketertarikanku dengan menulis film hingga menulis catatan harian meski ditulis bulanan, blog ini ternyata menjadi teman setia yang mau menjadi temat berkeluh kesah. Beragam tulisan yang kalo dibaca bisa membuat sedikit tersenyum dan juga sampai berpikir "ternyata saya pernah nulis ini ya?" meski tidak sebagus tulisan idola saya, yang penting itu bisa membuat sedikit kebanggaan karena ternyata pemikiran saya dan penulis idola saya itu hampir mirip meski hanya 7%.

Beberapa kali mencoba berargumen, tapi lebih sering menulis dengan rasa aman. Tidak perlu memberikan tanggapan atau argumentasi yang penting tulisannya bisa dibaca dan tidak membuat orang kecewa.

Dari blog ini juga saya bisa mendapatkan teman yang lebih banyak, dari sekedar chating kemudian kopdar. Sempat beberapa kali mendapat tawaran untuk iklan, bisnis online, nitip gambar (sebelumnya bangga juga ketika ada orang yang menawarkan itu), eh ternyata niat saya buat ngeblog tidak hanya untuk bisnis. ya meski beberapa kali mendapat job yang lumayan gede karena ada orang yang mampir dan melihat beberapa portfolio Grafis maupun fotografi yang pernah saya tampilkan.

Sekarang pakaianmu sudah baru, meski tidak banyak yang di ganti. banner atas masih saja foto di pantai Depok. sedangkan warna kesukaanmu orange sedikit saya kurangi, tapi tidak apa semoga oang tetep suka dengan warna baju barumu ini. Link temen-temenmu masih aku pasang, dari pertama kali kita ngeblog bersama. kamu ingat dengan Mbak Ratih, dia ini kawan pertama kita. Dia guru bahasa inggis sepertinya, masih ingat juga gak bahwa dia adalah oang yang diajak curcol ketika sepatu baru saya dicolong didepan kost dulu. Semoga saja sampai sekarang mbak Ratih masih ingat.

Sepertinya tidak usah terlalu membanggakan wajah barumu ini ya, tetep katamu bahwa kita tidak boleh sombong, nanti ada waktunya kok. Oke my episodetu7uh mari kita lanjutkan petualangan kita, saya sudah siapkan beberapa kantong baju untuk rencana kita melintasi nusantara dengan jalan-jalan ke pantai, gunung, melihat seni budaya, bahkan jalan-jalan tanpa arah. saya juga menyiapkan kantong untuk beberapa lagu yang sering kita dengarkan. dan yang masih tetep kita juga akan tetep nonton film-film yang bermutu. Masih banyak kok kantong yang lain, semoga saja itu sanggup menampung semuanya.

Terimakasih buat semua temen-temen blogger. terutama buat yang punya template ini, Mr. Ipietoon. Thanks for your template, it's very amazing for me. Dan tetep Mr. Dodi Sunardi yang lebih mengenalkan tentang jurnalisme online.

Oke teman mari kita ngeBlog, karena ngeblog itu menyenangkan menegangkan, menyedihkan dan mengispirasikan. Tetap kabarkan Nusantara yang katanya indah ini melalui blog hingga kita dan yang lain bisa benar-benar merasakan keindahannya.

Salam.

Jumat, 28 Mei 2010

Baron Undercover

Hanya ingin berbagi tentang obrolan di malam hari mengenai sebuah perjalanan untuk liburan panjang pekan ini. Pantai Baron mungkin temen-temen sudah banyak mengetahui tentang salah satu pantai di jogja ini. Namun ternyata tidak banyak orang yang menikmati dengan klimakas apa yang telah ditawarkan Baron, hingga obrolan malam itu kami sebut Baron Undercover karena banyak diantara temanku yang belum tahu enaknya Baron selain mandi di sungai Baron, menikmati aktifitas nelayan di pantai tersebut dan mencari ikan segar untuk di panggang ramai-ramai.

"Kok kamu dapat foto itu." itu pertanyaan dari seorang kawan hingga akhirnya saya mendapat motivasi untuk menuliskan tentang keberadaan foto perjalanan itu. Sebenarnya gambar itu saya ambil pada tahun 2009, tepatnya dari atas bukit kapur sisi kiri Pantai Baron Yogyakarta.

"Memangnya ada jalan menuju tempat itu, kok saya tidak tahu." Kemungkinan karena waktu itu teman saya pas datang ke Pantai baron dalam kondisi pantai yang rame pas liburan, jadi bisa dipastikan akses jalan pun tertutup oleh banyaknya pengunjung yang datang menikmati salah satu wisata pantai di Gunung Kidul itu. Jalan kecil menuju bukit kapur sisi kiri terdapat dua buah, ada yang setengah curam dan ada yang sangat curam. yang pertama saya sarankan untuk menjadi pilihan. Dengan memasukan 1000 rupiah kedalam kotak amal (jangan terlalu pelit jadi orang, bayangkan penduduk setempat membuat jalan tidak dengan mudah lho, apalagi batu kapur disitu sangat keras) kita bisa menuju ke bukit kapur yang menjorok ke lautan tersebut.

jalanan curam yang bisa menguras energi, tapi percaya saja kita akan bertemu dengan jerih payah kita nantinya.

"Waktu itu sendirian, gak ada orang disitu." Tenang saja kawan, ada nikmatnya sendirian ada kurang enaknya berpetualang sendirian. Di atas bukit tersebut juga terdapat beberapa pedagang, terus pas disisi ujung dinas parwisata juga sudah membuat sebuah Gazebo kecil yang sekarang usdah penuh dengan coretan. Oh ya jika pas beruntung kita juga bisa melihat penduduk setempat yang sedang memasang perangkat untuk burung atau kelelawar(yang ini patut dipertanyakan).
Menuju Gazebo diatas bukit Baron

"Ternyata memang benar, keindahan pantai Gunung Kidul bisa dinikmati dari atas sini." Dari atas kita bisa melihat beberapa pantai favorit yang terdapat di Gunung Kidul. Pantai terdekat tentu saja dengan sangat jelas kita bisa melihat pantai Kukup yang memiliki Tanah Lotnya sendiri.

Pemandangan pantai yang ada disisi Baron, Pantai Kukup dengan Tanah Lotnya terlihat dengan jelas

Jangan lupa membawa oleh-oleh. Saya berani bilang diantara penjual buah Sirkaya yang ada di sepanjang pantai di Gunung Kidul, di baron yang paling komplit. dari yang masih benih, belum matang dan hampir busuk. Lebih baik jika kita membeli Buah Sirkaya yang setengah matang. Dan kalo mau langsung di makan cari yang buahnya matang di Pohon itu sangat enak.

Penjual Sirkaya paling banyak terdapat di Baron dibanding pantai lainnya
yang mentah lupa di foto jadi saya hidangkan yang sudah mateng saja ya.

Jika ada yang sudah sering ke jogja dan hanya menikmati wisatanya yang selalu itu-itu saja, tidak ada salahnya bermain ke timur Yogyakarta untuk menikmati wisata pantai yang ditawarkan di Gunung Kidul. Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 20 km arah selatan kota Wonosari (40 km dari kota Yogyakarta) tidak sampai 1 jam untuk mencapai Pantai di Gunung Kidul. Apalagi kita tidak hanya akan menikmati satu pantai saja, Gunung Kidul menawarkan 7 pantai langsung dalam sekali perjalanan. Pantai baron menjadi pantai pembuka diantara 7 pantai yang lain, Pantai Kukup, Sepanjang, Drini,Sundak,Krakal dan yang agak jauhan dikit adalah Pantai Siung. Pantai-pantai tersebut sebenarnya terlalu singkat jika hanya dinikmati dalam satu hari, satu hari terasa kurang jika ingin exlpore pantai-pantai itu.

beragam pemandangan yang bisa menarik mata untuk melihatnya.

Last but not least, akhirnya teman saya itu berencana pergi ke Baron dan ke 6 pantai lainya, apalagi dia juga akan menuju ke Ngrenehan dan Ngobaran yang belum sempet saya singgahi. Sepertinya balas dendam sudah menunggu.

Salam
.
Gugun
Djakarta, 28 Mei 2010 pinggir rel Cawang.
Dikancani lagune Crisye - Negriku
“Capailah angan dengan segenap rasa….”

“Selamat berakhir pekan.”


Google+ Badge