Kamis, 25 Desember 2008

Lomba Menulis "There are a lot of amazing moms"

PROLOG

Adalah lambang kelembutan, cinta dan kasih sayang. Betapa nyaman dan tentram saat berada dekat dengan sosok mulia ini. Ketika terbelenggu dalam kerasnya hari, ketika penat penyelimuti, ketika tak ada lagi tempat berbagi, tanpa pamrih ibu menawarkan ribuan kasih. Ia adalah gambaran nyata atas rahmat dan kasih sayangNya kepada kita semua.

Tuhan memang adil, Dia menitipkan rahim pada semua wanita terlepas itu akan terisi atau tidak, wanita dengan atau tanpa menjadi ibu pun, pada dasarnya memiliki rasa mengasihi, melindungi, mencintai. Itu sebabnya kita sering menambahkan kata "ibu" pada setiap orang yang memang layak dipanggil ibu, seperti: ibu mertua, ibu kos, ibu guru, ibu dosen, ibu kepala sekolah, ibu direktur, tak terkecuali ibu tiri.

Untuk menghargai peran para ibu, kali ini sekolah kehidupan akan mengadakan lomba yang bertajuk "There are a lot of amazing moms". sebuah lomba menulis dalam bentuk essay tentang peran ibu yang bukan ibu kandung.

PERSYARATAN LOMBA

1. Peserta dari semua kalangan dan sudah terdaftar di milis http://groups.yahoo.com/group/sekolah-kehidupan/
2. Isi naskah sesuai dengan tema "The Amazing Moms" namun bukan dalam artian ibu kandung, melainkan ibu-ibu non biologis yang sering kita jumpai.
3. Tulisan berjumlah 6-10 halaman, kertas kwarto (A4), Font Times New Roman 12, Spasi 2.
4. Peserta boleh mengirimkan maksimal 2 (dua) naskah.
5. Peserta lomba menyertakan identitas penulis: nama, alamat, email, dan nomor telp/hp yang dapat dihubungi.
6. Naskah dikirimkan ke antologi.penerbitan@gmail.com dengan menuliskan label [Moms], misalnya: [Moms] Bu Mus Inspirasiku, pada subject email.
7. Naskah yang masuk menjadi hak panitia. Jika naskah diterbitkan, maka setiap penulis yang naskahnya masuk akan mendapatkan satu bukti terbit. Royalti dan honor yang didapatkan dari penerbitan buku tersebut menjadi hak milik Komunitas Sekolah-Kehidupan.com dan akan digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan Komunitas Sekolah-Kehidupan.com.
8. Juri dalam lomba ini adalah:

* Kurnia Efendi
* Rini Nurul Badariah
* Lia Octavia


BATAS PENGIRIMAN NASKAH
Naskah dapat dikirimkan mulai tanggal 20 Desember 2008 sampai dengan
tanggal 20 Februari 2009.

PENGUMUMAN PEMENANG
Pemenang lomba menulis "The Amazing Moms" akan diumumkan pada tanggal 15 Maret 2009.

HADIAH BAGI PARA PEMENANG
Pemenang I: Rp. 300.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket sponsor
Pemenang II: Rp 200.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket sponsor
Pemenang III: Rp 100.000,- + sertifikat + buku "Menggenggam Cahaya" + paket sponsor
3 Pemenang Harapan : sertifikat + paket sponsor

INFO LENGKAP HUBUNGI :
Tya --> listyarisanti@
Endah -->endah.wida@

Departemen Penerbitan dan Kepustakaan Sekolah Kehidupan
Novi Khansa - Ukhti Hazimah - Hamasah Putri - Artarisa

Sabtu, 29 November 2008

Membaca Mimpi-mimpi Laskar Pelangi

Akhirnya bisa kesampaian juga mendapatkan novel terakhir Laskar Pelangi ini, Mimpi-mimpi Lintang, Maryamah Karpov. Walau cuma baru bisa baca beberapa mosaik yang ada namun sudah cukup terbayarkan penantian terhadap novel penuh inspirasi ini.

Pada mosaik Andrea Hirata awal buku kita bisa terbawa bagaimana ketika ikal bersembunyi didalam sebuah peti ikan dalam Sang Pemimpi. Kita bisa ditemukan lagi dengan teman kuliah Ikal di Sorbone yang pernah berkompetisi around europe n africa. tanpa setting waktu dan suasana kita terbawa dalam kesedihan ayah ikal yang tidak dapat dalam daftar urutan mandor meskapai timah lalu balik lagi ikal besar yang sedang menghadapi profesor Sorbone yang membuat merah muka teman kuliahnya.

Wah baru sampai segitu sudah sangat penasaran bagaimana nasib lintang dan yang lain. besok mau beli lagi buat my sister yang sudah dua tahun tidak ketemu. Oh ya di Toko buku saya beli bersama seorang pembantu bapak2 umurnya sudah tua banget, kayaknya bapak itu disuruh sama sang majikannya untuk beli Maryamah Karpov dengan ejaannya yang bikin saya tertawa sendiri. Doa saya menyertaimu Bapak yang saya tidak kenal di toko buku itu.

Jumat, 28 November 2008

Maryamah Karpov Has Been Published

Jika aku dulu tak menegakkan sumpah sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai maghrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib pada ayahku dan pada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku, saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pembarani.

Ini adalah penggalan dari novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi yang paling ditunggu-tunggu. Setelah ditunggu lama, Andrea Hirata akhirnya bisa menerbitkan novel terakhirnya dari Tetralogi Laskar Pelangi. Novel setebal 520 halaman ini diluncurkan hari ini tanggal 28 november 2008, pukul 19.00 WIB di mp book point, jl. puri mutiara raya no. 72, jeruk purut, jakarta selatan.

Setelah mencoba muter2 nyari info, pertama nyoba telp ke penerbitnya dari Bentang Pustaka di 0274-517373 eh yang nerima orangnya bersahabat banget dan ngasih tahu infonya dengan sangat rapi. Dari Bentang Pustaka dikasih beberapa no telp yang lain, setelah dicoba yang bisa diangkat cuma dari Toko buku Diskon Toga Mas 0274-7470446 diberitahu katanya besok siang buku sudah siap dengan harga Rp. 70.000 kalo gak salah dengar tadi. Gak usah kuatir karena stok datang banyak kata perempuan ditelp.

Akhirnya besok semua Toko buku akan ramai, dan saya siap menyisihkan duit buat penjual kue yang di bantu Ikal dan Arai ini.

Rabu, 19 November 2008

Indonesia Tembus Hollywood


Gila ternyata seramai-ramainya film-film yang ada sekarang ini, ada kabar yang melebihi keramaian film dalam negeri. buka milis eh ada kabar menyenangkan. ternyata ada salah satu putra bangsa "nasionalisme banget" yang telah memproduksi film The Chaterbox, Hollywood bro. nih berita selengkapnya yang seperti biasa saya kutip dari milis Naratama.

Salam teman2 semua,

Saya ingin berbagi kebahagiaan dengan berita yang membanggakan dari
Jane Lawalatta yang merupakan warga negara Indonesia dan juga
lulusan Fakultas Film & Televisi IKJ (Institut Kesenian Jakarta).
Jane Lawalatta yang tinggal di Los Angeles, telah berhasil menembus
industri film Hollywood dengan menyutradarai dan menulis skenario
untuk Filmnya yang berjudul "The Chaterbox". Film yang mengambil
lokasi syuting di sudut2 indah SMU (High School) kota Pensacola,
Florida ini bercerita tentang lika-liku perjuangan Chelsea Ryan
(dimainkan oleh Brianna Joy Chomer) untuk memenangkan National
Chatterbox Competition di Washington DC . Karya feature film
bergenre Drama Chicklits ini diproduksi selama sekitar 3 minggu
dengan didukung semua kru mulai dari Produser, Penata Kamera, Penata
Artistik, Editor hingga Talents adalah warga negara Amerika. Saat
ini produser CF2 Production House yang mendanai film ini sedang
negosiasi dengan beberapa distributor diantaranya Disney Channel
(yang memproduksi film Hannah Montana dan High School Musical).

Mudah2an terobosan Jane akan diikuti oleh filmmaker Indonesia
lainnya. Jane dan saya berencana (Insya Allah) untuk memutar
screening film ini di Washington DC.

Kalau ingin menonton trailernya silahkan ke:
http://www.chatterb ox-themovie. com/

Maju terus Filmmaker Indonesia.
Salam
Naratama

Senin, 17 November 2008

PRODUKSI FEATURE DAN DOKUMENTER UNTUK MEDIA TELEVISI

Dalam jurnalisme media cetak, yang dimaksud dengan “feature� adalah sebuah tulisan khas, yang ditulis secara luwes dan menarik, dan relatif tak lekang oleh waktu (saat pemuatannya tidak harus diburu-buru seperti berita biasa). Tidak ada aturan yang mengikat berapa persisnya panjang sebuah feature, sejauh feature itu masih menarik untuk dibaca.

Secara singkat, struktur, gaya penulisan dan kemasan feature memang berbeda dengan berita biasa (spot news, straight news, hard news). Unsur subyektifitas si penulis bisa lebih terasa dalam tulisan feature. Sebaliknya, dalam penulisan berita biasa, subyektifitas si penulis sangat dihindari.

Topik sebuah feature bisa beragam, tetapi umumnya menyangkut human interest. Segala sesuatu yang menyangkut manusia, dengan segala perilakunya dan aspek kehidupannya (kegembiraan, kebahagiaan, kesedihan, penderitaan, perjuangan, keberhasilan, dan sebagainya), memang selalu menarik untuk dituliskan.

Topik-topik itu, misalnya: profil seorang guru yang mengabdi di daerah terpencil; kehidupan nelayan miskin di Indramayu; upaya seorang pecandu untuk lepas dari jeratan narkoba; nasib tenaga kerja Indonesia yang terlunta-lunta di luar negeri; dan sebagainya.

Membandingkan dengan feature di media cetak, maka ketika kita bicara tentang bagaimana memproduksi feature untuk media televisi, tampak ada beberapa ciri yang sama. Seperti: sifatnya yang relatif tak lekang oleh waktu, keluwesan dalam gaya pengemasan, serta variasi pilihan topiknya.
Yang jelas, memproduksi suatu paket feature untuk media TV, tidaklah sama dengan membuat paket berita (spot news), baik dari segi proses, tahapan pembuatan, maupun gaya pengemasan. Feature untuk media TV sendiri bisa berbentuk macam-macam.

Salah satu yang penting dan akan dibahas di sini adalah bagaimana membuat film dokumenter (documentary films).

Makna Film Dokumenter

Istilah “dokumenter� atau documentary (bahasa Inggris), adalah turunan dari kata Perancis, documentaire. Yang artinya, sebuah film atau pembicaraan yang menggambarkan perjalanan di suatu negeri tertentu. Apakah cara pengambilan gambarnya secara langsung atau direkaulang, sampai tahun 1960-an, film dokumenter yang tradisional adalah urusan tunjukkan-dan- ceritakan (show-and-tell) .

Dokumenter bukanlah reproduksi dari realitas, tetapi merupakan representrasi dari dunia yang kita huni. Jika reproduksi diartikan sebagai sekadar meng-copy dari sesuatu yang sudah ada, maka representasi berarti menetapkan pandangan tertentu terhadap dunia. Yakni, suatu pandangan yang mungkin tak pernah kita temui sebelumnya, bahkan sekalipun aspek-aspek dari dunia yang direpresentasikan itu sudah akrab dengan kita atau sering kita lihat.

Kita menilai sebuah reproduksi dari keserupaannya dengan yang asli (orisinal), dari kapasitasnya untuk persis, bertindak sama, dan melayani fungsi dan manfaat yang sama dengan yang asli. Semakin persis atau menyerupai dengan yang asli, semakin baik.

Sedangkan di sisi lain, kita menilai sebuah representasi lebih pada hakikat kesenangan yang ditawarkan, nilai-nilai wawasan atau pengetahuan yang disampaikan, dan kualitas orientasi atau disposisi, nada atau perspektif yang dihadirkan. Kita biasanya mengharapkan lebih banyak dari representasi, ketimbang dari reproduksi.

Hal ini dengan cepat bisa ditunjukkan dalam fotografi. Sebuah lokasi yang akan dipotret mungkin dan seharusnya direpresentasikan secara benar. Namun, sejumlah artis bisa melihat dan merepresentasikan kebenaran lebih banyak dan lebih hebat, dari sekadar seorang biasa yang kebetulan lewat di sana.

Dokumenter adalah apa yang kita sebut “fuzzy concept,� suatu konsep yang tidak jelas. Tidak semua film yang disebut sebagai dokumenter memiliki kesamaan yang dekat antara satu dengan yang lain, sebagaimana banyak alat transportasi yang bisa disebut sebagai “wahana� (vehicle).

Dokumenter tidak mengadopsi inventori teknik yang tetap (fixed), tidak terikat pada seperangkat isu/tema tertentu untuk diangkat, serta tidak memperagakan bentuk atau gaya tampilan yang tunggal. Tidak semua dokumenter memiliki perangkat karakteristik atau ciri-ciri yang sama. Praktik film dokumenter adalah arena di mana hal-hal terus berubah. Berbagai pendekatan alternatif terus-menerus dicoba dan kemudian diadopsi oleh yang lain, atau ditinggalkan. Kontestasi terjadi.

Ketidakjelasan definisi muncul sebagian karena definisi-definisi itu berubah bersama waktu, dan sebagian yang lain karena pada setiap momen tidak ada satu definisi pun yang bisa mencakup semua film, yang mungkin kita anggap sebagai dokumenter.

Kita bisa memperoleh pegangan yang lebih baik dalam mendefinisikan dokumenter, dengan mendekatinya dari empat sudut: lembaga, praktisi, teks (film dan video), dan audiens.

Kerangka kelembagaan

Ini kelihatannya berputar-putar, namun salah satu cara mendefinisikan dokumenter adalah dengan mengatakan, “Dokumenter adalah apa yang dibuat oleh organisasi dan lembaga yang memproduksinya.� Jika Discovery Channel menyebut sebuah program sebagai dokumenter, maka program/film itu diberi label dokumenter, sebelum aktivitas dari pihak penonton dan kritikus film dimulai.

Definisi ini, meskipun berputar-putar, berfungsi sebagai pertanda awal bahwa suatu karya dapat dianggap sebagai dokumenter. Konteks akan memberi pertanda. Jika sponsornya adalah Dewan Film Nasional Kanada, Fox TV, History Channel, atau Michael Moore, kita membuat asumsi tertentu tentang status dokumenter dari film tersebut, serta derajat obyektivitas, reliabilitas, dan kredibilitasnya. Kita membuat asumsi tentang status non-fiksinya dan rujukannya ke dunia historis kita bersama, ketimbang dunia yang dikhayalkan pembuat film fiksi.

Kerangka kelembagaan juga menetapkan suatu cara kelembagaan dalam melihat dan bicara, yang berfungsi sebagai seperangkat batasan atau konvensi, bagi pembuat film dan audiens. Untuk mengatakan “tak perlu dijelaskan lagi� bahwa pada sebuah dokumenter akan terdapat komentar berbentuk voice-over, atau “setiap orang tahu� bahwa sebuah dokumenter harus menampilkan dua sisi pandang dari suatu tema yang diangkat, adalah sama dengan mengatakan apa yang biasanya terdapat dalam kerangka kelembagaan spesifik.

Komunitas praktisi

Mereka yang membuat film dokumenter, seperti juga lembaga yang mendukung mereka, memegang asumsi-asumsi dan harapan-harapan tertentu tentang apa yang mereka lakukan. Walau setiap kerangka kelembagaan menetapkan batasan dan konvensi, pembuat film perseorangan tidak perlu sepenuhnya menerima batasan dan konvensi tersebut.

Para pembuat film dokumenter sama-sama merasa memegang mandat tersendiri, untuk mewakili dunia historis, ketimbang secara imajinatif menciptakan dunia alternatif. Mereka berkumpul pada festival-festival film khusus, seperti Hot Springs Documentary Film Festival (Amerika), Yamagata Documentary Film Festival (Jepang), atau Amsterdam International Documentary Film Festival (Belanda). Mereka juga menyumbang artikel dan wawancara ke jurnal-jurnal yang sama, seperti: Release Print, Documentary, dan Dox.

Praktisi dokumenter bicara dengan bahasa yang sama tentang apa yang mereka kerjakan. Seperti kaum profesional lain, pembuat film dokumenter juga memiliki kosa kata, atau jargonnya sendiri. Itu mungkin mencakup mulai dari kecocokan berbagai stok film untuk situasi-situasi yang berbeda, sampai ke teknik-teknik merekam suara lokasi. Juga, dari etika mengamati orang lain sebagai obyek dokumenter, sampai sikap pragmatis dalam menemukan distributor dan merundingkan kontrak-kontrak bagi kerja mereka. Praktisi dokumenter juga memiliki problem khusus, yang membedakannya dari para pembuat film jenis lain.

Pemahaman kita tentang apa yang disebut dokumenter berubah, ketika mereka para praktisi yang membuat dokumenter juga mengubah idenya tentang apa yang sedang mereka buat.

Kumpulan teks

Film-film yang menciptakan tradisi dokumenter adalah cara lain untuk mendefinisikan bentuk. Untuk awalnya, kita bisa mengangap dokumenter sebagai genre, seperti film koboi (western) atau fiksi-ilmiah (science-fiction) . Untuk menjadi bagian dari suatu genre, sebuah film harus memperagakan ciri-ciri yang sama dengan film-film lain, yang sudah dipandang sebagai dokumenter atau film koboi.

Norma dan konvensi yang muncul dalam dokumenter, yang membantu untuk membedakannya: penggunaan komentar “suara Tuhan� (Voice-of-God) , wawancara, rekaman suara lokasi, cutaways dari scene untuk memberikan citra yang menggambarkan atau mengkomplikasi suatu poin yang dibuat dalam scene. Atau, mengandalkan pada aktor-aktor sosial, atau orang dalam aktivitas dan peran mereka sehari-hari sebagai karakter-karakter sentral dalam film. Semua ini adalah hal-hal yang umum terdapat dalam banyak film dokumenter.

Konvensi lain adalah adanya suatu logika pemberian informasi, yang mengorganisasikan film dalam hubungannya dengan representasi yang dibuatnya tentang dunia historis. Bentuk khas pengorganisasian itu adalah pemecahan masalah (problem solving). Struktur ini dapat menyerupai sebuah cerita, khususnya cerita detektif.

Yaitu, film dimulai dengan menetapkan adanya sebuah problem atau isu. Kemudian film menyampaikan sesuatu tentang latar belakang isu tersebut, disusul dengan penelaahan ketidaknyamanan, keparahan, atau kompleksitas situasi saat ini. Presentasi ini kemudian menjurus ke sebuah rekomendasi atau solusi penutup, di mana penonton didorong untuk mendukung atau mengadopsinya secara pribadi.

Logika --yang mengorganisasikan film dokumenter—mendukung argumen, penegasan, atau klaim yang digarisbawahi tentang dunia historis, yang memberikan pada genre ini semacam rasa partikularitas (kekhususan) tersendiri. Kita berharap untuk berhubungan dengan film-film, yang berhubungan dengan dunia.

Keterhubungan dan logika itu membebaskan dokumenter dari semacam konvensi, yang biasa kita andalkan untuk membentuk sebuah dunia imajiner. Continuity editing, misalnya, yang biasa berfungsi menghilangkan potongan-potongan (cuts) dalam pengambilan gambar untuk film fiksi, kurang mendapat prioritas pada dokumenter. Apa yang dicapai lewat continuity editing dalam film fiksi, dicapai lewat sejarah dalam dokumenter.

Berbagai hal memiliki keterkaitan dalam ruang dan waktu bukan karena kerja editing, tetapi karena kaitan historisnya yang aktual. Editing dalam dokumenter berusaha menunjukkan kaitan-kaitan itu. Dokumenter, kenyataannya, justru sering menunjukkan lebih banyak shots dan scenes terpisah ketimbang film fiksi. Pecahan-pecahan itu disatukan bukan oleh narasi, yang diorganisasikan di sekitar karakter utama, tetapi lebih oleh retorika, yang diorganisasikan oleh sebuah logika atau argumen yang mengontrolnya.

Karakter-karakter, atau aktor-aktor sosial, boleh datang dan pergi, menawarkan informasi, memberi kesaksian, menyampaikan bukti. Tempat-tempat dan berbagai hal bisa muncul dan lenyap, karena mereka dihadirkan untuk mendukung sudut pandang atau perspektif film dokumenter tersebut. Sebuah logika implikasi menjembatani lompatan-lompatan tersebut, dari satu orang atau tempat ke orang atau tempat yang lain.

Konstituensi penonton

Cara terakhir untuk mendefinisikan dokumenter adalah hubungan dengan audiensnya, karena pendekatan lewat kerangka kelembagaan, komunitas praktisi, atau kumpulan teks dirasakan tidak memadai. Lembaga yang mendukung film dokumenter, mungkin juga memproduksi fim-film fiksi atau eksperimental. Sementara praktisi dokumenter mungkin juga membuat film-fiksi dan eksperimental. Ciri-ciri film dokumenter sendiri bisa disimulasikan dalam konteks fiksional (film fiksi).

Dengan kata lain, perumusan lewat tiga pendekatan di atas masih bisa ditembus dan tak bisa dipegang ketat. Maka, rasa bahwa suatu film itu bisa disebut dokumenter sebenarnya berada dalam pikiran orang-orang yang dekat dan berkaitan dengannya, selain terletak pada konteks dan struktur film bersangkutan.

Asumsi dan ekspektasi apa, yang memberi tanda pada sense penonton, bahwa sebuah film adalah karya dokumenter? Apa hal-hal berbeda yang kita bawa pada pengalaman menonton, pada saat kita menonton sesuatu yang kita anggap sebagai film dokumenter, dan bukan film dari genre lain?

Yang paling mendasar, kita membawa asumsi bahwa suara dan gambar dari teks film itu betul-betul berasal dari dunia historis yang kita diami. Suara dan gambar itu tidak dibayangkan atau diproduksi semata-mata untuk film ini. Asumsi ini mengandalkan pada kapasitas citra fotografis dan perekaman suara, untuk menyerupai apa yang kita anggap sebagai kualitas khas (distinctive) dari apa yang telah mereka rekam.

Instrumen-instrumen perekaman (kamera dan tape recorder) mencatat jejak-jejak berbagai hal (suara dan gambar) dengan keserupaan yang tinggi. Hal ini memberikan nilai-nilai dokumenter.

Membuat dokumenter

Topik dokumenter adalah sesuatu yang nyata, yang benar terjadi dan benar-benar ada, bukan fiksi. Pada awalnya, ketika teknologi perfilman masih amat sederhana, semua yang ditampilkan itu adalah laporan tentang sesuatu yang sudah terjadi (after-the-fact) . Film nonfiksi, seperti juga artikel majalah atau buku nonfiksi, melaporkan sesuatu hal, dari mereka (pembuat dokumenter) --yang mengetahui apa yang sudah terjadi-- kepada penonton yang tidak mengetahui apa-apa.

Membuat film dokumenter, terkesan sangat mudah. Anda tinggal pergi ke tempat di mana sesuatu yang menarik sedang terjadi, rekam gambarnya, dan jadilah sebuah film dokumenter. Sayang, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Seandainya Anda berhasil mengambil gambar, saat menit-menit pertama Tsunami melanda Aceh, jelas gambar itu dengan mudah bisa ditawarkan, untuk ditayangkan di televisi. Namun, itu bukan dokumenter. Itu adalah klip berita (news clip).

Anda juga bisa mewawancarai sejumlah orang, yang bicara tentang masalah sosial tertentu. Misalnya, tentang perlakuan terhadap pengidap HIV/AIDS, tentang pencemaran lingkungan, atau tentang pengentasan kemiskinan. Namun, sejumlah wawancara panjang terhadap sejumlah aktivis, yang sangat bersemangat mendukung perubahan sosial, tidak lantas menjadikannya sebuah dokumenter. Yang terwujud mungkin hanyalah sebuah “kotbah� video yang panjang dan membosankan, yang mungkin hanya menarik bagi mereka yang sejak awal sudah “satu kubu� dengan narasumber yang diwawancarai.

Dokumenter adalah perlakuan kreatif terhadap aktualitas, bukan sekadar transkripsi mentah-mentah terhadap aktualitas. Transkripsi atau rekaman yang ketat memang punya nilai tersendiri, seperti untuk dokumentasi peristiwa atau situasi tertentu. Misalnya, dokumentasi peluncuran roket LAPAN, pertunjukan teater Koma, atau pertandingan sepakbola Persib lawan PSMS. Bagaimanapun, kita cenderung menganggap rekaman itu hanya sebagai footage, ketimbang dokumenter.

Sebuah dokumenter mengumpulkan bukti-bukti (footage), namun kemudian menggunakannya untuk membangun perspektif atau argumennya sendiri tentang dunia, tentang tanggapan retoris atau puitisnya sendiri terhadap dunia. Jadi, dalam sebuah dokumenter, diharapkan terdapat transformasi bukti-bukti menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar fakta kering.

Unsur-unsur yang dibutuhkan dalam dokumenter

Untuk menghasilkan karya dokumenter yang baik, dibutuhkan sejumlah unsur.
Pertama, kita harus memiliki gambar (footage) yang baik. Yakni, sebuah bukti visual yang mengajukan pernyataan tentang film dokumenter tersebut dalam bahasa visual.

Gambar tentang Tsunami yang melanda kota Banda Aceh itu memang bagus, namun belum cukup. Sebuah dokumenter mungkin saja memprofilkan warga Aceh, yang memilih bertahan hidup di pinggir pantai, meski tahu bahwa sewaktu-waktu Tsunami bisa saja melanda daerahnya lagi.

Kedua, kita harus memiliki ide atau konsep, yang mengekspresikan sudut pandang karya dokumenter tersebut.

Wawancara mungkin bisa membantu merumuskan suatu sudut pandang. Namun, wawancara itu biasanya merupakan cara yang terlalu berat dan merepotkan dalam sebuah dokumenter, untuk menyampaikan suatu gagasan. Wawancara semata-mata tidak lantas menjadikannya sebuah dokumenter. Hal ini karena wawancara tidak menunjukkan topik, tetapi wawancara hanya menunjukkan orang yang sedang bicara tentang suatu topik.

Ketiga, kita harus memiliki sebuah struktur. Yaitu, progresi gambar dan suara secara teratur, yang akan menarik minat audiens, dan menghadirkan sudut pandang dari karya dokumenter tersebut, sebagai sebuah argumen visual.

Misalnya, film dokumenter The War Room, karya Chris Hegedus dan D.A. Pennebaker, tentang kampanye Bill Clinton tahun 1992, sebelum menjadi Presiden AS. Film ini dibuka dengan serangkaian gambar di daerah pemilihan New Hampshire, yang menunjukkan problem-problem yang dihadapi Clinton selaku kandidat presiden. Tidak ada wawancara dalam film itu. Yang terlihat adalah interaksi-interaksi , yang menunjukkan apa yang terjadi pada kampanye Clinton saat itu. Ketika menonton film itu, secara bertahap audiens melihat kampanye Clinton akhirnya berhasil mengatasi berbagai hambatan, dalam proses menuju kemenangan.

Membuat film dokumenter, atau feature, diawali dengan ide atau gagasan, dan berakhir dengan paket yang siap ditayangkan untuk audiens. Kita sepatutnya memandang, pembuatan sebuah dokumenter pada dasarnya lebih merupakan problem komunikasi, yakni bagaimana menyampaikan suatu pesan kepada audiens. Bukan sebuah problem teknis (peralatan).

Berbagai kemasan dokumenter

Kemasan dokumenter bisa sangat beragam. Mulai dari dokumenter yang di-syut pada situasi apa adanya, sampai dokumenter yang menggunakan gambar reka ulang (reenactment atau recreation), dengan naskah (script) lengkap, dengan persiapan dan perhatian terhadap hal-hal yang detail.
Sejarah dan biografi

Dokumenter selalu melihat ke peristiwa-peristiwa bersejarah dan biografi tokoh-tokoh penting dan menarik. Saat ini, televisi dan pasar di lingkungan pendidikan, menjadikan sejarah dan biografi sebagai bidang garapan utama bagi pembuat dokumenter.

Contohnya adalah:

• Maestro, program di Metro TV, yang memprofilkan tokoh-tokoh yang unik, hebat, dan berprestasi di bidang masing-masing. Tokoh semacam Idris Sardi (musisi dan pemain biola), Rudy Hartono (pemain bulu tangkis), Rosihan Anwar (wartawan senior), Teguh Karya (sutradara kawakan), Bing Slamet (penyanyi, pengarang lagu, dan komedian), layak dijadikan profil.

• Perjalanan Islam di Indonesia, program di Trans TV, yang menggambarkan sejarah masuknya Islam ke Indonesia, dengan berbagai peninggalan budaya dan sejarahnya yang unik di berbagai daerah.
Sejarah dan biografi adalah laporan sesudah terjadi (after-the-fact) tentang kejadian masa lalu. Problem utama bagi pembuat dokumenter adalah bagaimana menemukan cara, agar karya dokumenter semacam itu secara visual tetap menarik.

Bagi tokoh atau peristiwa di abad ke-20, mungkin masih banyak stok gambar dan foto yang bisa digunakan untuk membuat dokumenter tersebut. Namun, untuk sebuah dokumenter sepanjang setengah jam atau satu jam, butuh usaha keras agar bisa menampilkan tokoh atau peristiwa yang terjadi ratusan tahun lalu. Seperti cerita tentang kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa, atau tentang perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda.

Pembuat dokumenter sering mengisi kekosongan atau kurangnya gambar itu dengan wawancara pakar, pergi ke lokasi peristiwa, atau bekas rumah tinggal tokoh sejarah bersangkutan. Tak jarang, pembuat dokumenter juga “meminjam� gambar (footage) dari film fiksi untuk menggambarkan periode, pribadi, atau peristiwa masa lalu. Dalam pembuatan dokumenter Perjalanan Islam di Indonesia, misalnya, produser Trans TV terpaksa meminjam footage dari film Walisongo.

Pendekatan lain adalah reka ulang atau reka adegan (reenactment) , penciptaan ulang (re-creating) zaman bersejarah atau orang dan peristiwa dari biografi tersebut. Reka ulang dalam dokumenter harus mengikuti aturan yang sama seperti penciptaan ulang dalam teks sejarah atau teks biografis. Apa yang ditampilkan harus akurat dan benar, sebagaimana yang dipahami pembuat dokumenter.

Tentang Dokudrama (docudrama)

Sebenarnya, mendasarkan sebuah presentasi dramatis pada orang atau peristiwa nyata atau bersejarah, bukanlah sesuatu yang baru. Ini bisa dilihat pada film-film bioskop seperti Cromwell (film tentang tokoh Inggris), The Longest Day (film tentang Perang Dunia II), dan JFK (film tentang pembunuhan Presiden John F. Kennedy).

Namun, film-film itu adalah fiksi, bukan dokumenter. Film-film itu mungkin berkaitan dengan peristiwa-peristiwa nyata, namun ia tidak dikungkung atau dibatasi oleh kebenaran historis dari peristiwa-peristiwa tersebut. Film-film ini adalah karya fiksi yang diturunkan dari kehidupan atau manusia nyata, dan sejarah peristiwa-peristiwa nyata. Singkatnya, dokudrama tidak sama dengan dokumenter.

Dokumenter perilaku (documentaries of behavior)

Ini adalah dokumenter yang menjadikan perilaku manusia sebagai obyeknya. Dengan adanya kamera dan peralatan perekam yang ringan, yang bisa dengan mudah dibawa ke mana saja, dimungkinkan bagi pembuat dokumenter untuk mengikuti orang dan mengamati perilaku mereka dalam film atau videotape.
Pada hari-hari awal sinema langsung (direct cinema), banyak film dibuat tentang orang biasa, yang menjalani kehidupan biasanya. Dokumenter perilaku sampai saat ini masih banyak dibuat orang.

Dokumenter emosi (documentaries of emotion)

Sementara dokumenter perilaku mendorong kita ke suatu arah baru, beberapa praktisi dokumenter mulai mengeksplorasi bentuk lain dari perilaku, yang kita sebut saja dokumenter emosi. Salah satu contoh adalah karya Allie Light, dalam film Dialogues with Madwomen, yang mengeksplorasi dimensi-dimensi emosional dari penderita sakit mental.

Reality Video – Peran Baru bagi Sinema Langsung

Reality video merupakan genre baru dokumenter. Awalnya, ini dimulai dengan program komedi di televisi, yang mengandalkan pada kiriman cuplikan-cuplikan video yang konyol dan lucu dari para penonton. Kemudian, tayangan ini menghasilkan tumbuhnya minat baru pada dokumenter aktualitas (actuality documentary) .

Program televisi seperti Cops; LAPD; dan Real Stories of the Highway Patrol, membawa sinema langsung ke layar televisi di rumah kita. Kemunculan program semacam ini dipicu oleh kompetisi ketat antar berbagai pembuat dokumenter, yang menuntut mereka untuk menekan anggaran produksi. Para pembuat dokumenter ini biasanya adalah produser televisi siaran yang bersindikasi dan jaringan (network).

Contoh program sukses dari jenis ini di Indonesia adalah Jika Aku Menjadi dan Termehek-mehek di Trans TV. Dua program inhouse ini sempat meraih rating tertinggi di Trans TV dan menjadi program unggulan di prime time pada Oktober 2008.

Depok, November 2008

Diambil Dari Milis Naratama yang ditulis Oleh Satrio Arismunandar

satrioarismunandar@yahoo.com



Kamis, 30 Oktober 2008

Mengelola Stres

Diilhami dan disusun ulang dari tulisan “Mengelola Stres” oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta.

Abi, copywriter di kantor, sering tiba-tiba menderita gatal-gatal yang ngaak jelas. Bentol sana sini yang hanya bisa diredam dengan minum obat anti alergi yang akibatnya jadi tidur mulu. Sementara Michael, sang group head, menderita keringatan di telapak tangan hanya jika masuk ke gedung kantor. Gejala dan keanehan apa ini? Saya tadinya tak pernah tahu hingga membaca tulisan Sonny tentang stress ini. Ternyata oh, ternyata… semua itu gejala stress!! 

Emang sih, kerja di dunia periklanan pasti akraaaab… banget sama stress! Secara kita harus kerja cepat, bagus, kreatif tapi cepat! Hahah. Sound like a superhero task huh?!

Stress sih, biasa. Masalahnya, bagaimana mengelola stress dengan baik agar tidak berdampak negatif bagi kesehatan jiwa dan tubuh. Stres yang tak terkendali akan memicu naiknya tekanan darah dan berisiko terkena serangan jantung. Stres dapat pula menaikkan kadar kolesterol dalam darah. Kondisi ini yang nantinya membuat pembuluh darah tersumbat, sehingga penderita rentan terhadap stroke.

Bagaimana tanda-tanda stres dapat dikenali?

Ada sejumlah sinyal yang sesungguhnya dapat Anda rasakan ketika Anda mengalami stres,
seperti: mudah tersinggung, naiknya tekanan jantung, meningkatnya tekanan darah, merasa berkeringat atau sering menggigil, sulit tidur, sakit kepala, sakit pencernaan, sakit di leher, sakit
punggung bagian bawah, mengalami sakit yang tidak biasa, pergi ke toilet lebih sering dari biasanya, lebih banyak merokok dan minum, merasa gelisah tanpa sebab, kehilangan selera makanan, kesenangan atau bahkan seks, selalu dirundung kesedihan, menjadi pelupa, atau
gejala-gejala lain yang tidak biasanya.

Pada hakekatnya, stres dapat dikendalikan secara dini bila seseorang menyadari datangnya stres di awal. Bagaimana mengelola stres yang terjadi pada diri kita? Beberapa saran berikut semoga dapat membantu Anda.

Melakukan perawatan terhadap tubuh Anda dapat mengusir stres dengan memanjakan tubuh Anda.

Apa saja misalnya? Berendamlah di air hangat. Hal ini dapat membuat Anda merasakan rileks sekaligus mengendurkan otot-otot yang kaku. Pijatan yang lembut di tangan, kaki, dan wajah juga dapat membuat peredaran darah menjadi lancar. Untuk mata Anda, taruhlah irisan buah ketimun di mata sembari terpejam. Anda bisa juga menyalakan lilin amoterapi.
Dan dengan diiringi musik alunan lembut, tutup mata anda, dan bayangkan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Atau Anda dapat juga melakukan pedicure, creambath, spa atau facial.

Berolahraga, melakukan meditasi atau yoga

Anda dapat melakukan olahraga yang ringan seperti jogging, jalan sehat, aerobik atau angkat beban. Olahraga membuat tubuh Anda menjadi segar dan sehat, sehingga Anda dapat berpikir dengan jernih. Jika Anda dapat berpikir dengan jernih, maka Anda dapat melihat dan menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Anda bisa juga melakukan meditasi atau yoga. Dengan yoga, tubuh akan lebih rileks. Bagaimana bila ketegangan menunjukkan kenaikan yang signifikan? Ambillah nafas dalam tiga hitungan, kemudian keluarkan juga dalam tiga hitungan.
Secara bertahap lakukan dengan menaikkan hitungan menjadi lima, enam, tujuh dan seterusnya.

Membaca buku dan mendengarkan musik.

Luangkanlah waktu untuk rileks dengan membaca buku atau mendengarkan musik. Selain bisa mengurangi stress, kegiatan ini juga bermanfaat “mengisi” otak kita dengan berbagai pengetahuan dan referensi lagu (sapa tahu berguna pas mo bikin radio commercial atau TVC).

Menyingkir dari rutinitas.

Menyingkir dari rutinitas? Tentu saja. Jangan berpikir ini hal yang sulit. Anda bisa melakukannya secara sederhana. Mencuci pakaian, menyetrika pakaian, berkebun. Atau bisa juga melakukan rekreasi yang murah meriah dengan keluarga atau teman sejawat.

Makan dan minum dengan baik dan benar

Konsumsilah menu secara seimbang terutama yang memiliki kandungan serat seperti sayuran dan buah. Kurangi pula mengkonsumsi gula rafinasi. Dan ingat, kurangi rokok, alkohol, dan kafein. Orang yang bersahabat dengan alkohol, kafein, nikotin seringkali tak dapat
melawan stres. Perbanyaklah minum air putih. Tubuh bisa jadi tak mengalami dehidrasi walau tubuh tak merasa haus. So, saat Anda ke kamar mandi, pastikan urin Anda berwarna terang. Dan jangan lupa, tidurlah dengan cukup.

Dalam diri seseorang, harus tertanam kesadaran bahwa ada hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Hal-hal yang di luar perkiraan sebelumnya. Ini penting, agar kita tidak kecewa nantinya jika ternyata rencana-rencana yang sudah diatur jauh meleset dari harapan. Kekecewaan itu mungkin menghalangi tujuan yang telah kita tetapkan di awal. Untuk menghadapi hal-hal seperti ini, mental kita harus sudah siap. Inilah sesungguhnya pondasi dasar dalam menghadapi stres yang terjadi.

Mental yang siap, kuat, dan tahan uji.

Betapapun beratnya persoalan, tetap harus kita hadapi dengan bijak. Karena, walau katakanlah kita kehilangan/kekurangan sesuatu, kita patut bersyukur bahwa masih terdapat kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Kita masih bisa hidup dengan sehat, gaji yang dibayar cukup, dan kelebihan lainnya yang mungkin orang lain belum tentu dapatkan.

Dan pada akhirnya, kunci dalam menghadapi stres sesungguhnya bagaimana Anda dapat menikmati hidup ini, ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan, serta selalu bersyukur atas segala yang diberikan olehNya. Dan terakhir, berdoalah untuk selalu memohon kepadaNya agar
senantiasa Anda diberi petunjuk dalam menjalani hidup ini. (131008)
ini artikel dari mbak Nunu : http://naskahiklan.blogspot.com/

Kamis, 14 Agustus 2008

FESTIVAL Film Pendek Religi

FESTIVAL
Film Pendek Religi


Dalam rangka menyambut hari SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 2008, Layar Pelangi menyelenggarakan Kompetisi Film Pendek Religi (untuk semua agama) dengan tema :

“BUDAYAKAN AKHLAK TERPUJI”


Kategori Umum, Pelajar dan Mahasiswa

Persyaratan:

Judul bebas. Tidak mengandung SARA. Membawa misi Perdamaian, Moral dan Akhlak terpuji.

Karya Orisinal bukan jiplakan.

Durasi maksimal 10 menit.

Format dalam bentuk DVD.

Menyertakan naskah asli skenario dan data peserta.

Semua karya peserta yang masuk menjadi milik panitia.

Peserta bertanggung jawab atas karyanya dari segala tuntutan pihak ketiga.

Karya ditunggu sampai dengan 20 September 2008.

Peserta dapat mengirimkan karyanya ke:
Gedung Pusat Perfilman H.Usmar Ismail lt.5
Jl. HR. Rasuna Said Kav.C No.22 Jakarta Selatan.
Telp.
085697545900 (Tarnie), 081318310869 (Iecha), 08129748785 (M.Iqbal),
08988889184 (Adi), 021-99952806 (Emira), 021-68068608 (Jastis),
081388961340 (Heri), 085921282309 (Iwan), 08159492000 (Ratna),
08128336768 (Wibi AR)
Email : layarpelangidki@ yahoo.co. cid, layarpelangidki@ gmail.com

Selasa, 12 Agustus 2008

U Complete Me

U Complete Me!
Gak tau kenapa sangat kagum sekali karakter Mas Joker ini.
dedicated juga to:
Heath Ledger as The Joker from 2008's The Dark Knight











Poster Joker & Bruce Wayne ini kasih semuanya dikasih oleh mas Google.

Matur nuwun

Jumat, 04 Juli 2008

Orang-orang Gunung Tugel

Bau tidak sedap selalu setia menyambut kita bila berada di komplek pembuangan sampah tertua di Purwokerto ini, Gunung Tugel merupakan tempat dimana sampah dari seluruh daerah di Purwokerto akan berakhir. Di tempat itu terdapat sekitar puluhan pemulung yang setiap hari mengkais-kais sampah di tempat yang berada dilereng perbukitan Tugel.

Ada banyak cerita dibalik keringat dan aroma sampah yang bisa saya dapati. Dari ibu yang bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus, sampai pada orang yang sengaja datang mencari makanan bekas, sekedar untuk mencari harapan hidup.

Terlihat senyum ramah dari mereka ketika melihat orang asing yang datang ke tempat pembuangan sampah itu. Saya melangkahkan kaki menuju ke tengah gundukan sampah-sampah itu. awalnya perasaan jijik saya dapatkan, sempat berpikir juga apa yang sebenarnya saya cari ditempat seperti ini. Tapi ini bukan tentang itu semua, mereka yang akhirnya bisa membawaku mencari sedikit realitas yang akan tercatat dalam hidupku.

Saya melihat beberapa anak kecil yang seharusnya memegang buku tulis dan pensil, namun disana mereka memegang garu untuk mengais sampah dan menyanyikan lagu bintang kecil diiringi alunan musik dari sang lalat yang setia memberikan harmoni melalui sayap-sayapnya. Mereka seharusnya bermain dengan teman sekolahnya saat itu, bukan bermain dengan para lalat yang berpenyakit, namun nampaknya lalat lebih bersahabat dengan mereka.

Ibu tua terlihat sedang mengais-ngais tanah untuk mencari logam-logam bekas yang sudah tertimbun, ditemani seorang teman mereka berdua dengan teliti mencari sebuah logam kecil untuk kemudian dikumpulkan lalu dijual. Tak bisa kubayangkan berada diposisi mereka. Dia menatapku, Mas berada di tempat seperti ini tidak perlu nahan napas atau menutup lubang hidung, itu malah mengganggu pernapasan. Memang benar beberapa menit ditempat pembuangan sampah Gunung Tugel saya sempat muntah karena sara mual yang ditahan. Namun sedikit adaptasi akan memberikan rasa nyaman meski dipaksakan untuk menahan aroma tidak sedap itu.

Begitu banyak cerita yang bisa kita lihat dari keseharian mereka, dengan bersenjatakan sebuah tongkat garu ditangan kanannya serta keranjang ditangan kirinya serta pengki, mereka siap untuk mencari beberapa sampah-sampah yang akan mereka rebuti dari truk sampah yang datang. Biarpun saat itu matahari tidak begitu bersabat dengan memberikan sinar panasnya, orang-orang Gunung Tugel tetap semangat untuk melanjutkan yang mereka sebut sebagai pekerjaan. Sebuah rutinitas untuk mencukupi kehidupan mereka.

Terkadang mereka dipandang sebelah mata oleh kita, padahal tanpa mereka sampah-sampah itu bisa menumpuk melebihi tingginya gunung Tugel. Namun berkat mereka inilah sampah yang tadinya tidak berguna bisa menjadi berguna kembali setelah mereka mengaisnya satu demi satu. memilah dan memilih yang organik dan non-organik.

Keseharian mereka sebenarnya sama dengan rutinitas kita, mungkin yang membedakan adalah tempat dimana masing-masing melakukannya. Kalau saja mereka bisa mendapat kesempatan seperti apa yang bisa kita rasakan. Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta(Soe Hok Gie).

Dengan berdasar pada naluri untuk merasakan apa yang mereka rasakan, saya mencoba mengambil sedikit dari kisah keseharian mereka. Dengan rasa terima kasih saya ucapkan untuk semua teman, sahabat pemulung di Gunung Tugel. Semoga dengan ini keresahan yang dirasakan bisa mendapat sedikit perhatian.

Terima kasih buat seorang teman dan guru yang baik, Mbak Lina Global Radio Jogja yang mau menemani ke tempat ini. @2008










Sabtu, 28 Juni 2008

JiFFest Script Development Competition (JSDC) 2008

Setelah sukses di tahun-tahun sebelumnya, JiFFest kembali menggelar workshop pengembangan naskah film dalam JiFFest Script Development Competition (JSDC) 2008. Acara ini diadakan untuk mengembangkan dan meningkatkan kapasitas para penulis naskah film Indonesia demi kemajuan dan kesuksesan perfilman Indonesia. Peserta workshop ini dipilih dari para pelaku film profesional atau mereka yang sudah memiliki pengalaman dalam proses produksi film. Workshop ini diselenggarakan secara gratis untuk para peserta terpilih.



Akan ada 3 jenis workshop yang kesemuanya bersifat praktis. Ini berarti para peserta harus mendaftarkan diri dengan mengirimkan sinopsis atau naskah lengkap sesuai dengan kriteria masing-masing workshop.

Workshop akan berlangsung selama 5 hari dan dipandu oleh para tutor yang merupakan pelaku dunia perfilman internasional.



Ketiga workshop tersebut adalah:

1. Workshop Pengembangan Naskah Film Cerita Pendek

2. Workshop Pengembangan Naskah Film Cerita Panjang

3. Workshop Pengembangan Naskah Film Dokumenter



Batas akhir pengiriman pendaftaran: 22 September 2008, pukul 20:00 WIB.



Komite seleksi akan memilih maksimal 10 ide cerita terbaik di setiap kategori. Para penulis dari setiap ide cerita terpilih akan diundang untuk menghadiri workshop selama lima hari yang akan diadakan selama JiFFest ke-10 (5-14 Desember 2008). Seluruh kegiatan workshop akan dipandu dalam Bahasa Inggris oleh para tutor pelaku industri perfilman profesional dari luar negeri. Akan disediakan penerjemah bagi mereka yang membutuhkan.



Perincian kegiatan workshop adalah:

• Hari 1-5: Workshop

• Hari 6-7: Peserta menulis ulang sinopsis/naskah mereka

• Hari 8: Presentasi sinopsis/naskah di hadapan para dewan juri

• Hari 9: Pengumuman pemenang pada malam penutupan JiFFest 2008.

Informasi lengkap klik disini

Empat Points menjadi Profesional TV/Filmmaker

Sebagai seorang profesional Video maker atau Filmmaker, kita seringkali harus bekerjasama dengan berbagai profesional lain (kru, DOP, Produser, Sutradara, Penulis Skenario,Penata Artistik, dll) dalam proyek dan produksi yang berbeda-beda. Dan keberagaman ini sangat penting untuk tetap menumbuhkan kreativitas seni visual yang "Fresh" dan "Different" sehingga hasil akhirpun menjadi sebuah karya yang sesuai dengan production design yang diinginkan. Untuk itu, bila anda ingin maju, sebaiknya hindari bekerjasama dengan tim langganan yang itu-itu saja. Atau bila sudah ada tim yang solid, cobalah bereksplorasi dengan profesional lain untuk mendapatkan penciptaan-pencipta an baru. Steven Spielberg saja, tidak pernah mempunyai langganan tim produksi yang solid.
Bahkan dalam karyanya Schinder List, Spielberg justru bekerjasama dengan profesional
dokumentaris yang kuat dalam produksi dokumenter.. ..

Kunci utama keberhasilan sebagai seorang profesional ada Empat Points:

1. Skill
2. Network
3. TeamWork
4. Etika

Skill, ini persyaratan utama. Anda wajib menguasai skill dalam bidang profesi anda baikuntuk teknis maupun non teknis. Biasanya Skill bisa dipelajari di berbagai sekolahTV/Film, bisa juga dengan berguru pada para senior dan mencari pengalaman.Sedangka n Networking dibutuhkan agar anda masuk ke dalam jaringan industri yang mengakui skill anda. Kalau sudah mendapatkan Network maka yang diuji adalah kemampuan anda untuk Team Work dengan tim produksi yang selalu berbeda, bukan hanya dengan orang yang itu-itu saja. Kalau anda tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, maka Networking ini akan terhenti dengan sendirinya. Dan anda tidak diakui lagi sebagai seorang Profesional. Yang terakhir adalah Etika! nah ini sering dilupakan oleh para tv maker/filmmaker instant yang terburu-buru ingin segera tampil sebagai profesional. Etika ini tumbuh dari bawah, bila anda memulai karir anda sebagai seorang asisten produksi atau kru unit atau kru lighting dsb maka anda akan merasakan bekerja sebagai kru dilapangan. Ini akan menumbuhkan rasa solidaritas dan etika ketika anda menjadi profesional. Bila tidak, anda akan terbuang dari industri hanya karena tidak punya etika yang baik. Etika ini juga termasuk dengan tata cara bekerja, menjaga kepentingan klien, tata bahasa, menjaga networking dengan para senior, dsb.

Sesungguhnya banyak anak2 muda kreatif bahkan punya modal finansial yang kuat untukmaju. Tapi mereka terjungkal karena tidak dimodali keempat points diatas. Sekarang saja,puluhan ribu anak2 muda kuliah broadkast, komunikasi dan film di dalam dan diluar negeri. Ratusan lainnya membeli peralatan digital dan langsung berkarya.... namun bila tidak ada Skill, Network, TeamWork dan Skill... you will be gone no matter what.....

Semoga bermanfaat
Salam
Naratama

Dari naratama

Sabtu, 14 Juni 2008

Realitas dalam Mereka Bilang Saya Monyet

Cukup membingungkan bagaimana ajeng seorang gadis kecil ketika ingin menggambarkan bagaimana sosok seorang ibu baginya. Gambaran anak kecil tadi merupakan adegan pembuka untuk sebuah film dari Djenar Maesa Ayu dengan judul yang diambil dari cerita pendek yang juga menjadi cerita untuk filmnya, Mereka Bilang Saya Monyet. Terlepas dari kedua cerpen yang diangkat Djenar Maesa Ayu Lintah dan Mereka Bilang Saya Monyet karena sampai sekarang saya berlum pernah membacanya, jadi saya hanya melihat secara realitas sebuah film yang dibuat oleh DMA tersebut. Bagaimana sebuah reliatas begitu dekat untuk Djenar Maesa Ayu dalam Mereka Bilang Saya monyet
Film yang dibuat dengan cukup sederhana namun tidak sesederhana ini memang cukup meyakinkan untuk sebuah film yang diserbu oleh beberapa film horor dan komedi sex yang begitu ramai. soalnya pas minjem di rental vcd film ini diapit film2 horor dan komedi aneh. Film ini memiliki cerita bagaimana seorang perempuan Adjeng yang diperankan oleh Titi Sdjuman menghadapi masalahnya, masalah kehidupannya yang sepertinya diselimuti oleh bayang2 kelakuan ibunya yang diperankan sangat apik Oleh Henidar Amroe. Kekerasan emosi, mental yang pernah dialamai oleh Adjeng namun begitu dikasih batas antara hubungan anak dengan seorang Ibua yang telah melahirkan juga melakukan kekerasan mental, Adjeng seperti merasa sebagai seorang anak yang harus patuh terhadap ibunya. Hal itu terasa tidak berlaku bila ada bersama orang lain.
Keadaan yang dialami Adjeng inilah yang disampaikan oleh DMA dengan cukup mengesankan. Dari mulai bagaimana ia menceritakan Adjeng kecil yang begitu susah memberi sebutan untuk ibunya, bagaimana pacar ibunya bertindak terhadapnya ataupun bagaimana Adjeng harus tidur bersama dua orang untuk menutupi kekurangannya.
Adegan yang selalu berputar dalam film ini adalah bagaimana Adjeng kecil dan remaja menerima keadaan yang menimpanya, beberapa adegan ditampilkan secara menawan oleh DMA yang langsung memberetahukan kepada penonton secara langsung bahwa Adjeng Kecil sangat tersiksa dengan hidupnya hingga harus secara terpaksa memakan kembali makanan yang telah ia muntahkan sampai membuat traumatik terhadap makanan tersebut. Bagaimana kehidupan remajanya yang diganggu oleh teman sekolahnya menjadi keadaan yang ingin ditunjukan oleh Djenar, kita dicoba untuk ikut merasakannya secara berulang-ulang. Namun dari beberapa pengalaman getir Adjeng ada sedikit kasih yang ia terima walaupun ia sepertinya melupakan dengan gampang bagaimana seorang Pembantu yang dengan setia memberinya motivasi hilang begitu saja dalam cerita, apa karena ia memang seorang pembantu hingga sub-plot ini tidak rampung sampai dengan akhir babak. Atau karena memang benar sebuah realitas bahwa seorang pembantu apapun itu mereka hanya seorang pembantu. Penuturan yang dilakukan oleh DMA bahwa ada seorang yang sangat memperdulikan Adjeng Hanya sampai disitu saja tidak ada kelanjutan karakter yang diperankan oleh Jajang C Noer, rasanya jika karakter ini dihilangkan juga tidak berpengaruh apa2.
Dari cerita memang DMA memfokuskan kepada keadaan yang dialami Adjeng, dari beberapa adegan ada sebuah gambar yang menurut saya juga cukup menarik ketika pacar ibunya bersama Adjeng kecil berada dikamar mandi, sebuah air dengan lintah yang tiba2 berubah menjadi kemerahan, sebuah gambar simbolik yang biasa dipakai dalam beberapa film. Kalo menurut Guru saya sebuah kekerasan yang menarik, sebuah kekerasan yang digambarkan dengan sangat artistik, tidak secara langsung menggambarkan bagaimana kekerasan terjadi. Inilah salah satuhal yang saya angap menarik.
Adjeng tidak bercerita sampai disitu, cerita2 Adjeng yang lain masih terus ingin disampaikan DMA dengan menarik, melalui editing yang menarik dengan pengambilan gambar yang menunjukan perubahan setting cukup enak untuk diikuti. Bagaimana DMA melakukan pergerakan kamera ketika akan melakukan perubahan setting atau pengambilan gambar2 out frame lalu disolve untuk perubahan setting dilakukan. Teknik sinematografi ini sangat jarang dilakukan apalagi bagaimana harus menghubungkan dengan cerita tidak langsung meloncat. Editing baik didapati saat Ibu Adjeng ulang tahun yang berubah menjadi sebuah sketsa gambar keluarga.
Beragam realitas yang ingin di disampaikan oleh kedua penulis cerita tergambar dengan begitu jelas oleh sutradara yang juga ikut menulis naskah skenarionya bersama Ressa Herlambang. Beberapa Subplot yang dihadirkan cukup memberikan nilai tambah untuk mendramatisasi cerita. Banyak sekali reliatas yang ingin disampaikan oleh Pembuat film ini selain keadaan Adjeng dengan keadaan yang terjadi dibalik dunia kecil Adjeng dengan masalahnya. Melalui beberapa dialog beberapa realitas yang terjadi tersampaikan, seperti keadaan bagaimana orang lebih mementingkan diri sendiri lalu melupakan orang lain yang sebenarnya membutuhkannya, hal ini terjadi pada teman Adjeng, Yenny dan Andien. Juga dialog yang disampaikan Adjeng saat bersama Asmoro bagaimana sebuah hukum dan keadaan di negara ini mengenai pemerkosaan dll.
Akhirnya boleh dibilang gagasan yang disampaikan oleh DMA sudah tersampaikan dengan cukup jelas melalui filmnya kata lainnya realitas mengenai curhat seorang Adjeng sudah bisa dirasakan oleh penonton yang mononton. Akting para pemain dengan karakternya sangat bagus, Ray Sahetapy bermain cukup santai alami dengan pengucapan diolog yang sangat rapi, 2 thumb up buat karakter ini. Adjeng yang diperankan Titi Sjuman cukup tertolong dengan permainan lawan mainnya dan juga permainan sinematografi. Tetapi Adjeng lebih enak dilihat ketika tidak melakukan dialog lebih enak melihat dalam kondisi pasifnya adjeng yang pasrah.
Dari semua realitas yang ada di film ini yang paling keren adalah, bagaimana film ini dibuat dengan biaya seminim mungkin namun sanggup menghasilkan mutu yang bagus. Semoga nanti saya bisa melihat film2 mengenai perempuan yang dibuat oleh seorang perempuan dengan masalah perempuan indonesia khususnya cerita khusus yang selalu menjadi tema Djenar Maesa Ayu karena masih banyak masalah perempuan-perempuan yang belum terangkat. Sukses terus buat perfilman Indonesia.

Minggu, 06 April 2008

Singing in the Rain


Sejak pukul 19.00 WIB Monumen Serangan Umum 11 Maret sudah dipenuhi penikmat Jazz, walaupun acara dimulai pukul 20.30 mereka sudah menduduki tempat yang paling nyaman untuk melihat musisi Jazz yang akan tampil malam itu. Setidaknya ada 4 Band pada malam itu, penulis kurang begitu tahu nama Band itu, selebihnya yang pernah penulis dengar dari beberapa Band Jazz yang manggung malam itu adalah Fajar & Friend's, Five Jazz dan D'Brass yang menjadi bintang utama bersama dengan Tompi.

Tompi merupakan sajian utama malam itu, hiburan yang ditunggu pada malam minggu yang mendung. Penyanyi Jazz yang biasa manggung ditempat yang bisa dikatakan mewah ini selalu menyajikan penampilan yang apik dan menghibur.
Sejak acara dimulai setiap band yang tampil mendapat sambutan yangmeriah dari penonton yang ada di Monumen ini, seluruh band menampilkan ekspresinya masing-masing. mengkin semua sepakat malam itu merupakan malam cukup menghibur apalagi event Jazz ini gratis yang di adakan oleh Djisamsoe Premium. Kapanlagi bisa menonton hiburan Jazz gratis seperti ini.

Setelah terakhir tidak bisa melihat Tompi main di Bogey's Hyatt Regency lalu, ternyata terbayarkan sudah melihat penyanyi orsiginal Jazz dari indonesia ini. permainan efek suara yang dimainkan Tompi malam itu bisa dikatakan membuat semua orang tercengang melihat suara Tompi yang berubah-ubah, sebelumnya D'Brass yang menjadi Featuring Tompi malam itu juga menyajikan permainan yang enjoy apalagi pada lagu Sang Kodok milik legend Bang Benyamin dimainkan versi jazz.

Malam itu Tompi terlihat enjoy dengan suasana jogja yang sedang mendung itu, apalagi Tompi membawa penonton untuk bernyanyi bersamanya dipanggung yang ternyata temannya pada lagu Selalu Denganmu. Yang cukup menghibur pada malam itu adalah ketika gerimis mulai turun, secara spontan Tompi bermain lagu dengan penonton yang mulai diguyur hujan. Kata-kata spontan dirangkai dengan enak malam itu oleh tompi dan itu membuat penonton yang sudah kehujanan tak mau beranjak dari tempatnya. Yang jelas malam itu tak ada yang menolak Tompi dan band lainya. Great Tompi and Band, pokoknya malam itu merupakan Singing in the Rain.

Malam itu penulis juga sempat bertemu dengan seorang teman dari Surabaya, kalo tidak salah namanya Latif seorang fotografer dan juga perempuan manis berbaju merah dengan senyumnya yang menarik yang lupa gak nanya nama. mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi dan ngobrol Jazz lagi dan juga Jamie Cullum bisa manggung di Jogja Amien...

Jogja. April. 05. 2007
Gugun 7

The Butterfly

The BUTTERFLY
Sutradara : Nayato Fio Nuala
Penulis : Titien Watimena
Pemani :Poppy Sovia, Debby Kristy, Andhika Pratama
Produksi : Maxima Pictures
Durasi : 85 Menit

Sebuah gabungan dua sutradara antara Koya Pagayo dengan Nayato Nuala, inilah kesan pertama setelah menonton film dari Maxima Pictures The Butterfly. Penggabungan antara dua pemikiran yang satu pemikiran dari sisi seorang Nayato dan sisi lainnya dari Koya Pagayo dengan project spesialis film horornya. yang sangat mencolok adalah perpaduan cinematographi yang biasa digunakan oleh Koya Pagayo dengan tata kamera yang bergerak cepat, tata cahaya yang cenderung memberi kesan gelap serta editing cepat dengan nayato yang memiliki project film drama percintaan seperti Cinta Pertama, Kangen yang menggunakan cinematographi enak diikuti. Mungkin inilah sebuah Project gabungan antara Koya pagayo dan Nayato.
Film ini sendiri bercerita tentang sebuah perjalanan, cerita dimulai ketika Desi (Debby Kristy) yang melakukan perjalanan bersama dua orang sahabatnya Tia (Poppy Sovia) dan Vano (Andika Pratama) sebagai hadiah ulang tahunnya. Dalam perjalanan mereka mengingatkejadian mulai dari mereka bertemu sampai pada konflik para pemainnya. hingga akhirnya Tia tau bahwa Desi sangat mencintainya melebihi seorang sahabat. dan itu berlangsung sebelum Desi yang memang mempunyai penyakit meninggal.
Karakter yang ada dalam film ini digambarkan oleh Mba Titien Watimena (Penulis idolaku) terasa banyak sekali kebocorannya atau ngambang. Selama film ini karakter Desi lebih banyak digambarkan dan hampir melupakan tokoh keduanya. Cerita yang ingin disampaikan oleh mba Titien tentang Desi yang ternyata mencintai Tia kurang kuat malah penonton sepertinya dipaksa untuk tau bahwa selama ini Desi mencinta Tia pada akhir Film. Ada juga salah satu adegan dalam mobil ketika Vano mengajak Tia untuk tidur, dalam dialognya mereka menyebutkan bahwa Tia mimpi buruk tentang Tsunami tidak tau maksud dari diaolg ini untuk apa, padahal tanpa dialog itu penontonpun pasti sudah tau. Tapi kemampuan mba Titien dalam menentukan interaksi para sahabat-sahabat ini cukup enak untuk diikuti, sepertinya mba Titien memang jago dalam urusan ini membuat tokoh dengan persahabatan mulai dari kelakuan para tokoh, gaya bicara dan diaolg-dialognya semua tersusun dengan logis rapi.apalagi ketika adegan Tia berbicara dengan Vano yang begitu perhatian dengan kedua perempuan sahabatnya itu sampai-sampai ia tau apa yang akan diucapkannya.
Dari keseluruhan slama nonoton film ini, tujuan dari film ini terasa kurang sampai dengan tagline "Love is like a butterfly, it can stay or it can die".film ini berusaha menjadi film drama percintaan namun dengan tekhik cinematographi ala Koya Pagayo seperti yang penulis ditulis diatas dengan low angle atau editing yang cepat secara tidak langsung meskipun menghasilkan gambar yang sangat bagus namun memberi kesan yang suram seperti disajikan untuk film horor, walau mungkin itu ditujkan dengan keadaan karakter, menjadikan film ini seperti film horor. dan juga unsur-unsur yang mendukung film ini seperti kupu-kupu yang menjadi simbol dalam film ini dan juga judul. Kupu-kupa hanya dikuatkan melalui pengakuan emotional masing-masing karakter mengenai kupu-kupu dalam bentuk gambar jarang sekali kupu-kupu ini menjadi unsur yang sangat menguatkan alur film ini. sepertinya kupu-kupu hanya untuk artistik saja, peran kupu-kupu kontribusinya terhadap film ini masih dipertanyakan, terkadang memang banyak sutradar kita yang lebih mementingkan gambar baik dengan atau tanpa tau kontribusinya untuk tema filmnya.
Dibandingkan dengan film-film terdahulunya, baik yang horor maupun tema percintaan saya rasa film ini kurang berhasil. apalagi dalam film ini jalan cerita yang sebelumnya penonton sudah tau, menikmatinya malah terasa dibikin pusing melalui cinematographi baik gambar, editing , kontinitinya yang indah namun menjebak penonton entah kemana, malah terasa kesasar dari film drama percintaan yang tragis menjadi film horor yang lebih tragis atau sebaliknya.
Terus terang menonton film ini seperti menonton dua film yang berbeda, yang pertama menonton film dari Koya Pagayo dan yang satu menonton Nayato. Selebihnya diluar tema salut buat tim yang bisa menghasilkan gambar2 yang indah.

Beberapa hal yang menarik dalam film ini:
  • Adegan ketika vano kencing dan didepannya lewat ibu pemetik teh
  • Permainan balon kondom
  • Akting para pemainnya
  • Gambar yang bagus
  • OST mengingatkan pada Rangga dan Cinta dalam AADC

Jumat, 04 April 2008

ReBorn


Mengenai dan mengenali diri sendiri.

Terdampar dalam beberapa kebimbangan merupakan kata yang tidak tepat untuk saat ini, namun mereka kadang bilang bahwa kamu yang bikin jalan menjadi rumit bukan beribu alasan yang selalu kamu katakan kepada kami. Kesal pada mereka, tidak mereka orang yang selalu memberikan senyum kepadaku.

Wah Intro yang sangat kurang menarik untuk disimak, yang jelas mulai saat anda membaca tulisan ini, telah lahir semangat baru dariku, semangat untuk memulai yang telah lama ditinggalkan, kalo boleh di hitung ketika Ikal sampai pada Rencana C setelah rencana A dan B Gagal saya sudah menjalani Rencana K। Ketika menjadi Tukang Pos menjadi Pilihannya saya membencinya. Namun Pilihannya untuk selalu maju saya suka (nglantur lagi dab- bingung sudah lama gak nulis)2per3 dari pendidikan sudah terlewatkan, selanjutnya masih banyak jalan. melanjtukan cita2 yang belum berbicara. Kepada semua Teman "Bimbinglah aku untuk menjadi seperti apa yang kau kira"

ReBorn kata yang tidak tepat memang.
ReBorn terpilih karena bahasa inggrisnya
ReBorn ReBorn ReBornReBorn ReBorn ReBorn ReBorn
AKu DAtANG Teman Dengan Senjata ditanganku, untuk melumpuhkan semuanya.
Wah bingung nulis apa, sudah kuakhiri saja tulisan ini, kasihan kata-kata yang tak memiliki makna ini. bisa2 dimaki orang.

Salam 7

Victoria's Real

Google+ Badge