Senin, 25 Desember 2017

Travel Journey episode: dari danau toba


Kamu pernah ke danau toba?  Belum, jawabku saat itu. Itu danau terdalam di dunia, itu merupakan sejarah super super volcano yang pernah terjadi hingga terbentuk kaldera seperti sekarang ini. Iya, itu yang aku baca. Selain hanya melihat beberapa keindahan gambar atau video di timeline Facebook.
Keinginan untuk bisa ke Sumatera utara semakin kuat ketika ternyata Lutfi juga sangat ingin kesana, propinsi ke 8 terakhir yang belum dikunjungi. Katanya ia ingin kesana karena ingatannya tentang pelajaran di Sekolah Dasar tentang danau toba.
Beberapa calon project memang menawarkan berada di sana,  namun selalu belum terwujud. Tapi, kesempatan selalu datang bagi yang selalu mengharap dan berusaha. Project liputan ke beberapa daerah di Indonesia kembali datang, dan saya disuruh memilih sendiri daerah yang akan didatangi.

Untuk istri tercinta yang ingin mewujudkan bisa berada di 34 propinsi Indonesia,  saya memilihkan 3 lokasi yang belum pernah ia kunjungi, dan dia bisa ikut nebeng traveling. Sumatera utara menjadi pilihan pertama kala itu. Danau Toba, pesonanya yang ingin saya rengkuh akhirnya bisa terwujud,  dan ini perjalanan cerita saya. 
Orang pertama yang saya kenal di Sumatera Utara adalah Erwin Sirait, Driver yang akan menemani kami selama 4 hari di Simalungun. Dia menjemput di Kuala namu, salah satu bandar terbaik menurut saya. Badannya kecil dengan tato kecil di tangan kirinya. Dia mengenalkan dirinya setelah kami masuk ke inova, sebenernya kami meminta avanza saja karena lebih murah, tapi dia bilang daripada rugi badan mending rugi sedikit uang. Dan, benar katanya rute yang kami lalui memang membutuhkan diameter roda yang cukup lebar untuk menghadapi lubang jalanan dari Medan menuju Simalungun. 

Yang masih saya ingat selama perjalanan adalah sapi,  kebun sawit, dan pos pemuda pancasila. Banyak sekali saya lihat pos-pos pemuda pancasila di rute Medan-simalungun ini. Kami berhenti istirahat untuk makan,dia mengantarkan kami ke warung halal katanya. Begitulah disana memang ada dua pilihan tempat untuk makan, tenang saja banyak kok yang bisa kita makan.
Kami bermalam di Pematang Siantar. Kota yang cukup ramai di malam hari. Kami mencari makan malam yang cocok dengan selera kami malam itu, untung saja saya bisa makan apa saja asal enak dan lapar,  meski nasi goreng jika ditambah ayam, ikan, kuah soto, kerupuk, emping, sambal itu akan menjadi nikmat.
Pekerjaan dimulai pada esok paginya,  jalanan kabupaten Simalungun mulai menunjukan kehijauannya. Jalanan berbukit dengan pasar yang kami lewati selalu terlihat ramai. Dan juga penjual makanan ternak babi, yaitu ampas tahu.
Hari pertama kami langsung diajak ke landmark propinsi Sumatera Utara ini, danau toba. Dari jalanan yang terus menanjak di simalungun saya mulai melihat bulir cahaya pada air dari kejauhan. Itukah danau toba yang banyak orang bicarakan. Semakin dekat, saya semakin melihat luasnya danau terdalam ini. Melintasi bukit berkelok dengan sisi kanan adalah danau toba. "nanti kita berhenti di sana, tempatnya bisa mendapatkan view yang bagus" kata pak yang mengantar kami. Kami ikut saja, menurut saya dimanapun view danau toba ini, seperti selalu terlihat menarik.
Saya mengambil beberapa shoot untuk kebutuhan gambar. Meski langit tidak begitu seperti yang saya inginkan, pemandangan yang tersaji di depan mata saya adalah sebuah keindahan. Lutfi sudah asik sendiri mencari spot foto untuk instagramnya. Kalau foto di lokasi ini harus bayar 5000 perorang.  Pulau Samosir terlihat sangat besar mengisi bagian tengah danau toba. Besok kami akan kesitu, memutarinya sampai brastagi dan menuju medan. 

rumah pengasingan bung karno di danau toba
Pekerjaan  kami sangat cepat selesai di Simalungun, itu artinya sisa waktu yang ada adalah liburan. Yak kami akan liburan di danau toba. Berputar2 di samosir, mencari rumah adat asli sumatera selatan dan mendengar penuturan kisah dari penghuninya. Tempat pertama adalah rumah pengsingan Bapak pendirij bangsa ini, pak Karno pernah diasingkan di danau toba. Lihatlah dan rasakanlah apa yang pak Karno lakukan ketika di tempat ini. Saya membayangkan sosoknya keluar rumah, menikmati senja di hadapannya. Dia, tersenyum melihat nelayan dari kejauhan, atau dia tersenyum menyadari bahwa negeri yang tanahnya ia perjuangkan begitu indah.
Sebelum menuju samosir kami mengisi makanan dulu, baru kemudian akan menuju ke pelabuhan yang akan mengantar kami ke samosir. Saya membaca kembali gapura bertuliskan selamat datang di kabupaten lain  Ternyata danau toba ini cukup luas dan berada di wilayah beberapa kabupaten di sumatera utara. 
kapal gagal berangkat
Rencana kami berubah, ternyata kapal yang akan membawa kami menyeberang tak bisa berangkat, kapal berikutnya  berangkat pukul lima, itu artinya selama 6 jam kami harus menunggunya. Akhirnya lutfi merubah rencana dengan mendatangi temannya di balige, dan juuus kami langsung menuju ke balige. Hujan deras menemani kami di perjalanan menjju balige. 3 jam yang bisa membuat saya tertidur.
Kami sampai di balige, sebuah tempat bernama helo toba. Semacam showroom dengan produk kerajinan dan cinderamatakhas sumatera utara. Kami bertemu simon dan dia mengajak serta mengantar kami untuk melihat sekaligus mengambil gambar sunset dengan spot terbaik. Sebelumnya kami disajikan kopi dari toba.

Kami sempat khawatir karena hujan tak kunjung reda, sepanjang perjalanan hujan terus menerus turun tanpa ada tanda untuk berhenti. bahkan ketika kami diajak ke pantai yang sebenarnya danau ini hujan masih turun. sekedar untuk mengambil foto rumah adat di pinggiran danau toba juga gagal karena hujan.

Kami melanjutkan menuju spot sunset sambil berharap hujan mereda. kami mendapat bonus sebuah pelangi yang terlihat sangat indah dari balik jendela mobil. bukan hanya satu pelangi, melainkan dua pelangi. Kamipun memakasa turun meskipun masih hujan, dengan berhati-hati saya mengeluarkan kamera untuk mengambil momen ini. sambil terburu-buru saya mengambil momen berharga ini. sampai saya sendiri lupa lens cap tertinggal di tempat ini.

Setelah mengambil gambar pelangi kami melanjutkan menuju bukit sunset. Kamu tahu  Ronggur terbunuh di tempat ini, di sini terkubur jasad ronggur. Penjahat keren yang ada di film Toba Dream. Saya mengingat pengalaman visual saya ketika melihat film Toba Dream yang memang keren ini. oh inikan lokasi suting film itu.

Angin langsung menusuk tanpa permisi, hanya kaos yang saya kenakan waktu itu, tanpa tahu bahwa kondisi di tempat ini adalah angin dingin. dan saya pun menggigil. Rasa dingin terkalahkan dengan motivasi untuk sedikit mengambil gambar Toba dari tempat ini. Lutfi masih terlihat bahagia meski sedikit kedinginan. Kami menyempatkan untuk berfoto bersama sebagai bukti bahwa kami sudah sampai di tempat istimewa ini.

Tanpa berlama-lama kamipun segera masuk kembali ke mobil untuk menghindari angin dingin di bukit Ronggur saya menyebutnya, sebuah lokasi makam yang sangat cantik di atas kaldera toba. Sambil tertawa mengingat kejadian dingin ini kami berlalu dari tempat ini dan berharap bisa kembali ke tempat indah ini dengan persiapan yang lebih baik.



Rabu, 09 Agustus 2017

Merayakan Kemenangan di Tahu Campur Ojo Lali, Tebet, Jakarta Selatan

 Kami sepakat untuk makan malam tahu campur hari itu. Yak, tahu campur, makanan yang berasal dari Jawa Timur ini bisa dibilang menjadi salah satu makanan favorit saya. Ceritanya makan malam ini untuk merayakan dipilihnya tulisan Lutfi sebagai salah satu yang terbaik dalam lomba penulisan catatan perjalanan di Asean Literary Festival yang ke 4 di Jakarta. Dia sangat bahagia mendapatkan namanya berada di poster pengumumannya. Apalagi para pemenang dengan tulisan terbaik akan dibukukan. Jadi malam itu kami merayakan dengan makan tahu campur.

Karena sudah terlalu sering makan tahu campur yang ada di Pejaten, kami berencana untuk mencoba nasi campur yang ada di Jalan Dr. Saharjo , Tebet - Jakarta Selatan. Kalian mungkin sudah terbiasa bergoyang lidah dengan tahu campur, potongan tahu yang beradu dengan kikil, tetelan sapi yang kemudian dilembutkan dengan gurihnya kuah kaldu yang meresap dalam, ditambah kressnya daun selada yang masih segar, dan pecahnya racikan petis spesial yang luber di rasa, maka nikmat mana yang bisa kau dustakan ketika lidahmu bergoyang dengan cita rasa makanan khas Jawa Timur ini.

Senin, 31 Juli 2017

Harmoni dari Klenteng Dukuh, Surabaya

Menyinggahi kelenteng tertua di Surabaya saya merasakan pengalaman baru. Semua itu berasal dari orang-orang di kelenteng yang saya temui. Cerita sejarah, bencana dan harmonisasi kita sebagai manusia bercampur menjadi pengalaman. Bersama rekan kerja, sekaligus sutradara documenter sekaligus istri tercinta, kami menikmati satu Minggu di distrik pecinan di Surabaya.

Tujuan kami ke Surabaya kali ini adalah untuk membuat documenter tentang wayang potehi. Wayang Potehi adalah salah satu jenis permainan wayang yang berasal dari Tiongkok. Dan, komunitas wayang potehi terbesar saat ini ada di Surabaya. Saya tidak akan banyak bercerita tentang wayang potehi, karena referensi banyak terdapat di google. Yang pasti wayang potehi sekarang sudah mengalami akulturasi budaya Indonesia. 

Sabtu, 29 Juli 2017

Jalan-jalan di pameran tanaman keren di Jakarta, Instagramable


Boleh dibilang pameran tanaman flona ini menjadi event tahunan yang selalu saya kunjungi di Jakarta. Flona merupakan pemeran flora dan fauna tahunan yang menampilkan peserta dari vendor tanaman & hewan juga dari pemkot Jakarta. Banyak kesenangan dan ada juga ga senangnya jika berada di sini.
Tahun ini menurut saya booth-booth peserta pameran berkurang, lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Booth-booth langgananku untungnya selalu ada. Booth anggrek dan booth dari Trubus menjadi langganan jika ada flona. Untungnya booth dari pemerintah kota di Jakarta menampilkan sesuatu yang lebih menarik dari tahun lalu. Langsung saja saya tertarik dengan booth dari Jakarta Pusat, mereka menggunakan bambu untuk menarik pengunjung. Selain itu setiap detail yang mereka bikin, menurut saya sangat efisien dan berfungsi, tidak sekedar display booth buat foto-foto pengunjung yang kadang bikin riweh.

Kamis, 13 Juli 2017

Merupakan Cerita yang Tidak Penting

Ini good mood kedua untuk menulis lagi, apa saja, kapan saja, di mana saja. Surabaya, saya kembali lagi ke kota ini. Banyak kenangan terekam dari salah satu kota besar di Indonesia ini. Kalau dulu naik kereta eksekutif dengan tidak perlu beli tiket, kota inilah yang dituju. Tahun 2000 sekian, saya lupa naik kereta eksekutif cukup bayar 50.000, caranya tidak mau saya ceritakan di sini, biar ga ditiru dan sekarang juga ga bisa diterapkan lagi soalnya. 


Tujuan kedatangan kali ini adalah untuk produksi program dokumenter. 3 bulan yang lalu saya juga ke surabaya, sama untuk suting profile petani. Kali ini untuk eagle institute metro tv tentang wayang potehi. Lengkapnya nanti saya tulis lagi di blog ini, kalo mood menulis lagi baik. Kali ini saya cuma mau cerita asal aja tentang hati ini dan juga tentang hari ini.

Rabu, 12 Juli 2017

Di Balik Layar: Yang Bertahan di Jalan (Ondel-ondel)

Poster promo
Apa yang anda pikirkan ketika melihat, mendengar tentang ondel-ondel? Apakah sama seperti saya. Pertama, itu adalah salah satu kesenian khas dari Jakarta. Kedua, ondel-ondel dinyanyikan oleh Bang Benyamin Sueb. Ketiga, ondel-ondel adalah rombongan pengamen yang kadang menyebabkan macet di Jakarta. Seperti itu mungkin gambaran umum tentang ondel-ondel saat ini, itu menurut saya. 

Ketiga hal itu bertambah setelah saya dan Lutfi mendapat project dokumenter tentang ondel-ondel untuk Melihat Indonesia, Metro TV. Kami mulai riset pra produksi tentang ondel-ondel, dalam riset kami menemukan beberapa hal yang memang jarang orang mengerti. kami bertemu dengan seniman ondel-ondel, kami bertemu dengan beberapa orang yang menggunakan ondel-ondel untuk mencari nafkah. Ternyata di balik boneka besar itu banyak cerita yang baru saya ketahui.

Kamis, 23 Februari 2017

Warga Baru Anggrek Spesies di Kebun

Sosok indah yang tahan lama itu bertambah, meski belum nampak bunganya, saya yakin anggrek tetaplah bunga yang sangat indah. Selalu mendambakan tanaman cantik, anggrek menjadi salah satu pilhan saya, terlebih tanaman tersebut memberikan nuansa alami dalam pot, segar dan membuat mata tertarik melihat ke arahnya.

Warga baru yang datang untuk menambah koleksi anggrek di kebun adalah salah satu jenis spesies dari Eria multifora (id ini saya dapat setelah bertanya di grup Anggrek Spesies Indonesia di Facebook) kemudian yang satunya adalah Bulbophyllum flavescens. 
Bulbophyllum flavescens

Google+ Badge