Rabu, 30 Maret 2016

Test Flight Yuneec Typhoon Q500


Selatan Jakarta, Lapangan Pomad view spot.

Keindahan gambar bisa dihasilkan dengan beragam cara. Salah satu yang sekarang ramai untuk menghasilkan gambar menarik adalah dengan angle lebar dan dari atas atau high angle. penggunan Quad qopter bahkan lebih menjadi pilihan yang terbaik. RC aero yang sangat ngetrend ini menjadi pilihan karena sangat mudah digunakan, tentunya dengna mempelejarinya lebih dulu.

Dari kantor, bos besar yang juga memiliki kecintaan pada gambar-gambar bagus akhirnya membeli sebuah drone. Yuneec typhoon Q500+ menjadi pilihan. Minggu kemarin saya berkesempatan untuk test flight bersama si yuni ini(yuneec ternyata sering diplesetin menjadi yuni oleh komunitas RC) Bagi saya setelah 30 menit mencoba Yuneec Typhoon Q500 ini ternyata memberikan efek aman. ya, aman adalah kekuatan pertama bagi saya untuk menerbangkan drone. Rasa aman yang bisa menyingkirkan rasa takut jika terjadi crash.

Unboxing Typhoon Q500
Quad Qopter ini dilengkapi dengan fitur yang bisa membuat pilotnya merasa aman. gimbal 3 axis yang sudah termasuk didalam paketnya bersama kamera 3CGO mennjadi kesatuan yang menarik, redaman ga terasa ketika kita mengambil gambar. karena pilot nubi jadi belum mencoba untuk bermanufer mengambil gambar. Nanti dicoba selanjutnya, semoga dengan adanya tambahan alat ini Basecamp kami Alfa Griya Visual menjadi makin baik dan makin banyak job.


Test Flight

Penampakan Yuneec Typhoon Q500
Kesimpulan: Yuneec Typhoon Q500+ sangat cocok untuk pemula. jangan takut untuk mencoba semua fitur. Kalibrasi awwal yang harus dibolak-balik dan restart power untuk siap terbang.

Kamis, 17 Maret 2016

Dari Balik Jendela

Tidak ada yang terlewat, meski itu hanya sekelibat. Dia datang, kemudian pergi. Pagi hari yang sangat cerah di selatan Jakarta, aku sengaja ingin mengalami, menikmati tanpa harus melihat yutub untuk gerhana matahari total yang terjadi di tahun ini, dari para peneliti sih hanya terjadi di abad ini. Aku terbangun bersama istri paling manis di semesta ini. Kami bersama melihat fenomena gerhana ini dari balik kendela kamar.

Kecil memang terlihat matahari yang sangat jelas seperti bulan sabit waktu kami melihatnya. Dari pantulan kaca jendela, gerhana kami lihat tanpa kacamata, meski harus sedikit menyipitkan mata untuk melihat jelas. Dari balik jendela kami menatapnya. Dari balik jendela kami berdua menikmatinya, hanya kami berdua :). Serasa milik berdua, kamar kami.

Udah, sepertinya hanya ingin menuliskan itu saja. Disela Maret bulan penuh kasih sayang bagiku. Disela kesibukan jadual motret dan juga suting, hanya ingin menuliskan itu. Itu sudah, bagaimana denganmu? Semoga tidak hanya melihat gerhana dari layar yutub ya :).

Dari Balik Jendela

Senin, 07 Maret 2016

Dari Sawah Turun ke Hati

Salah satu hal yang bisa membuat orang merasa bahagia adalah mendapatkan makanan yang menjadi kesukaannya. Termasuk saya, rasa bahagia selalu muncul dengan sendirinya ketika saya menemukan makanan kesukaan. Tapi, ini bukan hanya tentang makanan, melainkan kenangan masa kecil yang ikut muncul ketika saya bisa menikmati makanan tersebut. Kenangan masa kecil ketika saya dan sepupu juga beberapa teman di kampong saya bermain di sawah mencari keong kraca untuk kami masak. Ini adalah ceritaku dari sawah turun ke hati yang menjadi kenangan menyenangkan masa kecil di sudut otak ini.



Cuaca mendung saat itu tak meyurutkan saya dan beberapa teman di kampong Ranjingan untuk mencari keong kraca, keong kraca di beberapa tempat disebut sebagai keong tutut. Meski orang tua kami melarang pergi ke sawah ketika hujan, kami tetap pergi dengan membawa ember sebagai wadah keong hitam keci-kecil tersebut.

Dulu kami sering mendengar cerita orang-orang tua di kampong bahwa banyak kejadian orang yang disambar petir di sawah ketika hujan. Memang cerita seperti itu membuat saya takut saat itu. Tapi, bayangan kenikmatan dari kuah kuning keong kraca tersebut bisa mengalahkannya ditambah kenakalan masa kecil yang diharuskan menjadi pemberani.

Rintik hujan sudah turun, kami tetap menyusuri pematang sawah untuk mencari keong tersebut. Kaki-kaki kami mulai turun memasuki lumpur sawah yang menunggu untuk ditanami padi lagi. Biasanya keong kraca dengan mudah ditemukan ketika padi di sawah sudah selesai dipanen. Selain itu juga kaki kita bisa leluasa menginjak lumpur sawah tanpa takut merusak padi karena memang sudah tidak ada. Satu demi satu keong kecil tersebut memenuhi ember kami.

Setelah ember penuh, dengan penuh kebahagian kami pulang. Badan beraroma lumpur dan basah kuyup karena hujan menjadi masalah yang menyenangkan. Dan, kami membersihkan diri dulu di sumur tetangga sebelum sampai rumah agar terlihat tidak terlalu kotor, tentunya agar tak dimarahi oleh orang tua kami.

Biasanya keong direndam dulu semalam untuk menghilangkan kotoran keong, merendam keong semalaman bisa mengurangi rasa pahit dari keong kraca. Setelah direndam hal yang paling menyenangkan adalah memotong buntut(ujung belakang keong). Sungguh menyenangkan itu semua, kenangan masa kecil yang terekam dengan baik. Semua menjadi lebih bahagia ketika keong sudah matang dan kami makan bersama-sama.
 


Belasan tahun berlalu. Kenangan itu kembali muncul ketika saya suting program tv kuliner di Bandung. Produser saya waktu itu memberi tahu bahwa ada keong tutut di warung tersebut. Saya ga tahu awalnya apa itu keong tutut, ternyata….

Bahagia itu sederhana. Memang benar adanya kalimat tersebut. Bahagia bisa menemukan kembali potongan masa kecil melalui makanan sederhana itu.

Sekarang setelah saya berkeluarga, bersama istri cantik saya. Kami membuat sendiri keong kraca berkuah yang menjadi favorit dulu waktu kecil. Meski tanpa harus turun ke sawah karena menemukan penjual keong tersebut di pasar kramat jati.
Makan berdua
Sekali lagi, bahagia itu sederhana. Kami menikmatinya berdua, memasaknya berdua, mengolahnya dengan penuh tawa karena lutfi baru pertama kali memasak menu tersebut. Ingatan masa kecil selalu terbawa bersama butir demi butir keong tersebut, ingatan yang bahagia. Tidak ada yang lebih nikmat ketika kita punya rasa itu. Rasa yang pernah berasal dari kaki-kaki kecil berlumpur di sawah dengan tawa bahagia yang terbawa hingga saat ini.


Dan akhirnya kami memutuskan untuk memasukan menu keong kraca menjadi salah satu menu bulanan istimewa kami. Terima kasih istriku. Terima kasih hikayat dari sawah yang turun ke hati dan terbawa sampai saat ini.

Google+ Badge