Selasa, 21 Juni 2016

Behind the Scene Eagle documentary series Special Project: eps. Pesona Tanah Leluhur



Tiba-tiba perahu yang kami naiki mulai bergoyang dengan cepat, menuju ke tengah ombak semakin meninggi. Saya yang duduk di ujung perahu, perlahan mundur ke belakang. Kamera strip saya ikatkan ke lengan biar aman. Padahal tadi waktu masih di dermaga, cuaca sangat bersahabat. Langit biru, angin yang sepoi ga sekencang ini. Akhirnya kapten perahu memutuskan untuk mampir dulu ke pulau Liwungan. Tranplatasi terumbu karang dilanjutkan nanti setelah angin mereda. Kamipun tak menyia-nyiakan ketika berada di pulau kecil ini. Pulau Liwungan menjadi salah satu destinasi ketika wisatawan berada di area teluk Ladda dan Tanjung lesung. Ini hari ke -4 pengambilan gambar untuk eagle documentary series episode Tanjung Lesung. Ga terasa memang, padahal saya masih ingat bagaimana Lutfi masih duduk di perahu mengenakan vest orange, sedang diskusi dengan pak Arif, salah satu narasumber kami. Melihatnya berbicara dengan pak arif di atas perahu yang bergoyang karena ombak, dan saya seperti melihat orang yang dulu sangat saya cinta. seperti itulah dia, yang membuat saya jatuh cinta. 
Sebelum cuaca semakin tidak baik, dan langit semakin mendung.
Ini produksi program dokumenter ke-2 tahun ini untuk kami, kalo saya masih beberapa menjadi editor project dokumenter temen. Produksi kali ini merupakan special project eagle documentary series. Tentang Tanjung Lesung, satu dari 10 destinasi wisata prioritas pemerintah untuk dijadikan magnet wisatawan dalam dan luar negeri. Bagi saya Tanjung Lesung sangat indah di beberapa spotnya. Jenis atraksi wisata yang beragam dan juga aktifitas yang menyenangkan. Memang membutuhkan duit banyak untuk bisa menikmati Tanjung Lesung tapi kita masih bisa menikmati spot indah lain dengan menggunakan jasa wisatawan setempat, lebih hemat. Yang masih disayangkan adalah, harga makanan di desa nelayan sangat mahal, warung makannya ga sesuai sekali, dianjurkan untuk melihat harganya. Mending nambah dikit terus makan di restoran tanjung lesungnya.
Senjata produksi kali ini
Dua hari pertama kami habiskan untuk mengambil footage atraksi dan keindahan Tanjung Lesung. Vila dan hotelnya yang mengesankan tidak lupa kami ambil. Untung saja kami mendapatkan cuaca yang kami inginkan, dan sunset yang menawan. Ada juga gambar gunung krakatau yang terlihat dari hotel.

Hari berikutnya kami berencana ambil tranplatasi terumbu karang. Seperti yang saya tulis diatas, rencana berubah karena cuaca dan kami tetap menikmatinya. Inilah untungnya kerja sambil bermain, jadi ga kerasa. Meski kerasa dikit kecemasan kalau hujan trus ga dapat gambar.

Hari keempat kami gunakan untuk mengambil gambar desa wisata cikadu, yang didalamnya terdapat perajin batik. Di sana kami mengambil kelompok ibu-ibu dari kelompok seni yang saya lupa namanya. Pengambilan berlangsung lancar meski sedikit terkendala audio dari mesin penggiling padi.

Hari ke lima adalah hari terakhir kami suting, memang tak sesuai jadual, masih ada hari keenam. Tapi karena ada suatu sebab yang bisa bikin malu dan trauma serta tak mau saya ceritakan maka suting berhenti di hari kelima. Hari itu kami mengambil footage profile dari sepasang wisatawan di tanjung lesung. Meski kaki bergetar, tubuh terasa panas. Suting di villa berlangsung lancar.

Inilah sedikit cerita dari produksi kami untuk eagle institute indonesia. Produksi kali ini saya merasa belum cukup puas dengan kondisi di lapangan. Tapi, kami tetep senang setelah melihat hasil tayangannya. Terima kasih untuk semua tim di kedoya, editor mas darwin nugraha dan aris. Dan, tentu saja untuk director, penulis, sekaligus istri yang selalu ada di setiap produksi.
ini bossnya

Pilot yang bareng kami, Awal
Yeah, happy di atas dua roda.
Poster pertama
Favorit
Perajin Batik khas Banten







Minggu, 01 Mei 2016

Teman Kopi #1 Aroma Pasar di Pasar Minggu

Bagi saya kopi itu seperti seorang teman, ada kalanya ia menjadi pengobat rindu, suatu waktu ia meringankan kepala dengan pekatnya rasa yang ia punya. Kopi seperti seorang teman yang memberikan hiburan, apalagi ketika kopi bertemu dengan canda, tawa, dan cerita. Ini cerita kopiku, dari rasa yang menggugah rasa.
Apa yang kamu lihat bisa jadi bukan seperti yang kamu rasakan.
Saya menyebutnya riak kopi, ia muncul ketika seduhan air dari panci yang saya tuang ke dalam cangkir kecil dengan 2 sendok kopi arabika yang saya dapat di pasar minggu. Sambil membayangkan seorang penari yang meliuk, air yang saya tuang mengikuti iramanya, berputar menimbulkan percikan kecil yang terdengar nyaring. Aromanya belum muncul, saya menantinya. Sambil menanti aroma arabika Wamena, akan saya ceritakan di mana bisa mendapat kopi dengan rasa istimewa ini.

Pasar Minggu, dulu terkenal dengan macet dan semrawutnya jalan yang menyatu dengan pasar tersebut. Dengan perlahan dan sedikit dibumbui dengan konflik ketika pemkot Jakarta mencoba berbenah, Pasar Minggu kini lebih baik dari sebelumnya, ini pendapat saya pribadi ketika pertama datang ke pasar minggu dengan kondisinya yang untuk jalan motor aja susah. Sekarang, saya merasa nyaman.

Kembali ke urusan kopi, sebenernya yang pertama tau ada kios kopi di dalam pasar Pasar Minggu adalah istri saya. Karena penasaran sayapun tertarik ingin berkunjung dan mencoba membeli beberapa ons kopi.
 

Akhirnya kami menemukan kios kecil penjual kopi tersebut. Sedikit lupa dan terasa menyenangkan memang ketika kita belum hapal kios pasar di dalam pasar minggu. Ramai orang dengan bentuk kios yang hampir sama, dan kecil, bisa membuat bingung. Ditambah hmmm aroma pasar yang membaur campur menjadi satu, aroma pasar! Setelah berputar-putar kami menemukannya, sayang kios yang dimaksud tutup. Tapi tidak kios yang sebelahnya. Kenapa kios ini tutup, akan saya tulis di blog post berikutnya, tunggu ya. Soalnya kios yang tutup tersebut menurut istri saya, orangnya lebih tau tentang kopi yang ia jual dan dia sangat ramah.

Kios kopi mereka bersebelahan, karena tujuan kami tutup, maka daripada pulang dengan tangan kosong kami mencoba ke kios sebelahnya. Namanya kios Merli Jaya, meski diplakat tertulis toko entah kenapa saya lebih suka menyebut kios. Kios ini terletak di lantai dasar, los C55-56 proyek pasar minggu. Kami bertemu dengan seorang ibu berkerudung yang menjaga kios. Berkerudung ping dan berkacamata. Saya lupa menanyakan nama beliau. 
Ibu dengan kerudung Pink
Saya langsung cinta dengan aroma pasar di posisi saya berdiri saat itu, bukan aroma pasar yang hmmm... Kopi dengan keistimewaannya memang memberikan wangi yang mudah diingat. Bau kopi, bau biji kopi, aroma biji kopi wangi. Lutfi sudah asik berbincang dengan ibu tersebut, saya masih mengagumi sudut kecil di ramainya pasar pasar minggu ini. Sambil tangan saya bergerak mengambil sejumput teh yang ada di depan saya. Lho kok teh, sebagai informasi kios ini selain menjual kopi juga menjual teh dan kerupuk serta keripik.tehnya macem-macem dan baru pertama kali saya meliihat bentuk teh seperti itu.


Istri saya langsung tanya, jadi mau ambil yang mana? Saya menanyakan pada ibu berkerudung ping dan memakai kacamata, biji kopi yang paling mahal yang mana bu. Di kios tersebut terdapat bermacam-macam biji kopi dengan toples yang sudah dilabeli dengan harga. Dan saya masih sepakat dengan pernyataan bahwa harga menentukan kualitas. Ibu itu menunjukan toples yang berada paling atas. Di wadah tersebut tertera label, sebenernya bukan label, melainkan kertas bertuliskan dan stiker harga dengan kreasi tangan pendjoealnja. Harganya 300ribu satu kilo. Saya kemudian meminta satu ons saja. Saya kemudian meminta untuk digiling agak halus aja, tapi ga terlalu halus agar rasanya masih bisa saya rasakan. Meski ternyata hasilnya halus maksimal dari si ibu berkerudung dan berkacamata. Tak apa ternyata tetep nikmat kok setelah saya mencobanya, meski halus sangat. Kadang saya sendiri ga masalah kok, mau halus atau tidak halus.

Ibu dengan kerudung Pink sedang menggiling halus kopi pilihanku
2 ons teh juga kami ambil, teh brindil dan teh pucuk yang diiris tipis. Rekomended banget pokoknya, kedua teh ini. legit dirasa, kentel setelah saya coba satu-satu di rumah. Kudu nyobain nih, citarasa pucuk teh dari puncak ciajur.

Beberapa teh yang dijual di kios ini, wangi.
Teh Brindil, karena mungkin brindil-brindil
Sepertinya kopi yang saya seduh sudah siap, wangi asam tercium nikmat. Masuk, menusuk dari lubang kecil hidung sampai masuk dan terasa sampai ke otak... Ga lebai karena emang begitu adanya.

Pagi masih indah, seindah cangkir kedua saat itu. Tak ada yang salah ketika dua insan menyatu, begitu juga kopi menyatu dengan gula pasir. Saya tambahkan satu sendok gula, jangan terlalu banyak biar ga terlalu rusak asamnya. Mari kita nikmati, karena teman selalu dibutuhkan untuk berbagi rasa. Seperti teman, kopi juga dibutuhkan karena ia seperti seorang teman.

Mari sruput kopinya

Kemasan kopi 1 ons
Sentuhan rasa dari biji kopi.



Jumat, 29 April 2016

Behind the Scene Eagle documentary series: eps. Merajut Desa Harapan



Hujan turun sangat deras menemani perjalanan kami bertiga menuju gunung kidul, jogja. Saya, Lutfi dan Nasrul, hanya kami bertiga dengan setumpuk alat untuk suting eagle documentary series di Gunung Kidul. 11 jam waktu tempuh yang sangat cepat menuju Gunung Kidul setelah dikurangin makan dan sholat di beberapa tempat.

Perjalanan menyenangkan tanpa terasa
The Best driver partner, Mas Nasrul

Sampai gunung Kidul di dini hari yang sepi nan dingin. Kami dijemput oleh warga Bleberan untuk diantar ke penginapan di rumah warga.

Ini produksi pertama untuk metro tv bagi saya, seringnya untuk tv tetangga dan tetangganya lagi. Membuat program tv dokumenter bagi saya seperti sedang bermain, karena saya menyukai feature seperti ini. 

6 hari menjadi waktu yang sangat sedikit, tapi harus kami maksimalkan. Berikut ini foto kehebohan suting eagle documentary series episode Merajut Desa Harapan, yang bercerita tentang perjuangan masyarakat desa Bleberan dan Sri Getuk membuat desanya maju dengan wisata. Wisatanya wisata alam yang berasal dari air terjun. 

Sebelumnya project ini diberi title oleh sutradaranya istri cantik saya sendiri ehmm Lutfi, "Air Mata Kehidupan" karena semua perubahan di desa tersebut bermula dari air. Tapi setelah proses editing berganti title. Ditambah rusaknya hardisk menjelang penayangan, jadinya dengan waktu mepet untuk editing berhasil dijahit ulang oleh editornya salut untuk. Yang telah bekerja maksimal.

Best view, Sunrise di Nglanggeran, Gunung Kidul
Capture mbah pembuat tiwul terenak di Bleberan

Capture mata air. semua air terjun berasal dari mata air jernih ini

preview aerial footage dari om agung nih pilotnya

Sunrise timelapse

that its me
Vicky dari Klaten ikut gabung

Mas Nasrul bergaya nih

Agung fotonya ga madep kamera nih. pilot dronenya
spesial culinary from Gunung Kidul



taste of Gunung Kidul, hmmm

cemilannya gan

This is us

Kamis, 28 April 2016

Patah SatuTumbuh Seribu


Patah satu tumbuh seribu. Semoga ungkapan ini menjadi benar untuk saat ini. Pagi yang cerah di salah satu vila di cipanas. Masih dalam tahap latihan jadi expert pilot yuneex. Gunung GedePangrango dan gunung Salak terlihat dengan jelas dari tempatku berdiri menikmatinya. Tidak begitu dingin ternyata sekarang, meski berada di puncak cipanas. Masih pukul 6 pagi, di dalam vila sudah ramai crew video klip yang sedang mempersiapkan peralatan mereka. Mas tris sudah mulai make over artis video klipnya. Suara adukan gelas dari seduhan kopi dan the terdengar, membuat saya ingin meminta dibuatkan.

Saya menyiapkan alat baru dari kantor, sebuah RC quadqopter dengan kamera 4K yang sangat keren menurutku. Diberi tanggung jawab untuk bisa memakainya dan menjaganya maka saya harus sering terbiasa menggunakannya untuk tau seberapa canggih dan hebat serta tentu saja seberguna apa alat ini untuk kami. Latihan terbang sudah dilakukan beberapa kali, dan ini yang ketiga kali menerbangkan drone dari yuneeq q500. 

Pagi yang cerah membuatku bergegas menyiapkan satu box yang berisi drone ini. Setelah semua baling-baling terpasang dan dinyakakan mesin serta remote ternyata memory card belum terpasang. Belum terbiasa :). Wuuuuung wuuuuing si yuni begitu panggilan untuk drone ini sudah melesat vertikal ke atas. Ganteng sekali si yuni ini, hitam dan terlihat sangar. 

Masih dalam tahap belajar, selalu bermanuver standart.  Si yuni terbang selama 20 menit dengan 2 batre tentunya. Seneng rasanya bisa menerbangkan alat seperti ini. Hingga musibah itu terjadi.

Batre yang sudah dicharge aku pakai untuk latihan, awalnya aku akan mengambil gambar crew yang sedang bersiap shooting. Si yuni aku alihkan ke mode turtle, setelah dinyalakan dia terangkat rendah setinggi 80an senti. Kemudian dia tiba-tiba oleng dan prank dia menabrak tiang terus nyungsep ke tanaman. Kejadian itu dilihat oleh semua crew, kecuali tim make up yang didalam :). 

Baling-baling patah satu, yang lain tidak apa-apa dan untung saja body si yuni ga lecet sedikitpun. Semua begitu cepat sebenernya aku pengin ngerti apakah si drone ini mati otomatis atau aku matiin saat itu, karena lupa. Ga inget dah. Tau-tau udah langsung aku ambil aja dari tanah selepas crash.

Yak patah satu sebagai pembelajaran karena aku yakin bakal tumbuh seribu lagi.  Kalo ga gitu ga bakal bisa-bisa, begitu seloroh bosku. Thanks bos...


Di kantor beberapa hari kemudian saya cerita ke temen PA trans7 kalo baling-balingku patah satu. Dia malah tertawa, katanya dia sudah matahin tiga. Menjadi hal biasa bagi seorang pilot drone quad qopter mengalami hal seperti itu ternyata. Kamipun tertawa, semoga bisa menjadi lebih baik lagi tetap semangart! Patah satu yakinlah bakal tumbuh seribu!

looks cool hahahaha, that its me :)