Kamis, 14 Oktober 2010

Catatan Perjalanan di Balik Ganasnya Pantai Gunung Kidul #2: Tempat itu harus didatangi.

Matahari masih nampak berada tepat diatas kami, waktu itu menunjukan pukul 12.30 ketika kami memulai perjalanan susur pantai ini. Pasir putih Wediombo masih melekat pada kaki-kaki, Cuaca cerah yang cukup panas diimbangi dengan desiran angin pantai yang membuat kami tidak terlalu merasakan panas matahari siang itu.

Tidak ada rencana yang harus kami tempuh dalam perjalanan ini. Dimana kaki sudah merasa sangat lelah maka disitulah kami harus menghentikan susur pantai ini. Bahkan, kami tidak tahu rute yang akan ditempuh selama perjalanan. Pantai apa yang akan terlalui, desa apa yang akan kami lewati. Yang kami tahu hanyalah terus melangkahkan kaki ini hingga menemukan sesuatu yang membuat kami harus berhenti dan menikmati setiap keintiman eksotisme laut selatan.

30 menit pertama untuk rute yang kami lalui adalah semak belukar yang rata-rat tingginya hampir sama dengan tubuh kami. Diantara semak belukar tersebut hanya sedikit tanda yang kami ketahui bahwa rute yang kami tempuh pernah dilewati oleh penduduk setempat. Dengan melihat tanda-tanda tersebut itulah yang selalu menjadi penuntun kami selain jalan yang memang sering dilalui. Tanda-tanda tersebut bisa diketahui dengan melihat batu wadas kapur yang atas nya berwarna kuning karena sering terinjak oleh telapak kaki.

Dengan tenaga yang masih penuh, kami berjalan tanpa ragu. Bahkan, Yula tanpa merasa panas menaiki menara pandang. Dari menara tersebut pasti dia bisa melihat pemandangan tanpa batas Samudera Hindia.

Pantai pertama yang kami temui setelah Wediombo adalah Watu Limbung. Awalnya kami tidak tahu nama pantai yang memiliki karakter unik ini. Pantai ini dipenuhi dengan banyak sekali batu-batu, terdapat pula batu-batu yang nampak seperti batu kali dengan melihat dari bentuknya yang bulat-bulat, batu yang sama seperti berada di kali progo atau kalo Moyo. Di pantai ini memang terdapat sungai yang bernama Kali Pasewan, kemungkinan dari sungai inilah batu-batu tersebut terbawa hingga ke pantai. Tidak ada akses mudah menuju Watu Limbung, kami harus menuruni bukit yang sedikit curam untuk bisa sampai ke pantai ini

Watu Limbung, awalnya kami sempat bingung kenapa dinamakan seperti itu. Apa karena bukan pasir yang memenuhi sepanjang pantai itu. Ternyata awal mula Watu Limbung itu berasal dari dua bongkah batu yang cukup besar, dua batu itu menurut penduduk setempat mirip seperti tokoh Punakawan pewayangan yaitu Limbung dan Semar. Dua saudara yang memiliki perbedaan karakter.

Batu yang besar adalah Limbung dan batu kecil yang terletak lebih dekat dengan bibir pantai adalah Semar. Perbedaan penggambaran yang menarik menurut saya. Ketika sesuatu yang menjadi besar bisa menjadi Limbung dan Semar tetap menjadi kecil. Dalam cerita pewayangan kedua tokoh tersebut juga memiliki karakter yang unik. Semar yang yang dijadikan guru sekaligus pelindung pandawa hingga mereka bisa menemukan hakekat sejati kabajikan dan Limbung(Bilung) merupakan tokoh punakawan lainya yang kadang memihak musuh meski kadang menjadi bagian dari gerombolan punakawan. Disitu batu semar lebih dulu melindungi batu limbung dari ombak lembih dulu. Karena posisinya yang berada lebih dekat dengan bibir pantai.

Di pantai ini kami bertemu dengan beberapa nelayan yang sedang memancing lobster. I kg Lobster berharga sampai 350 ribu namun jika ada salah satu bagian tubuh lobster cacat seperti kakinya hilang satu, harga 1 kg lobster turun drastis menjadi 50 ribu. Harus sangat hati-hati sepertinya untuk dapat melindungi lobster tersebut agar tidak lepas kakinya.

Keluar dari Watu Limbung perjalanan kami berlanjut. Mengikuti jalan setapak yang kecil, semak belukar bahkan harus mencari jalan sendiri karena jalan yang biasa dilalui sudah hilang karena longsor. Untuk itu kami harus lebih berhati-hati, beberapa kali batu sebagai pijakan lepas. Tanah yang masih terasa labil karena longsor membuat tangan kami juga harus mencari tumpuan agar berat badan tidak terasa lebih berat. Melihat batu yang meluncur kebawah membuat nyiut nyali saya, kalau hanya jatuh beberapa meter sepertinya tidak ada apa-apa tapi dibawah kami adalah ombak yang besar dengan batuan karang hitam yang terlihat seperti siap menerkam apapun yang akan jatuh kebawahnya. Kalau sudah seperti itu saya hanya bisa mengeluh sendiri “untuk apa melakukan kegiatan seperti ini.” Sedangkan Yula terlihat santai saja dengan keaadan yang sebenarnya membahayakan; kok ada orang setenang dia ya? Tidak ada ekspresi selain seperti hanya gambaran wajah arca pada relief candi-candi yang terlihat selalu tenang.

Namun itu semua segera hilang setelah saya melewatinya dan berada di titik tertinggi perbukitan, sambil mengatur nafas yang masih terengah-engah melihat jalan menanjak yang membuat nafas 234 Semua kejadian seperti naik bukit, menuruni bukit menaiki tebing menuruninya dan mencapai titik tertinggi juga nafas yang terengah-engah, suara ombak dan juga tiupan angin yang kadang kencang seperti sebuah de-javu. Terulang-ulang sampai berapa perbukitan yang kami lewati berapa batu karang yang harus kami naiki dan yang pasti berapa keindahan yang tertangkap oleh rasa kami.

Kejernihan yang hanya nampak pada sebuah lukisan, saya kembali mengingat syair ini. Kalau melihat apa yang sedang saya pandangi saya merasa ragu dengan beberapa cerita yang pernah saya dengar bahwa Gunung Kidul merupakan daerah tandus dengan keterbatasan air. Apa yang membentang dihadapan saya seloah mengaburkan relaitas yang memang terjadi di beberapa daerah di Gunung Kidul.

Ada satu pemandangan yang sepertinya akan selalu tersimpan dengan jelas dalam ingatan saya. Sebuah jalan setapak kecil yang berada di tengah perbukitan yang dipenuhi dengan ilalang. Sungguh pemandangan yang nampak hanya seperti dalam sebuah film luar eh Denias juga berhasil membawa keindahan alam Papua kok. Bahkan orang harus tiarap sedikit agar orang yang berpapasan bisa lewat. Disamping bukit tersebut ada sebuah air terjun yang memiliki tinggi belasan meter. Inilah pemandangan Banyu Tibo (air jatuh). Sayang sekali kami tidak bisa turun kebawah menikmati air terjun itu. Jika ada yang pernah melihat air terjun surga dalam film animasi UP maka gambaran umum tentang sebuah bukit dengan air terjun ditambah pantai yang biru ada pada Banyu Tibo. Sepertinya penduduk setempat tidak terlalu memikirkan nama tempat yang begitu menawan ini.

Setelah selama 2 jam lebih melewati pinggiran Samudera Hindia yang terisi dengan ketegangan, kesenangan, keindahan kelelahan dan kesadaran penuh bahwa itu merupakan bagian kecil dari Nusantara yang benar-benar indah ini. Pantai Siung, kami akhirnya sampai juga di pantai yang cukup terkenal dikalangan pemanjat ini dan wisatawan umumnya. Disiung kami sempat menikmati segelas es teh. Berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya selain Wediombo. Pantai ini sudah dikelola dengan baik. Karena sepertinya orang sudah banyak mendengar tentang pantai Siung saya tidak akan menulis banyak tentang pantai ini. Kami hanya beristirahat sejenak meneguk segelas es teh, namun saya sempat berpikir, membayangkan kepada wisatawan yang sedang menikmati siung. Coba mereka bisa melihat pemandangan apa yang kami lihat sebelumnya, pemandangan pantai yang masih terlihat alami, semoga saja nanti ada akses mudah menuju kesana. Watu Limbung dengan keunikannya yang bisa menarik perhatian para pemanjat, Banyu Tibo yang mirip air terjun surga dalam film Up pasti akan menarik beberapa wisatawan dan penjelajah.

Tetapi jauh dalam pandangan saya agar pantai itu tetap seperti itu, tidak banyak pengunjung yang biasanya akan meninggalkan sampah dan coretan tidak penting. Tapi, sayang juga ada tempat seindah itu tidak bisa dinikmati.

Bersambung……..

.... sebuah jalinan antara ganasnya pantai dan penduduk setempat dalam rangkaian cerita.

7 komentar:

  1. like this..untung saya bersama penulis hebat dalam perjalanan ini..:D tapi saya bukan arca mas..:P

    BalasHapus
  2. pengen kesana tapi nggak perlu capek jalan... bs nggak yaaaa.....


    saya suka tanah lapang yang ijo itu, tp banyak jurang... sy takut ketinggian....

    BalasHapus
  3. hiikkssss.. fotonya bikin iriiiiiiiiiiiii!!!.. :(


    Pantai Kukup juga bagus.. ga pake manjat2 :D

    BalasHapus
  4. iyalah yula jadi arca, wong selama perjalanan cuma diem aja hehehe
    btw saya juga sering mikir hal ini mas
    ------------------
    Tetapi jauh dalam pandangan saya agar pantai itu tetap seperti itu, tidak banyak pengunjung yang biasanya akan meninggalkan sampah dan coretan tidak penting. Tapi, sayang juga ada tempat seindah itu tidak bisa dinikmati.
    --------------------
    dilematis ya..

    BalasHapus
  5. koq komenku tadi ga masuk ya?? :((

    BalasHapus
  6. Mana tulisan bau-bauan? Kayaknya asyik kalau ada rekaman dari panca indra yang lain, selain mata.

    BalasHapus
  7. Terimakasih kawan, kita akan bisa bersama2 kesana.
    @Mas Kusen: masih butuh banyak bimbingan.

    BalasHapus

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge