Selasa, 13 April 2010

Catatan Perjalanan Pamekasan Madura

Perjalanan kali ini saya ingin menceritakan sedikit kisah dari beragam kisah yang sempat terekam di Madura. Pengalaman yang mengagumkan bisa merasakan keragaman Nusantara, perbedaan bahasa, cara bertutur masyarakatnya yang dinikmati dengan rasa kagum. Melihat budaya masyarakatnya, kuliner yang ada hingga keindahan alam dari mulai bentangan hijau dan bentangan pantai yang mengelilingi madura.

Minggu pertama saya bersama rombongan berada di Pemakasan, kabupaten kedua dari sisi timur Madura setelah Sumenep. Di Pamekasan tempat yang dikunjungi sangat banyak, daerah pelosok di kedalaman Pamekasan sempat kami datangi hingga puncak-puncak tertinggi di Pamekasan. Kontur tanah di Madura yang merupakan perbukitan membagi wilayahnya utara dan selatannya. Jika kita melewati daerah Waru menuju Pasian utara Pamekasan, pemandangan bukit batu menjadi pemandangan yang sangat menantang untuk ditaklukan.

Pada malam kedua kedatangan kami, kami menginap di rumah salah satu saudara teman saya yang berada di Sumenep. Malam itu kami berbicara dengan bahasa yang tidak karuan. Ada diantara ibu-ibu di daerah Sumenep yang tidak mengerti bahasa Indonesia, namun yang saya kagumi mereka tetap bisa menikmati sinetron. Meski berbicara dengan arah yang berbeda, dengan bahasa tubuh secukupnya saya berusaha mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan. Untung saja hanya beberapa ibu-ibu yang tidak bisa bahasa Indonesia, beberapa yang lain (yang pernah keluar dari Pulau madura bisa berbicara bahasa Indonesia) berbicara dengan bahasa indonesia Khas madura. Yang pasti saya bisa mengucapkan kata terimakasih dengan benar bahasa Maduranya, sakalangkong kak.

Di Sumenep saya sempat memperhatikan bentuk-bentuk bangunan yang ada, bentuk bangunan yang menunjukan bahwa pola kehidupan masyarakat Madura Sumenep bisa tergambar dari bentuk bangunan tempat tinggal mereka yang berkumpul menjadi satu menurut silsilah keluarga mereka. Setiap komplek bangunan biasanya terdapat satu mushola kecil untuk keluarga tersebut melakukan ibadah, tempat ibadah tersebut seperti menjadi tempat berkumpulnya keluarga setelah melakukan aktifitas. Namun hidup berkelompok di sebuah tempat tinggal tidak menunjukan bahwa antara warga satu dan yang lain, keluarga satu dan keluarga lainya tidak harmonis.

Setelah melewati malam yang sangat cepat, pagi itu saya bersama rombongan mendapatkan menu pagi yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. 5 piring rujak Madura ditata rapi dengan rantang piring khas Sumenep, ditambah secangkir teh dari cangkir lawas yang sudah jarang saya temui sekarang ini. Tidak ada yang berbeda dengan rujak yang pernah saya temui di daerah berbeda, dengan bumbu kacang dan campuran sayuran rujak madura itu disajikan dengan secangkir teh hangat istimewa.


Selain hidangan kopi tubruk yang sangat kasar dan teh yang lebih mirip sirup, ada hidangan tak sengaja yang membuat saya ingin mencicipinya. Tembakau Sumenep yang sudah terkenal rasanya, dengan sedikit keraguan saya mengambil irisan tembakau kecil yang masih berwarna kuning muda. Lintingan rokok yang sangat berharga malam itu, tanpa campuran sebatang rokok telah siap saya hisap. Terasa sangat enteng memang tembakau itu, pantas saja beragam merk rokok terkenal mengambil stok tembakau dari Sumenep. Di sepanjang perjalanan si pamekasan juga saya melihat beberapa pabrik rokok yang terkenal, mungkin rokok yang anda hisap sekarang ini merupakan tembakau dari Madura.

Selanjutnya saya akan sedikit bercerita tentang pantai selatan Madura yang memang lebih terkenal bagus daripada pantai utaranya. Di pesisir pantai Sumenep Pamekasan malah bisa saya gambarkan seperti cerita lama keindahan pantai Indonesia, Tepian pantai dengan nyiur melambai indah menjadi pemandangan yang harus dinikmati. Meski belum sempat menikmati pantai di Sumenep yang dikabarkan menarik itu, saya bisa menikmati salah satu pantai di daerah Montok, Pamekasan yang berbatasan dengan Sumenep. Angin di pantai selatan Madura lebih terasa dari pada sisi Utara, dilihat dari jumlah nelayan daerah selatan juga lebih banyak daripada utara. Di pantai Montok juga ada beberapa kapal penyebrangan menuju Besuki Banyuwangi, ini sekedar tips untuk backpacker bahwa jalur menuju Bali melalui Madura juga bisa dinikmati melalui Montok ke Besuki.

Bicara tentang masyarakat Madura, ada perbedaan yang besar dibanding dengan masyarakat Jawa, kita akan ditemukan dengan keunikan dan kekerasan warganya. Sampai-sampai saya berasumsi bahwa apa yang mereka inginkan itu merupakan apa yang mereka tetapkan. Salah satu cerita yang ingin saya bagikan dan saya alami sendiri ini merupakan kisah konyol yang mudah-mudahan tidak dialami teman-teman yang akan ke Madura.Wwaktu itu saya bertemu dengan Bpk "F", beliau orangnya sangat baik. kami bercerita banyak tentang pengalaman masing-masing, perbincangan kami cukup menyenangkan, sebatang dua batang rokok kami habiskan bersama. namun situasi tiba-tiba berubah sangat drastis. Bpk F yang awalnya baik jadi berubah drastis, alasanya hanya karena saya menolak tawarannya untuk mampir kerumahnya, mandi lalu minum kopi. Inilah keramahan yang tiba-tiba hampir menjadi kemarahan.Dari kejadian tersebut saya kemudian mengerti bahwa orang madura itu tidak mau dianggap kecil dengan tawaran mereka, apapun itu, sekecil apapun tawaran mereka jika kita menolak maka itu akan sangat menyakiti hati orang tersebut. Jika kebanyakan orang jawa basa-basi dalam melakukan penawaran terhadap tamu, maka itu kebalikan dari beberapa orang Madura yang menganggap menawarkan sesuatu kepada tamu merupakan kehormatan. apabila kita menolaknya berarti kita tidak menghormatinya.

Inilah sedikit cerita awal dari Madura, cerita yang saya dapat dari puncak-puncak tertinggi di Pamekasan. Apalagi bersama orang-orang hebat yang selama 2 Minggu ini menemani pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan di Pemekasan ini. Sayang saya belum sempat melihat kebudayaan asli Madura, Karapan Sapi. Bentuk tradisi masyarakat madura setelah melakukan panen besar, biasanya menurut informasi yang saya terima puncak tradisi Karapan Sapi ada pada bulan-bulan Oktober. Pada bulan tersebut sampai ada piala tertinggi dari presiden.

Sampai sini dulu kawan, tetaplah langkahkan kaki menikmati Nusantara yang katanya indah ini, sampai kita benar-benar merasakan keindahannya.


3 komentar:

  1. Ok bro... selamat menikmati... besokpasti kesana lagi.

    BalasHapus
  2. Waaah ceritanya seru! saya pengen cepet2 jalan jalan ke Madura jadinya :)

    BalasHapus

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge