Senin, 20 Desember 2010

Ngobrolin Lokalitas yang gak ada habisnya

Kalau kemarin pas nongkrong diwarung yang ada patung orang sedang duduknya saya dan teman-teman sempat ngrumpi ngalor ngidul tentang bentuk lokalitas di Jogja itu seperti apa. Paling tidak saya sendiri jadi sedikit ngerti tentang apa itu lokalitas.apalagi kata orang-orang sekarang bahwa lokalitas itu penting di era moderen ditambah globalisasi gila-gilaan, begitu kata seorang teman sambil mengunyah produk amerika yang aslinya berasal dari Indonesia itu.

Tulisan ini hanya rangkuman perbincangan beberapa orang yang hampir dan akan peduli dengan lokalitas. Awalnya saya mencoba nyari arti kata lokalitas di manalagi kalau bukan di mbah Google. Beberapa kalimat, ya bisa dibilang pengertian sedikit tentang lokalitas saya dapatkan. Salah satunya menyebutkan bahwa lokalitas merupakan

terus ada juga yang menyebutkan bahwa lokal tidak berarti melawan global. lha ini dia yang menjadi obrolan hangat kami. Salah satu orang yang saya temui tadi pagi di warung pecel Peci Mirng (saya menyebut lokal sekali makanan ini) . "Saya pernah berpikir bagaimana tempat makan seperti mcD itu dibuat dengan nuansa Jogja, jadi kalo ada orang bule makan dia akan merasakan makanan luar itu dengan nuansa lokal sini." itu dia kalimat yang saya rangkum dari teman saya.

Kemudian dia menambahkan, inilah lokalitas Jogja yang sebenarnya. Bisa dilihat bahwa sesangar-sangarnya anak punk dijalanan. Kalau beli nasi kucing di angkringan dia akan menggunakan unggah-ungguh yang sangat baik, dia masih menunduk jika ada orang yang ebih tua darinya. Lokalitas dalam konteks inilah yang sebenarnya lebih baik untuk dirasakan, selain lokalitas dalam bentuk kebudayaan manusia yang lainnya. Jadi gak perlu dengan menggunakan apa yang terlihat seperti penggunaan bahasa tradisional yang bahkan mereka baru tahu artinya. Tapi bukannya itu menunjukan lokalitas. Memang benar, paling tidak secara perlahan lokalitas akan mulai tumbuh lagi sekarang ini.

Pasar tradisional, bagaimana nasibnya sekarang ini? Kami mulai berbincang tentang lokalitas yang paling sentral sebenarnya pada suatu daerah. Lokalitas yang sesungguhnya ada di sebuah pasar, tidak percaya? Kita akan tahu bagaimana daerah itu tidak berhenti rodakehidupan daerahnya bisa melalui sebuah pasar. Contoh yang sangat jelas, ketika terjadi gempa 2006 beberapa pasar berhenti beroperasi. Itu menunjukan bahwa daerah ini sedang dalam masa tanggap bencana. Jadi pasar bisa sebagai barometer kehidupan daerahnya, yup itu dia. Padahal di pasar bisa kita temukan apa yang tidak ada dalam era modern ini. Itulah lokalitas lagi, lokalitas penduduknya yang berinteraksi di pasar.

Apa yang membuatmu tidak mau ke pasar daerah, kamu malah seneng pergi ke superindo atau supermarket. Kebanyakan menjawab kalau kita di pasar, seringnya kita merasa ditipu dengan sebuah harga. Jadi rasa tidak puas yang saya rasakan seperti tertipu. Tapi, kalau di supermarket label harganya sudah tertampang jadi gak perlu lagi menawar. Dan itu membuat nyaman tentunya.

Sudahlah,begitu banyak lokalitas yang kita tinggalkan. Lebih baik.... -berhenti sejenak- (inilah sedikit dari kondisi lokalitas sekarang) dipertahankan. Kalau bukan kita siapa lagi? hups jangan banyak omong, lets do it (ah kebaratan katanya lokalitas)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge