Senin, 31 Juli 2017

Harmoni dari Klenteng Dukuh, Surabaya

Menyinggahi kelenteng tertua di Surabaya saya merasakan pengalaman baru. Semua itu berasal dari orang-orang di kelenteng yang saya temui. Cerita sejarah, bencana dan harmonisasi kita sebagai manusia bercampur menjadi pengalaman. Bersama rekan kerja, sekaligus sutradara documenter sekaligus istri tercinta, kami menikmati satu Minggu di distrik pecinan di Surabaya.

Tujuan kami ke Surabaya kali ini adalah untuk membuat documenter tentang wayang potehi. Wayang Potehi adalah salah satu jenis permainan wayang yang berasal dari Tiongkok. Dan, komunitas wayang potehi terbesar saat ini ada di Surabaya. Saya tidak akan banyak bercerita tentang wayang potehi, karena referensi banyak terdapat di google. Yang pasti wayang potehi sekarang sudah mengalami akulturasi budaya Indonesia. 


Altar utama Klenteng Hong Tiek Hian
Klenteng adalah tempat penghormatan untuk para leluhur dalam ajaran Tri Dharma (Budha, Tao, dan Konghucu). Klenteng sendiri adalah istilah yang diberikan kepada tempat ibadah ini, karena ketika umat sedang beribadah terdengar bunyi klenengan berupa lonceng dan bedug.

Gemerincing dan ketukan alat music sangat peka terdengar dari depan panggung wayang potehi di klenteng ini. Ditambah aroma dari hio atau dupa yang terpasang di altar-altar di dalam klenteng, aroma ini menambah daya tersendiri bagi pertunjukan wayang potehi di Klenteng Hong Tiek Hian. Itu gambaran saya tentang wayang potehi, apalagi saya orang yang tidak terbiasa dengan aroma hio. Boneka-boneka itu digerakan menggunakan kedua tangan, berlenggak-lenggok di atas panggung bahkan berperang.

Panggung pertunjukan wayang potehi

Wayang Potehi

Wayang Potehi
Kami bertemu dengan Pak Ong, nama asli beliau adalah Ong Khing Kiong. Darinya kami mendapatkan cerita tentang wayang potehi. Menurutnya wayang potehi bukan sekedar kesenian hiburan melainkan bagian dari ritual Tri Dharma yang memiliki fungsi untuk edukasi, tolak bala dan permohonan.

Di klenteng tertua ini saya mendapatkan banyak makna pelajaran, salah satunya adalah bagaimana kita bisa hidup berdampingan meski berbeda agama. Harmonis, kata itu saya dapatkan di tempat ini. Apalagi di dekat klenteng ini terdapat Masjid besar sunan Ampel, saya membayangkan bahwa sejak dulu daerah ini adalah daerah yang penuh toleransi.

Jalan Dukuh, Surabaya hari itu sangat panas. Saya keluar klenteng melihat spot-spot untuk mengambil establish shot. Di pinggir jalan depan klenteng persis saya duduk, memandangi bangunan yang pernah terbakar pada tahun (saya lupa ini) ” Dulu rambut saya panjang, dan jenggot juga panjang, tapi katut pas kebakaran waktu itu”. Saya lupa entah ekpresi bahagia atau sedih mendengar tragedy itu, tapi saya senang melihat Pak Ong hampir tertawa lepas menceritakan jenggotnya yang pernah panjang itu. Saya masih duduk di depan klenteng, menunggu langit tidak terlalu panas untuk mengambil beberapa gambar

Pak Ong

Pak Ong kembali menceritakan cerita yang baru saya tahu juga mengenai sejarah klenteng ini. “Itu salah, sejarah yang orang-orang tulis di internet bahwa kelenteng Hong Tiek Hian ini dibangun sejak jaman Mongolia, apalagi dibangun oleh tentara Tar-tar Mongolia”. Saya memang tidak terlalu tau sejarah, apalagi sejarah kelenteng ini. Mendengar Pak Ong bercerita dengan raut muka yang marah, ya dia terlihat emosi, karena kebenaran sejarah tidak sebenarnya. Jadi bagi yang mau menulis sejarah klenteng ini alangkah lebih baik jika mengetahui literasi tentang sejarah klenteng ini, jangan copy-paste tulisan orang.

Kelenteng Dukuh adalah tempat ibadah umat Tri Dharma (Budha, Tao, dan Konghucu) kelenteng ini dekat dengan jembatan merah dan juga pasar Atom Surabaya. Ditambah dengan pertunjukan wayang potehi yang setiap hari digelar, bisa menjadi tujuan wisata traveler. Dan, rasakan pengalamanmu di sana, rasakan harmoninya.

Di Balik Layar produksi dokumenter wayang potehi bersama pak Dalang Edi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge