Minggu, 06 April 2008

The Butterfly

The BUTTERFLY
Sutradara : Nayato Fio Nuala
Penulis : Titien Watimena
Pemani :Poppy Sovia, Debby Kristy, Andhika Pratama
Produksi : Maxima Pictures
Durasi : 85 Menit

Sebuah gabungan dua sutradara antara Koya Pagayo dengan Nayato Nuala, inilah kesan pertama setelah menonton film dari Maxima Pictures The Butterfly. Penggabungan antara dua pemikiran yang satu pemikiran dari sisi seorang Nayato dan sisi lainnya dari Koya Pagayo dengan project spesialis film horornya. yang sangat mencolok adalah perpaduan cinematographi yang biasa digunakan oleh Koya Pagayo dengan tata kamera yang bergerak cepat, tata cahaya yang cenderung memberi kesan gelap serta editing cepat dengan nayato yang memiliki project film drama percintaan seperti Cinta Pertama, Kangen yang menggunakan cinematographi enak diikuti. Mungkin inilah sebuah Project gabungan antara Koya pagayo dan Nayato.
Film ini sendiri bercerita tentang sebuah perjalanan, cerita dimulai ketika Desi (Debby Kristy) yang melakukan perjalanan bersama dua orang sahabatnya Tia (Poppy Sovia) dan Vano (Andika Pratama) sebagai hadiah ulang tahunnya. Dalam perjalanan mereka mengingatkejadian mulai dari mereka bertemu sampai pada konflik para pemainnya. hingga akhirnya Tia tau bahwa Desi sangat mencintainya melebihi seorang sahabat. dan itu berlangsung sebelum Desi yang memang mempunyai penyakit meninggal.
Karakter yang ada dalam film ini digambarkan oleh Mba Titien Watimena (Penulis idolaku) terasa banyak sekali kebocorannya atau ngambang. Selama film ini karakter Desi lebih banyak digambarkan dan hampir melupakan tokoh keduanya. Cerita yang ingin disampaikan oleh mba Titien tentang Desi yang ternyata mencintai Tia kurang kuat malah penonton sepertinya dipaksa untuk tau bahwa selama ini Desi mencinta Tia pada akhir Film. Ada juga salah satu adegan dalam mobil ketika Vano mengajak Tia untuk tidur, dalam dialognya mereka menyebutkan bahwa Tia mimpi buruk tentang Tsunami tidak tau maksud dari diaolg ini untuk apa, padahal tanpa dialog itu penontonpun pasti sudah tau. Tapi kemampuan mba Titien dalam menentukan interaksi para sahabat-sahabat ini cukup enak untuk diikuti, sepertinya mba Titien memang jago dalam urusan ini membuat tokoh dengan persahabatan mulai dari kelakuan para tokoh, gaya bicara dan diaolg-dialognya semua tersusun dengan logis rapi.apalagi ketika adegan Tia berbicara dengan Vano yang begitu perhatian dengan kedua perempuan sahabatnya itu sampai-sampai ia tau apa yang akan diucapkannya.
Dari keseluruhan slama nonoton film ini, tujuan dari film ini terasa kurang sampai dengan tagline "Love is like a butterfly, it can stay or it can die".film ini berusaha menjadi film drama percintaan namun dengan tekhik cinematographi ala Koya Pagayo seperti yang penulis ditulis diatas dengan low angle atau editing yang cepat secara tidak langsung meskipun menghasilkan gambar yang sangat bagus namun memberi kesan yang suram seperti disajikan untuk film horor, walau mungkin itu ditujkan dengan keadaan karakter, menjadikan film ini seperti film horor. dan juga unsur-unsur yang mendukung film ini seperti kupu-kupu yang menjadi simbol dalam film ini dan juga judul. Kupu-kupa hanya dikuatkan melalui pengakuan emotional masing-masing karakter mengenai kupu-kupu dalam bentuk gambar jarang sekali kupu-kupu ini menjadi unsur yang sangat menguatkan alur film ini. sepertinya kupu-kupu hanya untuk artistik saja, peran kupu-kupu kontribusinya terhadap film ini masih dipertanyakan, terkadang memang banyak sutradar kita yang lebih mementingkan gambar baik dengan atau tanpa tau kontribusinya untuk tema filmnya.
Dibandingkan dengan film-film terdahulunya, baik yang horor maupun tema percintaan saya rasa film ini kurang berhasil. apalagi dalam film ini jalan cerita yang sebelumnya penonton sudah tau, menikmatinya malah terasa dibikin pusing melalui cinematographi baik gambar, editing , kontinitinya yang indah namun menjebak penonton entah kemana, malah terasa kesasar dari film drama percintaan yang tragis menjadi film horor yang lebih tragis atau sebaliknya.
Terus terang menonton film ini seperti menonton dua film yang berbeda, yang pertama menonton film dari Koya Pagayo dan yang satu menonton Nayato. Selebihnya diluar tema salut buat tim yang bisa menghasilkan gambar2 yang indah.

Beberapa hal yang menarik dalam film ini:
  • Adegan ketika vano kencing dan didepannya lewat ibu pemetik teh
  • Permainan balon kondom
  • Akting para pemainnya
  • Gambar yang bagus
  • OST mengingatkan pada Rangga dan Cinta dalam AADC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge