Selasa, 22 Maret 2011

Cerita Nglanggeran #1: Menggapai Kabut

Kabut mengembang di atas langit Jogja. Pedesaan Pathuk tertutup rapat oleh kabut yang turun secara perlahan setelah hujan yang mengguyur dari sore hingga malam di langit Jogja. Petir yang sedari tadi memekikan telinga seakan menyadari bahwa suaranya tidak membuat takut 5 orang yang sedang memenuhi janjinya pada sang bulan di Bukit Nglanggeran, Gunung Kidul Yogyakarta.

Langit mendung, rintik hujan sudah mulai terasa di sepanjang perjalanan menuju Gunung Kidul. Sejenak saya mampir kerumah teman Studio Biru di pedukuhan Sengit Prambanan sebelum menuju bukit Purba Nganggeran.Handphone beberapa kali menerima pesan. kabar bahwa beberapa teman sudah menunggu di tempat yang sudah ditentukan membuat saya sedikit senang karena jalan-jalan kali ini akan ditemani oleh teman untuk melihat fenomena Supermoon. Koencung, Ngashim & Pace sudah hampir sampai di meeting point, Saya dan Pariyem bersiap meluncur kesana.
13007591381983224006
satu tebing Nglanggeran

Bukit Gunung api purba Nglanggeran adalah tujuan kami. saya akan ceritakan sedikit bukit yang menjadi tempat melepas kepenatan di Jogja. Jika di Jakarta bisa melepas kepenatan ke Gede-Pangrango yang paling dekat dengan kota. Maka di Jogja juga punya tempat serupa yang cukup dekat dengan Jogja. Meski tidak semenarik Gede-Pangrango, tapi kedua tempat itu memiliki gudang pengetahuan yang sama untuk di eksplore.

13007594571608262541
dari puncak Pelangi *dok GAPN

Untuk yang belum tahu dimana itu Gunung Api Purba Nglanggeran saya akan bercerita sedikit. Gunung ini merupakan gunung setelah dilitian menyebutkan bahwa gunung dengan banyak batuan berjenis Breksi ini merupakan gunung api purba, memang berbeda jika dilihat.Berada dikawasan Baturagung, Pathuk,GUnung Kidul dengan tinggi 700 mdpl gunung ini memang sedang mempromosikan tempat wisata alamnya. Batu-batu yg menjulang tinggi tersebut yang merupakan bentukan dari material vulkanik akan memberikan sensasi bagi yang menaikinya. Jarak yang ditempuh dari kota Jogja juga tidak cukup jauh hanya sekitar 20an KM.

Jangan kuatir untuk teman-teman yang akan mengunjungi tempat ini. Fasilitas di tempat ini sudah standart eko-wisata. Dari fasilitas kesehatan, keamanan maupun kuliner sudah tesedia. Apalagi keramah tamahan penduduk sekitar akan membuat kita semakin nyaman.

13007595532003102114
menunggu hujan di pendopo Pos utama pendakian

Tidak ada yang kami lakukan setelah hujan yang sangat deras dan petir yang menyambar di tempat yang harusnya kami pikir akan memberikan kenikmatan. Selama hampir 4 jam Kami hanya duduk dan saling bercerita. Bercerita tentang tanah kelahiran, adat dan joke kecil yang membuat kami sejenak melupakan hujan yang tak kunjung reda.

Kami sepakat setelah pukul 9 jika hujan tak reda maka kita akan tetap manjat bukit purba ini. Kamipun beranjak dari tempat duduk, sebelumnya saya sempat berkata pada Agung "milih balik tidur di kost yang hangat atau tetep naik ke puncak?" Jawaban yang tidak perlu di jawab. Kamipun memulai ekspedisi supermoon ini dengan doa di Pos utama Nglanggeran.

Rain coat, senter apa adanya sudah disiapkan dengan baik. (sebenarnya 2 dari senter yang kami bawa tidak layak disebut senter, karena yang satu senter 2in1 korek api dan yang satu senter bawaaan Hape).

1300759616893180883
memulai pendakian dengan rute rasakan sendiri

Jalan ternyata tidak begitu licin, sepertinya rombongan kami adalah rombongan pertama yang naik ke Bukit, jadi di jalanan kalau boleh dibilang masih perawan karena seharian tidak ada orang yang mendaki. Tapi tebing yang curam-curam itu tetap membutuhkan kehati-hatian tingkat tinggi apalagi penerangan kita cukup 'sederhana.

Sepertinya teman-teman karang taruna Nglanggeran yang menjaga dan mengelola wisata alam ini begitu peduli dengan pengunjung yang akan mendaki. Beberapa rute telah lebih baik dari sebelumnya saya datang ke tempat ini. Tali pengaman sudah diganti dengan goni yang cukup besar hingga membuat pegangan menjadi nyaman.

Di sepanjang jalan, kami sepakat bahwa siapa yang celaka (seperti terpeleset, kejedot batu atau pohon) akan kami tertawakan. Dan ternyata saya yang menjadi bahan tertawaan mereka. Kepala ini terkena dahan pohon yang lumayan berat. cukup sakit juga.

"Gimana Pace, sudah dapat sensasinya?"

pertanyaan itu saya ucapkan ketika kami berada di celah sempit yang merupakan rute paling tidak menyenangkan. Tapi malam itu suara air yang mengalir dari atas memasuki celah yang kami lalui itu memberikan gemericik suara yang sangat indah. Dan itu membuat perjalanan semakin menyenangkan meski hujan tak reda.

1300759696270102012
harus tetap narsis dalma kondisi apapun

Saya dalam perjalanan di celah sempit itu sempat berpikir. Tatkala yang lain memilih kehangatan di kost, saat ini saya malah memilih bersama 4 orang gila yang hujan-hujanan naik turun menapaki batu-batu besar breksi .buang jauh-jauh pikiran itu dan kamipun selalu tertawa sepanjang perjalanan.Membuang pikiranmemang tidak bisa, tapi kesadaran penuh bahwa kami pasti akan mendapatkan imbalan yang pasti menarik saya menyadari penuh di puncak sana.

Tidak lupa di sepanjang perjalanan Yula menunjukan pohon-pohon yang temen-temen dari Canting tanam beberapa waktu lalu. Dan, saya sangat senang melihat tunas-tunas muda itu tumbuh di batang kecil pohon Nangka dan Matoa. Pohon-pohon tersebut yang kami tanam untuk membuat monumental ulang tahun canting yang pertama. Semoga tunas kehidupan itu menambah semangat Canting, bahwa apa yang kita lakukan selama ini tidak sia-sia.

13007597532038069441
lihatlah, tunas muda itu tumbuh. Kehidupan baru telah dimulai.

Maria Ika aka Pariyem, satu-satunya cewek di rombongan beberapa kali harus ditarik tanganya dan didorong dari belakang tas punggungnya. Perempuan satu ini memang sangat hobi melakukan outdoor activity. Sebulan yang lalu dia ikut Ekspedisi susur pantai gunung kidul. belum genap sebulan sekarang ia kembali disini melawan kenyamanan berada dirumah.

1300759975852658179
Pariyem ketika XPDC susur pantai gunung kidul 2hari

Akhirnya kami sampai di Pos 2, tempat dimana kami akan menyaksikan fenomena Supermoon yang hanya 75 tahun sekali bisa kita nikmati. fenomena jarak terdekat antara bulan dengan bumi, Lunar Perigee kata yang sangat saya sukai.

Di titik ketinggian ini saya bersama 4 orang teman menyaksikan sendiri keajaiban yang disajikan sang alam. Setengah jam kami disambut dengan kabut yang datang. Kami bersukur, beberapa menit setelah kami berada di Pos 2. hujan beranjak mereda. Kabut yang datang selepas Hujan di sepanjang sore ternyata tergantikan dengan kabut salam pembuka.

Yang kami lihat adalah hamparan lautan Kabut.Langit jogja semuanya dipenuhi Kabut putih tersebut. Bukan dingin, melainkan kehangatan ketika kabut itu secara langsung melewati dan bersinggungan dengan kulit muka saya. Sungguh, terbayarkan rasa pesimis tadi. (sayang karena keterbatasan kamera,permadani kabut itu tidak bisa benar-benar terekam)

1300760065991457496
pasukan langit bergaya dulu

13007601791639040057
hal ini seperti kewajiban. api unggun
1300760278271209570
Masih tertutup kabut

13007603621709722093
Ngitip, eh masih belum terlihat dengan jelas juga

1300760416692603017
jam 4.30 kalo tidak salah. magic hour, langit akan menjadi biru kalau di foto

Kopi, api unggun, kebersamaan, dan cerita konyol menemani kami sepanjang malam menunggu kehadiran Lunar Perigee. Meski sang bulan masih tertutup kabut, kami tidak merasa kecewa. karena apa yang ada di depan kami adalah hamparan keindahan lain yang jarang didapatkan di cuaca tidak biasa seperti ini. Kabut, suara alam, dan langit Jogja terhampar menemani malam kami. Keintiman ini terjalin bersama hangatnya kabut dengan sendirinya.


bersambung.......

10 komentar:

  1. Saya ketinggalan supermoon. Gpp, bisa ngeliat langit ke 7 sebagai gantinya...

    BalasHapus
  2. Halo mbak Ami, mampir lagi deh hehehe. bulannya nampak biasa kok mbak. sama seperti hari biasanya, tidak terlihat perubahan dengan mata biasa :)

    BalasHapus
  3. wah,ane gak liat..kalau ada waktu kunjungi blog ane ya

    BalasHapus
  4. 86 kembali merapat kesana...

    BalasHapus
  5. lanjutannya mas....tak enteni

    pasukan langit
    apik kui

    BalasHapus
  6. Tatkala yang lain memilih kehangatan di kost, saat ini saya malah memilih bersama 4 orang gila yang hujan-hujanan naik turun menapaki batu-batu besar breksi ---> siapa suruh coba? hehehe
    Tapi aku yakin deh, pasti gak nyesel kan? Ceritanya seru banget deh.

    BalasHapus
  7. Meski capek tapi happy dan puas banget ya?

    BalasHapus
  8. @catatan kecilku : gak bakal nyesel bu
    @jejak langkah: sangat puas pastinya...

    BalasHapus
  9. Hemm...
    aku pingin naik kesana lagi Gunn......

    BalasHapus

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge