Sabtu, 03 Januari 2015

Mandalawangi Dengan Segala Janji



Kami mendaki gunung bukan tanpa alasan, namun jika seorang teman sekali lagi bertanya tentang alasan kenapa naik gunung maka saya akan menjawab “berjalanlah bersamaku maka akan kau temui alasan itu, mendakilah bersamaku maka kau akan mengerti alasan itu.”

Gunung memberikan arti seperti memaknai sebuah perjalanan hidup. Setiap langkah yang dilalui, setiap halangan yang dijalani, atau ketika harus berhenti karena kondisi yang tidak memungkinkan. Lelah dan lemah kembali berfikir kenapa harus naik gunung hanya untuk merasakah lelahnya tubuh ini memikul berat beban ransel. Tapi, kita tetap menjalani. Dengan sekuat tenaga menapaki langkah yang kian berat untuk berada di tempat yang kita inginkan. Merasakan kebahagiaan yang tidak dapat dirasakan di kota, di kamar yang nyaman, ketika semua kebutuhan dan keinginan kita terpenuhi namun tidak ketika kita berada di gunung. Sebuah tempat yang selalu menempa dan mempersiapkan kita untuk lebih hati-hati agar bisa mendapatkan kesenangan yang kita inginkan.

Saya senang ketika mendengar gesekan batang pohon, meski kadang suara itu begitu menakutkan. Saya senang merasakan hembusan angin yang membelai tanpa kita meminta, meski kadang angin yang dingin itu seperti ingin menyekap dan membunuhku. Saya senang melihat halimun yang tiba-tiba datang, meski sebenarnya itu membuatku khawatir karena pandangan yang semakin tidka terlihat. Saya senang melihat hutan yang rimbun dengan lumut yang menyapa dengan warna hijaunya, meski kadang itu begitu menyeramkan. Saya senang ketika berada di puncak sebuah gunung, karena sebuah perjalanan tidak akan sia-sia.



Pangrango selalu memberi kenangan tersendiri. Ini sudah kelima kalinya saya bersilaturahmi ke gunung ini dan baru dua kali bisa berada di puncaknya. Bukan puncaknya sebenarnya yang saya tuju, melainkan sebuah tempat yang selalu mengajak semua keinginan untuk bisa berada di tempat terebut. Mandalawangi, orang lebih mengenal sebagai lembah kasih Mandalawangi berkat puisi dari seorang tokoh yang memang tanpa sepengetahuannya mengajak saya untuk ke Mandalawangi. Dia adalah Hok-Gie,seorang pendaki gunung.

Mendaki kembali Pangrango adalah tentang sebuah janji. Janji dimana itu harus ditepati. Janji yang seharusnya memang sedang dijalani. Bersama beberapa kawan akhirnya kami kembali mendaki Pangrango. Apoey, Ayoe, Djal, Imet, Sachi, dan Surya. Terima kasih kembali menemani perjalanan kali ini. 

Berterimakasihlah, bersyukurlah. Mandalawangi dengan segala janji.


Satu persatu impian itu menjadi begitu nampak di depan mata. Kabut yang memberi jarak itu telah memberikan kenangan. Bersama teman, keringat, kabut, lelah dan ujung mimpi, semua itu menyatu di Lembah Kasih Mandalawangi. Dingin yang menusuk tak dapat menggantikan pandangan kabut tipis yang perlahan menyelimuti Mandalawangi, pesan demi pesan seorang kawan yang selama ini ingin saya temui telah terjawab.

Untuknya yang telah memberi arti dalam setiap langkah, impian, aku telah berjalan beriringan meski tanpamu. Seorang teman yang pernah bilang jangan rasakan sakitmu, lelahmu sebelum tujuan itu tercapai.


#episodetu7uh - Passionate journey


Tenda kami
Imet & Sachi into the wild
Djal GM looking for step
Pangrango dengan medan merayap
Super sekali kawan, double carrier
Double Carrier
Soham

2 komentar:

  1. ouh, jawaban untuk alasannya mmh....
    jadi ingin pergi

    BalasHapus
  2. Jadi kepingin naik lagi. Ayok Mas Gun! :)))

    BalasHapus

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge