Senin, 07 Maret 2016

Dari Sawah Turun ke Hati

Salah satu hal yang bisa membuat orang merasa bahagia adalah mendapatkan makanan yang menjadi kesukaannya. Termasuk saya, rasa bahagia selalu muncul dengan sendirinya ketika saya menemukan makanan kesukaan. Tapi, ini bukan hanya tentang makanan, melainkan kenangan masa kecil yang ikut muncul ketika saya bisa menikmati makanan tersebut. Kenangan masa kecil ketika saya dan sepupu juga beberapa teman di kampong saya bermain di sawah mencari keong kraca untuk kami masak. Ini adalah ceritaku dari sawah turun ke hati yang menjadi kenangan menyenangkan masa kecil di sudut otak ini.



Cuaca mendung saat itu tak meyurutkan saya dan beberapa teman di kampong Ranjingan untuk mencari keong kraca, keong kraca di beberapa tempat disebut sebagai keong tutut. Meski orang tua kami melarang pergi ke sawah ketika hujan, kami tetap pergi dengan membawa ember sebagai wadah keong hitam keci-kecil tersebut.

Dulu kami sering mendengar cerita orang-orang tua di kampong bahwa banyak kejadian orang yang disambar petir di sawah ketika hujan. Memang cerita seperti itu membuat saya takut saat itu. Tapi, bayangan kenikmatan dari kuah kuning keong kraca tersebut bisa mengalahkannya ditambah kenakalan masa kecil yang diharuskan menjadi pemberani.

Rintik hujan sudah turun, kami tetap menyusuri pematang sawah untuk mencari keong tersebut. Kaki-kaki kami mulai turun memasuki lumpur sawah yang menunggu untuk ditanami padi lagi. Biasanya keong kraca dengan mudah ditemukan ketika padi di sawah sudah selesai dipanen. Selain itu juga kaki kita bisa leluasa menginjak lumpur sawah tanpa takut merusak padi karena memang sudah tidak ada. Satu demi satu keong kecil tersebut memenuhi ember kami.

Setelah ember penuh, dengan penuh kebahagian kami pulang. Badan beraroma lumpur dan basah kuyup karena hujan menjadi masalah yang menyenangkan. Dan, kami membersihkan diri dulu di sumur tetangga sebelum sampai rumah agar terlihat tidak terlalu kotor, tentunya agar tak dimarahi oleh orang tua kami.

Biasanya keong direndam dulu semalam untuk menghilangkan kotoran keong, merendam keong semalaman bisa mengurangi rasa pahit dari keong kraca. Setelah direndam hal yang paling menyenangkan adalah memotong buntut(ujung belakang keong). Sungguh menyenangkan itu semua, kenangan masa kecil yang terekam dengan baik. Semua menjadi lebih bahagia ketika keong sudah matang dan kami makan bersama-sama.
 


Belasan tahun berlalu. Kenangan itu kembali muncul ketika saya suting program tv kuliner di Bandung. Produser saya waktu itu memberi tahu bahwa ada keong tutut di warung tersebut. Saya ga tahu awalnya apa itu keong tutut, ternyata….

Bahagia itu sederhana. Memang benar adanya kalimat tersebut. Bahagia bisa menemukan kembali potongan masa kecil melalui makanan sederhana itu.

Sekarang setelah saya berkeluarga, bersama istri cantik saya. Kami membuat sendiri keong kraca berkuah yang menjadi favorit dulu waktu kecil. Meski tanpa harus turun ke sawah karena menemukan penjual keong tersebut di pasar kramat jati.
Makan berdua
Sekali lagi, bahagia itu sederhana. Kami menikmatinya berdua, memasaknya berdua, mengolahnya dengan penuh tawa karena lutfi baru pertama kali memasak menu tersebut. Ingatan masa kecil selalu terbawa bersama butir demi butir keong tersebut, ingatan yang bahagia. Tidak ada yang lebih nikmat ketika kita punya rasa itu. Rasa yang pernah berasal dari kaki-kaki kecil berlumpur di sawah dengan tawa bahagia yang terbawa hingga saat ini.


Dan akhirnya kami memutuskan untuk memasukan menu keong kraca menjadi salah satu menu bulanan istimewa kami. Terima kasih istriku. Terima kasih hikayat dari sawah yang turun ke hati dan terbawa sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge