Selasa, 17 Februari 2009

Bencana itu datang tanpa diundang.

Tak pernah terpikirkan bahwa kejadian ini akan terualang kembali, bagian dari diriku hilang. – uhuh huhuhhh....suara orang menangis- peralatan ditempat saya biasa melepas lelah di YPR telah hilang. Kami kehilangan, beberapa barang kami hilang entah kemana. Laptop Kamera, hardisk eksternal lenyap entah kemana.

Ditempat ini, di YPR merupakan tempat yang saya suka. Dikantor itu saya bisa melepas lelah, bercanda dengan teman-teman kantor yang asik-asik. Namun tiba-tiba saja sebuah hal mengusik kami. Ditempat yang biasa kami ngobrol dengan selingan cekikikan atau senda gurau. Hari itu, hari senin 16 Februari seperti berhenti sejenak. Senin itu seluruh karyawan berkumpul, berkumpul tidak untuk bersenda gurau melainkan berdiskusi mengenai hal yang sangat tak terduga, BARANG YPR HILANG.

Yang paling tidak enak, adalah saya orang terakhir dikantor. Ya, saya yang terakhir berada dikantor sebelum barang barang itu hilang. Tuhan kenapa saya merasakan hal ini kembali, padahal saya sudah melupakan rasa pedihnya, indahnya, tak terimanya rasa Kehilangan. Kehilangan, aku lebih suka menyebutnya itu daripada kemalingan atau kerampokan. Kehilangan, saya sangat membencinya,.sepertinya kata itu merupakan kutukan bagiku atau malah berkah. Setiap kejadian seperti itu, saya kembali mengoreksi setiap detil apa yang telah lakukan. Kenapa ini terjadi kembali. Dan Bencana itu datang tanpa diundang ketika aku telah merasakan kesenangan, kenyamanan bersama keluarga baru di tempat ini.

Aku tak pernah menyadari bahwa laptop yang biasa untuk internetan, menemani waktu boring telah hilang. Juga kamera digital yang baru kami beli namun sudah banyak menjadi saksi untuk momen-moment kami selama ini telah hilang. Yang lebih buruk adalah hardisk, hardisk itu berisi data-data yang telah terkumpul dari sejak jaman dahulu dan kini lenyap. Barang-barang itu yang setiap hari pasti tersentuh oleh kami, yang menjadi hiburan kami sekaligus teman setia menemani kerja kami telah pergi.

Sekarang kami hanya bisa pasrah dengan keadaan, dan berusaha sebaik kami untuk mencarinya kembali. Teman, sakit rasanya bila kita sudah baik terhadap seseorang namun tiba-tiba kita ditusuknya dari belakang. Seperti itulah gambaran kami saat ini. Bencana itu datang tanpa diundang, bencana yang membuat kami merasa bersalah juga disalahkan dengan keadaan ini. Teman, kehilangan itu sakit, sangat sakit.

1 komentar:

  1. wew... Musibah bos,,ambil hikmah nya oke.. sabar, mudah2an di balas dengan ganti yg lebih baik...keep share..

    belajar dan berbagi

    BalasHapus

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge