Senin, 09 Februari 2009

Es Cream Chocolate

Es Cream Chocolate

Dia pernah berkata kepada seseorang yang pernah dia temui “apa semua itu akan kamu lakukan?” Ya saya akan lakukan semua itu!

Es cream itu hampir meleleh ketika saya mulai membukanya, aneh memang selalu saja makan es krim coklat ini sendirian. Tapi tidak, dalam setiap sendokan saya bisa merasakan nikmatnya semua ini, campuran saus kacang yang nikmat sekejap bisa melupakan kelelahan hari itu. Betapa setiap sendokan itu saya bisa berimajinasi dengan teman-teman lama yang bisa tertawa bersama dikamar ini, menertawakan nasib atau hanya sekedar mengingat kejadian gila yang sama-sama pernah dilakukan. Tapi itu hanya sebatas imajinasi, segelas coklat dingin ini bisa mengobati kebersamaan yang akan selalu menjadi kenangan dan kadang nyata ketika tiba-tiba seorang teman datang dengan tiba-tiba kemudian mengajak untuk bersenang-senang meski kebanyakan mereka datang ketika mereka membutuhkan sesuatu, tapi itu yang sangat menyenangkan bila mempunyai banyak teman.

Es krim itu sepertinya tidak mau terima jika selalu saja dimakan hanya dengan satu mulut. Tangan saya bergetar melihat krim yang setengah kecoklatan itu membentuk sebuah wajah seorang perempuan, dia cemberut. Ah mungkin saja karena hari ini begitu capek. Setelah ke pameran buku dan menjenguk seorang teman yang habis kecelakaan lalu makan malam bareng luqman sama Rista sebagai pentutup hari itu saya memang merasakan sedikit cape.

“Hai bodoh!”

Saya melirik lagi kedalam gelas plastik itu.

“Kenapa? Bodoh memang, arep tak kancani ora?”

Es krim itu berbicara kepada saya. Apalagi logatnya menggunakan Jogja. Tidak mungkin sebuah es krim bisa berbicara.

Sayapun mengambil sebatang rokok jarum yang ada disebelah rak. Masih tak percaya dengan apa yang dilihat dan apa yang barusan terdengar aneh. Ah ini halusinasi saja? Saya memberanikan diri melihat kembali kedalam gelas plastik itu, gambar kartun singa yang lucu itu mungkin yang berbicara kepadaku untuk menawarkan es krim miliknya yang sangat enak. Ternyata bukan, memang es krim yang hampir habis itu sedang mengajak berbicara.

“Tadi kamu yang ngomong?”

“Kalo buka saya siapa lagi! Kan Cuma ada kita berdua!”

Kelihatan wajahnya marah karena dicuekin dari tadi. Es krim itu mengeluarkan tangan kecilnya menunjuk-nunjuk ke arah muka.

“Kenapa dengan muka saya?”

“Bukan hanya muka tapi kamu, kamu yang setiap saya perhatikan selalu saja tidak punya teman. Aku juga menjadi risih hanya dinikmati kamu sendirian, apa gak ada yang lain untuk diajak makan bersama!”

“Lho kenapa memangnya, tadi saya sudah makan malam bersama teman saya.”

“Tapi kalo untuk es krim kenapa selalu sendirian.”

“Ah ngaco, memang harus sama yang lain hanya untuku sekedar makan es krim.”

“Ini yang tidak kusuka darimu!”

Tidak pernah seumur hidup saya, dimarahi oleh es krim. Bahkan namanya saja belum kenal, kok bisa sampai marah-marah seperti itu. Saya menganggap ini halusinasi saja, tapi memang benar-benar nyata sepertinya.

“Hai bodoh!”

“ Oh ya kenapa es?”

“Tahu gak maksudku tadi, masalah yang tidak kusuka darimu?”

“Perlu tahu ya? Sepertinya itu masalahmu bukan masalahku. Eh benar gak sih, apa saya sedang bemimpi.”

“Pejamkan matamu sebentar.”

Entah kenapa saya menurut saja apa yang dikatakan es krim itu, memalukan memang jika ini diceritakan kepada temanku bahwa seya pernah ngobrol dengan seorang atau sebuah eskrim, enaknya segelas eskrim. Saya masih saja memejamkan mata sambil berpikir, ini mungkin akibat dari capek tadi. Tiba –tiba teringat teman saya yang tadi bertemu di RS Bethesda, namannya Ucup nama aslinya sih Yusuf Aprianto entah kenapa bila ada orang yang bernama Yusuf selalu saja bisa dipanggil ucup. Dia teman kampus, sore tadi ketika dipameran saya mendapatkan kabar bahwa dia kecelakaan dan dirawat di Bethesda. Menurut saya memang aneh teman satu ini, ketika disuruh ngumpul di kost tak mau, eh sekalinya ketemu di RS. Tapi setelah ketemu di RS rasa pertemanan kami, bahkan kekeluargaan lebih terasa memang. Ucup sepertinya karyawan yang baik di kantornya bekerja, soalnya banyak teman kantornya yang datang menjenguknya. Cantik lagi, sepertinya kedatangan orang dari kantornya itu juga membuat pacar ucup sedikit cemburu, ah dasar cewek. mereka beberapa mahasiswa yang sedang magang di tempatnya bekerja di Jogja TV, mungkin calon reporter kali. Tangan kirin Ucup di gift lalu terlihat lubang botol infus di lengan kanannya. Juga yang menjadi mnenyakitkan diujung kepala sebelah kanan Ucup terdapat beberapa jahitan yang cukup dalam katanya. Sudah ya Cup, semoga saja cepet sembuh supaya kita bisa ngebir lagi atau gak ngrokok bareng. Eh bukan, sekarang karena sudah tidak ngebir atau ngrokok lebih baik kita renang saja.

“Eh kok malah senyum-senyum sendiri.”

Suara itu membangunkan kenangan tadi sore di bethesda bersama Ucup. Didepan saya sudah nampak perempuan manis mirip putri solo, tapi lebih mirip Maria Ozawa. Ah ini pasti juga karena tadi melihat teman Ucup yang mahasiswa magang itu yang mirip juga dengan orang yang lebih dikenal dengan Miyabi itu. Cantik sekali. Setelah tadi merasa heran melihat segelas es krim yang berbicara kini lebih heran lagi melihat gadis cantik tepat berada didepanku. Saya langsung meraih kaos untuk menutup tubuh yang dituntut macho oleh wanita cantik diujung jalan sana-beberapa sih-.

“Kamu tadi es krim yang itu.”

“Iya jangan heran dong, akukan jadi malu.”

Lho es krim punya malu juga ternyata, gak pake baju baru malu. Lagian dia juga pake baju, bagus lagi. Tapi pikiran jorok saya sempat melihatnya bila tidak memakai baju, dikost berdua dengan cewek telanjang, apa kata dunia.

“Kita belum kenalan dari tadi”

“Gak perlu kita kenalan, lagian kamu sudah tahu bahwa aku eskrim, begitu juga aku tahu bahwa kamu manusia bodoh.”

“Jangan panggil Bodoh donk, gak enak, mending lainnya selain itu bisa kan, eh tapi ngomong-ngomong kamu peri atau jin atau setan sih?”

“Ngawur, bukan donk. Aku ini ya es krim, es krim yang selalu kamu makan bila sedang kelelahan dan juga bila kamu makan pas punya uang. Yang aku tahu kamu memakan aku seminggu sekali juga kadang gak sama sekali.”

“Oh begitu ya. Lalu ngapain kamu disini.”

“Kasian aja ngliatin, gak ada yang nemenin makan es krim.”

“Tau kamu datang tadi saya beli 2.”

“Gak aku bosen makan es krim, lagian sayakan es krim ngapain makan es krim. Eh sudah ya sama pamit dulu lain kali kita ketemu lagi.”

“Eh kok pergi sih.”

“Lain kali kita ketemu lagi, lain kali kita bisa ngobrol banyak lagi. Hari ini sebagai permulaan saja.”

Tiba-tiba saja saya terbangun oleh suara HP. Ternyata Ronny dia mau datang dari Jakarta nanti malam. Saya melirik kesamping, dua buah gelas es krim, yang satu dengan terpaksa dan pasti merasa terhina sudah menjadi asbak. Satunya terlihat masih basah. Es krim yang enak, kapan-kapan pasti akan membelinya lagi, lalu berimajinasi seterusnya tanpa batas. Bertemu dengan perempuan cantik yang malu-malu itu. Terimakasih es krim coklatku.

Gugun 7

-Suka makan es krim rasa coklat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge