Rabu, 04 Februari 2009

Sex After Dugem

Sex After Dugem
Menyenangkan, Menegangkan, Mengharukan.

Dari judulnya saja saya sudah merasa seperti terprovokasi, S.E.X tiga huruf yang selalu membuat orang merasa tertarik –termasuk saya- dengan memakai cover seseorang dengan gaya menantang berambut ijo berlagak ngiming-ngimingi. Dari cover tersebut kebanyakan orang akan langsung secara terpaksa untuk sekedar melihat buku itu, paling tidak penasaran dengan cover yang merangsang orang untuk melihatnya. Sebagian orang mungkin langsung terpancing tanpa sebelumnya melihat siapa penulis buku tersebut. Budiman Hakim, seorang mantan copywriter sepertinya yang membuat buku ini, karena seperti yang telah saya tahu dari bukunya sekarang ini dia menjadi creative director juga karena terpaksa. Seperti kabanyakan orang yang ingin memiliki sebuah buku paling tidak akan membaca epilog dibagian belakang buku tersebut selain melihat harga buku pastinya. Dibagian belakang Sex After Dugem ini terdapat beberapa komentar mengenai isi buku, disitu saya mendapati beberapa orang yang sudah sebagian orang kenal seperti Butet, Alex Komang, TIka Bisono dan satu yang membuat saya juga tertarik karena ada salah satu tokoh penyair yang mau-maunya memberi testi pada buku ini beliau Sapardi Djoko Damono nama yang pastinya sudah sangat dikenal selain beberapa orang yang telah memberi komentar terhadap buku ini diatas dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang berkomentar. Biasanya saya termasuk orang yang membeli buku juga karena orang yang memberi penilaian terhadap buku tersebut. Apalagi kalau orang yang memberi komentar merupakan orang-orang yang sangat dipercaya lebih-lebih dikagumi.

Membaca buku ini saya seperti menjadi penulisnya, bagian dari teman-teman yang penulis buku ceritakan, menjadi bagian dari setiap cerita yang Budiman Hakim bagikan. Bersama 34 kisah yang menyenangkan, menegangkan, mangharukan ini saya merasa terbawa mengikuti dunia yang pernah dialamai oleh Budiman Hakim. Bagaimana ia menggambarkan realitas disekitarnya dengan cerdik, padahal menurutku juga itu merupakan hal biasa yang terjadi disekitar kita entah kenapa menjadi menarik. Terus bagaimana Budiman hakim menggambarkan kehidupan orang yang pernah bersinggungan dengannya. Saya bias merasakan hal yang sama sebagai mahasiswa yang ingin mendapatkan tempat magang, seperti yang Budiman Hakim tulis tapi yang memang begitu mahasiswa kayak gak pernah merasakannya. Saya bisa ikut merasakan kebahagiaan menikmati suasana kerja tempat Budiman Hakim ceritakan, bertemu dengan banyak orang dengan orang yang aneh-aneh. Mendengar cerita tentang Wida dengan kuburannya saya bisa tertawa campur sedih melihat supir taksi yang pasti sampai sekarang masih menjadi kenangan, juga merasakan nikmatnya nyimeng bersama seorang teman. Bagaimana merasa tidak diperdulikan ketika kita antri sedangkan yang lain bisa langsung nylonong masuk saja, keirian budiman hakim sangat terasa. Selain cerita yang menyenangkan beberapa cerita yang menegangkan sekaligus mengharukan ia tulis, seperti ketika bertemu dengan seorang petugas asuransi, bagaimana ia menceritakan tentang anaknya dengan kondisinya, pengorbanan seorang saudara, alm Tofik Savalas (saya juga suka dengan dia) terus yang paling mengesankan menurut saya adalah seorang teman yang masih mau memberi ucapan untuk seorang yang mereka bilang berkhianat. Itu merupakan bagian yang menarik.

Budiman Hakim memang berasal dari dunia kreatif hiburan, tulisan-tulisan yang ia tulis semakin menjadikannya sebagai orang yang memang benar-benar kreatif. Selain Sex after Dugem beberapa buku sebelumnya juga tak jauh-jauh dari dunia periklanan yang telah digeluti bertahun-tahun. Dua buku sebelumnya seperti Lanturan tapi Relevean juga Ngobrolin Iklan yuk! juga menarik. Membaca buku ini saya terbawa kedalam suasana dunia baru, kreatif hiburan. Secara tidak langsung saya juga bisa merasakan bagaimana sebuah dunia periklanan yang aneh. Yang pengin saya rasakan juga.

Paling tidak saya ketemu buku ini pas tidak sengaja lagi mencari buku buat bahan tes, eh Tuhan memang baik mempertemukan dengan buku yang aneh ini, catatan seorang copywriter buku yang pas saat ini bagi saya yang sedang belajar dunia kreatif hiburan. Wah sudah dulu, capek takut bikin gelisah orang, takut nambah dosa ngomongin orang. Meminjam istilahnya om Bud “Dengan kita menorehkan pengamatan kita keatas kertas, kita menempa kemampuan kita dalam menulis”. Jadi ya ini saya tulis dari kata-kata itu. Terimakasih sudah membagikan cerita yang menegangkan, menyenangkan dan mengharukan ini. Semoga saja ada buku-buku lain yang seperti ini.

Salam Gugun 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge