Sabtu, 09 Januari 2010

Belajar dari Amanda

Komitmen dan Prioritas inilah pesan yang ingin disampaikan Amanda kepada setiap lelaki. Bagaimana seorang perempuan akhirnya lebih memilih seorang lelaki yang memiliki komitmen dan prioritas terhadap hidupnya dengan jelas, tidak dengan kebahagiaan yang dialami sekarang ini tanpa prioritas untuk masa depan. inilah inti cerita yang didapat setelah nonton film drama terbaru Hari Untuk Amanda.

Bercerita tentang Amanda yang akan melangsungkan pernikahanya 10 hari lagi. Hari mantan pacarnya tiba-tiba datang dengan memberikan Kotak yang isinya kenangan masa pacaran mereka selama 8 tahun. Dengan niat awal untuk mengembalikan kotak dari Hari, Amanda terbawa dengan petualangan selama sehari penuh bersama Hari. Kenangan lama mereka mulai muncul, ternyata satu hari itu adalah hari yang dipersiapkan oleh Hari untuk kembali merebut hati Amanda. Amanda dengan keputusan hatinya mengambil pilihan untuk kembali kepada Dodi tungangannya yang akan menikahinya, Dodi dengan komitmennya untuk menikah dengan Amanda. Dodi adalah seorang junior brand manager dan Hari merupakan orang yang santai yang masih hidup tidak jelas dengan prinsipnya Santai kayak di pantai, slow kayak di pulauw. Bagaimana Amanda memandang pilihannya dan dibandingkan dengan kondisi kakaknya yang akhirnya cerai dengan suami pilihannya dulu, Amanda masih bingung memilih tentang kepastian hatinya. Pilihan, dan kepastian Amanda ditunjukan pada awal dan akhir film ini.

Cerita Hari untuk Amanda memang terkesan sederhana, menyajikan orang yang tidak terima orang yang dicintainya akan menikah. Namun Angga Dwimas Sasongko sang sutradara dibantu oleh penulis skenario Salman Aristo dan Ginatri S. Noer mengemas dengan apik film dengan durasi 90 menit ini. Banyak yang ditawarkan dalam film ini, cerita tentang sebuah hubungan, sebuah pilihan dan kepastian hati seorang perempuan akan didapatkan dengan melihat film ini apalagi pesona sang penulis skenario yang menampilkan kata-kata terbaiknya untuk semua karakter yang ada dalam film ini. Duet antara Salman Aristo dan Ginatri membuat film ini tidak membosankan dengan permainan kata-katanya.

Santai kayak di pantai, slow kayak di pulau seperti kata Hari dalam Film ini saya akan mencoba melihat film ini seluruhnya. Dari judul kita akan sedikit kena permainan tentang sebuah judul yang menarik. Hari untuk Amanda, kalo dilihat memang seperti hari=waktu, waktu yang diberikan untuk Amanda. Ternyata Hari dalam judul merupakan salah satu karakter dalam film ini.

Melihat film ini jadi teringat akting kedua pemain, Oka Antara (Hari) dan Reza Rahadian (Dodi) mereka bertemu kembali setelah dalam film Perempuan Berkalung Sorban dan Quen Bee. apalagi konflik antara mereka juga sama seperti dalam film tersebut, sama-sama memperebutkan wanita yang sama. Namun sayang akting Reza Rahadian yan gbaru mendapat piala Citra untuk perannya dalam film Perempuan Berkalung Sorban tidak bisa dilihat banyak disini, karena porsinya yang sedikit tapi tetap saja dia menghadirkan akting yang tetap menarik. Sepertinya para penulis skenario sudah tertarik dengan akting dari Oka Antara dan Reza Rahardian dan merasa cocok bekerja sama dengan mereka. Fanny Fabriana yang akhirnya mendapat peran ini bermain dengan baik dibanding dengan dilm sebelumnya Praman in Love untuk Serigala terakhir belum sempat nonton. Dari informasi yang saya terima peran ini sebelumnya untuk Dian Sastro dan Dina Olivia. Tak kalah dengan Dian Sastro maupun Dina Olivia, Fanny Fabriana menampilkan permainan terbaiknya meski kadang dialognya serasa kurang jelas.

Untuk permainan sinematografinya adegan paling terbaik menurut saya adalah ketika saat pagi hari, didapur ketika Amanda ditelpon oleh Dodi. adegan ini ditutup ketika Ibunya Fanny ternyata ada di pintu memperhatikan Amanda. Editing dalam film ini juga berjalan dengan rapi, tidak meloncat-loncat, menampilkan kesinambungan gambar yang enak untuk ditonton. Oh ya selama film ini kita bisa mendengarkan lagu-lagu dari band indie Pure Saturday, satu lagu andalan saya, Kosong ternyata ada di film ini dan pas banget settingannya.

Dalam film ini sang sutradara sepertinya sangat suka dengan permainan akting para pemain, detail gambar ketika dialog ditunjukan dengan rapi. Kita bisa melihat gesture dari para pemain untuk menunjukan karakter tersebut.

Sedangkan beberapa adegan ada yang bisa dibilang berlebihan, misalnya saja adegan itu dihilangkan juga tidak akan mengubah alur cerita. Adegan ketika Dodi di kantor polisi, itu cukup lucu tapi terlalu dipaksakan. Adegan ini juga membuat jumping yang besar sepertinya untuk karakter Dodi, seorang brand junior manager sangat bodoh untuk membawa urusan belum pulangnya Calon istrinya ke kantor Polisi, padahal dia masih bisa menhubunginya beberapa jam yang lalu.

sebelumnya film ini mengalami masalah dengan diundurnya premiere, mungkin karena akhir tahun lalu banyak film dari luar sana yang lebih mendatangkan penonton. Ternyata sampai film ini diputar film dari luar tetap tak terkalahkan, Avatar masih menjadi primadona apalagi ditambah Sherlock Holmes dan tetap Sang pemimpi yang juga bersaing dengan film Holywood. Ketika nonton film ini saya menghitung penonton seluruhnya ada 11 orang ditambah satu anak kecil yang masih bisa masuk, padahal di posternya ada cap stempel besar dari LSF bertuliskan Remaja. Sepertinya film drama seperti ini masih kurang diminati oleh penonton disini, atau memang publikasi yang kurang. Pada salah satu poster sebelum-sebelumnya perhatikan cincin yang dipakai oleh Amanda , pada poster tersebut cincin ada pada tangan kanan sedangkan pada film cincin terpakai pada tangan kiri Amanda.

Yang jelas saya menikmati film ini dari permainan konflik yang dibuat oleh penulis skenario, bagaimana para penulis menyajikan beragam konflik dalam satu hari. Ditambah dialog-dialog yang memberikan kesan pada karakter yang ada. Beberapa dialog yang menarik dalam film ini antara lain: Santai kayak di pantai, slow kayak di pulauw (Hari), Cari jodoh itu sama kayak nyari BH yang enak (papa ke-2 di pasar) masih banyak dialog yang sangat menarik, sayang lupa. Ketika Amanda ngomong masalah prioritas hidup, hal yang lebih penting. Duet yang menarik dari dua penulis skenario hebat.

Sedangkan yang menjadi pertanyaan adalah, ternyata bisa juga berputar-putar dijakarta sejauh itu tanpa macet sehari lagi.

Salam.

"Selama ini aku selalu nyoba jadi orang yang kamu mau, tapi itu gak pernah cukup." Hari "... mau pake baju monyet sekalipun aku gak peduli, yang penting aku nikah sama kamu." Dodi

6 komentar:

  1. wah asyik nih, bisa baca ringkasan ceritanya
    makasih ya.

    BalasHapus
  2. Wah mbak Narti matur nuwun sudah mampir. filmnya emang menarik. apalagi pas buat mbak2 yang mau menikah....

    Salam memasak....

    BalasHapus
  3. amanda yamg tegas boss..
    susah deng nyari cewe kaya gitu....

    BalasHapus
  4. Bener bos, tapi ya namanya perempuan. karakter dalam film ini srasa real dengan kondisi saat ini. Lanjutkan....

    BalasHapus
  5. Siap gan, mampir lagi gan.

    BalasHapus

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge