Tampilkan postingan dengan label Filmography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filmography. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Sinetron, Julia Roberts, Tanah Leluhur

Seorang teman yang sama-sama menonton Eat, Pray, Love memberi anggapan "Kita sedang menonton sinetron yang dibintangi oleh Julia Roberts." Tidak salah jika temanku sampai beranggapan seperti itu, film Hollywood yang memiliki cerita seperti yang ada di dalam setiap sinetron kita. Cerita-cerita di sinetron memang terbiasa menggambarkan seorang tokoh yang bisa mendapatkan segalanya, dia kaya, kadang menjadi tersiksa karena masih saja merasa kurang dengan apa yang telah ia dapatkan. itu gambaran kecil tentang sinetron indonesia yang hampir mirip dengan tokoh sentral film Eat, Pray, Love sama-sama seorang yang bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara yang kadang tidak perlu dengan logika. Saya sendiri kemudian berkata bahwa ini bukan sinetron melainkan FTV yang hampir tiap hari ada di SCTV, FTV yang ambil setting di Bali dan dibintangi Julia Roberts.

Luapan kekesalan memang saya temui dari beberapa orang yang menonton film ini. namun, banyak juga yang menilai film ini bagus dan menghibur. Mereka bisa tertawa lepas melihat semua tingkah Ketut yang diperankan sangat baik oleh Hadi Subiyanto yang baru pertama kali main di sebuah film. Mereka mengapresiasi ketika Cristine Hakim muncul dalam frame pertama film itu dan tentu saja penampilan Julia Roberts yang selalu menarik.

Julia Roberts yang mampu mengalihkan setiap plot cerita yang terkesan selalu cepat, plot cerita yang singkat dan padat pasti akan menyulitkan penonton yang sebelumnya tidak membaca buku aslinya. Latar belakang cerita, pengenalan tokoh dengan tiba-tiba sangat sulit untuk cepat diketahui siapa itu, siapa dia. Yang bisa dilihat adalah Julia Roberts yang memerankan Liz adalah seorang perempuan yang dengan mudah melakukan perjalanan 3 negara, punya masalah dengan suaminya, memiliki teman banyak yang selalu berada disampingnya, dialah drama quen yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tidak ada konflik dalam cerita ini, konflik yang biasanya membuat sebuah film akan menjadi hidup. Memang dalam bukunya konflik sebenarnya yang terjadi juga tidak dijelaskan.
Kemudian kalau ditanya apa yang menarik dalam film ini. Pertama saya langsung bilang, Ubud, Julia Roberts, Ketut, dan Cristine Hakim. saya hanya menyayangkan mengapa Ryan Murphy sang Sutradara yang sedang mendapat banyak penghargaan ini malah membuat film ini tidak bisa dinikmati. Seharusnya film dengan buku yang laris itu dapat membuat tontonan yang lebih bagus lagi. Memang tidak salah ketika seorang teman beranggapan seperti menonton sinetron. cerita tanpa konflik berjalan mulus melihat Liz gilbert mendapatkan apa yang ia inginkan seperti cerita sinetron yang memenuhi layar di sore hari, datang mendapatkan dan pergi.

Ada satu hal yang mengkhawatirkan yang bisa saya tuliskan disini. Semoga yang lain juga merasakan hal yang sama. Ini tentang Ubud, Bali, Indonesia yang ditampilkan dengan indah dibanding dua negara sebelumnya. Itali yang penuh dengan gedung-gedung serta India yang potret kemiskinannya nampak sekali dalam film ini. Sedangkan Ubud ditampilkan dengan sangat menawan pada segment Love ini.

Awalnya saya iseng menelpon seorang teman di Bali untuk menanyakan kondisi Ubud seperti apa, harga tanahnya berapa. Saya kemudian mendapati bahwa Ubud merupakan sebuah 'tanah leluhur'. Lalu apa hubungannya dengan film yang mendapat dukungan dari pemerintah ini dan membuat suatu kekhawatiran dibalik dampak positifnya. Bagi yang sudah membaca bukunya pasti tahu bahwa rumah Tutti (rumah kebersamaan) milik Wayan adalah rumah yang berhasil didirikan oleh beberapa orang teman Liz Gilbert. Kita bisa merasakan rasa saling membantu pada bagian ini, keinginan membantu bagi yang membutuhkan dan rasa kebersamaan. Setelah uang terkumpul satu petak tanah berhasil di beli dan didirikan rumah. Saya hanya membayangkan bagaimana jika dikemudian hari ada Liz yang lain, yang bisa mendapatkan tanah kembali di Ubud bersama teman-temannya. Tanah leluhur di ubud akan semakin merasa dimiliki oleh tangan orang lain. Itu hanya kekhawatiran kecil saja dan saya yakin tanah leluhur itu tidak dengan mudah didapatkan. Ubud bisa mencegah perpindahan tanah itu, menjaga tanah leluhur itu.

Kesuksesan film EPL pasti akan membawa dampak besar bagi wisata indonesia khususnya Ubud yang pernah dinobatkan sebagai kota terbaik se-Asia yang mengalahkan Bangkok dan Hongkong. Konsekuensi yang harus diterima dengan semakin dikenalnya Ubud lewat film ini harusnya sudah dipersiapkan dengan matang oleh semua pihak. Semua orang pasti akan mencoba merasakan apa yang dirasakan Liz Gilbert di Ubud. Wisatawan akan banyak datang, kebutuhan akan penginapan semakin besar.

Apakah Ubud telah menyiapkan untuk itu semua, perubahan dampak dari film EPL agar tetap menjaga keseimbangan lingkungan, dan budayanya. Banyak sekali tempat yang menjadi lokasi film akhirnya berubah menjadi tujuan favorit wisatawan. AngKor Wat (Kambodja, Angelina Jolie), Viena(Before Sunsite, Ethan Hawke & Jlie Delphi) bahkan ada juga lokasi film yang dibintangi Julia Roberts, Nothing Hill menjadi tempat favorit wisatawan di London. Banyak keuntungan yang didapatkan dari itu Angkor Wat tetap bisa menjaga nilai sejarah tempat itu apakah Ubud tidak tenggelam dalam euphoria film Eat, Pray, Love.

Sungguh ironis jika karena kesuksesan film ini lahan-lahan persawahan tanah leluhur akan semakin hilang berubah menjadi hotel untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. film ini telah memulai perubahan ini yang akan membuka kembali minat wisatawan asing datang ke Indonesia. Saya yakin target 7 juta pada tahun ini bisa terpenuhi bahkan akan melebihi angka tersebut, apalagi data semester awal pada Juli sudah pada angka 4,5 juta wisatawan asing di Indonesia.

Saya tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, konsekuensi itu ada didepan Ubud. Sedikit kekhawatiran memang muncul agar kota terbaik itu tidak semrawut dan mempertahankan setiap budaya lokalnya. Selalu berpandangan positif untuk keutuhan Ubud menjadi pilihan untuk saat ini. dan saya tetap mendukung wisata Indonesia, selamat bergabung dalam euphoria Eat, Pray, Love.

Jumat, 05 Maret 2010

Keindahan dan Keajaiban Pandora

Siapa yang tidak mengagumi alam Pandora, perpaduan antara sebuah keindahan dan keajaiban. Dunia ciptaan James Cameron itu memang sangat memanjakan mata dengan pemandangan panorama keindahan planet Pandora. Memang tempat seperti yang ada dalam film Avatar tersebut membuat orang sangat ingin mengunjunginya. Pandora memberikan sebuah motivasi dan inspirasi yang mampu membuat orang ingin mengunjunginya. Melihat keindahan alamnya, menikmati keajaiban alam dan kehidupan yang ada di Pandora. Namun itu hanya Pandora, sebuah kenyataan yang memberikan kesimpulan bahwa tempat seperti itu hanya ada di film, kita hanya bisa menikmati Pandora dari olahan digital pada sebuah layar.

Kita bisa tahu bagaimana beberapa film berhasil memberikan motivasi orang untuk mendatangi lokasi syutingnya, karena keberhasilan film-film tersebut maka daerah yang pernah dijadikan lokasi syuting itu menjadi tempat wisata populer yang sering dikunjungi wisatawan. Mereka ingin datang setelah melihat pemandangan indah dari film yang pernah mereka tonton. Yang paling terkenal adalah Angkor Wat, kawasan candi di Thailand ini menjadi semakin ramai dikunjungi wisatawan karena dijadikan lokasi syuting film Tom Raider. Ada juga film yang dibintangin oleh Leonardo di Caprio, The Beach, sebuah kawasan pantai Phi-phi Island menjadi ramai setelah lokasi tersebut dijadikan lokasi syuting. Masih banyak lagi film yang memberikan motivasi bahkan inspirasi seseorang untuk mendatanginya. Beberapa orang ingin pergi ke New Zealand setelah melihat keindahan alam kaum Hobbit di film The Lord of The Ring, ada juga yang ingin pergi ke Austria setelah melihat film Before Sunrise dan Before Sunshet. Bahkan gara-gara Laskar Pelangi Pulau Belitong menjadi tempat wisata favorit, mudah-mudahan Bali menjadi semakin terangkat setelah dijadikan lokasi film Pray, Eat and Love yang dibintangi Julia Robert.

Kemudian apakah nasib Pandora bisa menjadi seperti New Zealand yang bisa menjadi tempat wisata setelah ada film TLOTR atau Angkor Wat yang menjadi semakin ramai setalah film Tom Raider. Apa yang bisa dilakukan setelah terpana melihat keindahan Pandora pada film Avatar. Kita hanya bisa terdiam, membayangkan tempat seperti Pandora bisa dikunjungi kemudian berharap ada paket wisata yang ditawarkan menuju Pandora. Hanya membayangkan.

Pandora merupakan sebuah planet dengan jarak tempuh dari bumi membutuhkan waktu selama 5 tahun 9 bulan 22 hari. Alat tranportasi yang digunakan menuju Pandora adalah sebuah pesawat khusus yang bernama Cryo. Perbedaan atmosfir Pandora dengan Bumi membuat orang yang datang harus menggunakan masker khusus. Tanpa masker tersebut 20 detik pertama kita bisa pingsan kemudian setelah 4 menit dipastikan akan meninggal.

Ada program Avatar yang memungkinkan kita bisa menjelajahi Pandora tanpa masker. Avatar merupakan program penelitian biologi yang menghasilkan satu media berupa tubuh makhluk hidup, tubuh itu kemudian bisa dikemudikan oleh manusia melalui ruang koneksi. Avatar merupakan program yang dirancang dari DNA manusia dipadukan dengan DNA mahluk pribumi Pandora atau Na'vi. Namun sayang sepertinya untuk mempunyai sebuah Avatar kita harus memilki dana yang cukup banyak, Program Avatar sepertinya memerlukan biaya yang cukup mahal. Jika pernah melihat robot pengganti di film Surogates maka program Avatar hampir sama seperti robot pengganti yang ada Film Surogates. Kalau di Surogates merupakan koneksi manusia dengan robot, sedangkan Avatar merupakan penyatuan koneksi tubuh menggunakan penyelarasan DNA dan saraf manusia.

Banyak hal-hal menarik yang bisa ditemukan di Pandora. Pohon-pohon di Pandora memiliki hubungan satu sama lain atau transduksi melalui akar-akarnya yang menghubungkan pohon-pohon tersebut. Beberapa tumbuhan juga memiliki aliran elektrik yang bisa memberikan cahaya yang sangat bagus di malam hari. Binatang di Pandora memiliki keunikan pada kaki depannya, setiap binantang memiliki sepasang kaki lagi tepat disebelah kaki depannya jadi jumlah kaki binantang kalo di Bumi memiliki empat kaki di Pandora memiliki 6 kaki. Ada Thanator yang merupakan hewan seperti Harimau di bumi atau Ikran binatang terbang mirip burung Naga. Binatang-binatang tersebut bisa dikendalikan dengan Sa’helu, Sa'helu merupakan penyatuan ikatan dari orang pribumi dengan binatang yang mereka pilih dan binatang itu juga memilihnya.

Selain tumbuhan dan binatangnya Pandora juga mereka memiliki bibit pohon suci yang bisa terbang, menurut kepercayaan mereka ada roh suci yang berada di dalam bibit pohon tersebut. Roh suci tersebut adalah Eywa, Dewa yang menjaga keharmonisan Pandora.

Mata kita bisa terpana melihat keajaiban yang ada di Sektor 26, pegunungan Hallelujah Pandora. Sebuah gugusan pegunungan hijau lengkap dengan air terjun yang melayang-layang. Atau jika melihat Pohon suci dari Eywa yang mampu memberikan kehidupan.

Pandora memiliki penduduk pribumi yang disebut Na’vi. Na’vi ini mahluk yang melebihi tinggi manusia biasa, memiliki tubuh dengan tulang yang sangat kuat, tulang dengan serat karbon alami membuat mereka bisa berlari diantara dahan-dahan pohon. Bentuk tubuh mereka lebih mirip seperti manusia kucing dengan daun telinga yang lancip dan memiliki garis pada tubuhnya juga ekor. Pada tubuh Na’vi juga memiliki aliran elektrik yang bisa mengeluarkan cahaya pada malam hari. Mereka juga mempunyai senjata yang sangat kuat, sebuah panah beracun yang akan langsung bisa membunuh sasarannya. Di Pandora ada beberapa suku Na’vi yang hidup di beberapa daerah terpisah. Setiap suku atau klan memiliki Omaticaya yang menjadi pimpinan mereka.

Kita bisa melihat perkampungan Na’vi dari suku atau klan Jarhead yang berada di sector 12. Perkampungan mereka berada pada sebuah pohon yang sangat besar. Di pohon itulah mereka melakukan rutinitas dalam kesehariannya. Namun sekarang sector 12 dengan pohon besarnya sudah rusak, sudah tidak ada lagi keindahan yang ada.

Jika Bumi memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah. Pandora memiliki sesuatu yang sangat menarik. Unobtanium, sebuah batu yang memiliki harga 20 juta per kilogramnya. Karena Unobtanium inilah akhirnya alam Pandora menjadi rusak. Bagian terbesar berada pada daerah sector 12 yang memiliki unobtanium terbanyak pada bagian bawah perkampungan klan Jarhead.

Keindahan, keajaiban hanya ada di Pandora. Alamnya, pohon-pohon yang bersinar dimalam hari. Penduduk pribuminya yang menyatu dengan alam begitu menampilkan keharmonisan alam dengan kehidupannya. Jadi setelah melihat keindahan Pandora apakah anda termotivasi untuk berada ditempat seperti itu. Kalau saya, tak pernah menyangka membayangkan bisa pergi ketempat itu, jika memang ada tempat seperti itu, akan kulangkahkan kakiku menuju kesana, aku bisa melihatnya. Menaiki Thanator seperti seorang Na’vi warior atau terbang bersama Ikran menjelajahi alam Pandora sebagai manusia langit.

Sabtu, 13 Februari 2010

Kejujuran dalam Film “Up In the Air”

Dia adalah seseorang yang dibenci dengan kehadirannya. Kedatangannya ditanggapi dengan pandangan sinis oleh beberapa orang. Dia adalah Ryan Bingham seorang yang pekerjaannya memecat beberapa karyawan perusahaan yang menyewanya.

Apa yang anda rasakan ketika tiba-tiba setelah belasan bahkan puluhan tahun mengabdi pada perusahaan tempat anda bekerja tiba-tiba harus berhenti dari pekerjaan itu. Ekspresi dengan dialog one-linear (dialog cepat oleh pemain)dihadirkan dengan realistis menggambarkan beberapa kondisi para pekerja yang dipecat dari pekerjaannya. Statement dari para pekerja itu menjadi penguat karakter Ryan sebagai seorang yang memiliki pekerjaan memecat karyawan. Penunjukan karakter yang sangat baik dari seorang Ryan Bingham diperankan oleh George Clooney. Melalui tatapan mata dari seorang Ryan Bingham kita bisa mengetahui bahwa dia adalah seorang yang sangat tegas dengan pendiriannya. Pekerjaannya merupakan tanggung jawabnya yang dia lakukan dengan sangat sempurna, detail dari karakter ini bisa dilihat dengan bagaimana cara Ryan memulai pekerjaannya dengan sangat rapi. Berapa pakaian yang harus ia siapkan dan beberapa barang lain yang dibutuhkan disiapkan dengan rapi dalam sebuah tas yang selalu menemaninya. Melalui tas tersebut juga penggambaran karakter Ryan ditunjukan sebagai seorang pembicara motivator yang bisa mengetahui seseorang melalui tas yang ia kenakan.

Ryan adalah seorang yang tidak percaya dengan tujuan komitmen hidup, seorang tidak dengan tujuan hidup masa depan bersama keluarga. Beberapa adegan tergambar dengan jelas menunjukan karakter ini, Carol saudara perempuan Ryan malah menganggap Ryan tidak pernah ada dalam keluarganya. Natalie partner kerjanya sampai harus mencaci Ryan sebagai orang yang tidak memiliki perasaan terhadap sekelilingnya.

Seseorang yang hidup 247 hari pertahun, hampir berkurang 100 hari setiap tahun ia lakukan untuk sebuah perjalanan menggunakan pesawat berada di udara. Sudah ribuan mil bila dihitung rute perjalannanya. Sepertiga hidupnya ia lakukan didalam pesawat. Hingga membuat Ryan menjadi seorang first class disetiap penerbangannya. Inilah kemungkinan judul film ini menjadi Up in the Air.

Dalam melakukan pekerjaannya ia bertemu dengan Alex, Alex inilah yang akhirnya memberikan perubahan tentang komitmen hidup. Namun dalam perjalanan perubahan ini Ryan merasa terpukul setelah melihat kondisi Alex yang sebenarnya. Ryan Bingham yang sebelumnya memiliki karakter yang kuat dengan pendiriannya berubah menjadi seorang manusia biasa yang ternyata bisa memiliki rasa kehilangan, sakit hati. Pada bagian ini bisa dilihat dengan jelas perubahan karakter yang dilakukan oleh Ryan Bingham.

Kembali secara keseluruhan film ini memberikan kejujuran, kedalaman dalam cerita yang disajikan. Akting dari para pemain melalui dialog-dialognya bahkan dengan sedikit komedi menunjukan kondisi yang sebenarnya terjadi dekat di sekitar kita. Sebuah film dengan banyak pesan moral yang tersimpan dengan teratur. Bagaimana seseorang menghargai pekerjaannya, hidupnya dan orang yang berada disekelilingnya.

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan film ini sebelum seorang teman menyarankan untuk mencoba menontonnya terlebih dahulu. Apa yang bisa saya lihat dari film ini? Tanpa banyak bicara teman saya hanya bilang, tidak akan rugi melihat film ini. Darinya juga saya mendapatkan bahwa sutradara dan penulis naskahnya merupakan orang sama yang memproduksi film Juno dengan keorisinalias naskah skenarionya dan juga film Thank You for Smoking. Kedua film itu merupakan film dengan komedi satir yang berisi banyak pesan moral, dengan pertimbangan itu akhirnya film ini saya cari di rental dvd langganan saya. Dan ternyata memang benar, film ini tak jauh berbeda dengan 2 film yang tadi. Sebuah film drama tentang realitas dengan penggambaran adegan yang sangat menarik. Apalagi opening title film ini berbeda dengan film-film lain pada umumnya. Dan kalau diperhatikan beberapa bagian pada gambar aerografi terlihat hampir mirip dengan film dokumenter karya Yann Arthus-Bertrand Home dengan bentuk shape dan patern yang terlihat menarik dengan angle gambar dari udara.

Minggu, 31 Januari 2010

Eksotisme Kesadisan dalam Rumah Dara

Darah itu mengalir, hitam pekat kemerahan membuat orang yang melihat akan menyimpulkan kesadisan telah terjadi ditempat itu. Beragam benda tajam dengan mudah akan ditemui, dari samurai asli jepang yang mampu membelah tubuh manusia hingga tusuk konde yang beralih fungsi menjadi senjata mematikan. Teriakan, tangisan dan kepedihan secara dinamis mengisi plot cerita yang biasa saja. Tidak banyak sound efek yang sengaja digunakan untuk mengagetkan orang yang menonton, melainkan alunan musik lama yang akan menambah mood adegan yang akan membentuknya. Inilah keeksotisan kesadisan yang dikemas dengan sangat menarik oleh duo sutradara Mo Brother (Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto) dalam film Rumah Dara (Macabre). Eksotisme yang secara linear dibiarkan penonton sendiri yang menilainya. Penonton tidak menyadari bahwa ada cerita dalam film ini, tidak peduli dengan cerita yang memang sudah terbiasa untuk film dengan tema horor slasher, penonton disuguhi pemandangan kesadisan. Sebuah estetitasi kesadisan ditawarkan dalam film Rumah Dara ini.

Sebelum dipremiere di Indonesia film ini membawa judul Macabre, namun setelah diputar di Indonesia nama Rumah Dara sepertinya menjadi pilihan untuk judul penonton Indonesia. Dalam event internasional film ini juga mendapat penghargaan untuk aktris terbaik di Puchon Film Festival di Korea. Dan Rumah Dara diputar di beberapa festifal film lainnya. Rumah Dara merupakan perpanjangan dari versi pendek Dara dalam kompilasi film horor Takut (Faces of Fear)

Cerita berawal dari Astrid (Sigi Wimala) dan Aji (Ario Bayu)yang akan pergi ke Australia untuk kelahiran anak mereka. bagian pertama film ini kita dikenalkan oleh masing-masing karakter seperti Eko (Dendy Subangil), Jimmi(Daniel Mananta) dan Alam (Mike Lucock)serta Ladya (Julie Estele) yang memiliki masalah dengan kakaknya Aji setelah orang tua mereka meninggal gara-gara bertengkar dengan Aji. Pengenalan karakter yang cukup singkat dengan adegan pengunjung kafe yang menggoda Ladya cukup simple, menarik dan klasik untuk pengenalan karakter tokoh.

Tidak disangka setelah menolong seorang perempuan yang habis dirampok bencana akan muncul. Setelah menolong Maya ( Imelda Therine ) rombongan itu dibawa menuju tempat tinggal Maya, perkenalan dengan keluarga Maya adalah awal dari keseluruhan slashing dalam film ini. Dara ibu dari Maya yang diperankan sangat bagus oleh Shareefa Daanish dan Adam yang diperankan oleh Arifin Putra serta satu orang pria gendut Armand (Reli Lubis) . Keluarga inilah yang membentuk cerita tersendiri dalam film ini, dalam film ini karena keterbatasan media menjadi kekurangan tersendiri untuk memahami latar belakang keluarga aneh ini. Tertutupnya identitas keluarga ini menjadi teka-teki tersendiri sebagai keluarga pembantai.

Perjamuan makan tidak dihindarkan sebagai ucapan terimakasih dari keluarga Maya kepada rombongan Aji yang menolong Maya. Jika anda memperhatikan adegan perjamuan makan ini hampir mirip dengan adegan perjamuan makan yang penuh kesadisan dalam film Pintu Terlarang dari Joko Anwar. Kita dibawa dengan ketegangan yang sangat menarik, perjamuan makan yang akan membawa rombongan itu kedalam bencana besar yang akan menimpa mereka diiringi dengan backsound musik yang semakin menambah ketegangan. Ini salah satu kemasan eksotisme ketegangan yang dikemas menarik oleh sutradara Mo Brother dalam film ini namun sayang ingatan saya beralih ketika melihat adegan itu menuju adegan film lain yang sama-sama memunculkan ketegangan, mood dan emosi yang sama (Pintu Terlarang).

Setelah perjamuan makan itu, adegan penuh kesadisan menjadi tontonan selama film ini sampai akhir. Sudah banyak ditebak seperti dalam film-film slasher, darah, teriakan, kesakitan, kepedihan dan ketegangan menjadi bumbu yang menarik. Mo Brother mengesampingkan cerita untuk film ini dengan membuat orang berdecak dengan kesadisan yang telah mereka buat. Adegan yang mampu membuat orang menutup mata, ngilu menjadi pengganti bahkan membuat penonton melupakan cerita film ini.

Satu persatu rombongan itu dihabisi nyawanya, hingga tersisa Ladya dan Aji yang akhirnya mengesampingkan masalah mereka berdua dan bayi dari Astrid. Tidak hanya mereka 4 orang dari kesatuan polisi juga menjadi korban kesadisan rumah ibu Dara ini. Penampilan Aming sedikit memberikan nafas segar karena mampu membuat penonton tertawa setelah disuguhi beragam tingkat kesadisan dalam pembunuhan.

Rumah Dara secara keseluruhan menghadirkan akting dari para pemain yang memberikan emosi tersendiri kepada para penonton. Kesadisan Ibu Dara akan menjadi cerita tersendiri, karakter pembunuh berdarah dingin kembali muncul setelah masanya Suzana berlalu. Secara langsung setiap karakter ini muncul akan menampilkan ketegangan tersendiri yang terbentuk olehnya, suara yang berat dan raut muka yang dingin menjadi perpaduan kesadisan sang pembunuh. Karakter lain yang diperankan secara menarik adalah Adam, Arifin putra layaknya seorang pembunuh berhasil membuat orang melihat kekejaman pada dirinya. Akting keseluruhan pemain saya rasa menjadi kekuatan tersendiri, bermain total memberikan tontonan yang menarik.

Film ini seperti terlepas dari perdebatan tentang batasan sebuah kekerasan yang sering muncul dalam keseharian kehidupan nyata dan menjadi berita hangat setiap berita kriminal televisi. Sinematografi yang indah, backsound musik yang menambah emosi penonton memberikan nilai artistik tersendiri. inilah bentuk kekerasan, kesadisan yang dibentuk dengan istimewa oleh Mo Brother. Hitam pekat kemerahan warna-warna darah, teriakan penuh kepedihan dimunculkan oleh semua karakter menjadi sebuah tontonan istimewa. Sebuah eskotisme kesadisan yang dimunculkan selama film ini menjadikan film ini mendapat tempat istimewa bagi kebanyakan film horor Indonesia.

Rumah Dara semoga mampu memberikan tantangan kepada para pembuat tontonan yang biasa membuat tontonan film horor dengan biasa saja tanpa memperhatikan estetika sebuah tontonan yang bagus. Rumah Dara berhasil membuat sebuah film yang tidak biasa saja, tidak dengan ketegangan yang dibuat secara dipaksa. Tidak dengan adegan esek-esek yang berusaha menarik penonton, Rumah Dara memberikan tontonan alternatif untuk pecinta film. Rumah Dara berhasil keluar dari zona "aman" kebanyakan film-film sekarang ini, co-production tim ini layak untuk diacungi jempol dengan memproduksi film yang bermutu seperti ini. Ditunggu sekuelnya.

Mereka sudah merasakannya, termasuk saya. Siapkah Anda?

Sabtu, 09 Januari 2010

Belajar dari Amanda

Komitmen dan Prioritas inilah pesan yang ingin disampaikan Amanda kepada setiap lelaki. Bagaimana seorang perempuan akhirnya lebih memilih seorang lelaki yang memiliki komitmen dan prioritas terhadap hidupnya dengan jelas, tidak dengan kebahagiaan yang dialami sekarang ini tanpa prioritas untuk masa depan. inilah inti cerita yang didapat setelah nonton film drama terbaru Hari Untuk Amanda.

Bercerita tentang Amanda yang akan melangsungkan pernikahanya 10 hari lagi. Hari mantan pacarnya tiba-tiba datang dengan memberikan Kotak yang isinya kenangan masa pacaran mereka selama 8 tahun. Dengan niat awal untuk mengembalikan kotak dari Hari, Amanda terbawa dengan petualangan selama sehari penuh bersama Hari. Kenangan lama mereka mulai muncul, ternyata satu hari itu adalah hari yang dipersiapkan oleh Hari untuk kembali merebut hati Amanda. Amanda dengan keputusan hatinya mengambil pilihan untuk kembali kepada Dodi tungangannya yang akan menikahinya, Dodi dengan komitmennya untuk menikah dengan Amanda. Dodi adalah seorang junior brand manager dan Hari merupakan orang yang santai yang masih hidup tidak jelas dengan prinsipnya Santai kayak di pantai, slow kayak di pulauw. Bagaimana Amanda memandang pilihannya dan dibandingkan dengan kondisi kakaknya yang akhirnya cerai dengan suami pilihannya dulu, Amanda masih bingung memilih tentang kepastian hatinya. Pilihan, dan kepastian Amanda ditunjukan pada awal dan akhir film ini.

Cerita Hari untuk Amanda memang terkesan sederhana, menyajikan orang yang tidak terima orang yang dicintainya akan menikah. Namun Angga Dwimas Sasongko sang sutradara dibantu oleh penulis skenario Salman Aristo dan Ginatri S. Noer mengemas dengan apik film dengan durasi 90 menit ini. Banyak yang ditawarkan dalam film ini, cerita tentang sebuah hubungan, sebuah pilihan dan kepastian hati seorang perempuan akan didapatkan dengan melihat film ini apalagi pesona sang penulis skenario yang menampilkan kata-kata terbaiknya untuk semua karakter yang ada dalam film ini. Duet antara Salman Aristo dan Ginatri membuat film ini tidak membosankan dengan permainan kata-katanya.

Santai kayak di pantai, slow kayak di pulau seperti kata Hari dalam Film ini saya akan mencoba melihat film ini seluruhnya. Dari judul kita akan sedikit kena permainan tentang sebuah judul yang menarik. Hari untuk Amanda, kalo dilihat memang seperti hari=waktu, waktu yang diberikan untuk Amanda. Ternyata Hari dalam judul merupakan salah satu karakter dalam film ini.

Melihat film ini jadi teringat akting kedua pemain, Oka Antara (Hari) dan Reza Rahadian (Dodi) mereka bertemu kembali setelah dalam film Perempuan Berkalung Sorban dan Quen Bee. apalagi konflik antara mereka juga sama seperti dalam film tersebut, sama-sama memperebutkan wanita yang sama. Namun sayang akting Reza Rahadian yan gbaru mendapat piala Citra untuk perannya dalam film Perempuan Berkalung Sorban tidak bisa dilihat banyak disini, karena porsinya yang sedikit tapi tetap saja dia menghadirkan akting yang tetap menarik. Sepertinya para penulis skenario sudah tertarik dengan akting dari Oka Antara dan Reza Rahardian dan merasa cocok bekerja sama dengan mereka. Fanny Fabriana yang akhirnya mendapat peran ini bermain dengan baik dibanding dengan dilm sebelumnya Praman in Love untuk Serigala terakhir belum sempat nonton. Dari informasi yang saya terima peran ini sebelumnya untuk Dian Sastro dan Dina Olivia. Tak kalah dengan Dian Sastro maupun Dina Olivia, Fanny Fabriana menampilkan permainan terbaiknya meski kadang dialognya serasa kurang jelas.

Untuk permainan sinematografinya adegan paling terbaik menurut saya adalah ketika saat pagi hari, didapur ketika Amanda ditelpon oleh Dodi. adegan ini ditutup ketika Ibunya Fanny ternyata ada di pintu memperhatikan Amanda. Editing dalam film ini juga berjalan dengan rapi, tidak meloncat-loncat, menampilkan kesinambungan gambar yang enak untuk ditonton. Oh ya selama film ini kita bisa mendengarkan lagu-lagu dari band indie Pure Saturday, satu lagu andalan saya, Kosong ternyata ada di film ini dan pas banget settingannya.

Dalam film ini sang sutradara sepertinya sangat suka dengan permainan akting para pemain, detail gambar ketika dialog ditunjukan dengan rapi. Kita bisa melihat gesture dari para pemain untuk menunjukan karakter tersebut.

Sedangkan beberapa adegan ada yang bisa dibilang berlebihan, misalnya saja adegan itu dihilangkan juga tidak akan mengubah alur cerita. Adegan ketika Dodi di kantor polisi, itu cukup lucu tapi terlalu dipaksakan. Adegan ini juga membuat jumping yang besar sepertinya untuk karakter Dodi, seorang brand junior manager sangat bodoh untuk membawa urusan belum pulangnya Calon istrinya ke kantor Polisi, padahal dia masih bisa menhubunginya beberapa jam yang lalu.

sebelumnya film ini mengalami masalah dengan diundurnya premiere, mungkin karena akhir tahun lalu banyak film dari luar sana yang lebih mendatangkan penonton. Ternyata sampai film ini diputar film dari luar tetap tak terkalahkan, Avatar masih menjadi primadona apalagi ditambah Sherlock Holmes dan tetap Sang pemimpi yang juga bersaing dengan film Holywood. Ketika nonton film ini saya menghitung penonton seluruhnya ada 11 orang ditambah satu anak kecil yang masih bisa masuk, padahal di posternya ada cap stempel besar dari LSF bertuliskan Remaja. Sepertinya film drama seperti ini masih kurang diminati oleh penonton disini, atau memang publikasi yang kurang. Pada salah satu poster sebelum-sebelumnya perhatikan cincin yang dipakai oleh Amanda , pada poster tersebut cincin ada pada tangan kanan sedangkan pada film cincin terpakai pada tangan kiri Amanda.

Yang jelas saya menikmati film ini dari permainan konflik yang dibuat oleh penulis skenario, bagaimana para penulis menyajikan beragam konflik dalam satu hari. Ditambah dialog-dialog yang memberikan kesan pada karakter yang ada. Beberapa dialog yang menarik dalam film ini antara lain: Santai kayak di pantai, slow kayak di pulauw (Hari), Cari jodoh itu sama kayak nyari BH yang enak (papa ke-2 di pasar) masih banyak dialog yang sangat menarik, sayang lupa. Ketika Amanda ngomong masalah prioritas hidup, hal yang lebih penting. Duet yang menarik dari dua penulis skenario hebat.

Sedangkan yang menjadi pertanyaan adalah, ternyata bisa juga berputar-putar dijakarta sejauh itu tanpa macet sehari lagi.

Salam.

"Selama ini aku selalu nyoba jadi orang yang kamu mau, tapi itu gak pernah cukup." Hari "... mau pake baju monyet sekalipun aku gak peduli, yang penting aku nikah sama kamu." Dodi

Rabu, 23 Desember 2009

Sang Pemimpi

Akhirnya film yang paling ditunggu ini bisa ditonton juga “Sang Pemimpi” sekuel dari film Laskar Pelangi. Film ini masih bercerita tentang kondisi pendidikan di Belitong, kondisi sosial masyarakatnya serta cerita tentang masa remaja karakter dalam sang pemimpi, Arai, Ikal dan Jimbron. TIdak berbeda dengan film terdahulunya kondisi alam di Belitong tergambar dengan bagus dalam sekuelnya ini, keindahan alam, kondisi sosial dan pendidikan masyarakatnya tergambar dalam setiap detail adegannya.

Untuk film ini kondisi kemirisan pendidikan tidak diberikan banyak, kemungkinan karena lokasi SMA tokoh sudah berada di Manggar, sebuah kota yang harus ditempuh berpuluh-puluh kilometer. Berbeda dengan SD Gantong yang memang berada di pelosok, mungkin masih ingat penggambaran kondisi sekolah Ikal kecil bersama laskar pelanginya.

Banyak pesan yang muncul dalam film ini seperti bagaimana seorang pendeta yang mau anak didiknya menjadi seorang religious padahal berbeda ajaran, sebuah kejadian yang sangat langka di sekitar kita. Cerita seorang guru yang ingin menjadikan muridnya menjadi seperti yang ingin dicita-citakannya dengan caranya masing-masing. Dan masih banyak pesan yang disampaikan dalam film ini.

Sang Pemimpi bercerita tentang mimpi-mimpi seorang remaja di Belitong yang ingin belajar di Eropa. Mereka tinggal bersama, berjuang bersama jauh dari keluarga mereka, sebelum mereka meraih cita-cita, bermacam-macam masalah bermunculan yang membuat konflik tersendiri dalam cerita. Terkadang keteguhan tentang mimpi itu hilang, namun karena seseorang yang ia anggap galak malah membuatnya sadar bahwa ada seseorang yang berharap banyak kepadanya. Perjalanan cerita ketiga orang tokoh sentral sang pemimpi ini memang sangat menarik untuk diikuti.

Yang paling menarik selama film ini adalah acting dari masing-masing karakter yang dimainkan dengan bagus oleh para pemainnya. Selain gambar yang bagus sebagai penuntun cerita kita akan dibawa dengan dialog-dialog yang penuh inspirasi.

Sang Pemimpi kembali menghadirkan pemain asli dari Manggar, pemeran tokoh Arai kecil Sandy Pranatha sedangkan Arai remaja diperankan oleh Rendy Ahmad yang juga menyanyikan 2 lagu dalam album soundtrack Sang Pemimpi. Pemeran Ikal kecil masih diperankan oleh Zufany, sedangkan Ikal remaja diperankan oleh Vikri Septiawan. Tokoh bertubuh besar Jimbron diperankan oleh Azwir Fitrianto. Dan salah satu pemain yang sangat berpengaruh dalam cerita Sang Pemimpi lainnya adalah bang Zaitun tokoh kocak dengan kisah cintanya dan yang pastinya penggemar Novel tertralogi Laskar Pelangi tak akan bisa lupa dengan tokoh ini, Bang Zaitun diperankan dengan sangat unik oleh Jay Wijayanto yang juga seorang pelatih vocal di The Indonesian Choir. Tokoh lainya yang diperankan oleh pemain asli Belitong adalah Laksmi, perempuan yang sangat diidolakan oleh Jimbron ini diperankan oleh Cindy Dwitasari yang selama film ini ia tidak mengucapkan dialog namun ia berhasil membawakan karakter Laksmi yang selalu bersedih karena ditinggal keluarganya akibat kecelakaan perahu.

Sekarang saatnya bicara tentang para pemain yang layak kita beri bintang dalam Sang Pemimpi ini. Aktor pertama yang langsung membuat saya terpesona adalah pemeran tokoh Pak Mustar,kepala sekolah SMA tempat Arai, Ikal dan Jimbron sekolah. Pak Mustar diperankan dengan sangat sempurna oleh Landung Simatupang. Gila, apa yang pak Mustar dialogan seperti tertuju tidak hanya kepada Ikal, Arai, Jimbron, tapi saya yakin itu masuk kedalam setiap penonton yang menonton film ini. Adegan yang sangat saya suka ketika Pak Mustard an Pak Balia tanpa dialog ketika pulang sekolah. Memang tidak sama ketika adegan antara Pak Harfan (Ikranegara) dan Pak Zulkarnaen (Slamet Raharjo) dalam Laskar pelangi dulu dalam satu frame, saya tetap pengagum adegan ini. Tapi coba bayangkan seorang actor-aktor senior itu beradu acting, Pak Mustar, Pak Harfan dan Pak Zulkarnaen berada dalam satu Frame, wah saya sangat terimajinasi dengan hal ini dan mudah-mudahan akan bisa saya lihat meski entah kapan. Saya memberikan Bintang 5, perfect untuk Pak Landung Simatupang dalam memerankan tokoh Pak Mustar. Ditambah bonus 2 bintang khusus yang tak terlihat karena bisa berdialog dengan penonton. Total ada 7 Bintang.

Karakter kedua yang mempesonakan adalah “Ayah” Ikal yang diperankan oleh Mathias Muchus, juara no 1 di dunia laskar pelangi ini sangat berpengaruh dalam plot Sang Pemimpi. Seorang ayah yang sangat mendambakan anaknya menjadi seorang juara yang rela berpuluh-puluh kilometer bersepeda dengan baju safari kebanggannya hadiah dari PN Timah untuk mengambil rapot untuk anaknya di Manggar. Adegan yang sangat personal bagi saya ketika Ikal membonceng Ayahnya bersepeda. Bintang 5 untuk Mathias Muchus yang tetap sebagai Juara No 1 di dunia.

Karakter ketiga Ikal kecil yang masih diperankan oleh Zufany. Meski tidak banyak tampil, karakter ini tampil sangat kuat dan diperankan dengan sangat baik oleh Zufany. Zufany mendapatkan adegan flashback ketika menjemput Arai, mengaji dan dalam adegan kenaikan pangkat. Dari adegan menjemput Arai bahasa visual yang diterjemahkan dengan rapi oleh Riri Riza membuat saya memilihnya serta bayangan seorang anak ketika tidak ingin melihat ayahnya kecewa saat tahu Ayahnya tidak naik pangkat. Zufany mendapat Bintang 4 juga
Karakter Arai yang menjadi pusat cerita Sang Pemimpi terjaga dengan baik. Ikal kecil, ikal remaja dan Ikal Dewasa. Ketiga karakter tersebut menjadi satu kesatuan dalam situasi yang berbeda. Karakter Arai memang tidak bisa dilepaskan dalam Tetralogi Laskar Pelangi ini memang sudah terpatri dalam penggemarnya. Kejelian produser memilih Ariel yang disebutkan nama aslinya Nazril Irham dalam kredit titelnya membuat penggemar Cerita ini dibuat tidak berkutik. Track record Ariel menjadi pilihan yang baik dalam pemilihan karakter Arai ini, semua sudah sangat dekat dengan Arai dan mimpinya begitu juga semua orang mengenal Ariel dengan segala ceritanya yang selalu menarik. Kedekatan penonton dengan karakter Arai yang sebelumnya didapatkan oleh Arai remaja tidak hilang ketenaran Ariel, kesan super bintang itu tertutup oleh karakter Arai yang sudah terjaga sebelumnya. Untuk semua karakter Arai ini mendapatkan bintang 4. Penggambaran kondisi dan situasi yang berbeda dijadikan menjadi kesatuan yang utuh oleh Riri Riza.

Ikal remaja dengan banyak masalah yang ia rasakan sendiri diperankan bagus oleh Vikri Septiawan, setiap konflik yang muncul terlihat ia mainkan dengan natural. Jimbron remaja yang lebih banyak membuat penonton tertawa ini patut diberi penghargaan khusus sebagai penyeimbang cerita yang melo-drama ini. Gaya tubuh, bahasa visual yang mampu membuat penonton merasa terhibur dengan apa yang ingin disampaikan oleh Sang Pemimpi. Dari Jimbron penonton dibawa masuk kedalam sebuah inspirasi unik seorang sahabat, “kudaku yang akan membawa kalian ke Eropa.” Secara diam-diam film ini menyajikan tokoh Jimbron, seorang yang kocak penggembira dibalik tragedy gagapnya membuat penonton terdiam dalam dialog ketiga sahabat di Pelabuhan Manggar. Ikal dan Jimbron mendapat 4 bintang, Jimbron mendapat bonus penghargaan khusus karena spirit mimpi Lintang kembali hadir darinya. Ingat ketika Lintang tidak berhasil sekolah tinggi maka ia berharap anaknya yang akan meraih mimpinya dulu, Jimbron kembali hadir lewat celengang kudanya yang akan mengantar sahabatnya meraih mimpinya.

Karakter lain yang tidak bisa lepas dalam Sang Pemimpi adalah Pak Balia, seorang guru yang menjadi motivator para sang pemimpi itu. Film ini merupakan debut pertama Nugie dalam layar lebar. Yups, adegan Pak Balia ketika pulang bersama dengan Pak Mustar menjadi tantangan bagi Nugie, serta Pak Balia yang berada di Pelabuhan tempat Ikal bekerja. Nugie menunjukan keahliannya dalam berakting, debut pertama film panjangnya mendapat 4 bintang ditambah bonus penghargaan karena Nugie juga menciptakan lagu Zakiah Nurmala yang dinyanyikan oleh Rendy Ahmad.

Bang Zaitun digambarkan dengan khusus dalam Sang Pemimpi, musisi Melayu ini seperti diberikan porsi khusus oleh sang sutradara. Dari ketika adegan pertama kali muncul beberapa shoot kamera mengarah pada Bang Zaitun ini, sebuah scene khusus pengenalan karakter ini lebih banyak dibandingkan ketika kita mengenal Pak Balia. Musisi kebanggaan Arai ini diperankan oleh Jay Wijayanto. Kekocakan musisi ini mendapat 4 bintang juga.

Karakter pendukung lainya seperti yang tidak boleh terlewatkan adalah Laksmi, keunikan tokoh ini dibawakan dengan baik. Bang Rokib seorang Nahkoda kapal yang sempat membuat Ikal berubah haluan. Ibu Ikal tetap mendapat bagian yang penting, adegan saat Ikal dan Arai pulang karena PN Timah ditutup menjadi bagian penting Rieke yang masih memerankan Ibu Ikal. Terakhir ada Zakiah Nurmala wanita pujaan Arai yang diperankan oleh Maudy Ayunda yang pernah beradu acting dengan Surya Saputra dalam film Untuk Rena.

Hampir lupa si Ikal dewasa oleh Lukman Sardi, selama film ini kita akan mendengarkan narasi darinya yang akan membawa film ini lewat cerita-ceritanya. bayangkan kalo film ini tanpa narasi dari Ikal dewasa, rumit deh kalo yang belum tahu ceritannya.

Keberhasilan para pemain yang memerankan tokoh-tokoh dalam Sang Pemimpi ini tak lepas dari peran crew produksi yang sangat ahli. Sinematografi yang baik dalam film ini adalah hasil kolektif para pekerja film professional dari divisi artistik yang menambah kedalaman kesan cerita, fotografi yang mampu menerjemahkan gambar itu menjadi lebih bercerita. Bagaimana sebuah gambar yang menarik secara artistic dan teknik ini tersusun dan membentuk gambar yang sesuai dengan cerita. Selain itu masih banyak crew produksi seperti Penata Kostum, Penata Rias, Penata Suara, Penata music. Penyatuan pekerja kreatif itu tidak terlepas dari sang Produser Mira Lesmana yang pasti sangat bekerja keras menyatukan ide-ide kreatif dari timnya itu. Yups sang Sutradara, pengendali cerita ini Riri Riza sangat berhasil membuat Film ini, tidak membuat penonton bosan, adegan atau gambar tidak terlihat klise selalu segar meski beberapa bagian sama seperti di Laskar Pelangi. Triple penulis scenario Salman Aristo, Riri Riza dan Mira Lesmana yang membuat penokohan dalam Sang Pemimpi menjadi lebih hidup dengan konflik-konflik yang ditampilkan, bagaimana dialog yang diucapkan pemain memberikan cerita tersendiri.

Sampai sekarang saya masih belum dapat alasan yang tepat untuk menggambarkan transisi editing Sang Pemimpi. Transisi fade to black yang mengganggu dalam penggantian adegan sangat banyak dan sangat mengganggu sekali. Padahal sepertinya masih banyak cara yang digunakan untuk perpindahan adegan dalam film ini. Ataukah karena memang cerita yang dibuat Andrea Hirata memang mosaic yang sulit disatukan dengan kontiniti bahasa visual yang pas dalam Sang Pemimpi ini. Masalah transisi ini mungkin saja terlewat setelah memasuki adegan. Penonton kembali dibawa dengan kelancaran cerita melalui rangkaian gambar yang tersusun rapi.

Tanggapan buruk saya terhadap transisi gambar dalam setiap pergantian adegan itu memang tertutupi oleh keindahan segala unsure yang ada dalam film Sang Pemimpi. Film ini sangat berhasil dengan cerita yang ingin disampaikan, peran masing-masing pendukung film menjaga keseluruhan tema film ini.

Bagian yang kocak adalah ketika Ikal berseru tentang kata motivasinya dari Bang Haji Rhoma yang beberapa lagunya menjadi theme songs mengalahkan OSTnya sendiri. Coba lagunya bang haji di remake ulang dan dijadikan OST dan yang nyanyi Ikal remaja. Setiap ada Jimbron dengan cerita kudanya. Arai kecil yang melengking panjang ketika mengucapkan Amin pada saat sholat. Dan ketidak percayaan tukang pos ketika salah alamat.

Spesial dramatic points: adegan Pak Balia dengan pak Mustar pulang, Ikal dan ayahnya menjemput Arai, adegan Ikal dan ayahnya berboncengan, adegan Arai, Ikal dan Jimbron ketika berangkat ke Jakarta.

Sebuah kebanggaan tersendiri bisa melihat acting yang sangat bagus dari Landung Simatupang dalam Sang Pemimpi. Perubahan karekter yang dibentuk oleh cerita dari yang awalnya digambarkan sangat galak selama diawal dan tengah film menjadi seorang yang sangat berwibawa pada akhir filmnya. Selamat buat seluruh crew produksi Sang Pemimpi. Tampilkan terus yang terbaik. Saya tunggu Endensornya.

Salam

Gugun Junaedi

Foto by SANG PEMIMPI - THE MOVIE - A Sequel To Laskar Pelangi!

Selasa, 24 November 2009

Catatan Kecil dari Budi Kurniawan

Cut away atau Cut to Cut. dari perbincangan inilah semua mengalir begitu saja tentang teknik editing yang benar. Perbincangan ini berlangsung di Ina Frontier jalan Palagan KM 7,-- 20 November 2009 diiringi hujan sore-sore bersama seorang editor baik hati Budi Kurniawan .

Obrolan sore itu langsung dimulai dengan pertanyaan dari saya dan Habibi mengenai proses editing dengan masalahnya seperti perdebatan antara seorang editor dan sutradara juga bagaimana meminimalkan gambar agar tidak terlalu panjang dan membosankan. Dari Aris (tanpa H) kita mendapat pernyataan mengenai pembentukan struktur dalam proses editing, pertanyaan Haris bagaimana membentuk cerita dengan struktur yang di putar balikan.

Setelah kami memberikan pertanyaan, Mas Bud memberikan intro bagaimana profesi editor dalam manajemen produksi, bahwa sebuah film itu merupakan kerja kolektif dari seluruh kru yang terlibat dalam pembuatan film. Sistem Triangle seorang produser, sutradara dan penulis masih menjadi poros dalam sebuah produksi, dari triangle sistem itulah sebuah film akan terencana dengan baik selain didukung oleh crew yang lain seperti DOP, editor, artistik, costum bahkan katering. Tiga Kunci sebuah managemen Produksi Film .: ON Schedule ON Time ON Budget :. kembali ke masalah Editing, dari Mas Bud saya mendapatkan bahwa seorang editor adalah seorang yang harus memiliki second opinion terhadap hasil produksi. Pembentukan Mindset seorang editor dibahas sore itu, "bahwa seorang editor itu harus memiliki mindset tentang Frame hanya frame". Seperti gitar dengan not-notnya maka seorang editor harus memahami frame demi frame.Perbincangan sore itu semakin menarik setelah Budi Kurniawan memberitahukan elemen yang ada dalam editing seperti dasar-dasar penyambungan yang ternyata juga tak lepas dari unsur-unsur grafis. Juga masalah transisi seperti Fade, Disolve, Wipe dan split screen (pemotongan gambar/2 frame dalam satu layar). Selain itu kami juga mendapat ilmu baru mengenai rasio frame dan rasio shoot (pas bagian ini saya menulis dengan cepat, setiap informasi yang mas Bud berikan) pembentukan tiap scene tentang shoot dibahas, bagaimana kita mengganti angle tiap shoot. berapa kali kita take untuk mengambil gambar yang kita anggap sempurna, intinya tetep sama membangun lewat rasio untuk irama gambar yang lebih dinamis seperti itu kalo saya menyimpulkan.

Untuk masalah transisi mungkin sudah banyak orang tahu, jadi saya mencoba menulis ulang apa yang saya dapat dari obrolah sore kemarin tentang dasar penyambungan editing. Dasar penyambungan pertama adalah menggunakan Dimensi Grafis, seorang editor dengan jeli bagaimana menyambungkan sebuah gambar melalui unsur grafis dengan melihat Light Directional, komposisi, angle, warna dan garis. Menurut saya dimensi grafis yang ada dalam gambar merupakan sebuah hasil yang terencana seorang Director dan DOP juga artistik bagaimana mereka menentukan tiap shoot hingga membentuk mood tersendiri. dari hasil tersebut seorang editor akan dengan mudah mengedit gambar, hingga tidak perlu memutar balikan shoot hingga membentuk mood dikarenakan gambar yang ada memang sudah memiliki "nyawa".

Dasar penyambungan kedua adalah menggunakan dimensi ritmis melalui gerak, audio, type of shoot dan durasi. irama sebuah film akan terbentuk dengan kesatuan yang saling bersinambungan melalui gerak, suara, shoot dan durasi yang terjaga. Kemudian dimensi ketiga adalah mengenai ruang dan waktu. Mas Bud memberikan contoh mengenai Ruang dan waktu ini lebih kepada kejadian "kronologis" urutan demi urutan hingga tidak membuat penonton merasa tertipu atau ragu mengenai sebuah kejadian.

Sepertinya semua dimensi yang kita bahas merupakan variabel yang saling berhubungan dari aspek estetis maupun fungsional dasar penyambungan yang mas Budi berikan, itu semua merupakan tahapan sinematografi mengenai teknik editing untuk menjaga kontiniti sebuah cerita. wah menyenangkan obrolan ini, padahal baru ngomongin editing.... ini yang aneh, kebanyakan orang itu kalau melakukan sesuatu dari depan eh obrolan ini malah dimulai langsung ke tahap editing. Management pra produksi dikemanakan, juga proses produksi yang bahkan belum tersentuh sama sekali di skip dan langsung menuju editing..... Kram otak bisa-bisa, belum produksi saja bisa membayangkan fantasi seorang editor yang mampu membentuk sebuah film menjadi lebih hidup.

Saya jadi ingat tentang sebuah tulisan tentang bagaimana sebuah film itu menjadi tontonan yang hidup mengenai editing ini. Bahwa hanya editing yang baik yang mampu memberi hidup pada film, aneka shoot yang tak karuan sebelumnya dirakit secara ahli melalui tahap editing. pemilihan shoot, timing menjadi satu kesatuan yang enak dilihat, disinilah peran seorang editor.

Sore itu menjadi semakin menyenangkan setelah kita membahas mengenai struktur, Mas Budi memberikan contoh praktek yang sangat mudah bagaimana cara kita membentuk struktur film kita (cara ini juga ternyata setelah saya coba di rumah juga bisa berlaku untuk pembentukan sebuah struktur apapun bukan hanya untuk film bisa juga untuk menulis cerpen). banyak terima kasih untuk bagian ini, imajinasi saya dipancing untuk mencoba membentuk struktur yang bolak-balik.

Sepertinya saya menulis cukup sampai disini dulu, banyakan teori gak ada praktek. bisa pusing otak bisa kram. eh sudah temen saya sudah teriak-teriak "Kapan Bikin Film?"

Banyak terima kasih untuk Budi Kurniawan (sayang cuma sebentar) dan mbak Jim yang gak bosen-bosen mengadakan perbincangan ini.

Salam

Gugun Junaedi