Tampilkan postingan dengan label The Ancredible Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Ancredible Journey. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

Teman Perjalanan (lagu)

Hanya ingin mengingat. Setiap perjalanan menyisakan cerita, setiap langkah memberikan pengalaman tersendiri. Meski kebanyakan tanpa teman perjalanan, saya sendiri baru menyadari bahwa ada sesuatu yang menemani dalam setiap perjalanan yang saya lakukan. Dia, selalu bersama, meski kadang tak terdengar.
Yap, sebuah lagu. saya menjadikan lagu-lagu ini menjadi OST, original soundtrack dalam melakukan sebuah perjalanan. meskipun itu perjalanan beberapa kilometer saja. Lagu-lagu ini selalu memberi semangat dalam setiap perjalanan. Terimakasih untuk lagu dengan lirik yang sangat menarik dalam setiap baitnya.

1. Perjalanan - Padi. lagu ini selalu memberikan bayangan tersendiri. Dimanapun, kapanpun.
2. Kemanakah angin Berhembus - Padi. saya paling suka ketika kita pergi entah kemana-mana yang pasti kita akan kembali ke tempat semula.
Jika momentnya pas, saya bisa sampai tersenyum sendiri ketika sebuah lagu yang bisa menggambarkan perjalanan. dari balik jendela bis, kereta bahkan diatas pasir putih ketika berbaring. lagu-lagu itu seperti dibuat memang untuk sebuah perjalanan.
Lagu-lagu dari Nugie selalu memberikan inspirasi tersendiri, lagu dari Padi menambah cerita tersendiri.Lagu2 itu selalu membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna(ini salah satu bait lirik perjalanan lho). Sudah itu dulu, yang pasti semua berbeda dalam setiap situasi, kemungkinan saya juga melupakan beberapa lagu. tapi dua lagu diatas yang sering saya putar. Karena petualangan tidak ada batasnya - Gugun 7

Rabu, 19 Januari 2011

Lagi Nglumba-nglumba

Habis cek hardisk, eh ternyata nemu koleksi film-film lama yang masih tersimpan dengan rapi. Salah satu film yang bikin mata kanan pegel berhasil ditonton lagi, dan mata tetep bisa pegel karena film ini. Sungguh drama Korea memang jagonya. 1 litre of tears, film ini sepertinya akan jadi legenda bagi penggemar drama Korea. Yang belum nonton wajib nonton film ini. Ada satu lagi rekomendasi kalo mau mata pegel, Moment ro Remember ini juga wajib ditonton.

Salah satu adegan di film 1 litre of tears ketika Aya jalan-jalan di aquarium melihat Ikan. Melihat lumba-lumba, itu salah satu beberapa pikiran yang harus terpenuhi sebelum umur 30. Melihatnya langsung tentunya. Mumpung belum bisa melihat saatnya meminta bantuan mbah Google yang bisa mengantarkan kemanapun kita pergi. Keyword pertama langsung diketik "lumba-lumba" jreeet begitu banyak muncul.

Seperti kutipan film ini "Just being alive is such a lovely and wonderful thing." mumpung kita masih bisa.

Mari nonton Lumba-lumba yang cerdas ini...kapan? Lovina atau Kiluan sama saja asal jangan parade sirkus di alun-alun.

Sabtu, 04 Desember 2010

Episode: Terbanglah Garudaku

"Terbanglah garudaku tidak hanya untuk malam ini." kalimat ini yang dengan tiba-tiba keluar begitu saja setelah menyaksikan Tim Garuda berhasil mengalahkan Laos 6-0 pada pertandingan kedua Piala AFF Suzuki. Rasa bangga setelah pada pertandingan pertama juga berhasil mengalahkan Malaysia 5-1 semakin besar pada tim Merah-Putih ini. Kemenangan akan pertandingan malam ini sebenarnya saya rasa lebih kecil kebanggaannya dengan kemenangan dengan Malaysia. Emosi kemenangan dengan malaysia menjadi campur aduk antara sportifitas dengan emosi bebuyutan malingsia, apa mau dikata pertandingan kemarin menjadi semacam obat bahwa kita bisa mengalahkan Malaysia yang beberapa kali merendahkan Indonesia.

Kembali ke pertandingan malam ini, Merah putih berkibar diantara ribuan pendukungnya. Beragam yel-yel yang terucap malam ini menjadi dukungan penuh kepada Firman dan teman-temannya di lapangan rumput yang rusak karena selama 3 hari rumput GBK di injak-injak oleh pertandingan AFF. Tidak apalah GBK berkorban untuk kali ini, untung saja Tim kita bisa menang meski rumput di GBK semakin rusak karena tidak ada jeda untuk memperbaikinya.

Malam ini lutisannya serasa nikmat, dengan Laos sebagai bumbu di tambah dengan racikan bumbu-bumbu gocekan permainan Okto, lutisan malam itu menjadi sungguh-sungguh nikmat. Namun, tidak cukup untuk malam ini saja saya berharap Garuda bisa terbang denganpenuh kebanggaan. Hari selasa besok, tepat tanggal 7 Garuda akan mengepakan sayapnya untuk Thailand yang memiliki tim kuat.Menyiapkan dukungan buat selasa malam besok agar Tim Garuda menjadi kebanggaan di tanah sendiri.

Terbanglah Garudaku tidak hanya untuk malam ini.

Kamis, 14 Oktober 2010

Catatan Perjalanan di Balik Ganasnya Pantai Gunung Kidul #2: Tempat itu harus didatangi.

Matahari masih nampak berada tepat diatas kami, waktu itu menunjukan pukul 12.30 ketika kami memulai perjalanan susur pantai ini. Pasir putih Wediombo masih melekat pada kaki-kaki, Cuaca cerah yang cukup panas diimbangi dengan desiran angin pantai yang membuat kami tidak terlalu merasakan panas matahari siang itu.

Tidak ada rencana yang harus kami tempuh dalam perjalanan ini. Dimana kaki sudah merasa sangat lelah maka disitulah kami harus menghentikan susur pantai ini. Bahkan, kami tidak tahu rute yang akan ditempuh selama perjalanan. Pantai apa yang akan terlalui, desa apa yang akan kami lewati. Yang kami tahu hanyalah terus melangkahkan kaki ini hingga menemukan sesuatu yang membuat kami harus berhenti dan menikmati setiap keintiman eksotisme laut selatan.

30 menit pertama untuk rute yang kami lalui adalah semak belukar yang rata-rat tingginya hampir sama dengan tubuh kami. Diantara semak belukar tersebut hanya sedikit tanda yang kami ketahui bahwa rute yang kami tempuh pernah dilewati oleh penduduk setempat. Dengan melihat tanda-tanda tersebut itulah yang selalu menjadi penuntun kami selain jalan yang memang sering dilalui. Tanda-tanda tersebut bisa diketahui dengan melihat batu wadas kapur yang atas nya berwarna kuning karena sering terinjak oleh telapak kaki.

Dengan tenaga yang masih penuh, kami berjalan tanpa ragu. Bahkan, Yula tanpa merasa panas menaiki menara pandang. Dari menara tersebut pasti dia bisa melihat pemandangan tanpa batas Samudera Hindia.

Pantai pertama yang kami temui setelah Wediombo adalah Watu Limbung. Awalnya kami tidak tahu nama pantai yang memiliki karakter unik ini. Pantai ini dipenuhi dengan banyak sekali batu-batu, terdapat pula batu-batu yang nampak seperti batu kali dengan melihat dari bentuknya yang bulat-bulat, batu yang sama seperti berada di kali progo atau kalo Moyo. Di pantai ini memang terdapat sungai yang bernama Kali Pasewan, kemungkinan dari sungai inilah batu-batu tersebut terbawa hingga ke pantai. Tidak ada akses mudah menuju Watu Limbung, kami harus menuruni bukit yang sedikit curam untuk bisa sampai ke pantai ini

Watu Limbung, awalnya kami sempat bingung kenapa dinamakan seperti itu. Apa karena bukan pasir yang memenuhi sepanjang pantai itu. Ternyata awal mula Watu Limbung itu berasal dari dua bongkah batu yang cukup besar, dua batu itu menurut penduduk setempat mirip seperti tokoh Punakawan pewayangan yaitu Limbung dan Semar. Dua saudara yang memiliki perbedaan karakter.

Batu yang besar adalah Limbung dan batu kecil yang terletak lebih dekat dengan bibir pantai adalah Semar. Perbedaan penggambaran yang menarik menurut saya. Ketika sesuatu yang menjadi besar bisa menjadi Limbung dan Semar tetap menjadi kecil. Dalam cerita pewayangan kedua tokoh tersebut juga memiliki karakter yang unik. Semar yang yang dijadikan guru sekaligus pelindung pandawa hingga mereka bisa menemukan hakekat sejati kabajikan dan Limbung(Bilung) merupakan tokoh punakawan lainya yang kadang memihak musuh meski kadang menjadi bagian dari gerombolan punakawan. Disitu batu semar lebih dulu melindungi batu limbung dari ombak lembih dulu. Karena posisinya yang berada lebih dekat dengan bibir pantai.

Di pantai ini kami bertemu dengan beberapa nelayan yang sedang memancing lobster. I kg Lobster berharga sampai 350 ribu namun jika ada salah satu bagian tubuh lobster cacat seperti kakinya hilang satu, harga 1 kg lobster turun drastis menjadi 50 ribu. Harus sangat hati-hati sepertinya untuk dapat melindungi lobster tersebut agar tidak lepas kakinya.

Keluar dari Watu Limbung perjalanan kami berlanjut. Mengikuti jalan setapak yang kecil, semak belukar bahkan harus mencari jalan sendiri karena jalan yang biasa dilalui sudah hilang karena longsor. Untuk itu kami harus lebih berhati-hati, beberapa kali batu sebagai pijakan lepas. Tanah yang masih terasa labil karena longsor membuat tangan kami juga harus mencari tumpuan agar berat badan tidak terasa lebih berat. Melihat batu yang meluncur kebawah membuat nyiut nyali saya, kalau hanya jatuh beberapa meter sepertinya tidak ada apa-apa tapi dibawah kami adalah ombak yang besar dengan batuan karang hitam yang terlihat seperti siap menerkam apapun yang akan jatuh kebawahnya. Kalau sudah seperti itu saya hanya bisa mengeluh sendiri “untuk apa melakukan kegiatan seperti ini.” Sedangkan Yula terlihat santai saja dengan keaadan yang sebenarnya membahayakan; kok ada orang setenang dia ya? Tidak ada ekspresi selain seperti hanya gambaran wajah arca pada relief candi-candi yang terlihat selalu tenang.

Namun itu semua segera hilang setelah saya melewatinya dan berada di titik tertinggi perbukitan, sambil mengatur nafas yang masih terengah-engah melihat jalan menanjak yang membuat nafas 234 Semua kejadian seperti naik bukit, menuruni bukit menaiki tebing menuruninya dan mencapai titik tertinggi juga nafas yang terengah-engah, suara ombak dan juga tiupan angin yang kadang kencang seperti sebuah de-javu. Terulang-ulang sampai berapa perbukitan yang kami lewati berapa batu karang yang harus kami naiki dan yang pasti berapa keindahan yang tertangkap oleh rasa kami.

Kejernihan yang hanya nampak pada sebuah lukisan, saya kembali mengingat syair ini. Kalau melihat apa yang sedang saya pandangi saya merasa ragu dengan beberapa cerita yang pernah saya dengar bahwa Gunung Kidul merupakan daerah tandus dengan keterbatasan air. Apa yang membentang dihadapan saya seloah mengaburkan relaitas yang memang terjadi di beberapa daerah di Gunung Kidul.

Ada satu pemandangan yang sepertinya akan selalu tersimpan dengan jelas dalam ingatan saya. Sebuah jalan setapak kecil yang berada di tengah perbukitan yang dipenuhi dengan ilalang. Sungguh pemandangan yang nampak hanya seperti dalam sebuah film luar eh Denias juga berhasil membawa keindahan alam Papua kok. Bahkan orang harus tiarap sedikit agar orang yang berpapasan bisa lewat. Disamping bukit tersebut ada sebuah air terjun yang memiliki tinggi belasan meter. Inilah pemandangan Banyu Tibo (air jatuh). Sayang sekali kami tidak bisa turun kebawah menikmati air terjun itu. Jika ada yang pernah melihat air terjun surga dalam film animasi UP maka gambaran umum tentang sebuah bukit dengan air terjun ditambah pantai yang biru ada pada Banyu Tibo. Sepertinya penduduk setempat tidak terlalu memikirkan nama tempat yang begitu menawan ini.

Setelah selama 2 jam lebih melewati pinggiran Samudera Hindia yang terisi dengan ketegangan, kesenangan, keindahan kelelahan dan kesadaran penuh bahwa itu merupakan bagian kecil dari Nusantara yang benar-benar indah ini. Pantai Siung, kami akhirnya sampai juga di pantai yang cukup terkenal dikalangan pemanjat ini dan wisatawan umumnya. Disiung kami sempat menikmati segelas es teh. Berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya selain Wediombo. Pantai ini sudah dikelola dengan baik. Karena sepertinya orang sudah banyak mendengar tentang pantai Siung saya tidak akan menulis banyak tentang pantai ini. Kami hanya beristirahat sejenak meneguk segelas es teh, namun saya sempat berpikir, membayangkan kepada wisatawan yang sedang menikmati siung. Coba mereka bisa melihat pemandangan apa yang kami lihat sebelumnya, pemandangan pantai yang masih terlihat alami, semoga saja nanti ada akses mudah menuju kesana. Watu Limbung dengan keunikannya yang bisa menarik perhatian para pemanjat, Banyu Tibo yang mirip air terjun surga dalam film Up pasti akan menarik beberapa wisatawan dan penjelajah.

Tetapi jauh dalam pandangan saya agar pantai itu tetap seperti itu, tidak banyak pengunjung yang biasanya akan meninggalkan sampah dan coretan tidak penting. Tapi, sayang juga ada tempat seindah itu tidak bisa dinikmati.

Bersambung……..

.... sebuah jalinan antara ganasnya pantai dan penduduk setempat dalam rangkaian cerita.

Selasa, 12 Oktober 2010

Catatan Perjalanan dibalik Ganasnya Pantai Gunung Kidul #1: Gerbang kerjernihan itu bernama Wediombo

Gunung Kidul, salah satu daerah yang memiliki bentangan karst terbesar di Indonesia. Hasil pembentukan alam itu telah memberikan keindahan alam yang layak untuk dirasakan. Beragam bentuk keindahan ditawarkan oleh Kabupaten yang terletak disebelah timur Jogjakarta: Perbukitan karst yang kokoh menawan, wisata purbakala, wisata alam seperti gua dan juga pantai-pantainya yang memiliki karakteristik khas perbukitan karst.

Pantai-pantai Gunung Kidul yang menjadi tujuan saya dan teman saya Yula untuk melakukan perjalanan susur pantai ini. Kami menempuh waktu 2 hari satu malam bersama ganasnya ombak samudera hindia. Inilah sedikit catatan yang tertulis dalam menikmati keindahan dibalik ganasnya pantai selatan. Seperti seorang kawan telah memberi semangat bahwa hasil yang baik adalah hasil yang diperoleh dengan keberanian. Sedikit keberanian dan kenekatan inilah modal utama yang saya gunakan untuk melakukan perjalanan ini, selebihnya saya percaya dengan teman saya Yula yang sepertinya telah terbiasa dengan keaadan ini.

***

Sabtu, 9 Oktober 2010. Hujan lebat mengawali hari ketika matahari belum memberikan sinarnya. Waktu menunjukan pukul 5 pagi, hujan yang turun dipagi ini seperti memberikan satu firasat yang tidak baik akan cuaca hari ini. Namun, keadaan dengan cepat berubah. Hujan mulai mereda pada pukul 6. yang terlihat hanya renai gerimis pagi yang menimbulkan nuansa kehangatan di pagi itu.

Jalanan terlihat lebih bersih, air hujan telah menjadikan aspal hitam itu menjadi mengkilap. Beberapa pedagang makanan yang berada di ruko-ruko jokteng kulon masih terlihat mengenakan baju hangat mereka, ibu-ibu tua itu menikmati pagi itu bersama sopir bus yang ngetem didaerah itu. Lihatlah, gerimis pagi itu menyatukan beberapa orang dibawah atap ruko, mereka berlindung dari hujan. Anak sekolahan, buruh pabrik, bahkan becak yang terlihat merayu anak sekolahan untuk dijadikan calon penumpangnya. Mereka menyatu, berkumpul diantara gerimis pagi. Inilah salah satu hal yang saya suka dari hujan, hujan bisa menyatukan mereka pada sebuah kondisi meski kadang saya juga membenci hujan.

Sesuai janji, saya bertemu dengan Yula teman perjalanan yang akan bersama susur pantai Gunung Kidul. Kami bertemu di meeting point kami di terminal Giwangan. Tanpa menunggu lama kami langsung bergegas menuju bus kecil jurusan Jogja-Wonosari.

Bus kecil yang kami tumpangi cukup bersahabat, bersama seorang sopir yang ramah perjalanan yang ditempuh selama hampir 2 jam berjalan tanpa terasa. Di sepanjang jalan yang penuh tikungan dan tanjakan itu pak sopir yang tak saya tahu namanya itu memberikan beberapa informasi tentang daerahnya. Ongkos dari Jogja-Wonosari hanya Rp. 6.000 untuk satu orang.

Sampai di terminal Wonosari, kami mampir di angkringan untuk sekedar mengisi perut yang masih kosong sambil melengkapi perlengkapan yang akan dibawa selama perjalanan.

Kembali bus kecil akan kami tumpangi, bus kecil jurusan Wonosari – Jepitu. Tidak sulit menemukan bus kecil tersebut, hampir tiap 20 menit bus-bus kecil itu akan berangkat menuju Kecamatan Jepitu. Dalam perjalanan menuju Jepitu akan nampak bentangan perbukitan karst yang menjadi ciri khas daerah Gunung Kidul. Tidak terlihat tandus seperti dalam cerita yang sering didengar, yang nampak adalah gugusan bukit berbatu yang kadang seperti sebuah candi yang tertata rapi. Pemandangan bentangan gugusan karst tersebut bisa menjadi bonus tambahan, dengan ogkos Rp. 6.000 perjalanan dengan bus kecil itu menjadi lebih menyenangkan menuju Jepitu.

Sampai di tujuan kami langsung didatangi tukang ojeg yang telah menunggu di pertigaan Jepitu. Tanpa menawar kami langsung sepakat dengan harga yang mereka tawarkan, Rp. 5000 untuk satu orang menuju Pantai Wediombo. Dengan naik ojeg kami juga bisa lolos tanpa membayar biaya retribusi Rp. 2000 yang biasa ditarik kepada pengunjung Wediombo.

Sebuah cakrawala biru membentang, inilah pemandangan pertama. Dengan jelas nampak Samudera Hindia, bentangan garis lurus yang terhalang pohon itu sejenak menghilangkan lelah setelah selama 3 jam berada dalam bus. Pemandangan ini terlihat setelah saya melalui pos retribusi, dalam hati saya sempat berujar “senang bisa berjumpa kembali denganmu Wediombo.”

Pantai Wediombo merupakan pantai dengan pasir putih yang menarik. Sebagai slaah satu pembentukan pantai perbukitan karst dengan karakteristik pantainya yang berbeda dengan pantai-pantai di jogja, Wediombo menawarkan eksotisme keganasan pantai selatan dengan sendirinya.

Saya masih terduduk menikmati salam perjumpaan kembali dengan pantai ini, pemandangan pantai, gemuruh ombak serta awan yang berarak mengalihkan perhatian yang sebelumnya mengusik pikiran. Itu tentang kekalahan tim Garuda yang belum mengalahkan Uruguay, beberapa headlines di suratkabar yang membuat saya tidak menerimanya. Saya memang menerima kekalahan tim Garuda, tapi saya tidak menerima kepada semua surat kabar yang terlihat mengucilkan kekalahan tim Garuda. Seharusnya mereka terus mendukung bukan dengan menggunakan moment kekalahan tersebut melalui tulisan pada headline yang menambah kekalahan. Namun semua perhatianku tentang itu semu sudah teralihkan dengan Wediombo, sedikit juga membayangkan ratusan kilometer dari sini, Wasior, Papua semoga juga bisa merasakan ketenangan seperti yang saya rasakan waktu itu, banayk doa untuk saudaraku disana.

Wediombo dengan keunikannya selalu memberikan sesuatu yang tak perlu untuk dituliskan kembali. Datang dan rasakanlah setiap hempasan angin, dengarkanlah deburan ombak pada karang yang berdiri kokoh itu.

Setelah menikmati sejenak Wediombo, kami beristirahat di bawah pohon kelapa untuk segera memulai perjalanan yang akhirnya kami tahu bahwa perjalanan ini ternyata penuh dengan resiko. Beberapa kumang kecil terlihat berjalan dengan lambat, sepertinya bulan ini adalah musim kumang-kumang itu menetas diantara pasir putih Wediombo.

Bersama gemuruh ganasnya ombak samudera hindia yang akan menjadi teman selama perjalanan, kami akan memulai perjalanan susur pantai ini. Kami sadar bahwa kami telah sedikit keluar dari rutinitas keseharian kami, keluar dari zona kenyamanan hanya untuk mencari sebentuk keindahan dibalik keganasan Pantai Gunung Kidul. Pantai Wediombo menjadikan gerbang kejernihan yang gambaran jernihnya hanya bisa ditemukan pada lukisan.(kutipan syair “Bunga dan Burung” Tan Swie Han) yang akan mengawali perjalanan kali ini.

to be continue.......

Rabu, 02 Juni 2010

Pakaian(template) Baru buat Episodetu7uh

Ini menjadi seperti buku kedua. didalamnya berisi pemikiran yang kadang telalu aneh untuk ditulis pada sebuah buku. Beberapa orang pernah mengatakan "keabsurdanmu tidak terdapat disini, tapi itu bisa dirasakan." Setelah selama lebih dari 3 tahun akhirnya rumah kecil ini berganti pakaian.

Masih ingat ketika pertama kali bermain dengan yang namannya blogger. Dari sekedar karena ketertarikanku dengan menulis film hingga menulis catatan harian meski ditulis bulanan, blog ini ternyata menjadi teman setia yang mau menjadi temat berkeluh kesah. Beragam tulisan yang kalo dibaca bisa membuat sedikit tersenyum dan juga sampai berpikir "ternyata saya pernah nulis ini ya?" meski tidak sebagus tulisan idola saya, yang penting itu bisa membuat sedikit kebanggaan karena ternyata pemikiran saya dan penulis idola saya itu hampir mirip meski hanya 7%.

Beberapa kali mencoba berargumen, tapi lebih sering menulis dengan rasa aman. Tidak perlu memberikan tanggapan atau argumentasi yang penting tulisannya bisa dibaca dan tidak membuat orang kecewa.

Dari blog ini juga saya bisa mendapatkan teman yang lebih banyak, dari sekedar chating kemudian kopdar. Sempat beberapa kali mendapat tawaran untuk iklan, bisnis online, nitip gambar (sebelumnya bangga juga ketika ada orang yang menawarkan itu), eh ternyata niat saya buat ngeblog tidak hanya untuk bisnis. ya meski beberapa kali mendapat job yang lumayan gede karena ada orang yang mampir dan melihat beberapa portfolio Grafis maupun fotografi yang pernah saya tampilkan.

Sekarang pakaianmu sudah baru, meski tidak banyak yang di ganti. banner atas masih saja foto di pantai Depok. sedangkan warna kesukaanmu orange sedikit saya kurangi, tapi tidak apa semoga oang tetep suka dengan warna baju barumu ini. Link temen-temenmu masih aku pasang, dari pertama kali kita ngeblog bersama. kamu ingat dengan Mbak Ratih, dia ini kawan pertama kita. Dia guru bahasa inggis sepertinya, masih ingat juga gak bahwa dia adalah oang yang diajak curcol ketika sepatu baru saya dicolong didepan kost dulu. Semoga saja sampai sekarang mbak Ratih masih ingat.

Sepertinya tidak usah terlalu membanggakan wajah barumu ini ya, tetep katamu bahwa kita tidak boleh sombong, nanti ada waktunya kok. Oke my episodetu7uh mari kita lanjutkan petualangan kita, saya sudah siapkan beberapa kantong baju untuk rencana kita melintasi nusantara dengan jalan-jalan ke pantai, gunung, melihat seni budaya, bahkan jalan-jalan tanpa arah. saya juga menyiapkan kantong untuk beberapa lagu yang sering kita dengarkan. dan yang masih tetep kita juga akan tetep nonton film-film yang bermutu. Masih banyak kok kantong yang lain, semoga saja itu sanggup menampung semuanya.

Terimakasih buat semua temen-temen blogger. terutama buat yang punya template ini, Mr. Ipietoon. Thanks for your template, it's very amazing for me. Dan tetep Mr. Dodi Sunardi yang lebih mengenalkan tentang jurnalisme online.

Oke teman mari kita ngeBlog, karena ngeblog itu menyenangkan menegangkan, menyedihkan dan mengispirasikan. Tetap kabarkan Nusantara yang katanya indah ini melalui blog hingga kita dan yang lain bisa benar-benar merasakan keindahannya.

Salam.

Sabtu, 22 Mei 2010

Mencari Trinity

Rata PenuhTulisannya bisa membuat orang terlena, kadang membuat orang jengkel. Untuk membuat orang jengkel dan iri adalah yang lebih banyak untuknya. Termasuk saya yang merasa iri jika berada diposisinya. Tapi jengkel dan iri disini adalah motivasi yang sangat tinggi untuk bisa sepertinya, traveling menuju tempat yang ingin dituju. Trinity si naked Traveler itu akhirnya bisa juga kutemukan. Ditemani oleh Ipey, kami berdua meluncur menuju Grand Indonesia tempat dimana TNT berada disana untuk peluncuran buku barunya. Sebelumnya ada Kiki teman baru di Jakarta yang juga berencana merapat ke Grand Indonesia. Inilah catatan kecil pencarian mencari Trinity.

Sore, setelah bergelut dengan pekerjaan kami mulai merapat ke halte Cawang untuk mencari angkot menuju Terminal kampung Melayu, jam saat itu sudah menunjukan pukul 16.00 padahal acaranya berlangsung jam itu juga. Kami lupa bahwa jam segitu adalah jam pulang orang kantoran yang pasti membuat angkutan kota penuh. Untung saja atau sebuah kebetulan meski berempet-empetan kami dapat angkutan yang tidak perlu lama menunggu.

Sampai di Kampung Melayu kami langsung menuju halte busway, dan kebetulan lagi meski ramai kami juga langsung dapat naik ke busway. Di tengah sel-selan penumpangnya Ipey malah sempet foto-foto dulu didalam angkutan kebanggaan warga jakarta ini. Meski goyang, saya upload saja karena foto ini memberi banyak cerita untuk sekedar mencari TNT.Dari Kampung Melayu kami transit di halte Matraman untuk menuju ke Dukuh Atas, ini dia baru pemandangan orang mengantri panjang untuk naik Busway jam pulang kerja di Dukuh Atas. Sayang kami belum bisa mengabadikan moment tersebut, apalagi ada banyak bule yang ikut mengantri dengan sabar di situ.

Di Dukuh Atas kami menunggu agak lama untuk mendapatkan busway menuju halte Bundaran HI tempat acara peluncuran buku berlangsung. Di Dukuh Atas seperti beberapa halte yang lain di jakarta memiliki pintu khusus untuk orang cacat, manula dan orang hamil, sejenak saya berpikir enak ya mereka gak perlu ngantri, hanya pikiran orang yang kotor untung saja pikiran ini berlalu begitu saja. Tuhan memang adil untuk moment saat itu, orang itu dengan celana boxer bergambar Naruto berlenggang masuk ke busway tanpa perlu berdesakan.Sampai di Bundaran HI hujan membuat kami menunggu sejenak untuk langsung menuju ke Grand Indonesia yang sudah ada di depan mata. Ternyata butuh waktu 45 menit untuk menuju Bundaran HI dari Cawang. Tidak menyia-nyiakan waktu menunggu hujan. iseng-iseng kami berdua foto aja Bundaran HI dari atas halte.
Bundaran HI diwaktu hujan

Baru setelah hujan agak kecil kami langsung menuju Grand indonesia. Grand Indonesia itu ternyata cukup besar, dan cukup membuat saya agak kebingungan mencari tempat acara peluncuran buku itu berlangsung. untung saja pihak informasi dari Grand Indonesia sangat baik dengan memberi informasi yang sangat detik untuk dua orang yang terlihat dengan pakaian yang paling lusuh di lokasi itu. Salut untuk management Grand Indonesia atas pelayanannya, soalnya saya pernah merasa dikecewakan dengan kondisi pakaian di salah satu Mall.

Sambil melihat beberapa karya seni rupa yang dipamerkan di Grand Indonesia sebelah timur, kami menuju tempat acara berlangsung. Itu dia, saya pernah mendengar suara itu di tivi. dimulai dari punggungnya saya mulai melihatnya, dengan kaos merah bergambar bendera Turki saya sekarang sudah berada persis tidak lebih 7 meter didepannya. TNT akhirnya bisa juga saya bertemu denganmu, orang yang membuat saya sangat menikmati perjalanan kemanapun.

Saat itu TNT sedang meluncurkan buku ketiganya yang ia buat bersama-sama dengan beberapa orang. Duo Hippo Dinamis, Tersesat di Byzantium adalah buku ketiga eh salah ternyata dari tadi salah nulis, itu adalah judul Graphic Travelogue (sambil masih mencari arti kata tersebut) komik kalo kata pihak informasi Grand indonesia yang tadi saya temui. Buku komik catatan perjalanan tersebut dibuat bersama-sama mulai dari Trinity dan Nina kemudian oleh Lala dibuatkan graphicnya. Dari peluncuran komik tersebut mereka bertiga menghabiskan waktu 6 bulan untuk brainstorming kemudian Lala sang grapichers menyeleseikannya dalam waktu 3 bulan. cukup lama juga ya, dan jerih payah mereka tidak sia-sia. Dari peluncuran perdananya itu orang yang membeli komik tersebut sudah merasakan kekonyolan dalam balutan komik mereka terlihat menikmati, termasuk anak-anak kecil yang seharusnya bukan konsumsi mereka.

Selesai acara peluncuran saya bertemu dengan Kiki saat bersama-sama membeli buku graphic Duo Hippo. Tanpa menunggu lama setelah basa-basi sedikit dengan Kiki dan temannya saya langsung mengambil posisi untuk antri tandatangan dan berfoto dengan idolaku itu. Akhirnya moment yang saya tunggu sejak lama itu terjadi juga, berfoto dengan orang yang membuat saya iri dengannya. Sejenak masih saja berpikir enaknyo jadi TNT bisa jalan-jalan kemana aja yang ia mau. Saya malah meminta kenang-kenangan dalam buku The Naked Traveler 2 yang baru kebeli kemarin di Bogor, "Mbak tolong tuliskan kata-kata ini, Prancis kamu pasti bisa. tanpa perlu diulangi dia menuliskan kalimat itu lengkap dengan tanda pentung dibelakangnya tanpa saya minta. thanks a lot hippies.
"Paris, kamu pasti bisa!"

Di sebelah Ipey dengan sepenuh hati sudah bersiap mengabadikan moment ini, mbak boleh saya peluk ya? dengan senang hati terjadi kekonyolan yang tak terduga, dia menjambak rambut saya. Kejadian tersebut langsung membuat beberapa orang disitu ikut tertawa. sayang ternyata foto pertama ngblur, dengan senang hati kami mengulangi kejadian yang sama dan tertawaan yang sama pula, bedanya yang ini fotonya lumayan cukup bagus. setelah itu barulah Kiki yang gantian ikut berfoto bersama dan mbak-mbak yang ikut nitip difotoin. Setelah poto-poto barulah saya mencari Hippo kedua Mrs KK dan mbak Lala. Moment to Remember for all.

Sampai TNTpun terpesona dengan rambut ini.

Sepertinya terlalu singkat kejadian sore itu, tapi percaya saja meski tak selalu berada di deket TNT. Virusnya tetap terasa dimanapun.Saya dan Ipey tetep saja ngobrol tentang TNT mengenai kenyamannya dia berpetualang, darimana ya duitnya hahahahaha....

Kami tidak langsung pulang, setelah menghadiri peluncuran komik Duo Hippo Dinamis yang tersesat di Byzantium kami menuju ke Bundaran HI tepat ditengah-tengahnya. Dan ternyata ipey juga memiliki kesamaan pikiran saat itu. Mari kita berfoto di sana. Ya, dua peristiwa penting hari ini telah terjadi. Bertemu dengan TNT yang sejak lama diinginkan dan berfoto di tengah Bundaran HI yang dulu hanya bisa dilihat di tipi dan internet.

(Ipey: kiri dan ane yang lagi ngucapin matur nuwun kagem sepatu kucelnya)

Oke teman, seperti biasa kalimat terakhir. Tetap langkahkan kakimu menuju Nusantara yang katanya indah ini, hingga kau benar-benar merasakan keindahan dan keajaibannya. Dalam kebahagiaan ini saya ikut mendoakan kepada Almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie, semoga mendapatkan tempat terbaik disisi Tuhan.

Gugun Junaedi

Djakarta - 22 mei 2010

Minggu, 18 April 2010

Catatan Perjalanan Pamekasan Madura #2

Sore menunjukan pukul 17.30 kota Pamekasan masih terlihat sangat terang oleh matahari senja kala sore itu. Beberapa orang dengan busana muslim sudah terlihat banyak memasuki pelataran masjid agung As Syuhada. Didepan masjid yang merupakan alun-alun kota juga terlihat orang-orang yang menikmati sore bersama keluarga maupun kawan. Ruang publik tersebut semakin terlihat ramai dengan para penjual yang dikerubuti anak-anak kecil yang mengantri untuk membeli jajanan. Tak berbeda dengan masyarakat Pamekasan yang menikmati sore itu, saya dan teman saya juga berjalan mengitari alun-alun kota pamekasan itu, melihat dan menikmati setiap sudut alun-alun kota batik Pamekasan.

Sebuah monumen Arek lancor berdiri dengan gagah tepat ditengah alon-alun, dengan latar belakang masjid agung monumen tersebut akan terlihat semakin indah jika dinikmati ketika sore. Monumen tersebut adalah lambang perlawanan dan kegagahan masyarakat Madura khususnya Pamekasan, jika diperhatikan dari jauh memang yang nampak seperti api yang sedang berkobar, namun itu adalah bentuk dari Arek (sabit) yang bisa menggambarkan masyarakat madura. Terdapat 5 sabit saling mengapit menjulang ke atas, semakin sore cahaya lampu yang berwarna biru akan menerangi monumen terebut dan itu menambah kegagahan dalam keindahan monumen itu. Dari informasi yang saya dapat monumen tersebut adalah monumen untuk mengingat perjuangan masyarakat Madura Pamekasan dalam melawan penjajah kala itu.

Tidak jauh disebelahnya juga terdapat monumen Proklamasi dengan burung Garuda yang terbang diatas batu. Burung Garuda itu terlihat berteriak lantang kepada Monumen Arek lancor, dan ternyata kedua monumen itu saling berhubungan satu sama lain. Yang intinya memerdekakan diri dari penjajah.

Masih dari komplek alun-alun kota Pamekasan, tepat didepan Monumen Arek Lancor terdapat sebuah museum daerah. Museum ini ternyata baru didirikan bulan Maret lalu, pantas saja tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan museum yang sangat berarti bagi wisatawan terebut. Museum ini juga saya sarankan untuk menjadi tujuan pertama dari perjalanan wisata jika anda melakukan wisata ke Pamekasan Madura, selain banyak informasi tempat wisata dan daerah yang layak untuk dikunjungi museum ini akan menjadi pemandu anda jika masih bingung berada di Pamekasan. Museum ini memiliki jam buka dari pukul 9 pagi sampai 9 malam, jika anda mendatangi museum ini anda akan bertemu dengan penjaga museum yang akan dengan baik menceritakan semua bahkan apapun tentang pamekasan yang anda ingin tahu.
Meski baru berumur satu bulanan, koleksi museum ini cukup bisa menggambarkan sejarah dan kebudayaan Pamekasan Madura. Kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan Sultan Agung Mataram yang pernah menguasai Madura. Di museum ini kita juga bisa melihat kitab-kitab kuno Madura yang masih bertuliskan aksara jawa kuno dan kitab kuno dengan bahasa Arab. Beragam senjata tradisional khas Madura juga dipajang di museum ini mulai dari tombak sampai keris-keris pusaka. Tidak hanya memajang benda-benda sejarah, di museum ini kita bisa melihat Kleles yang biasa digunakan untuk karapan sapi dan sebuah Andong dengan tempat kusir dibelakang penumpang yang biasa digunakan oleh para ulama di Madura. Beragam kerajinan tradisional berupa alat-alat fungsional rumah tangga dan pajangan bisa kita temui di museum ini. Selain itu yang paling istimewa adalah kekhasan Pamekasan sebagai kota batik juga ditampilkan dengan batik yang pernah tercatat terpanjang di Indonesia, batik terpanjang itu bisa kita lihat di museum ini. jadi jangan lewatkan untuk memahami Pamekasan sebelum anda menjelajahi lebih lanjut melalui Museum ini, apalagi museum ini gratis dan terbuka untuk umum.

malam hari kami gunakan untuk melihat fenomena alam yang digunakan sebagai salah satu objek wisata andalan kabupaten Pamekasan yaitu Api Tak Kunjung Padam. Lokasi ini berada tidak begitu jauh dari pusat kota pamekasan, hanya berjarak 15 menit menggunakan kendaraan pribadi. Akses masuknyapun sangat mudah, hanya berjarak 800 meter dari jalan raya. Ketika kami memasuki daerah itu terlihat beberapa api yang menjulang tinggi ke atas, namun sayang akses menuju tempat tersebut sudah ditutup oleh kendaraan. Akhirnya kami hanya melihat api tersebut ditempat yang biasanya orang kunjungi juga. Ditempat tersebut sebuah petak tanah berukuran tidak lebar dari 10 meter dan dipagari besi api muncul dengan sendirinya dari dalam tanah. Api yang muncul tersebut saya rasakan tidak begitu panas dari api yang biasanya ada. Banyak dari pengunjung tempat wisata ini yang membawa makanan mentah untuk sengaja dimasak di Api Tak Kunjung Padam, seperti jagung, telur dan tak jarang juga membawa ikan. Di sekitar lokasi terdapat banyak penjual oleh-oleh seperti pakaian adat Madura Sakera lengkap dengan beragam senjata tajamnya dan juga bumbu dapur Terasi Madura.

Sekali lagi saya harus menyesalkan karena belum bisa menyaksikan seni tradisi khas Madura, Karapan Sapi yang katanya hanya bisa kita saksikan setiap bulan Agustus. Ternyata sehari sebelum kepulangan saya ke Surabaya saya bertemu dengan joki karapan sapi, Pak Etep namanya. Kami bertemu di Taroan, dari cerita yang saya dapatkan karapan sapi ternyata tidak hanya diadakan setiap bulan Agustus. Yang sangat saya sesalkan adalah bahwa minggu besok dia juga akan berlomba dengan karapan sapinya di daerah Pademawu Barat dan dia menawarkan untuk bisa melihat pertandingan karapan sapi dengan hadiah 5 buah motor tersebut. Namun pertemuan dengan joki karapan sapi itu dapat memberi informasi baru tentang karapan sapi yang diadakan secara besar di bulan Agustus itu.

Selain pantai Talang Siring di kecamatan Montok dan pantai Jumiang di Kecamatan Pademawu serta Api Tak Kunjung Padam di Tlanakan dan Museum Daerah yang berada di alun-alun kota, ternyata masih ada beberapa tempat yang layak untuk dikunjungi. Meski ada beberapa tempat yang saya belum sempat untuk mengunjunginya, namun akan saya ceritakan rangkuman yang saya dapat dari beberapa teman. Lokasi tersebut antara lain Pasar Batik yang terletak di jalan Joko Tole, ditempat tersebut kita akan banyak menemukan batik-batik khas Madura. Tempat kerajinan batik juga terdapat disekitaran pasar sore sebelah barat alun-alun kota, ditempat tersebut juga terdapat beberapa rumah kerajinan pembuat batik. Lokasi berikutnya adalah pasar 17 Agustus, pasar ini hanya ada setiap hari Minggu pagi dan Kamis pagi. Di pasar tersebut kita bisa melihat beragam hasil kerajinan Pamekasan lengkap dengan jajanan khas Pamekasan, lokasi ini terletak di utara pusat kota Pamekasan. Di ujung timur luar alun-alun Pamekasan juga terdapat bangunan Heritage berupa bangunan yang digunakan pada masa penjajahan sebagai bangunan listrik kota, bangunan ini berwarna biru yang akan dengan mudah kita lihat.Bagi yang suka kuliner, Pamekasan menyajikan sebuah tempat istimewa untuk para pecinta kuliner yaitu Sae Salera sebuah jalan di pamekasan yang diubah menjadi jalan dengan aneka masakan dan jajanan. Lokasi Sae Salera hanya berjarak 100 meter sebelah barat dari alun-alun kota, namun saya merasa ketika berada di tempat tersebut tidak terasa Maduranya. Untuk yang benar-benar penjelajah kuliner sepertinya tempat tersebut kurang pas, lebih menjanjikan jika kita mau warung kecil yang berada di pinggiran jalan di Pamekasan, memang agak sulit tapi sekalinya menemukan kita bisa merasakan masakan khas daerah Madura. Biasanya akan ada tanda dari dinas pariwisata Pamekasan jika warung terebut menyajikan masakan tradisional. Tanda tersebut berupa papan nama dengan motif batik bertuliskan wisata kuliner makanan khas daerah(jika tidak salah). Beberapa makanan khas yang pernah saya temui dan dinikmati antara lain, Kaldu Kokok, Kaldu Kikil, Rujak Cingur, Rawon dan Soto Madura. Kemungkinan jika beruntung anda bisa mendapatkan minuman Ta'al, minuman tradisional yang berasal dari pohon Siwalan. Serta jangan lupakan beberapa landscape sudut kota pamekasan yang memiliki mural-mural dengan gambar-gambar batik khasnya.

Sepertinya hanya itu yang bisa saya ceritakan tentang salah satu daerah di Pulau Madura ini. Daerah dengan syari'at Islam yang sangat terasa disetiap sudut kotanya.Daerah dengan eksotisme di setiap bukit yang ada didalamnya.Sebuah daerah yang menawarkan petualangan penuh ketegangan dan kesenangan. Tetap langkahkan kaki menuju Nusantara yang katanya indah itu hingga engkau benar-benar merasakannya.

Sabtu, 02 Januari 2010

Yang Jernih di Wediombo

Hari baru di tahun yang baru ini saya mulai dengan berpetualang menuju pantai Wediombo. Pantai yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul Jogjakarta, jarak yang ditempuh dari kilometer oskar (my vega R plat R) adalah 81 km. Cukup jauh memang, tapi jangan kuatir rasa jauh yang ditempuh akan hilang dengan pemandangan yang hijau tertata rapi selama perjalanan. Apalagi jika sudah sampai tempat tujuan, terbayarkan pasti rasa lelah selama perjalanan.

Perjalanan menuju Pantai Wediombo bisa ditempuh dengan mudah, dari Yogyakarta langsung saja menuju Wonosari. Selama perjalanan penunjuk jalan akan selalu ada, ini sangat memudahkan untuk orang yang pertamakali. Rute paling deket yang saya dapati adalah melalui Playen, dari pertigaan wonosari belok kanan langsung dan ikuti terus jalan yang akan tembus menuju jalan Baron, jalanan di Playen masih lumayan sepi juga. saya menghitung pom bensin ada setiap 8 kilometer di jalan utama, jadi jangan kuatir akan kehabisan bahan bakar. Tapi kalau sudah menuju jalan kecil atau tembusan akan sulit menemukan penjual bahan bakar dan tukang tambal ban, lebih baik kalau kita persiapkan perjalanan dengan baik terlebih dahulu.

Selama perjalanan pemandangan disisi jalan pasti akan menggoda kita untuk mengambil gambar, selama dijalan mending kita juga harus selalu hati-hati jangan terlalu terpesona dengan hijau pohon karena pengendara lain bisa saja ngebut dan tidak memperhatikan kendaraan kita ditambah kondisi jalan yang berkelok. jadi sebelum berhenti dan parkir selalu berhati-hati dengan pengendara lain, apalagi kalau sudah masuk jalan kecil ada juga pengendara yang asik bermain dengan handphone mereka saya sangat benci pengendara yang menggunakan HP saat berkendara.

Sampai pada belokan pertama dari jalan Baron, di kilometer pertama yang menuju Wediombo kalau anda tertarik dengan gua, disisi selatan ada sebuah gua yang warga setempat menyebutnya Ngingrong. Anda akan menemukan sebuah lembah yang curam dari jalan, disitulah lokasi Ngingrong berada. Saya sempat bertanya dengan Pak Petani yang sudah sangat tua yang saat itu ada di situ Ngingrong berarti gua atau ning leng yang berarti didalam lubang, sayang petani tua itu sepertinya mengalami keterbatasan pendengaran jadi saya tidak bisa bertanya lebih banyak. disisi Ngingron ditanami juga tanaman oleh petani setempat, dari atas terlihat genangan air yang berada dimulut gua.Kemudian dari seorang wisatawan yang mampir ke ngingrong juga saya dapati informasi bahwa Ngingrong ini akan dijadikan objek wisata.

Oh ya sekedar informasi, pantai Wediombo juga berada di satu jalur menuju ke Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Sepanjang, Pantai Sundak, Pantai Krakal, Pantai Siung dan pantai Sadeng . Tidak cukup sepertinya kalau satu hari sisir pantai di Gunung Kidul ini. Yang semuanya masih sangat mempesonakan, tapi 1st trip yang saya lakukan kali ini hanya untuk bermain di Pantai Wediombo dengan pasir putih dan gugusan karang yang menarik.Kemungkinan nyasar sepertinya sangat kecil, meskipun nyasar yang pasti jalan yang nyasar tersebut akan membawa anda menuju pantai yang disebutkan diatas tidak rugi meski nyasar.

Retribusi untuk di Wediombo masih sangat murah, untuk satu orang harus membayar sebesar Rp. 2000 dan parkir untuk motor Rp. 2000. tapi setelah jam 4 atau 5 sore biasanya petugas sudah pulang jadi tidak ada petugas yang menjaga.

Dari informasi yang saya dapat Wediombo memiliki arti Wedi: pasir dan ombo: luas, pasir yang luas. Tapi ternyata tidak juga pasir yang ada di pantai ini tidak seluas yang saya bayangkan sebelumnya, sebelumnya saya membayangkan bentangan pasir yang luas seperti yang ada di Pantai Parangkusumo. Pantai ini malah terkesan seperti teluk, diapit oleh dua buah bukit yang sangat menawan.sebuah panorama yang sangat menarik.

Di pantai ini akan banyak ditemui batu karang yang berada di bibir pantai, karang-karang tersebut menjulang dengan sangat indah, gagah melawan ombak disinari matahari yang akan menghilang. Sore adalah moment terbaik jika ingin melihat kecantikan karang tersebut, cahaya dari matahari sore memberikan kesan yang sangat gagah pada karang-karang tersebut.

Batu karang tersebut biasanya digunakan oleh para nelayan sebagai tempat untuk memancing, kalau beruntung kita bisa membeli langsung ikan tangkapan nelayan tersebut. satu ikan Panjo yang panjang biasa dijual dengan harga 30.000 tapi kalau anda sudah biasa membelinya atau berani menawar dengan 15.000 anda sudah bisa mendapat ikan tersebut. Setiap karang yang ada disitu memang menarik tapi yang paling enak adalah karang yang ada disisi kiri, lebih tertata dan lebih tinggi, view panorama juga menjadi lebih indah.

Di Wediombo kita akan mudah menemukan ikan hias yang berenang dipinggir pantai, udang hias yang sangat cantik, bintang laut dan landak laut yang sangat keras. keanekaragaman hayati itu bisa dengan mudah kita temui, banyak dari para wisatawan yang menangkap hewan laut itu dengan mudah. jika anda beruntung udang hias yang biasa dijual dengan harga tinggi bisa ditangkap dengan mudah disini.

Rumput Kendal begitu para nelayan disitu menyebutnya, rumput tersebut biasanya berada di bibir pantai dan sangat mengganggu pemandangan sebenarnya kalau tidak dibersihkan. Ternyata rumput Kendal juga dimanfaatkan oleh beberapa warga setempat untuk dikumpulkan dan dijual ke Surabaya, ketika ditanya manfaat rumput itu petani kendal tersebut menjawab tidak tahu kegunaan dari rumput kendal itu, mereka hanya mengumpulakan dan menjual perkilo dengan harga 500 rupiah.

Meski ada papan yang bertuliskan dilarang mandi di pantai, tetep saja para wisatawan mandi. pasti tidak ada yang menyia-nyiakan melihat pantai yang masih jernih itu sungguh pengalaman yang sangat menarik bisa mandi di pantai yang jernih. kalau mau berenang saya sarankan untuk di sisi sebelah utara karena disitu ada dasaran pasir putih yang cukup luas, menyenangkan bisa berendam diatas pasir putih. Dan anda juga tidak perlu kuatir, ada beberapa bapak-bapak Tim SAR yang selalu berpatroli.

Puas berenang dipantai yang jernih ini, rasa lapar akan melanda. Tidak ada menu istimewa selain pecel dengan tempe hitam dan beragam gorengan yang ditawarkan, cukup dengan Rp. 2000 bisa mendapat pecel yang cukup banyak ditambah gorengan yang bisa dapat 3 dengan Rp. 1000, wow masih ada harga semurah itu ditempat wisata, salut buat mbah-mbah yang mau naik turun jalan untuk menjual pecel ini. Selain pecel ada juga beragam penjual yang rata-rata menjual Mie Ayam dan Bakso.

Panorama sunshet adalah tujuan kebanyakan para wisatawan untuk datang ke Wediombo, pantai yang diapit oleh 2 bukit ini menyajikan panorama yang sangat indah untuk sunshet. Posisi pantai yang tepat menghadap ke barat semakin menambah pesona sunshet di pantai ini, batu karang akan semakin gagah dengan deburan ombak yang keras. Warna air laut beranjak bergradasi. that's moment ro remember.

Akhir perjalanan ini berada di Jogja View, dari atas bukit Pathuk ini kita bisa melihat indahnya kota Jogja dimalam hari dengan beragam warna lampu yang ada. ditemani jagung bakar saya selalu terpesona dengan Jogjaku.

Ada cerita tersaji dibalik perjalanan ini, terimakasih buat bapak konsultan bangunan dan keluarganya yang melindungi saya dari ombak besar diatas karang semoga kita bisa ketemu lagi di tempat wisata yang lain, sayang kita gak tukar kartu nama padahal obrolan tadi sangat menarik. yang kedua buat Pak Mintoro, tukang tambal ban di Tepus. hangatnya teh sore tadi menambah perkenalan kita, pasti saya akan mampir di perjalanan berikutnya. Ternyata memang benar apa yang anda katakan bahwa orang kampung memang baik, salam buat anda dan keluarga. Yang terakhir buat Oskar motor vega R berplat R yang tiba-tiba bocor dan akhirnya membuat saya bisa berkenalan dengan keluarga baik di Tepus. Weith Ronny buat minjemin kameranya, ok cui tak silih sedina yo.

Senin, 16 November 2009

Perjalanan Mencari Heritage Jogja.

Saya akan mulai bercerita tentang perjalanan ini dengan sebuah kebetulan yang membawa cerita tersendiri bagi saya, Perjalanan yang seperti napak tilas ini sebenarnya dilakukan untuk kebutuhan pendokumentasian beberapa gedung-gedung di Yogyakarta yang memiliki nilai historis dan non historis sejarah di kota ini. Pendokumentasian ini saya dapati dari seorang mantan dosen yang bekerja di DInas Pariwisata & Kebudayaan Kota. Dengan tulisan ini saya hanya sekedar ingin berbagi perjalanan saya bersinggah di beberapa bangunan di Jogja dengan nilai historis tinggi yang pasti akan mempesonakan bila ditelusuri lebih lanjut.

Pagi ini saya sudah bersiap dengan Oskar (Vega R ber-Plat R biru tumpangan saya) untuk menjelajah tempat-tempat di Jogja yang selama ini belum pernah saya kunjungi. Pagi ini sangat menyenangkan bisa menyapa mentari dipagi hari, tujuan pertama saya adalah mengambil kamera Canon 30D milik seorang teman di Bantul. khayalanku tertuju pada cerita orang-orang yang pernah aku dengar jika kita berkendara di pagi dan sore hari melalui jalan Bantul. Kita akan banyak bertemu dengan pengendara sepeda yang saling beriringan. Kenyataan itu memang benar meski tidak seindah cerita orang-orang yang pernah aku dengar ketika bercerita jalan pagi dan sore hari di Bantul. Oh ya ada plesetan lucu yang pernah saya dengar mengenai ciri-ciri orang Bantul, kita akan mampu mengenali bahwa orang tersebut adalah orang bantul hanya dengan melihat wajahnya, yaitu jika orang tersebut memiliki warna kulit gelap sebelah pasti itu orang Bantul soalnya jika pagi hari matahari akan menyinari sebagian wajahnya begitu pula ketika sore wajah tersebut akan disinari kembali oleh matahari, hal tersebut menyebabkan warna kulit berubah sebelah. (terimakasih buat pak Agus, mantan dosen saya yang memiliki kulit gelap setengah atas cerita ini)

Dan perjalanan inipun dimulai setelah mendapatkan pinajaman kamera, tempat yang pertama kali dikunjungi adalah nDalem Tejokusuman, lokasi ini bertempat di ngampilan tepatnya. Berada sebelah barat keraton Jogja, dulu Ndalem Tejokusuman dulunya meurut cerita yang saya dapat merupakan tempat berlatih tari klasik diluar keraton oleh pangeran Tejokusuman karena nDalem Tejokusuman ini berada diluar tembok keraton. Biasanya masyarakat Jogja menyebutnya njeron benteng (didalam Keraton) dan Njaba Benteng (diluar Keraton) saat ini beberapa bangunan yang ada dikomplek Tejokusuman digunakan untuk tempat Radio Sonora (sekedar informasi Radio Sonoro memberi manfaat yang sangat besar ketika gempa berlangsung, hanya radio ini yang mengudara ketika bencana 2006 lalu

Lokasi kedua adalah komplek Gedung PAPMI, komplek gedung ini dulunya pernah digunakan sebagai tempat balai kota pemerintahan Jogjakarta . saat ini bangunan kuno ini digunakan sebagai usaha beberapa perusahaan dan juga ada Galery karya seni. Komplek ini berada di Jalan Ahmad Dahlan. Beberapa detail bangunan kuno masih bisa terlihat diantara perubahan yang terjadi pada komplek tersebut. Sisa-sisa arsitektur peninggalan Belanda masih bisa dilihat dengan bentuk bangunan yang menjulang Tinggi meski hanya satu tingkat, dan juga bentuk jendela dengan ukuran lebar dan tinggi.

Setelah dari gedung PAPMI saya akan menuju Akper Notokusuman. Melewati gedung-gedung yang sudah banyak orang kenal. Mungkin bagi orang yang biasa mengunjungi Kota Gudeg ini akan terbiasa melihat ikon kota ini seperti Gedung BNI 46 yang berada tepat di titik nol kilometer, juga gedung Kantor Pos Besar yang bersebelahan dengan gedung BI. Dan Gedung Agung istana presiden. Bangunan itu seperti menjadi saksi kota Jogja bagi wisatawan banyak orang rela kepanasan hanya untuk mengabadikan moment mereka ketika berada di Jogja, semua orang langsung menyebut beberapa gedung itu bila ditanyakan mengenai gedung yang memiliki nilai historis di Jogja ini. Padahal selain gedung tersebut masih banyak lagi gedung-gedung bersejarah di Jogja dengan nilai historis tinggi dan akan mulai dilupakan. Tempat ketiga yang akan saya kunjungi adalah Gedung Akper Notokusumo. Gedung ini berada di sebelah barat Puro Pakulaman tempat tinggal Sri Pakualam. Dari namanya kita bisa mengetahui bahwa Notokusumo adalah sebuah nama Pangeran Notokusumo sebelum bergelar Sri Paku Alam . Gedung tersebut berada dalam Yayasan Notokusumo yang didirikan pada tanggal 7 Juni 1979 oleh Sri Paduka Paku Alam VIII. Namun sayang karena ada sedikit kekeliruan dengan petugas, saya tidak jadi untuk mengambil beberapa detail bangunan bersejarah itu.

Dari Notokusuman saya langsung menuju Stasiun Lempuyangan, Stasiun Lempuyangan merupakan salah satu stasiun tertua yang ada di Indonesia, sebelumnya mengisi perut dengan 2 bungkus nasi kucing di angkringan depan Notokusuman. Stasiun ini baru saja direnovasi, dan menjadi lebih nyaman dari sebelumnya. Ada tempat parkir baru dan ticketing sudah berubah posisi di sebelah Timur. Jangan hanya melihat trayek yang dilayani stasiun ini, meski hanya melayani kelas ekonomi, stasiun ini memiliki nilai historis yang tinggi bagi perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Stasiun Lempuyangan menjadi saksi hadirnya kereta api di Jogja ketika pada tahun 1872 stasiun ini diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dan stasiun ini tercatat dalam sejarah terbentuknya jaringan rel yang berada di pulau Jawa. Begitulah sedikti cerita yang bisa saya sampaikan mengenai Stasiun Lempuyangan yang menjadi saksi sejarah.

Bagian ini yang paling saya suka, Kotabaru, kota dengan banyak bangunan yang memiliki nilai historis. Ada Gedung Asuransi Jiwasraya yang berdiri megah jika anda melewati Kotabaru, sebelumnya dari jembatan Kewek (wah jembatan kewek ini juga memiliki cerita yang seru untuk diceritakan tapi belum memiliki kesempatan untuk lebih mengetahuinya) anda akan melihat bangunan gereja Santo Antonius yang sangat megah seperti di Eropa. Kawasan ini merupakan kawasan yang katanya paling maju ketika jamannya. Di gedung asuransi Jiwasraya Disini saya juga tidak mendapat cerita banyak tentang keberadaan gedung tersebut dijamannya, namun saya sempat merasakan suasana gedung tersebut dengan tangga yang masih asli terbuat dari kayu jati, jendela yang tinggi dan besar dengan ornament khas Eropa. Sangat mengesankan berada di gedung ini. Selain Gedung Jiwasraya kita akan dengan mudah menemukan gedung lain seperti Gedung dinas Pariwisata & Kebudayaan Kota (gedung ini merupakan tempat dimana berakhirnya gerilnya Jendral Sudirman), Perpusda Kota yang masih berdiri kokoh dipinggir jalan Suroto Yogyakarta. Tempat selanjutnya dengan historis sejarahnya adalah SMAN 3 Yogyakarta, SMPN 5 Yogyakarta, dan SMA BOKPRI 1 dari ketiga sekolah tersebut kita akan mendapatkan cerita tentang latihan militer dan pendidikan pada masa itu. Ciri-ciri gedung peninggalan Hindia Belanda itu akan dengan mudah ditemui dengan detail bangunan yang menjulang tinggi, memiliki sudut setiap bagian bangunan yang tidak meruncing juga atap dan jendela serta pintu yang masih berukuran besar. Dan ini bagian yang ingin paling saya ceritakan adalah Asrama Kompi TNI, asrama ini berada tepat didepan SMA BOKPRI 1. Bagian depan merupakan asrama yang dikhususkan bagi tingkatan yang lebih tinggi seperti perwira sedangkan bagian selatan adalah asrama yang dibuat untuk para prajurit. Tidak banyak cerita seperti yang saya kira sebelumnya tentang asrama ini, sebelumnya saya membayangkan sebuah asrama yang seperti kebanyakan asrama seorang tentara yang pernah saya temui. (saya tinggal di komplek asrama TNI). Entah kenapa saya merasakan hal yang sangat dramatis ketika berada di Asrama TNI ini, dengan ukuran petak yang sempit, jalan setapak yang memisahkan bangunan hanya beberapa depa. Inilah kondisi yang saya tidak pernah mengerti. Ketika saya duduk menunggu petugas RW saya mendapati beberapa orang dengan seragam TNInya lalu lalang didepanku(aku kira juga banyak pribumi yang sudah banyak tinggal disini menyatu dengan TNI), senyum ramah mereka tak bisa kubayangkan ketika beberapa puluh tahun yang lalu mereka berjuang demi Negara ini. Ah itu khayalan tingkat tertinggiku untuk apresiasi seorang tua yang sedang duduk sendiri diteras maaf saya tidak bisa menyebut itu teras karena itu dijalan setapak yang sempit kubayangkan gelora perjuangan orang tua itu hanya beberapa detik. Sedikit kudengar percakapan seseorang yang berseregam lainya, ia berkata kepada tetangganya dengan senyum kemerdekaan bahwa ia akan mengurus tempat pindah, pindah dari tempat yang dramatis ini. Dilain komplek masih di Asrama Kompi saya melihat 2 orang dengan mengenakan seragam ditambah seorang balita mungkin itu adalah seorang ayah, anaknya juga anak dari anaknya. Saya merasakan kebahagiaan dari permainan mereka. Ah sudahlah banyak yang ingin saya ceritakan namun sepertinya ada batasan yang menghentikan jari ini untuk mengungkapkannya. Persinggahan saya berakhir setelah seorang ibu menghampiri saya dan memberittahukan bahwa Pak RW sedang keluar, Pak RW yang akhirnya saya tahu ternyata seorang anggota DPRD kota. Dan saya akan mengunjungi tempat ini lagi besok.

Perjalanan saya berlanjut menuju RS. Mata dr. YAP atau biasa disingkat menjadi RSM sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Jogjakarta setelah dari utusan kantor Dinas memberitahukan bahwa gedung RRI Nusantara II tidak perlu diambil gambarnya. Di RSM saya langsung diantar oleh seorang security dengan senyum ramahnya menuju urusan Rumah Tangga RSM tersebut. Detail-demi detail bangunan historis itu mulai saya ambil gambarnya didampingi oleh seorang pegawai yang menceritakan kondisi RSM jaman dulu. Dari cerita beliau saya mendapati bahwa RSM ini dari mulai diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII sampai pada beberapa perbaikan fasilitas gedung ini tanpa merubah struktur bangunan. Saya bisa melihat kepedulian pihak RSM ini dengan menjaga keutuhan bangunan RSM ini. Saya juga baru tahu bahwa RSM ini memiliki sebuah meseum khusus.

Sepertinya cukup sampai disini dulu saya mencoba menceritakan hari yang cukup menegangkan, menyenangkan dan menyedihkan melihat kondisi beberapa bangunan yang memiliki nilai historis ini. Masih ada beberapa tempat yang harus saya kunjungi dan ingin saya ceritakan perjalanan saya menyinggahinya. Ada Gedung Hotel Toege yang sudah berubah fungsi, Ex markas tentara pelajar yang sekarang digunakan sebagai kantor Dinas Perhubungan, Museum Sasmitaloka, Gedung Balai Kajian Jarahnitra gedung setan atau gedung DPRD propinsi dan pastinya Asrama Kompi TNI yang memberi cerita tersendiri bagi saya.

Salam

Gugun Junaedi