Senin, 16 November 2009

Perjalanan Mencari Heritage Jogja.

Saya akan mulai bercerita tentang perjalanan ini dengan sebuah kebetulan yang membawa cerita tersendiri bagi saya, Perjalanan yang seperti napak tilas ini sebenarnya dilakukan untuk kebutuhan pendokumentasian beberapa gedung-gedung di Yogyakarta yang memiliki nilai historis dan non historis sejarah di kota ini. Pendokumentasian ini saya dapati dari seorang mantan dosen yang bekerja di DInas Pariwisata & Kebudayaan Kota. Dengan tulisan ini saya hanya sekedar ingin berbagi perjalanan saya bersinggah di beberapa bangunan di Jogja dengan nilai historis tinggi yang pasti akan mempesonakan bila ditelusuri lebih lanjut.

Pagi ini saya sudah bersiap dengan Oskar (Vega R ber-Plat R biru tumpangan saya) untuk menjelajah tempat-tempat di Jogja yang selama ini belum pernah saya kunjungi. Pagi ini sangat menyenangkan bisa menyapa mentari dipagi hari, tujuan pertama saya adalah mengambil kamera Canon 30D milik seorang teman di Bantul. khayalanku tertuju pada cerita orang-orang yang pernah aku dengar jika kita berkendara di pagi dan sore hari melalui jalan Bantul. Kita akan banyak bertemu dengan pengendara sepeda yang saling beriringan. Kenyataan itu memang benar meski tidak seindah cerita orang-orang yang pernah aku dengar ketika bercerita jalan pagi dan sore hari di Bantul. Oh ya ada plesetan lucu yang pernah saya dengar mengenai ciri-ciri orang Bantul, kita akan mampu mengenali bahwa orang tersebut adalah orang bantul hanya dengan melihat wajahnya, yaitu jika orang tersebut memiliki warna kulit gelap sebelah pasti itu orang Bantul soalnya jika pagi hari matahari akan menyinari sebagian wajahnya begitu pula ketika sore wajah tersebut akan disinari kembali oleh matahari, hal tersebut menyebabkan warna kulit berubah sebelah. (terimakasih buat pak Agus, mantan dosen saya yang memiliki kulit gelap setengah atas cerita ini)

Dan perjalanan inipun dimulai setelah mendapatkan pinajaman kamera, tempat yang pertama kali dikunjungi adalah nDalem Tejokusuman, lokasi ini bertempat di ngampilan tepatnya. Berada sebelah barat keraton Jogja, dulu Ndalem Tejokusuman dulunya meurut cerita yang saya dapat merupakan tempat berlatih tari klasik diluar keraton oleh pangeran Tejokusuman karena nDalem Tejokusuman ini berada diluar tembok keraton. Biasanya masyarakat Jogja menyebutnya njeron benteng (didalam Keraton) dan Njaba Benteng (diluar Keraton) saat ini beberapa bangunan yang ada dikomplek Tejokusuman digunakan untuk tempat Radio Sonora (sekedar informasi Radio Sonoro memberi manfaat yang sangat besar ketika gempa berlangsung, hanya radio ini yang mengudara ketika bencana 2006 lalu

Lokasi kedua adalah komplek Gedung PAPMI, komplek gedung ini dulunya pernah digunakan sebagai tempat balai kota pemerintahan Jogjakarta . saat ini bangunan kuno ini digunakan sebagai usaha beberapa perusahaan dan juga ada Galery karya seni. Komplek ini berada di Jalan Ahmad Dahlan. Beberapa detail bangunan kuno masih bisa terlihat diantara perubahan yang terjadi pada komplek tersebut. Sisa-sisa arsitektur peninggalan Belanda masih bisa dilihat dengan bentuk bangunan yang menjulang Tinggi meski hanya satu tingkat, dan juga bentuk jendela dengan ukuran lebar dan tinggi.

Setelah dari gedung PAPMI saya akan menuju Akper Notokusuman. Melewati gedung-gedung yang sudah banyak orang kenal. Mungkin bagi orang yang biasa mengunjungi Kota Gudeg ini akan terbiasa melihat ikon kota ini seperti Gedung BNI 46 yang berada tepat di titik nol kilometer, juga gedung Kantor Pos Besar yang bersebelahan dengan gedung BI. Dan Gedung Agung istana presiden. Bangunan itu seperti menjadi saksi kota Jogja bagi wisatawan banyak orang rela kepanasan hanya untuk mengabadikan moment mereka ketika berada di Jogja, semua orang langsung menyebut beberapa gedung itu bila ditanyakan mengenai gedung yang memiliki nilai historis di Jogja ini. Padahal selain gedung tersebut masih banyak lagi gedung-gedung bersejarah di Jogja dengan nilai historis tinggi dan akan mulai dilupakan. Tempat ketiga yang akan saya kunjungi adalah Gedung Akper Notokusumo. Gedung ini berada di sebelah barat Puro Pakulaman tempat tinggal Sri Pakualam. Dari namanya kita bisa mengetahui bahwa Notokusumo adalah sebuah nama Pangeran Notokusumo sebelum bergelar Sri Paku Alam . Gedung tersebut berada dalam Yayasan Notokusumo yang didirikan pada tanggal 7 Juni 1979 oleh Sri Paduka Paku Alam VIII. Namun sayang karena ada sedikit kekeliruan dengan petugas, saya tidak jadi untuk mengambil beberapa detail bangunan bersejarah itu.

Dari Notokusuman saya langsung menuju Stasiun Lempuyangan, Stasiun Lempuyangan merupakan salah satu stasiun tertua yang ada di Indonesia, sebelumnya mengisi perut dengan 2 bungkus nasi kucing di angkringan depan Notokusuman. Stasiun ini baru saja direnovasi, dan menjadi lebih nyaman dari sebelumnya. Ada tempat parkir baru dan ticketing sudah berubah posisi di sebelah Timur. Jangan hanya melihat trayek yang dilayani stasiun ini, meski hanya melayani kelas ekonomi, stasiun ini memiliki nilai historis yang tinggi bagi perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Stasiun Lempuyangan menjadi saksi hadirnya kereta api di Jogja ketika pada tahun 1872 stasiun ini diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dan stasiun ini tercatat dalam sejarah terbentuknya jaringan rel yang berada di pulau Jawa. Begitulah sedikti cerita yang bisa saya sampaikan mengenai Stasiun Lempuyangan yang menjadi saksi sejarah.

Bagian ini yang paling saya suka, Kotabaru, kota dengan banyak bangunan yang memiliki nilai historis. Ada Gedung Asuransi Jiwasraya yang berdiri megah jika anda melewati Kotabaru, sebelumnya dari jembatan Kewek (wah jembatan kewek ini juga memiliki cerita yang seru untuk diceritakan tapi belum memiliki kesempatan untuk lebih mengetahuinya) anda akan melihat bangunan gereja Santo Antonius yang sangat megah seperti di Eropa. Kawasan ini merupakan kawasan yang katanya paling maju ketika jamannya. Di gedung asuransi Jiwasraya Disini saya juga tidak mendapat cerita banyak tentang keberadaan gedung tersebut dijamannya, namun saya sempat merasakan suasana gedung tersebut dengan tangga yang masih asli terbuat dari kayu jati, jendela yang tinggi dan besar dengan ornament khas Eropa. Sangat mengesankan berada di gedung ini. Selain Gedung Jiwasraya kita akan dengan mudah menemukan gedung lain seperti Gedung dinas Pariwisata & Kebudayaan Kota (gedung ini merupakan tempat dimana berakhirnya gerilnya Jendral Sudirman), Perpusda Kota yang masih berdiri kokoh dipinggir jalan Suroto Yogyakarta. Tempat selanjutnya dengan historis sejarahnya adalah SMAN 3 Yogyakarta, SMPN 5 Yogyakarta, dan SMA BOKPRI 1 dari ketiga sekolah tersebut kita akan mendapatkan cerita tentang latihan militer dan pendidikan pada masa itu. Ciri-ciri gedung peninggalan Hindia Belanda itu akan dengan mudah ditemui dengan detail bangunan yang menjulang tinggi, memiliki sudut setiap bagian bangunan yang tidak meruncing juga atap dan jendela serta pintu yang masih berukuran besar. Dan ini bagian yang ingin paling saya ceritakan adalah Asrama Kompi TNI, asrama ini berada tepat didepan SMA BOKPRI 1. Bagian depan merupakan asrama yang dikhususkan bagi tingkatan yang lebih tinggi seperti perwira sedangkan bagian selatan adalah asrama yang dibuat untuk para prajurit. Tidak banyak cerita seperti yang saya kira sebelumnya tentang asrama ini, sebelumnya saya membayangkan sebuah asrama yang seperti kebanyakan asrama seorang tentara yang pernah saya temui. (saya tinggal di komplek asrama TNI). Entah kenapa saya merasakan hal yang sangat dramatis ketika berada di Asrama TNI ini, dengan ukuran petak yang sempit, jalan setapak yang memisahkan bangunan hanya beberapa depa. Inilah kondisi yang saya tidak pernah mengerti. Ketika saya duduk menunggu petugas RW saya mendapati beberapa orang dengan seragam TNInya lalu lalang didepanku(aku kira juga banyak pribumi yang sudah banyak tinggal disini menyatu dengan TNI), senyum ramah mereka tak bisa kubayangkan ketika beberapa puluh tahun yang lalu mereka berjuang demi Negara ini. Ah itu khayalan tingkat tertinggiku untuk apresiasi seorang tua yang sedang duduk sendiri diteras maaf saya tidak bisa menyebut itu teras karena itu dijalan setapak yang sempit kubayangkan gelora perjuangan orang tua itu hanya beberapa detik. Sedikit kudengar percakapan seseorang yang berseregam lainya, ia berkata kepada tetangganya dengan senyum kemerdekaan bahwa ia akan mengurus tempat pindah, pindah dari tempat yang dramatis ini. Dilain komplek masih di Asrama Kompi saya melihat 2 orang dengan mengenakan seragam ditambah seorang balita mungkin itu adalah seorang ayah, anaknya juga anak dari anaknya. Saya merasakan kebahagiaan dari permainan mereka. Ah sudahlah banyak yang ingin saya ceritakan namun sepertinya ada batasan yang menghentikan jari ini untuk mengungkapkannya. Persinggahan saya berakhir setelah seorang ibu menghampiri saya dan memberittahukan bahwa Pak RW sedang keluar, Pak RW yang akhirnya saya tahu ternyata seorang anggota DPRD kota. Dan saya akan mengunjungi tempat ini lagi besok.

Perjalanan saya berlanjut menuju RS. Mata dr. YAP atau biasa disingkat menjadi RSM sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Jogjakarta setelah dari utusan kantor Dinas memberitahukan bahwa gedung RRI Nusantara II tidak perlu diambil gambarnya. Di RSM saya langsung diantar oleh seorang security dengan senyum ramahnya menuju urusan Rumah Tangga RSM tersebut. Detail-demi detail bangunan historis itu mulai saya ambil gambarnya didampingi oleh seorang pegawai yang menceritakan kondisi RSM jaman dulu. Dari cerita beliau saya mendapati bahwa RSM ini dari mulai diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII sampai pada beberapa perbaikan fasilitas gedung ini tanpa merubah struktur bangunan. Saya bisa melihat kepedulian pihak RSM ini dengan menjaga keutuhan bangunan RSM ini. Saya juga baru tahu bahwa RSM ini memiliki sebuah meseum khusus.

Sepertinya cukup sampai disini dulu saya mencoba menceritakan hari yang cukup menegangkan, menyenangkan dan menyedihkan melihat kondisi beberapa bangunan yang memiliki nilai historis ini. Masih ada beberapa tempat yang harus saya kunjungi dan ingin saya ceritakan perjalanan saya menyinggahinya. Ada Gedung Hotel Toege yang sudah berubah fungsi, Ex markas tentara pelajar yang sekarang digunakan sebagai kantor Dinas Perhubungan, Museum Sasmitaloka, Gedung Balai Kajian Jarahnitra gedung setan atau gedung DPRD propinsi dan pastinya Asrama Kompi TNI yang memberi cerita tersendiri bagi saya.

Salam

Gugun Junaedi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge