Selasa, 24 November 2009

Catatan Kecil dari Budi Kurniawan

Cut away atau Cut to Cut. dari perbincangan inilah semua mengalir begitu saja tentang teknik editing yang benar. Perbincangan ini berlangsung di Ina Frontier jalan Palagan KM 7,-- 20 November 2009 diiringi hujan sore-sore bersama seorang editor baik hati Budi Kurniawan .

Obrolan sore itu langsung dimulai dengan pertanyaan dari saya dan Habibi mengenai proses editing dengan masalahnya seperti perdebatan antara seorang editor dan sutradara juga bagaimana meminimalkan gambar agar tidak terlalu panjang dan membosankan. Dari Aris (tanpa H) kita mendapat pernyataan mengenai pembentukan struktur dalam proses editing, pertanyaan Haris bagaimana membentuk cerita dengan struktur yang di putar balikan.

Setelah kami memberikan pertanyaan, Mas Bud memberikan intro bagaimana profesi editor dalam manajemen produksi, bahwa sebuah film itu merupakan kerja kolektif dari seluruh kru yang terlibat dalam pembuatan film. Sistem Triangle seorang produser, sutradara dan penulis masih menjadi poros dalam sebuah produksi, dari triangle sistem itulah sebuah film akan terencana dengan baik selain didukung oleh crew yang lain seperti DOP, editor, artistik, costum bahkan katering. Tiga Kunci sebuah managemen Produksi Film .: ON Schedule ON Time ON Budget :. kembali ke masalah Editing, dari Mas Bud saya mendapatkan bahwa seorang editor adalah seorang yang harus memiliki second opinion terhadap hasil produksi. Pembentukan Mindset seorang editor dibahas sore itu, "bahwa seorang editor itu harus memiliki mindset tentang Frame hanya frame". Seperti gitar dengan not-notnya maka seorang editor harus memahami frame demi frame.Perbincangan sore itu semakin menarik setelah Budi Kurniawan memberitahukan elemen yang ada dalam editing seperti dasar-dasar penyambungan yang ternyata juga tak lepas dari unsur-unsur grafis. Juga masalah transisi seperti Fade, Disolve, Wipe dan split screen (pemotongan gambar/2 frame dalam satu layar). Selain itu kami juga mendapat ilmu baru mengenai rasio frame dan rasio shoot (pas bagian ini saya menulis dengan cepat, setiap informasi yang mas Bud berikan) pembentukan tiap scene tentang shoot dibahas, bagaimana kita mengganti angle tiap shoot. berapa kali kita take untuk mengambil gambar yang kita anggap sempurna, intinya tetep sama membangun lewat rasio untuk irama gambar yang lebih dinamis seperti itu kalo saya menyimpulkan.

Untuk masalah transisi mungkin sudah banyak orang tahu, jadi saya mencoba menulis ulang apa yang saya dapat dari obrolah sore kemarin tentang dasar penyambungan editing. Dasar penyambungan pertama adalah menggunakan Dimensi Grafis, seorang editor dengan jeli bagaimana menyambungkan sebuah gambar melalui unsur grafis dengan melihat Light Directional, komposisi, angle, warna dan garis. Menurut saya dimensi grafis yang ada dalam gambar merupakan sebuah hasil yang terencana seorang Director dan DOP juga artistik bagaimana mereka menentukan tiap shoot hingga membentuk mood tersendiri. dari hasil tersebut seorang editor akan dengan mudah mengedit gambar, hingga tidak perlu memutar balikan shoot hingga membentuk mood dikarenakan gambar yang ada memang sudah memiliki "nyawa".

Dasar penyambungan kedua adalah menggunakan dimensi ritmis melalui gerak, audio, type of shoot dan durasi. irama sebuah film akan terbentuk dengan kesatuan yang saling bersinambungan melalui gerak, suara, shoot dan durasi yang terjaga. Kemudian dimensi ketiga adalah mengenai ruang dan waktu. Mas Bud memberikan contoh mengenai Ruang dan waktu ini lebih kepada kejadian "kronologis" urutan demi urutan hingga tidak membuat penonton merasa tertipu atau ragu mengenai sebuah kejadian.

Sepertinya semua dimensi yang kita bahas merupakan variabel yang saling berhubungan dari aspek estetis maupun fungsional dasar penyambungan yang mas Budi berikan, itu semua merupakan tahapan sinematografi mengenai teknik editing untuk menjaga kontiniti sebuah cerita. wah menyenangkan obrolan ini, padahal baru ngomongin editing.... ini yang aneh, kebanyakan orang itu kalau melakukan sesuatu dari depan eh obrolan ini malah dimulai langsung ke tahap editing. Management pra produksi dikemanakan, juga proses produksi yang bahkan belum tersentuh sama sekali di skip dan langsung menuju editing..... Kram otak bisa-bisa, belum produksi saja bisa membayangkan fantasi seorang editor yang mampu membentuk sebuah film menjadi lebih hidup.

Saya jadi ingat tentang sebuah tulisan tentang bagaimana sebuah film itu menjadi tontonan yang hidup mengenai editing ini. Bahwa hanya editing yang baik yang mampu memberi hidup pada film, aneka shoot yang tak karuan sebelumnya dirakit secara ahli melalui tahap editing. pemilihan shoot, timing menjadi satu kesatuan yang enak dilihat, disinilah peran seorang editor.

Sore itu menjadi semakin menyenangkan setelah kita membahas mengenai struktur, Mas Budi memberikan contoh praktek yang sangat mudah bagaimana cara kita membentuk struktur film kita (cara ini juga ternyata setelah saya coba di rumah juga bisa berlaku untuk pembentukan sebuah struktur apapun bukan hanya untuk film bisa juga untuk menulis cerpen). banyak terima kasih untuk bagian ini, imajinasi saya dipancing untuk mencoba membentuk struktur yang bolak-balik.

Sepertinya saya menulis cukup sampai disini dulu, banyakan teori gak ada praktek. bisa pusing otak bisa kram. eh sudah temen saya sudah teriak-teriak "Kapan Bikin Film?"

Banyak terima kasih untuk Budi Kurniawan (sayang cuma sebentar) dan mbak Jim yang gak bosen-bosen mengadakan perbincangan ini.

Salam

Gugun Junaedi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita buat semua ini menyenangkan.

Google+ Badge